Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 22



Happy reading!


.


***


Diego yang sedang menyibukkan dirinya dengan buku-buku sekolah mendengar bunyi aneh dari halaman luar. Dirinya yang berada di lantai teratas segera menengok.


Ada beberapa hewan yang menggaruk tanah, membuat Diego mengernyit heran. Sejak kapan ada hewan sebesar itu di mansion ini. Setahunya, Silver memang memiliki hewan peliharaan. Dan itu hanya sebatas kelinci dan beberapa burung saja.


Melihat sekeliling yang sepi, Diego pergi sendiri untuk memerhatikan hewan itu. Dia berpikir bahwa semua orang sedang istirahat, karena memang sekarang sudah siang dan hampir sore.


Apalagi tadi dia menyaksikan Silver menemani Max minum. Itu meyakinkan dugaannya bahwa Silver sedang istirahat.


Turun ke lantai satu, tidak ada orang. "Ke mana semua orang?" gumamnya.


"José?" panggilnya.


Tidak ada sahutan, dia pergi ke belakang. Mencari hewan yang menurutnya tadi sedang berada di sana, dia mengintip agar lebih merasa aman. Namun, yang didapatinya hanya bercak darah di tanah.


Diego berpikir bahwa hewan tadi sedang memangsa dan bukannya menggaruk tanah. "Aneh, tidak ada yang mencurigakan."


Ketika dia mendekat ke tempat itu, tiba-tiba ada gerakan dari pohon kecil di sana. Diego siaga, meski tanpa pistol atau pisau dia berpikir jika itu manusia dia bisa mengalahkannya dengan jurus gunting batu kertas.


Namun, yang membuatnya terkejut adalah kedatangan dua ekor serigala dengan mulut menganga, taringnya terlihat dengan jelas.


"Astaga, aku sangat percaya diri datang tanpa pisau di sini. Ternyata hewan gunung," gumamnya meringis.


Diego mundur ketika kedua hewan itu mendekat, perlahan-lahan sampai dia menabrak kandang yang ada di tanah. Dan ternyata, kandang itu sudah rusak dan penuh dengan darah.


"Uncle Sil pasti marah besar," ujarnya. "Kau memakan kelinci milik Uncle, hewan kecil."


Diego menunjuk hewan yang ada di hadapannya, menuduh kedua hewan itu yang melakukannya.


Belum sempat kedua hewan itu mendekat lagi, suara kericuhan dari dalam mansion membuat serigala itu mengurungkan niatnya.


José datang dengan tergesa-gesa diikuti oleh Silver, Max dan Alex di belakangnya.


"Eh, Tuan kecil," sapa José.


"Serigala ini memakan kelincimu, Uncle," adu Diego pada Silver yang mana membuat Silver terbelalak.


"Aku pasti akan membunuh hewan sialan itu," geram Silver.


Namun, Max menghentikan langkahnya. "Jangan bunuh mereka, aku yang menyuruhnya," ucap Max. Keadaan yang masih setengah sadar membuatnya sempoyongan.


"Kau bilang apa? Kelinciku yang malang, aku juga pasti akan membunuh serigalamu, sialan!"


Alex yang tahu bahwa Max masih di bawah kendali alkohol dan belum sepenuhnya sadar, menuntun pria itu untuk mendekati kedua serigala.


"Dominique, dengar! Aku menjadikan peliharaanku sebagai pemburu di belakang mansionmu. Mereka tidak akan membunuh tanpa sebab!"


Meski masih setengah sadar, tapi jika berurusan dengan serigala Max akan terkendali. Dia menggerakkan jarinya ke arah serigala, dan kedua hewan itu berlari ke arah pohon kecil di belakang mereka.


"Ikuti dan lihat apa yang diperlihatkan mereka!" perintah Max.


Diego yang sangat penasaran langsung berlari ke sana diikuti oleh mereka. Dia terkejut melihat seekor ular besar yang sudah mati di sana.


"Ular, Uncle!"


Max menyeringai. "Aku bilang mereka pemburu, tapi tidak membunuh tanpa alasan. Aku pikir kelinci-kelinci malang itu sudah bersembunyi di suatu tempat."


Silver menatap tanpa kedip, dia memerhatikan ular yang sudah mati itu dengan seksama. Jenis piton yang sangat besar, ular pelilit yang berbahaya.


Melambaikan tangan tanpa menoleh, Max balik berteriak, "Jadikan mereka temanmu untuk berburu. Bocah kecil itu pasti bisa melakukan sesuatu."


"Aku?" tunjuk Diego pada dirinya sendiri. "Bagaiama mungkin? Aku bisa saja membunuh mereka atau yang lebih malang akan terbunuh seperti ular itu."


Lolongan serigala itu mengejutkan Diego. "Jangan mengejutkanku, Serigala liar!"


***


Kejadian adanya ular di belakang mansion itu membuat Silver terus waspada. Sudah beberapa hari, tapi belum ada tanda-tanda adanya sesuatu yang mencurigakan lagi.


Sementara Diego terus berusaha mendekati serigala-serigala itu. Setiap pulang sekolah, pekerjaannya hanyalah berurusan dengan mereka. Meski belum ada tanda-tanda kedua hewan itu jinak padanya.


"Uncle, apa kau tahu cara menjinakkan Alfa? Aku bingung, mereka selalu menyerang saat aku mendekat," adu Diego pada Silver yang sedang merakit sesuatu.


Keduanya sedang duduk sendirian di belakang mansion.


"Kau melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya?"


Diego menepuk dagunya dengan jari. "Aku mengikuti instruksi dari internet, tapi sepertinya itu salah. Alfa selalu menyerangku."


"Bagaimana dengan makanan?" tanya Silver.


Diego tersenyum tipis. "Dari kulkas dapur, Uncle. Tapi, jangan marah dulu, aku memintanya pada José."


"Ck, serigala makan daging segar."


"Tapi, aku tidak punya teman berburu. Membawa Alfa? Tidak, mereka pasti kabur kalau aku membawa mereka."


"Kau bisa berburu?"


Diego menggeleng. "Aku belum pernah melakukannya."


"Kau bisa membunuh orang."


Anak kecil itu mengerucut. "Itu beda, Uncle. Jarak dekat dan jarak jauh, sasaran bergerak dan diam, tentu saja tidak mudah. Aku belum pernah berlatih untuk itu."


Silver menyelesaikan pekerjaan merakitnya. Dia tersenyum melihat hasilnya yang menurutnya bagus. "Rodrigo guru terbaik dalam hal memanah dan berburu. Kenapa kau tidak pernah memintanya mengajarimu?"


"Ck, Uncle Rod sibuk dengan kekasihnya."


"Kau ingin mencobanya sekarang? Ini masih pagi, tidak mungkin ada maling pada siang hari. Ayo berburu, ajak Alfa bersamamu!"


Diego tersenyum lebar, dia berlari ke kandang serigala itu dan melepaskan mereka. "Ayo berburu, Alfa! Kau akan mendapatkan daging lezat hari ini."


Kedua serigala itu keluar dan langsung menyerang Diego, menggigit kakinya dan menggesekkan tubuh di badan Diego sampai anak kecil itu terjatuh. "Alfa bodoh," teriaknya.


Sebelum benar-benar keluar dari mansion, ada keraguan dalam diri Silver. "Biarkan satu ekor di rumah. Firasatku tidak enak," ujarnya pada Diego.


Anak kecil itu berpikir sejenak, tidak ada salahnya menuruti saran Silver. "Baiklah. Alfa One, jaga rumah ini! Serang siapapun yang masuk ke istanamu dengan cara tidak sopan!"


.





***