
Happy reading!
.
***
Sue mematikan sambungan telepon dari seseorang saat ada yang membuka pintu. Kerutan di keningnya mendalam melihat wajah anak laki-laki kecil yang tadi masih tidak berekspresi, berubah menjadi sangat murung.
Dia menatap dalam diam, menunggu Diego membuka mulutnya. Bau amis darah, membangkitkan rasa mual di tubuh Sue, tapi dia menahan sekuat yang dia bisa.
Tangan dan baju Diego masih berlumuran darah, rupanya anak kecil itu benar-benar patuh untuk segera menemuinya.
Tatapan manik cokelat itu masih sama, tidak ada penyesalan sama sekali, meski wajahnya telihat murung.
"Apa kau tahu kenapa aku menyuruhmu datang ke sini?"
Sue bersedekap, menyangga kakinya dengan punggung kursi. Diego menatapnya intens, tidak terdapat ketakutan dari sorotnya yang bercahaya.
"Moon marah karena aku melakukan itu 'kan? Tapi aku tidak menyesalinya. Membereskan lebih dulu lebih baik dari pada mendapatkan musibah di kemudian hari, itu yang Uncle katakan waktu dulu."
Dia menyorot dalam manik kuning yang masih tanpa ekspresi itu. Diego berdiri tegap, tidak akan mundur meski Sue mengintimidasinya dengan tatapan tajam.
Jika disaat biasa Diego akan menyengir takut, tapi sekarang dia tidak goyah. Pendiriannya yang kuat, membuat Sue berpikir apa karena ini Bertha tidak pernah melarangnya melakukan hal berbahaya.
"Apa yang kau dapatkan dengan itu, Diego? Anak kecil seumuranmu seharusnya belajar dengan damai di ruang belajar, bukan berkelahi dan membahayakan diri sendiri. Apa kau tahu seberapa khawatirnya aku melihat darah itu?"
Sue memegang pundak Diego yang tidak bergeming, ikut menyamakan tinggi dengan anak kecil yang tinggi sebatas perutnya.
"Aku hanya ingin mengambil setetes darah mereka, Moon, tapi orang itu tidak menyetujuinya. Dia hendak menyakitiku, jadi aku menyerangnya juga."
Wanita blonde itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia menarik Diego dalam pelukan. Menyentuh rambutnya yang berantakan, dia kembali merasa mual saat mencium bau amis darah di baju Diego.
Tidak ada pergerakan dari Diego. Sue berpikir anak kecil itu tidak ingin memeluknya. "Kau mempertahankan keselamatanmu, itu bagus. Tapi caramu salah, Sayang. Nyawa seseorang berharga, kau tidak bisa menghabisinya begitu saja. Tidak harus menggunakan kekerasan, berbicara bisa menyelesaikannya 'kan?"
Sue menepuk pundak yang tidak sedikitpun memberikan reaksi itu, menyentuh jemari yang tadi memegang jarum suntik dengan lembut.
"Kau masih harus bermain piano dengan jari ini, kau tidak boleh menyakitinya."
Tanpa Sue sadari, anak kecil yang terdiam itu menatapnya heran. Diego merasa takut dengan perhatian yang tersirat dalam perkataan Sue, membangkitkan bulu kuduknya.
Yang biasanya galak dan bisa memakan habis serigala lapar, Sue berubah menjadi seseorang yang bahkan membuatnya takut. Diego merasa ada yang salah.
"Moon ...."
"Jangan berbicara dulu, kau harus mandi dan ganti pakaianmu. Kau bau, Alita akan menertawakanmu nanti."
Diego tetap tidak bergeming, dia masih setia di tempatnya berpijak. Sue menarik tangannya yang dibalas tarikan sekuat tenaga olehnya.
"Moon, kenapa kau tidak marah padaku? Tidak seperti kau yang biasanya ingin memukulku saat aku salah. Ada yang salah denganmu hari ini."
Dia memandang wajah Sue yang masih datar, wanita itu tidak menjawabnya. Bahkan sedikit reaksi terkejutpun tidak memberinya jawaban pasti, Diego berpikir dengan menerka akan menemukan jawaban. Rupanya Sue ahli dalam meredam perasaannya.
"Tidak ada yang salah denganku, Diego. Kau yang mengubah cara pandangmu padaku hari ini, menilaiku sebagai orang baik dalam sesaat. Tapi kau tidak akan bisa lari dari kejaran hukuman."
