Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 20



Happy reading!😊😘


.


*****


Sudah dua minggu lebih Silver mencoba menghubungi Rodrigo, baik lewat telepon seluler maupun mata-mata kirimannya untuk mencari keberadaan pria bertato itu. Namun, hasilnya nihil. Pria itu seolah hilang bak ditelan bumi bersama perempuan tahanannya.


Ketidakhadiran Rodrigo selama masa pertandingan membuat Silver menanggung semua tugas pria itu. Terlebih di bagian lini depan, ia bertugas layaknya seorang striker. Menyerang dan juga menahan serangan lawan. Kadang juga, ia diposisikan sebagai striker pengganti.


Keadaan seperti ini membuatnya kehilangan fokus. Kasus perselingkuhan antar Paula dan dokter itu semakin memanas di berbagai media. Ia hanya bisa menahan amarahnya, menolak akal iblisnya agar tidak menghabisi perempuan itu karena telah berani berkhianat.


"Akhh...." erangnya frustasi. "Aku pastikan kau akan mendapatkan surgamu, pengerat!"


Ia memfokuskan pandangannya ke satu titik, kemudian mengangkat tangannya lalu menarik pelatuknya menambak tepat di titik tembak. "Hebat!" Ia memuji kemampuannya sendiri.


"Kau akan mendapatkan hal yang luar biasa hebat ini saat kau muncul, pengerat!" Ia tersenyum menyeringai.


Gregor yang berdiri di sampingnya hanya menatap tajam ke depan, tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun. Pikirannya melayang entah kemana.


"Bagaimana menurutmu, Greg? Kematian seperti apa yang pantas untuk j*l*ng kecil itu? Menguliti? Memutilasi? Atau dengan cara tercepat seperti ini?" Ia menembak lagi mengenai sasaran tembak itu.


"Ah tidak, ini terlalu mudah. Dia tidak boleh mati secepat itu, aku harus membuatnya merasakan sakit yang lebih lagi dan akhirnya dia sendiri yang memohon untuk mati secepatnya, di bawah kakiku!"


Ia mengoceh sendiri dengan khayalannya, merangkai-rangkai kematian seperti apa yang pantas diberikan pada perempuan itu. Kematian paling mengerikan di muka bumi ini, tanpa ia tahu takdir seolah mempermainkannya.


"Greg?" Tidak ada sahutan.


"Greg?" Ia menoleh, mendapati Gregor sedang menatap tajam ke depan. "Greg? Apa kau mendengarku?" Ia menepuk pundak pria bermanik abu itu seraya mengalihkan pandangnya ke depan, ke arah pandang Gregor.


"Oh, gadis Amerika itu," gumamnya menyeringai.


Gregor menoleh seraya mengamati raut muka Silver. "Apa yang kau pikirkan?" kecamnya tajam.


"Umpan yang bagus!"


"Apa maksudmu? Jangan pernah berpikiran buruk dan mencelakainya! Aku pastikan kau tidak akan bisa membalaskan dendammu pada perempuan itu kalau hal itu terjadi!"


Silver tidak mendengarkan, ia memilih menilik penampilan gadis berambut putih yang berdiri membelakangi mereka di tempat yang jauh darinya.


"Kau tidak akan tahu keajaiban seperti apa yang ada di depanmu tanpa kau pernah menghadapi hal yang berbahaya."


Gregor menelisik, tampak seringai iblis di wajah Silver ditutupi senyuman manisnya. "Dia hanya milikku, Dominique!" tegasnya. Gemeletuk giginya terdengar keras, dan tangannya mengepal hendak memukul pria berambut silver itu. "Tidak boleh ada yang menyentuhnya selain aku, camkan itu!"


Silver terkekeh, ia meletakkan senapan kecil miliknya di atas meja dan ia menduduki meja tersebut. "Calm down, bro! Bukankah kau sudah membuka jalan bagi kita? Tidak akan terasa sulit, kau penebang pohonnya dan aku menjadi pembersihnya. Bagaimana?"


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi!" teriak Gregor.


"Sadarlah! Kau telah melenyapkan kedua orang tuanya, bukankah itu bertujuan agar kau bisa memilikinya secara utuh? Ck, jangan berlagak bersih!" Silver bersedekap, menatap tajam pada Gregor yang sudah dikuasai amarah di depannya. "Bukankah menyenangkan kita saling mengoper dulu dan menipu lawan sebelum menendang ke gawang?"


"Dia bukan mainan, Dominique! Dia wanitaku!" tegas Gregor yang dibalas tawa oleh saudaranya. "Kenapa tertawa, huh?!"


