
Happy reading!😊😘
.
*****
Los Angeles, USA
Gregor yang baru saja mendapat telepon misterius dari sang sepupu hanya mendesah pasrah. "Sialan, aku barus saja mendarat di sini."
"Siapa?" tanya gadis berambut putih yang bergelayut manja di lengannya.
"Sepupuku. Dia menyuruhku main drama lagi."
"Hah? Kau pandai main drama? Wah... Kau berbakat jadi aktor, Greg," puji gadis itu tanpa menaruh kecurigaan.
"Aku memang aktor. Tetapi khusus untukmu." Gregor gemas, mencubit hidung mungil milik gadis itu.
"Aku tidak bisa bernapas... Hufftt."
Gregor terkekeh. "Aku akan membantumu." Ia langsung menyatukan bibir mereka tanpa persetujuan gadis itu.
Zamora mendorong dada Gregor saat dirasanya udara di dadanya hampir habis. "Dasar gila. Kau membuatku hampir mati." Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Aku tidak akan melakukannya karena kau..." Ia sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Apa?"
"Kau wanitaku sekarang."
Zamora terkejut, lalu memasang wajah cuek. "Aku tidak mau."
"Aku memaksa." Ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang kecil gadis itu meski Zamora berusaha menghindar. "Ayo ke rumah ayah mertua. Aku akan meminta untuk menikahimu segera."
"Jangan gila. Aku tidak mau menikah dengan pria tua sepertimu."
Gregor terkekeh. Ia akui, gadis di pelukannya itu memang masih kecil dibandingkan dirinya yang hampir berkepala tiga, bisa dikategorikan sebagai anak di bawah umur. Tetapi, ia menyukai setiap kelakuan manja Zamora, rengekan dan kata-katanya yang ketus.
"Aku akan menjadi suami yang baik."
Zamora tertawa. "Kau lebih pantas menjadi daddyku, bukan suamiku."
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi daddy anak-anak kita."
"Tidak, tidak, jangan meracau. Kau akan dijuluki pedofil kalau kau menikahi anak di bawah umur."
"Biarkan saja. Aku suka julukan itu asalkan aku menikah denganmu." Ia menggendong Zamora masuk ke dalam taxi yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Astaga, kau pantas dijuluki pedofil."
Gregor terkekeh pelan, mencium aroma mint di rambut gadis itu.
Si oranye itu melaju setelah mereka memberikan alamat yang dituju.
"Bagaimana dengan drama yang kau maksud tadi? Kau akan membatalkannya?"
"Dia akan mengurusnya."
"Yang benar saja, kau akan bangkrut, Greg."
Gregor terkekeh. "Kau menggemaskan. Aku tidak akan bangkrut hanya karena membatalkan hal itu."
"Lelaki tua sombong."
*****
Sue terjaga tengah malam saat rasa lapar melandanya. Ia memegang perutnya yang melilit, menahan rasa mual yang mengerogoti.
Sejak pagi ia tidak memakan apapun, hanya menghabiskan setengah mangkok bubur yang dibuatkan Carissa untuknya. Sekarang, ia harus menahan rasa lapar itu sampai esok pagi datang.
Bibirnya terasa sakit, tetapi rasa lapar itu mengalahkannya. Ia membalik posisi tidurnya yang telentang menjadi tengkurap, menyangga perutnya agar menahan lapar.
Tidak ada siapapun di sana yang bisa dimintai tolong. Sunyi, sepi, dan kegelapan menyelimuti.
Ia mencoba memejamkan matanya, berulang kali sampai ia benar-benar lupa dengan rasa lapar itu.
*****
Manik kuning itu perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang minim di ruangan sempit itu. Hanya ventilasi kecil di atas jendela kayu yang membantunya mendapatkan cahaya.
Di belakang pintu yang terkunci itu, terdapat beberapa potong roti Pao de Quiejo di atas piring kecil.
*Pao de Quiejo adalan nama lain roti keju di Brazil.
Ia mengambil roti itu, memakannya dengan rakus, mengabaikan rasa sakit di bibir bawahnya. Ia tidak memperdulikan keadaannya, perut yang kenyang akan memulihkan tenaganya. Ia tidak akan merasa takut lagi pada Silver, pria idolanya.
Saat ia menggigit potongan terakhir roti itu, pintu terbuka, memunculkan sosok yang baru saja ia pikirkan. Ia tersedak lalu memukul dadanya.
"Ck, dasar binatang."
"Siapa yang memberimu makanan ini?" Silver menarik paksa roti yang masih tersisa setengah itu, menjatuhkannya dan menginjaknya dengan sneakersnya.
Sue hanya memandang kosong pada makanan yang beralih ke dasar sneakers itu, tanpa mendengar pertanyaan Silver.
"Perempuan gila." Ia menjambak rambut Sue, menariknya ke atas sehingga Sue ikut berdiri. "Beraninya kau mengacuhkanku."
