
Happy reading!😊😘
*****
"Kapan kau pulang?" Tangannya melingkar erat di pinggang perempuan itu dan terus mencium puncak kepalanya. Tidak hanya itu, tangannya bergerak terus ke arah yang dituju.
"Semalam."
Silver duduk berselonjor di tepi ranjang dan Paula di pangkuannya.
"Sil, apa yang kau lakukan?" Paula berteriak ketika Silver meremas kuat sesuatu.
"Kenapa tidak memberitahuku, huh?"
"Kau cedera."
"Alasan."
"Kau memang tidak pernah mempercayaiku."
"Lupakan." Silver mendesah pasrah. "Aku lapar, sayang." Ia mengecup daun telinga kekasihnya.
"Jangan mengoceh padaku." Ia berusaha menyingkirkan lengan yang masih menempel itu.
"I want you," bisiknya dengan suara parau.
"Ini masih siang, Sil."
Silver terkekeh, lucu dengan jawaban asing yang diberikan kekasihnya. "Kita pernah melakukannya di waktu seperti ini."
"Ayolah, aku masih lelah. Tubuhku lemas sejak turun dari pesawat tadi. Lagipula, sekarang adalah masa periodeku." Ia sengaja memakai jurus jitunya itu agar Silver tidak memakannya sekarang. Dan, sepertinya berhasil. Silver mengusap wajahnya kasar membuat Paula tertawa.
"Mandilah."
Paula segera turun dari pangkuannya dan mencium pipinya, berlari menjauh sebelum Silver menarik tangannya lagi.
"Kau harus membayar mahal untuk ini."
Senyuman anehnya membuat Paula bergidik. "Aku tidak punya hutang padamu."
Mendengar gemericik air dari kamar mandi membuat Silver mendesah frustrasi. Ia keluar menuju lantai bawah. Rasa lapar membuatnya buru-buru ke meja makan tanpa menunggu kekasihnya.
Mengingat kejadian barusan membuatnya geram dan beranjak dari tempatnya. Para maid yang melihat tatapan iblis sang Tuan bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.
*****
Sue kecil memangku kepala ibunya dan terus menangis. "Mama, bangun ... hiks ... hiks ... Kenapa banyak darah di kepala mama? Apa papa nakal? Hiks .... Ku mohon, ma. Tolong bangun! Aku takut, aku takut sendirian. Hiks ... hiks .... Aku janji akan menjadi anak yang baik, mama jangan tidur terus ya."
Isakan tertahan terdengar dari bibirnya dengan air mata yang kembali menguncur. Mimpi buruk itu kembali terulang, membuat kepalanya ingin meledak. Sebuah tepukan keras di pantatnya membuatnya terbangun. Ia mengusap air mata yang terjatuh di pipinya.
"Aw ... kepalaku." Ia memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku di sini? Dan, ada perban di sini." Sua celingukan memperhatikan keadaan, ia di dalam kamar. Tangannya diperban. Padahal, setahunya tadi ia di dapur mempersiapkan makan siang untuk idolanya. "Apa yang terjadi dengan masakanku? Ahh, pasti sudah gosong."
Ia buru-buru bangkit dan berusaha turun dari ranjangnya.
"Aw ... sakit."
"Kau mau ke mana, Little girl?"
Suara Silver membuatnya terkejut. Rupanya pria itu berdiri menjauh ke arah jendela setelah membangunkannya. "Um .... Saya mau ke dapur Tuan."
Silver tersenyum miris. "Mereka sudah menyelesaikan pekerjaan yang kau tinggalkan, Tikus kecil. Tidak ada gunanya lagi kau ke sana."
"Ta ... tapi ..."
"Kau tidak bekerja dengan benar, mungkin hutangmu akan bertambah banyak."
Sue terdiam. Benar yang dikatakan Silver, kelalaian dalam bekerja membuat gajinya menurun apalagi baru hari ini ia mulai bekerja.
"Bagaimana dengan makan siang anda, Tuan? Apa anda sudah makan?"
"Harusnya kau pedulikan dirimu dahulu sebelum memedulikan orang lain. Kau harus membayar darah wanitaku yang kau tumpahkan tadi."
Mendengar kata darah membuat Sue mengingat kejadian tadi, seseorang menyenggol lengannya dan pisau mengiris jarinya. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja melakukannya."
Meskipun ia tidak tahu letak kesalahannya di mana, tetapi meminta maaf tanpa melakukan kesalahan tidak ada buruknya. Tatapan tajam milik Silver membuatnya merinding. Apalagi sekarang pria itu mendekati ranjangnya.
"Apa maksud anda, Tuan?"
"Jangan berpura-pura bodoh, Pengerat." Silver mencengkram erat tangan kiri Sue yang terluka tadi. Lagi, bekas luka yang masih baru itu mengeluarkan darah. Sue meringis dan menutup matanya. Takut dan merinding.
