
Happy reading!😊😘
.
*****
"Astaga, dia demam," gumam Sue saat menyentuh kening Silver.
Sejak kedatangannya di dalam gua itu, yang lebih dulu terlelap adalah Silver. Dengan napas pendek-pendek, Silver memeluk erat perut Sue.
"Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?"
Sue berusaha bangun dari tidurnya, tetapi tangan Silver memeluknya erat. Mengingat ada luka di dada pria itu, Sue menghentikan gerakannya. Tanpa berniat menyakiti, tangan Sue menyentuh luka itu. Bibirnya meringis menahan ketakutan.
"Ada apa?" Rupanya Silver terjaga membuat Sue tergugup.
"Anda demam, Tuan."
Silver terkekeh membuat Sue bertambah gugup. "Aku baik-baik saja."
Silver kembali menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. "Jangan khwatir. Tidak akan ada siapapun yang mengganggu malam kita di sini."
"Tapi... luka anda, Tuan."
"Stt, tenanglah. Baby kita harus tidur, Lita."
Jantung Sue kembali bertalu-talu ketika telapak tangan kekar milik Silver menutup matanya. Dipastikan sekarang pipinya sudah merona. Membayangkannya saja, Sue merutuki dirinya yang mudah sekali merona.
Lita, Silver memanggilnya Lita. Entah apa yang ada di pikiran pria itu sehingga enggan memanggilnya Sue.
"Tuan...."
"Jangan bergerak, dadaku sakit."
"Maaf... tapi...."
Saat napasnya hampir putus, Sue sekali lagi berusaha melepaskan pelukan Silver.
"Saya susah bernapas, Tuan."
"Kau tidak ingin aku peluk?"
"Tapi...."
"Aku memeluk anakku, jal--- ah sial. Tidurlah!"
Sue terdiam. Mengingat perlakuan manis Silver tadi membuatnya tertegun, tetapi sekarang pria itu berkata kasar padanya.
Ia merutuki kebodohannya, berharap perlakuan pria itu berubah. Nyatanya, semua tidak terjadi. Silver tetap bersikap semaunya, berkata kasar dan mengumpat padanya.
"M-maaf...."
Isakannya tertahan, tetapi air mata menetes. Kembali lagi sindrom kehamilan menjadikannya seorang perempuan cengeng.
"Jangan menangis!" Silver menyeka air mata yang terus saja keluar dari matanya. "Kau harus kuat agar bisa berjalan besok."
"S-saya mengerti, Tuan."
Butuh waktu lama bagi Sue untuk bisa terpejam, perutnya yang tiba-tiba keram menjadi alasannya.
Mata Sue yang tidak bisa terpejam melihat ada cahaya lain yang menyilaukan lewat sela-sela pintu gua yang tertutup itu. Mengingat Silver yang baru saja membentaknya, Sue mengurungkan niatnya untuk memberitahu pria itu.
Dia sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat dengan jelas. Semakin lama, cahaya itu semakin besar dan mendekat ke mulut gua. Sue mengeratkan pelukannya pada Silver.
Sue merasa takut. Entah apa yang dipikirkannya, perempuan itu terpejam takut saat suara orang mulai terdengar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya dan pelukan di tubuh Silver semakin erat.
"T-tuan... ada orang...," cicitnya pelan, takut membangunkan Silver.
"T-tuan...."
Dia menggoyangkan tubuh Silver, memaksa manik hijau itu membuka matanya. Persetan dengan bentakan dan pukulan, Sue hanya ingin berlindung di belakang pria itu.
"Tuan! Ada yang datang...."
Sue langsung membungkam mulutnya tatkala tangan Silver menarik tengkuknya agar wajah mereka mendekat.
"Aku tahu. Jangan takut!"
Astaga, Sue semakin ketakutan. Silver seperti mesin pendeteksi, tahu kapan dan dimana keberadaan manusia.
"Itu Rodrigo, tenanglah. Kau sangat ketakutan, sayang."
Silver mencium keningnya lama, mengalirkan rasa nyaman. Kemudian beralih ke bibirnya.
"Bibirmu bergetar, Lita." Silver terkekeh lalu mengusap bekas salivanya di bibir mungil itu. "Ada aku di sini."
Dan benar saja, saat pintu gua itu terbuka muncullah sosok Rodrigo di sana.