"Ma... maaf, Tuan."
Silver langsung membungkam mulut Sue dengan mulutnya, menciumnya dengan brutal, penuh amarah.
Tangannya bergerilya, membuka kancing kemeja navy yang dipakai perempuan itu. Lalu mer*mas kuat sesuatu.
Sue terkejut dengan serangan tiba-tiba dan kasar itu, ia menahan napasnya saat tangan Silver melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Bibirnya kembali berdarah.
Air matanya kembali jatuh, menitik tanpa permisi. Ia tahu, hal kemarin malam akan terjadi lagi.
Ia tidak bergerak, percuma memberontak karena pada akhirnya pria itu akan menghabisinya. Ia sadar posisinya.
Silver melepaskan ciuman panas itu setelah pasokan oksigen di dadanya terkuras. Ia tersengal-sengal, manik hijaunya menatap tajam tubuh Sue yang tanpa sehelai benang itu. Menilik dengan seksama, dan kembali mencium dengan penuh emosi.
"Kau sudah memiliki tenaga, bukan? Puaskan aku sekarang, j*l*ng kecil."
Sue tidak menjawab, juga tidak menolak saat pria berambut silver itu kembali memaksakan kehendaknya.
*****
"Kenapa kau lama sekali?"
"Kau tahu urusanku, Rod."
Rodrigo memicingkan matanya, menilik penampilan Silver yang acak-acakan, tidak sama seperti tadi.
"Kau menidurinya?" tanya pemilik manik cokelat itu sambil terkekeh.
"Kau tahu semua tentangku, sialan." Ia menghisap batang bernikotin itu dan menghembuskan asapnya keluar.
"Dasar pecundang. Kau bilang membencinya tapi kau juga menidurinya. Apa otakmu bengkok?"
Silver terkekeh pelan, lalu menghisap kembali rokok itu. "Dia pelayanku, berarti dia milikku. Aku bebas melakukan apapun padanya, termasuk menidurinya sampai aku puas bermain dengannya."
"Kau gila. Kalau kau menyakitinya, aku akan memenggal kepala perakmu itu." Ia berdehem. "Apa kau memakai pengaman?"
"Oh astaga, aku melupakannya." Ia menepuk jidatnya. Karena dikuasai oleh amarah, ia melewatkan sesuatu yang penting itu. Melupakan hal yang harus ia lakukan saat berhubungan intim.
Rodrigo tertawa renyah. "Aku akan segera menggendong baby."
"Jangan khawatir. Aku akan mengatasinya sebelum keinginanmu itu terkabul." Ia membuang puntung rokok itu ke tempat sampah lalu keluar dari ruangan gymnya.
Pria manik cokelat bertato itu mengikuti, merangkul leher Silver. "Ayolah, cobalah untuk mencetak gol. Kau belum pernah melakukannya meskipun itu pada Paula."
Silver memukul kepala Rodrigo. "Dia tidak pantas mengandung anakku. Dia binatang."
"Ya, binatang yang kau tiduri." Ia menendang tulang kering Silver kemudian berlari menjauh sebelum mendapat balasan yang lebih besar.
"Dia cocok untuk membakar lemak di pagi hari," gumamnya.
*****
Pria tua itu tersenyum cerah, mengalahkan cerahnya mentari pagi di kota São Paulo. Kabar bahwa Silver baru saja memulai aksinya mengubah seluruh ambisinya. Ia hanya perlu menunggu, bersabar menanti keajaiban besar mengubah kehidupannya.
Ia duduk menyilangkan kakinya di kursi taman di belakang rumahnya.
"Sepertinya paman sangat bahagia."
Suara seseorang dari belakangnya membuatnya menoleh. "Ya, aku bahagia, anakku."
Silver ikut duduk di sampingnya. "Apa yang harus kulakukan, paman?"
Alfonso mengerutkan keningnya, menatap Silver dengan tatapan tak terbaca. "Apa maksudmu?"
Silver terkekeh, menyodorkan sebatang rokok yang disambut hangat oleh sang paman. "Dimana Gregor? Dia tidak menampakan dirinya padaku hari ini."
"LA, mungkin. Aku juga tidak tahu apa yang dilakukan anak nakal itu sekarang."
"Apa yang dilakukannya di sana?"
"Dia pergi tanpa memberitahuku, aku hanya mendengar obrolannya dengan Gregoria kalau ia akan ke sana."
Silver mengangguk, memutar otaknya untuk memundurkan jadwal yang sudah ia atur, menyesuaikannya dengan keadaan sekarang. "Apa paman ingin bermain sedikit? Aku punya mangsa yang bagus."
"Benarkah?" Alfonso terlihat antusias meskipun usianya tak lagi muda.
"Aku menangkapnya beberapa hari lalu."
*****
Jejaknya ya sayang!😄😘