"Kau harus menjaga tangan kecilmu ini agar tidak menghunus pedang karena sekarang aku menyimpan sedikit rahasiamu. Setetes darah, bukan?" Ia tersenyum iblis. "Akan sangat menyenangkan kalau ada banyak darah di sini." Ia membiarkan darah dari jemari Sue menetes lagi di lantai kamar itu.
Tidak ada yang bisa diperbuat, Sue hanya menahan kesakitan itu dengan isakan tertahan dan air mata yang mengalir. Rasa pusing melandanya ketika penciumannya merasakan aroma amis dari darah itu.
Tangan Silver beralih memegang dagu perseginya dan mencengkram erat. "Kau hanyalah seekor tikus busuk yang masuk dalam perangkapku, sebuah neraka yang akan memakan habis daging dan tulangmu."
Matanya terpejam erat, hatinya tertusuk mendengar kalimat tajam yang dikeluarkan Silver, idolanya yang terkenal sebagai atlet profesional dan murah senyum itu. Ia tidak menduga akan diperlakukan seperti ini ketika menerima syarat yang diajukannya tadi.
Rasa senang mengalahkan rasa kehilangan sehingga ia dengan mudah mengiyakan syarat itu. Otaknya berpikir bahwa dengan bekerja untuk Silver bisa membuatnya lebih dekat dengan idolanya, tetapi kenyataannya tidak demikian. Baru beberapa jam saja, ia sudah mengetahui sedikit sisi gelap dari Silver.
Kalimatnya tajam setajam manik emeraldnya ketika berlari menggiring bola di lapangan.
Ketika tangannya hendak beralih mencengkram leher Sue, sebuah suara menghentikannya.
"Sil, aku lapar."
Ia buru-buru mengubah ekspresinya, bibir penuh senyum dan tatapan penuh cinta. Ia keluar dari kamar Sue setelah menghempaskan dagu gadis itu sehingga membuatnya terjatuh. Sue pingsan lagi.
"Ayo makan, Sil."
Silver tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya yang sedang berdiri menunggunya di meja makan.
"Hm..."
Paula mengacuhkan perubahan Silver. Ia berpikir bahwa Silver masih kesal karena ia menolaknya tadi.
*****
Tengah malam, Sue terbangun karena perutnya melilit akibat kelaparan. Ia merangkak perlahan keluar dari kamarnya menuju dapur, berharap masih ada sisa makanan. Mansion itu sunyi, hanya beberapa penjaga yang bertugas yang masih aktif.
Meja makan kosong, ia berpaling mencari apa saja di dalam lemari. Ia menemukan beberapa potong roti tawar. Senyum terulas dari bibirnya. Kemudian, ia mengolesinya dengan selai cokelat dan memakannya dengan rakus.
Pada saat ia memasukkan potongan yang ketiga, telinganya menangkap sebuah suara aneh, seperti teriakan orang yang meminta tolong.
Ia penasaran, suara itu menggerakkan jiwa kemanusiaannya sehingga ia mengabaikan rasa takut yang menghampiri. Semakin ia melangkah ke arah timur, semakin gelap lorong-lorong itu. Tidak ada pencahayaan sedikit pun.
Sue sedikit bingung, bagaimana orang itu berada di tempat gelap seperti ini. Hal-hal buruk mulai melintasi pikirannya, mungkin saja itu hantu. Tidak, hantu tidak mungkin ada di sini. Ia berspekulasi semaunya sehingga tanpa sadar ia hampir sampai ke ujung lorong itu.
Sebelum langkahnya menuruni tangga, suara seseorang mengejutkannya.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Ia membalikkan badannya dan mendapati Carissa sedang berdiri di hadapannya dengan senter besar menyilaukan wajahnya.
"Aww---mmmpphhh ...."
"Ini aku, Bodoh." Orang itu melepaskan tangan yang membekap mulutnya setelah Sue sadar bahwa pelakunya adalah orang yang dikenalinya.
"Astaga, kau mengejutkanku. Aku pikir kau hantu, Carissa." Ia memegang dadanya yang bergemuruh akibat keterkejutannya.
Carissa menatap tajam padanya. "Apa yang kau lakukan tengah malam di sini? Apa kau lupa dengan peraturan yang harus kau patuhi di sini?"
"Aku mendengar suara seseorang dari arah sini. Aku pikir dia membutuhkan pertolongan," jelasnya polos.
"Bodoh, ayo pergi. Jangan pernah datang ke sini lagi, ini area terlarang yang tidak bisa dimasuki oleh orang yang seperti kita." Carissa menarik tangannya menjauh.
"Ada apa di sana?"
"Apa aturan itu menyuruhmu untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana?"
"Tidak, aku hanya bertanya." Ia bergumam tetapi masih bisa didengar oleh Carissa.
"Kejadian apa yang mengikatmu dengan Tuan Silver sehingga kau bisa berakhir di sini?"
"Aku berhutang padanya."
Carissa tersenyum miris. "Larilah sejauh mungkin sebelum kau merasakan liarnya lidah seekor Bunglon Hijau."
*****
Ig @xie_lu13