"Sialan, kau mengganggu jadwalku! Aku akan membunuhmu."
Silver bangkit dari tempatnya berbaring diikuti oleh Sue. Dia terkekeh.
"Akhirnya kau datang juga. Aku pikir kau akan senang melihat kuburanku."
Rodrigo mendekat. Cahaya lampu yang dia bawa mampu menerangi gua sempit itu.
"Sial--"
Tangan Rodrigo yang hendak memukul Silver tertarik kembali melihat ada darah yang menguncur dari dada pria itu. "Kau tertembak?"
Silver mengedikkan bahunya. "Seperti yang kau lihat."
Pria bertato itu memutar tubuh Silver mendeteksinya dengan cermat.
"Hanya di dada ini saja."
"Bagaimana dengan jantungmu?"
"Kau berharap aku mati?"
"Kau yang mengatakan akan menyiapkan kuburanmu, sialan."
"Itu karena aku belum bersamanya."
Mata Rodrigo menyelidik saat Silver memalingkan wajahnya.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
"Aku tidak mengatakan apa-apa, sialan."
Ia menendang kaki Rodrigo. "Bawa kami pergi dari sini!"
Tatapan Rodrigo beralih kepada Sue. Melihat penampilan Sue yang masih acak-acakan.
"Kau masih kuat berjalan? Kalau tidak, suruh saja pria bodoh ini menggendongmu," ujarnya sambil mendelik kesal pada Silver.
"Bodoh? Kau mengataiku bodoh?"
"Kau memang bodoh! Tidak pria yang menyakiti wanita yang sedang mengandung anaknya sendiri."
Silver diam tak berkata-kata. Pikirannya berlarian ke sana kemari. Dan... "Kau?!"
"Astaga, kau membuatku terkejut, sialan. Apa?!"
"Kau mengetahuinya?"
"Itu alasan aku menyebutmu bodoh! Kau menyiksanya sampai kepalanya melupakan dirimu. Itu perbuatan paling keji yang kau lakukan, Silver. Aku melindunginya darimu yang telah kehilangan nurani."
Silver terdiam, mengingat perbuatannya yang menyiksa perempuan itu, dia merasa menjadi orang terbodoh seperti yang dikatakan Rodrigo.
Dia masih menggenggam erat tangan Sue, menghimpit tubuh perempuan itu agar selalu dekat padanya.
"Karena itulah aku menginginkannya sekarang."
Rodrigo terkekeh lucu. "Aku tahu kau menginginkannya setiap hari, Sil," bisik Rodrigo.
"Sial." Silver kembali memalingkan wajahnya. "Bawa kami pergi dari sini."
"Gendong wanitamu! Kau akan meledakkan kepalaku kalau aku yang melakukannya, bukan?"
Silver melirik Sue yang terus menunduk sejak tadi. Dia menarik tangan perempuan itu dan menggendongnya.
"Tuan...."
"Dia baik-baik saja, Sue! Luka itu hanya luka kecil."
"Tapi... demam...."
"Berhenti berbicara. Kita harus pergi sekarang!"
*****
"Kau?!"
"Apa?! Kenapa uncle sangat terkejut?"
"Bagaimana anak kecil ini bisa sampai di sini, Rod?"
"Jangan panggil aku anak kecil, Uncle. Aku yang memotong p*n*s mereka." Tangan kecil Diego menunjuk pada hamparan luas mayat yang telah terpotong organ intimnya.
"Astaga, kau membunuh orang."
"Kau juga melakukannya. Ingat itu, Uncle."
"Tidak, anakku tidak boleh melihat itu!" Silver langsung menutup perut Sue yang sedari tadi mengintip di belakangnya.
"Oh Aunty, selamat malam."
"Dia bukan aunty-mu!"
"Ck, kau garang sekali, Silver!"
"Astaga, Bertha makan apa saat hamil anak ini," gumam Silver sambil memutar bola matanya malas. "Dia kekasihku!"
"Apa aku harus memanggilnya sayang?"
"Tidak! Bahkan untuk berbicara dengannya kau tidak diizinkan!"
"Kau cemburuan seperti uncle Rod," gumam Diego yang masih didengar Silver. "Aunty!"
"Y-ya...."
"Jangan memanggilnya seperti itu!"
Diego tidak menggubris, ia berbicara semaunya.
