Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 23



Happy reading!😊😘


.


*****


Pantai Waikiki, Hawaii


Manik kuning itu tertutup menikmati indahnya langit senja, dengan tangan terentang menghalau semilir angin yang berlarian ke daratan. Senyuman manis selalu terukir di bibirnya tatkala ia merasakan sentuhan angin di kulit putihnya. Rambut panjangnya terurai membiarkan angin menerbangkannya kemanapun dia suka.


"Kau selalu menghabiskan waktumu di pantai, Sue. Apakah itu membuatmu merasa nyaman?" Seorang pria bertato yang datang dari belakang dan memeluknya.


"Ah, Rod. Kau menggangguku." Ia mengerucutkan bibirnya.


Rodrigo terkekeh. Ia membawa perempuan itu ke tempat mereka bersantai, di atas sebuah ayunan yang terbuat dari jaring. "Kita harus berlama-lama di sini kalau kau suka."


"Tidak, aku ingin menemui papaku." Binar penuh harap itu selalu membuat Rodrigo merasa bersalah, seolah ada sesuatu yang membuatnya mendadak kaku. Sue masih belum mengingat kejadian ayahnya meninggal. "Dia harus tahu kalau dia sudah punya cucu." Ia terkekeh, membawa tangan Rodrigo mengusap perut datarnya.


Rodrigo meringis, merasakan sesuatu yang tak biasa di dalam dirinya ketika ia bersentuhan dengan Sue. "Ada apa, Rod? Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, tapi tolong jangan menyentuh tanganku."


Sue menyipitkan matanya, memandang Rodrigo dengan kesal. Begitu cepat moodnya berubah. "Kau selalu begitu. Apa ada yang salah dengan sentuhanku? Kau saja selalu memelukku kalau kau mau."


Rodrigo menipiskan bibirnya, ia suka saat Sue merasa kesal dan berujung dengan merajuk seperti anak kecil. "Itu berbeda, Sue."


"Apanya yang berbeda?!" teriak Sue kesal, ia menghentakkan kakinya di pasir putih itu.


"Kau benar-benar ingin tahu?" Senyuman nakal terbit di bibir Rodrigo membuat Sue beringsur mundur.


"Ti-tidak. Kau mesum!"


Rodrigo terkekeh. Menikmati senja di pantai Waikiki, menemani perempuan hamil itu merupakan hal luar biasa baginya. Ia merasa seperti seorang calon ayah bagi anak yang dikandung Sue.


"Ayolah, jangan berlagak tidak pernah melihatnya saja," goda Rodrigo dengan mengedipkan sebelah matanya. "Berbaringlah di sini!" Ia menepuk tempat di sebelahnya, menyuruh Sue berbaring di sana dengan berbantalkan lengannya.


"Jangan mengambil kesempatan, Tuan Delore. Kau tahu aku belum mengingat sebagian dari kisah kita, jadi jangan menganggap aku bisa semudah itu masuk dalam perangkapmu."


Meski demikian, ia menurut juga. Berbaring menyamping di samping Rodrigo dan memerhatikan wajah tampan pria itu dari samping. "Kau mengenal papaku?"


"Ayolah, Sue. Aku tidak mengenal siapapun yang dekat denganmu. Kita tidak sedekat itu dulu."


"Tapi, kau bilang aku hamil anakmu." Ia mengerucutkan bibirnya membuat Rodrigo gemas dan mencubit pipinya.


Rodrigo terdiam. Dulu ia mengaku jika Sue mengandung anaknya, membuat perempuan itu memercayai fakta itu sebelum ingatannya benar-benar pulih. Membuat keduanya tidak canggung ketika berbicara. "Ya, kau benar. Tapi kita hanya bertemu sekali."


"Apa?!" Sue memukul dada pria itu. "Berarti kau benar-benar mesum."


"Dengarkan aku dulu, kecil!"


"Kau benar-benar memancing emosiku, Rod. Berhenti memanggilku kecil!"


Rodrigo tertawa. "Baiklah, aku tidak akan memanggilmu kec-awww... sakit Suelita!"


Sue menggigit bahu Rodrigo yang dibiarkan terbuka sampai pemiliknya meringis kesakitan. "Berhenti mengatakannya!"


"Ya, ya. Biarpun badanmu kecil tapi tenagamu lumayan besar juga," ejek Rodrigo sembari turun dari ayunan itu dan berlari menjauhi Sue yang tampak ingin menelannya hidup-hidup.


"Rodrigo!!!! Kembali kau!!!"


Sue turun dengan tergesa-gesa sehingga jari kakinya terjerat jaring itu dan ia terjatuh. "Aawww... kepalaku...."


"Kau pelayanku, aku berhak melakukan apa saja terhadapmu!"


Suara itu kembali membuat Sue merasakan sakit di kepalanya. "Akhh...."


"Sue!"


Rodrigo membantunya berdiri, mengebaskan gaunnya yang penuh pasir.


"Apa kau mengenal Tuanku? Aku tidak mengingat apapun tentangnya, sepertinya aku punya hubungan yang buruk dengannya. Setiap kali aku berusaha mengingatnya, selalu suara penuh ancaman dan intimidasi yang kudengar."


"Sudah ku bilang jangan mengingatnya, Suelita! Kau tidak boleh kesakitan, ingat bayi yang di dalam kandunganmu itu."


Sue menyengir tanpa dosa. "Oh astaga, aku lupa. Maafkan aku, Rod! Aku senang sekali ketika membayangkan ingatanku kembali pulih dan mengingat semua hal yang terjadi di masa lalu."


