Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 21



Happy reading!😊😘


.


*****


Cinta tidak pernah salah, itu kutipan yang pernah dibaca oleh Silver pada majalah millenial beberapa saat lalu. Tetapi, menurutnya cinta itu salah karena ia mencintai orang yang salah. Ia salah mencintai Paula, menyayangi Paula seperti ia menyayangi ibunya. Karena yang didapatkannya kini hanyalah luka setelah dikhianati oleh kekasihnya.


Sekarang hanya luka yang bersarang di hatinya, tidak ada rasa kasihan ataupun rasa tersentuh oleh isak tangis. Sekalipun itu adalah isak tangis dari orang yang pernah dipujanya.


"Berhentilah menangis! Kau membuat telingaku sakit."


Paula tetap menangis, tidak menghiraukan hardikan pria bermanik hijau di depannya. "Jangan menyakitinya, Sil. Please!"


Ya, di sinilah Silver sekarang. Apartemen milik Paula, berniat menghabisi pria yang selalu bersama sang kekasih. Ah, mungkin tidak pantas disebut kekasih karena perempuan itu telah mengkhianatinya. Ia tidak bisa lagi menahan diri karena rontaan iblis dari dalam dirinya semakin membuatnya tersiksa.


"Jangan menyebut namaku dengan mulut kotormu itu, perempuan sialan!"


Ia mencengkram dagu Paula yang semakin kurus itu. Menyisakan bekas merah yang tak biasa. "Jangan pernah lagi menyebut namaku seperti itu..." ulangnya geram. "...dengan mulut kotormu itu."


Ia menghempaskan dagu Paula sehingga perempuan itu merasakan pusing, tetapi ia berusaha agar tetap sadar.


Kesakitan fisiknya membuat keadaannya lemah, tetapi melihat dokter Jannis terkapar dengan darah yang keluar dari mulutnya membuatnya tidak tega. Rasa bersalah menyelimutinya. Ia tahu konsekuensi dari perbuatannya, tapi yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi.


"Sil..." ucapnya lemah seperti bergumam.


Oh gila, sepertinya perempuan itu menguji kesabarannya. Membuat kilat amarah di matanya semakin jelas terlihat. "Kau tahu aku membenci pengkhianat, Netta. Tetapi, kenapa kau melakukannya padaku, huh?!"


Ia bangkit dari duduk jongkoknya, menghampiri dokter Jannis yang masih terbaring lemah di lantai akibat pukulan bertubi-tubinya saat ia datang. Saat ia membuka kamar Paula, ia mendapati keduanya sedang berciuman. Andai saja ia telat, pasti ia sudah menonton hal yang tidak wajar di atas ranjang antara kedua manusia lawan jenis itu.


"Aku punya alasan melakukannya, Sil," cicit Paula sambil terisak.


Silver menoleh, tangannya yang hampir kembali memukul pria yang terkapar itu ditarik kembali. Ia tersenyum mengejek. "Alasan?" Ia tertawa sinis. "Apa kau sudah kekurangan uang sehingga menjual dirimu kepala pria br*ngs*k ini?"


Ia menendang Jannis yang berada di bawah kakinya. "Mengingat kau kekurangan job belakangan ini aku berpikir demikian dan aku sibuk dengan pertandingan sialan itu sehingga tidak menidurimu. Berapa banyak yang kau dapatkan darinya?"


Paula geram, ia terlihat sangat marah dengan tuduhan Silver. Pria itu selalu menilai sesuatu dari segi negatif. Ia tidak memikirkan apapun yang akan menyakiti orang lain.


"Apa selama ini kau menganggapku seperti itu? Seorang wanita penjajal diri kepada lelaki kaya? Oh Tuhan, ini membuatku gila!" Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya berkali-kali. Ia bangkit dari tempatnya bersimpuh, mendekati Silver yang menatapnya jijik. Mencoba kuat dengan kedua kakinya agar sampai di tempat pria itu berdiri.


"Jangan memandangku rendah hanya karena aku seorang perempuan! Tidak ada wanita yang mau dianggap kaum rendahan sekalipun pekerjaannya dengan menguras isi dompet lelaki kaya." Ia menarik kemeja maroon yang dikenakan Silver sehingga satu kancingnya terlepas. Ia memukul dada bidang itu berkali-kali.


"Apa kau sering menyebut wanita yang sering kau tiduri seperti itu? Br*ngs*k! Bahkan saat aku tahu kau meniduri mereka aku terdiam, berharap kepada Tuhan semoga kau sadar. Aku lelah, Sil. Aku lelah dipermainkan. Lima tahun, bukan?"