"Kau harus mengenalku, Aunty. Namaku Diego Santino D'antonio! Aku tampan, bukan?"
Sue tersenyum tipis mendengar kenarsisan anak kecil itu. Dia menarik tangan Silver yang hendak menjepit kepala Diego.
"Dia manis," gumam Sue tanpa sadar dan itu membuat Silver mendelik kesal.
"Aunty mengatakan aku manis, Tuan!" Diego menjulurkan lidahnya sambil menghindar dari capitan tangan Silver.
"Ke sini kau anak kecil!"
"Kejar aku kalau bisa!"
Kaki kecil Diego berlari menghindar sampai ia melihat ada sesuatu yang bergerak dari arah belakang Silver dan Sue.
"Awas Uncle!"
Diego dengan lincah menembak tepat di alat kelamin pria yang datang dari sana.
"Astaga," pekik Sue terkejut karena kelihaian anak kecil itu.
"Kau terkejut, Aunty? Ya, aku juga. Aku melakukannya karena Uncle Silver terlalu bodoh tidak memerhatikan sekeliling!"
Diego balik menatap tajam Silver. "Ayo pergi sebelum semua mayat ini hidup kembali!"
Napas Sue tersengal-sengal menahan keterkejutannya. Dia tidak habis pikir bagaimana anak sekecil itu bisa bermain dengan benda tajam dan membunuh orang. Bahkan datang di tempat berbahaya seperti ini.
Rodrigo yang mengawasi itu dari kejauhan hanya terkekeh. Dia mendekat.
"Bagaimana kejutannya?"
"Kau membawa anak kecil, Rod."
"Dia keras kepala."
"Bagaimana dengan Bertha?"
"Dia tertidur!"
"Astaga." Silver memutar bola matanya. "Hei, anak kecil! Kau mau ke mana?"
Diego berhenti saat ia hendak berbelok karena melihat sesuatu. "Ck, berhenti berteriak, Uncle. Aku tidak tuli!"
"Dia pasti melihat sesuatu, Sil. Berjalanlah dengan cepat!"
"Apa?"
"Pergi, berlarilah! Sepertinya ini sesuatu yang berbahaya! Selamatkan dirimu!"
"Bagaimana dengan anak kecil itu?"
"Aku tidak tahu."
"Hei, jangan bercanda."
"Kau tahu dia cerdik, kawan."
"Ck, anak nakal."
Silver menarik tangan Sue keluar dari kawasan hutan kecil di belakang mansion Di Vaio.
"Jangan mengingat hal itu, tidak baik bagi kesehatan jantungmu!"
"Ba-baik, Tuan...."
Sampai di tempatnya memarkir mobil, Silver celigukan. Dia tak mendapati wajah si silver miliknya.
"Ada yang mengambil mobil kita!"
Sue terdiam. Dia mengikuti kemanapun Silver menariknya.
"Diamlah di sini sampai aku memberikan kode padamu."
Silver menempatkan Sue di tempat tersembunyi karena dia tidak mungkin berlari dari tempat ini dengan menggendong Sue karena dia yakin ada antek-antek milik pamannya yang berkeliaran di sini.
"Kode?" beo Sue tidak mengerti.
"Suatu tanda yang membuat kita bertemu di satu titik."
"Lalu, kita akan bertemu dimana, Tuan?"
"Aku akan membakar kembang api, datanglah ke tempat dimana kau melihatnya."
"Saya mengerti, Tuan."
Meski takut ditinggal sendiri di tempat itu, Sue menguatkan hatinya. Berucap dalam lantunan syahdu kepada Pemilik Semesta. Berharap dirinya dan Silver selamat.
Silver pergi setelah mengusap perutnya dan mencium bibirnya singkat.
"Jaga dirimu!"
"Anda juga, Tuan."
.
.
.
.
iklan**
.
Netizen : visual dong thor🙁
Author : gue takut lu jatuh cinta sama gue, secara gue itu cantik dan seksi kaya Kendall Jenner😊😊😛
Netizen : idiih... jijik gue🙄. gue minta visualnya si silver sama sue bukan gambar lu yang kaya triplek bekas😒
Author : ngehina😭😭😭. gue tampol biar sadar lu
Netizen : visual makanya😏
Author : gue ga janji😞
Netizen : poin di tangan gue😂
Author : 😭😭😭😭
.
*****
Love,
Xie Lu♡