*****


"Aku merindukanmu, Suelita!"


Zamora memeluk Sue dengan erat, membiarkan kehangatan itu mengambil alih dan mengobati rasa khawatirnya. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ada di sini?"


"Dia yang membawaku ke sini!" Sue menunjuk Rodrigo yang berdiri bersedekap seraya menatap penuh amarah pada pemandangan di hadapannya.


"Dasar psikopat! Dia hampir tidak mengizinkanku bertemu denganmu."


"Hei, jaga bicaramu, Mora. Dia orang baik."


"Kau mengenalnya?"


Sue menggeleng. "Dia bilang aku mengandung anaknya."


"What?! Kau hamil?"


Sue tersenyum lebar, kembali memeluk Zamora. "Ya, umurnya empat minggu."


"Dia bukan kekasihku," gumamnya yang masih didengar Zamora.


"Bukan kekasih? Astaga, kau membuatku pusing, Sue. Kau sudah hamil anaknya berarti kalian adalah sepasang kekasih."


"Ya, ya... terserah kau saja."


Ia duduk berselonjor di dahan pohon kelapa yang tumbuh miring ke arah laut, diikuti oleh Zamora.


"Bagaimana bisa kau datang ke sini bersamanya?"


Sue mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Dia membawaku ke sini setelah aku keluar dari rumah sakit."


"Rumah sakit? Kau sakit apa?"


"Luka." Ia menunjukkan bekas luka yang masih terlihat jelas di telapak kaki dan wajahnya.


"Siapa yang membuat luka itu?"


"Aku tidak tahu. Aku masih belum bisa mengingatnya." Ia tertunduk lesu. "Oh ya, apa kau mengenal Tuanku?"


"Apa kau juga melupakannya? Wah... padahal kau selalu ingin bertemu dengannya dulu."


"Benarkah? Kau mengenalnya?" Sue antusias.


"Tentu saja. Dia menanyakanmu, juga ingin bertemu denganmu."


"Astaga, siapa namanya?"


"Silvester Dominique Dario."


"Hah?!" Ia terkejut. "Sepertinya tidak asing," gumamnya.


"Tentu saja tidak asing. Dia tipe pria yang selalu kau dambakan dalam imajinasimu."


"Apa dia seorang artis? Atau pengusaha? Astaga, membayangkan wajah tampannya saja membuatku gila." Ia mengipas wajah dengan tangannya karena merasa gerah, padahal cuaca tidak sepanas itu di pantai pada pagi hari.


Zamora tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa kaku. "Apa kau ingin bertemu dengannya?"


Sue mengangguk antusias. "Merci Zamora."


*****


"Kau berhasil membujuknya?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Ya, dia ingin bertemu idolanya."


"Bawa saja dia ke sana. Awasi adikku, jangan sampai pria br*ngs*k itu menyakitinya lagi."


"Baiklah, Max. Apa kau tidak khawatir padanya? Dia tidak mengingat apapun tentang pria itu."


"Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya masuk ke kandang singa tanpa pengawasan. Percayalah! Aku hanya ingin 'dia' menyesali perbuatan bejatnya."


Zamora mengangguk lesu. "Aku percaya padamu. Pegang janjimu, ok? Jangan biarkan dia tersakiti."


Pria di seberang sana terkekeh. "Kau terlalu meremehkan aku rubah kecil. Apakah kau tidak memikirkan keselamatannya saat kau menerima uluran tangan pria sialan itu? Saat itu juga kau mengkhianati persahabatan di antara kalian."


"Ya, aku tahu. Karena itulah aku menerima kelicikanmu, tuan mafia. Aku tidak ingin berurusan dengan pria berkepala perak itu lagi."


Terdengar suara tawa dari seberang. "Kau licik juga. Sudahlah, wanitaku sudah menungguku di ranjang. Jangan biarkan siapapun tahu rencana kita."


"Huffttt...." Zamora menghela napas lega setelah seseorang di sana menutup telponnya. "Aku terjebak di dalam labirin kehidupan nyatamu, Suelita. Semoga kau menemukan kebahagiaan setelah ini."


"Kau memberitahu keberadaan kami?" Suara Rodrigo mengejutkannya.


"Pelankan suaramu, pria tampan. Jangan berisik kalau tidak ingin suaramu di dengar ikan-ikan di laut ini."


Rodrigo mengernyit bingung, tapi ia menuruti perkataan Zamora. "Bagaimana kau menemukan keberadaanku?"


"Tuan Mafia itu memberitahuku, dia membantuku menjalankan rencana sialan ini."


Rodrigo mengangguk mengiyakan, mengerti dengan maksud Zamora karena keberadaannya di sini juga karena campur tangan pria itu.


"Baiklah, aku mengikuti permainan kalian."


Dari kejauhan, seorang pria berkacamata hitam berpenampilan layaknya turis di negeri asing, menelpon Tuannya untuk melaporkan sesuatu yang baru saja dilihatnya.


"Ada apa?"


"Kami menemukannya, Tuan!"


"Hm."


"Dia ingin pulang menemuimu, Tuan. Dan sepertinya..."


"Hm."


"Keadaannya sedikit memprihatinkan. Dia mengalami amnesia ringan, Tuan."


.


*****


Jangan lupa like, komen dan vote untuk mendukung cerita ini yaa!! Dan favoritkan agar mendapatkan notif update terbaru!!! Terima kasih🙏.