Ia mengangkat satu tangannya ke atas menunjukkan kelima jarinya. "Lima tahun kita bersama tetapi kau selalu sibuk dengan dunia malammu dan tidak memedulikan aku. Aku membutuhkanmu, lebih dari kau membutuhkan aku." Isakannya kembali terdengar, kali ini lebih keras.


Silver memandang wajah yang dibanjiri air mata di hadapannya itu. Wajah yang dulu penuh senyuman dan menciumnya saat kelelahan. Tetapi, setelah diperhatikan dengan teliti, sekarang pipi itu terlihat lebih kurus, dagunya semakin kecil dan rona merah di pipinya kini telah pucat.


Ah tidak, dia pengkhianat.


"Akhhh...." Erangan kesakitan lolos dari bibirnya, ia memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. Ia mencoba meraih ponselnya yang tergeletak di lantai karena Silver merebutnya tadi.


Setelah berhasil mendapatkan benda itu, ia menekan satu digit angka dan menelpon seseorang. "To-long... a-kkhh ku...," pintanya kesakitan.


"Jangan berlagak kesakitan, bodoh! Aku tidak akan memaafkanmu meskipun kau kesakitan." Silver merebut ponsel itu dan kembali menelpon nomor yang baru saja ditelpon oleh Paula. "Tidak perlu datang ke sini, Maria. Karena senimanmu sedang bersamaku," ketusnya dan mematikan ponsel itu.


"Meskipun kau meminta tolong kepada Tuhan yang kau sebut tadi, Dia tidak akan datang menolongmu karena aku akan membuangmu ke neraka!"


Paula beringsut mundur saat Silver kembali berjongkok di hadapannya. "Oh darah..." Silver menarik bibirnya tipis saat melihat ada darah yang keluar dari tubuh perempuan itu.


"Hahaha... hanya dengan sekali dorongan saja kau sudah mengeluarkan darah, bagaimana kalau aku sampai bersusah payah membunuhmu?" Seringai iblisnya muncul lagi.


Ia telah menutup mata hatinya, tidak melihat bahwa perempuan di depannya itu sangat kesakitan. Pengkhianatan yang dilakukan Paula menjadikannya kembali sebagai manusia yang tidak punya nurani.


Mungkin sekarang ia harus membunuh agar amarahnya segera padam.


*****


Dokter Jannis terbatuk-batuk, darah segar masih keluar dari mulutnya. Ia berusaha sekuat tenaga agar terbangun dan menyelamatkan perempuan yang sedang kesakitan di sana.


"Pa-paula... a-pa ka-u... uhuk... uhuk... baik-baik saja?" Ia terbata-bata. Darah masih saja keluar saat ia mencoba berbicara.


Silver menoleh dengan tatapan tajamnya yang seolah membelah raga dokter itu. Ia mendekat berjarak satu meter.


"Kau masih hidup?" Silver terkekeh. "Kau masih sempat menanyakan keadaan j*l*ngmu sedangkan kau saja di ambang kematian."


Dokter berwajah tampan itu tersenyum, ia menghapus air matanya yang keluar. "Akhirnya aku bertemu langsung denganmu, Silvester Dominique Dario."


Ia menghela napas sejenak, menetralkan degup jantungnya melihat wajah penuh amarah Silver. "Apa kau tidak pernah mencari tahu kebenaran tentang Paula?" Ia terkekeh. "Ya, benar. Dia kekasihku sekarang. Dan sebentar lagi aku akan menikahinya."


"Kenapa kau memberitahuku hal yang sudah basi itu? Bahkan seluruh dunia sudah tahu."


"Ah maaf, aku tidak bermaksud memberitahumu. Hanya saja, aku terlalu bahagia akan memiliki seorang istri yang sangat kuat seperti Paula."


Silver berdecih, dalam pikirannya kata 'kuat' yang dimaksud pria di hadapannya adalah dalam urusan ranjang. Ia akui, Paula memang hebat dalam hal itu. "Apa kau sudah mencicipinya?"


"Tentu saja, dia sangat hebat!"


Silver menyeringai, ia mengambil sesuatu dari balik kemejanya yang membuat dokter Jannis syok. "Ini lebih hebat, Dokter!"


"Paula!!!"


Bukan hanya dokter Jannis, tetapi Maria yang baru saja muncul dari pintu sangat syok dengan kejadian itu. Paula terjatuh di dalam pelukan dokter tampan itu, dengan peluru yang menancap tepat di dada kirinya.


.


*****