Silver menghapus air matanya yang keluar seraya turun dari meja itu. "Wanitamu? Hahaha.... Aku melihatmu ditampar olehnya waktu itu, aku pikir dia tidak menyukaimu."


"Kau mau kemana, sialan?" Gregor menangkap pergelangan tangan Silver saat pria itu melangkah ke arah yang menjadi sasaran pembicaraannya tadi.


"Menjijikkan! Jangan mengatasnamakan namaku! Berusahalah, semoga kau berhasil!" Gregor pergi dengan napas memburu, membiarkan Silver bermain dengannya mungkin sedikit lebih baik.


*****


"Hello, girl. What are you doing here?"


Zamora terkejut saat seseorang menyentuh pundaknya, ia menoleh. "Kau?!" pekiknya.


Silver tersenyum, sangat manis seperti kebiasaannya di depan publik. Menghipnotis semua orang dengan wajah tampan tanpa celanya. "Kau mengenalku, Nona?"


Bukannya menjawab, Zamora malah bertanya. "Bagaimana keadaan temanku, Tuan Silver?"


Silver terkekeh tetapi matanya menyiratkan amarah, kebencian langsung menguap saat perempuan di depannya ini menanyakan seseorang yang sangat ia benci, seseorang yang kini diburunya karena telah menghilang.


"Teman?" beonya seakan tidak mengerti.


Zamora mengangguk, ia memegang kedua lengan Silver. "Ya, temanku. Namanya Suelita. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Sudah beberapa minggu ini dia tidak menjawab panggilanku, aku khawatir terjadi sesuatu padanya."


Oh, jadi tikus sialan itu juga mematikan ponselnya. Ternyata kau sudah menyiapkan ini dengan rapi, Rodrigo. Kau membuatnya lebih sulit dari seharusnya.


"Teman? Jadi, dia temanmu? Kalau aku tahu kau temannya harusnya aku menjaganya dengan baik." Raut penyesalan di wajah Silver membuat Zamora panik.


"Apa maksudmu, Tuan Silver?"


"Dia menghilang!"


"Apa?!" Zamora terkejut bukan main, ia jatuh terduduk di atas rumput tebal di halaman belakang mansion itu. "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah di rumahmu tidak ada pengawal? Ah tidak mungkin, kau orang kaya."


Oh ayolah, Zamora tidak mengetahui kalau ia sedang berada di belakang mansion milik Silver.


Silver menghela napas, berpura-pura terlihat sedih. "Apa yang harus aku lakukan? Dia seseorang yang berharga buatku. Dia sangat rajin, sangat telaten dan disiplin. Bahkan di sana tidak ada seorangpun yang lebih baik darinya."


Zamora menutup wajahnya, namun sedetik kemudian ia bangun dan menarik kaos yang dipakai Silver. "Bukankah kau sangat kaya? Kau pasti punya uang untuk membayar polisi agar mencarinya, atau menyewa detektif seandainya dia diculik." Air mata Zamora menetes, ia merindukan temannya. Mendengar kabar bahwa ia menghilang membuat dada Zamora mencelos seakan ada sebagian dari jiwanya yang hilang.


"Dia gadis yang lemah, Tuan. Dia sangat mengidolakanmu sampai ia rela menjadi apapun yang kau inginkan. Ya, sebut saja dia sangat menggilaimu. Dia mengatakan bahwa kau dewa penyelamatnya saat toko bunganya digebrak oleh seseorang, dan berusaha keras membayar hutangnya padamu. Ia tidak ingin mempunyai hutang pada idolanya." Isak Zamora terdengar jelas. Ia terjatuh lagi dengan lututnya yang menjadi tumpuan. "Aku mohon, temukan dia! Hanya dia yang kumiliki sekarang."


Silver menyeringai, nampak senyum kepuasan tercetak di bibirnya. "Ternyata tidak sulit seperti yang ku bayangkan," gumamnya yang tidak didengar oleh Zamora.


Ia menarik tangan Zamora agar berdiri, menegakkan pundaknya dan membuat perempuan itu menatap manik hijaunya. "Aku butuh bantuanmu untuk menemukannya!"


.


*****


Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua yang merayakannya!


Minal Aidin Walfaidzin! Mohon maaf lahir dan batin!🙏


Buat yang meminta crazy up, author mohon dukungan agar author bisa melakukannya di sela-sela kesibukan author di dunia nyata. Author tidak janji, tapi akan mengusahakannya. So, tetap dukung yaa!😊😘


Love,


Xie Lu♡