Dia menarik Diego dengan jemarinya yang kuat, sehingga sekuat apapun rontaan Diego tidak berhasil mengalahkan.
"Kau harus mandi sebelum menerima hukuman, aku tidak berbaik hati saat ini. Kau membuatku mual dengan bau darah, kau pikir masalahnya akan selesai? Aku pandai balas dendam, kau tunggu akibatnya."
Diego tidak menjawab, dia mengikuti ke manapun Sue menariknya dan berakhir di kamar mandi. "Mandilah, aku menunggumu di sini. Mengulur-ulur waktu? Kau tahu bagaimana akibatnya."
***
Dia berpikir akan dihukum dengan cara sadis. Menggantungnya seperti yang dilakukan Bertha tepat pertama kali dia ketahuan melakukan hal berbahaya seperti ini.
"Ayo pijat, apa yang sedang kau pikirkan?"
Teguran keras itu berhasil mengembalikan kesadarannya. Sue berbaring, menyuruhnya memijat tubuhnya.
"Moon, kau yakin ini hukumannya? Ini seperti penyiksaan," gumamnya di akhir.
"Kau berbuat salah, tentu saja harus dihukum." Sue membalikkan tubuhnya yang tengkurap, menghadap Diego yang tampak kebingungan dan salah tingkah di tempatnya. "Atau kau menginginkan hukuman gantung dan pancung? Aku bisa memenuhi permintaanmu."
Anak laki-laki itu menggeleng cepat. Dia tidak mungkin menawarkan diri untuk dihukum dengan cara sadis seperti itu, dia sudah pernah merasakannya dan sekarang tidak lagi.
Tentu saja dia memilih hukuman yang ringan, misalnya makan yang banyak atau tidur seharian di rumah. Itu hukuman terbaik yang terlintas di kepalanya.
"No, Moon, aku memilih hukuman ini, aku akan memijatmu dengan baik."
"Satu lagi, kau tidak boleh membahayakan dirimu lagi."
"Ya, Moon. Bisakah kau berbaring sekarang? Aku sudah siap untuk memijatmu."
Sue kembali tengkurap, membiarkan Diego memijat belakangnya.
Di setiap gerakan tangannya, Diego menyeringai lebar. Dia merencanakan balas dendam juga untuk ini, dia tidak ingin mendapat hukuman dari Silver karena menyentuh punggung Sue.
Dengan satu tangan, Diego mengambil ponsel dan memontret diam-diam tangannya yang sedang memijat, lalu mengirimnya pada Silver.
Selesai dengan itu, dia terkekeh pelan dan itu berhasil membuat Sue sadar. "Apa yang kau tertawakan, Diego? Hukumanmu belum berhenti di sini, jangan senang dulu."
Merasakan keram di perutnya akibat menahan tawa, Diego berdehem. "Moon, aku merindukan Uncle Sil. Kapan dia pulang? Aku mencoba menelponnya tapi dia tidak pernah menjawab."
Sadar dengan itu, Sue membalikkan badan tepat saat Diego hendak mengambil gambar lagi. Jantung Diego berpacu dengan cepat, semakin bertambah saat Sue merebut benda di tangannya.
"Diego, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang mengkhianatiku?"
"Moon, maaf ...."
Mata Sue melotot, dia menekan layar ponsel itu dan menatap tajam pada Diego sebelum melihat apa yang tertera di sana.
"Kau mencari tutorial memijat di internet huh?" Sue menutup mulutnya dan tertawa keras. "Aku tidak menyangka kau punya kelemahan juga, Diego. Kau tidak punya pengalaman memijat sebelumnya?"
Dalam hati, Diego terbahak-bahak. Untung jarinya secepat mungkin membuka Google, yang tadi telah dipersiapkannya jika keadaan darurat terjadi. Dan itu memang berhasil, Sue dikelabuhi.
"Moon, aku harus menghindari tulang yang gampang patah, aku takut Uncle Sil membunuhku karena menyakitimu," kilahnya.
"Ya, kau bisa membunuh orang dengan jari kecilmu itu."
Dia memuji kehebatannya dalam berdalih jika keadaan darurat. Mulutnya tidak henti membentuk garis lurus, yang terlihat seperti cengiran.
Dan tawanya meledak ketika Silver menelpon di ponselnya yang diterima oleh Sue. "Bajingaan nakal, sialan kau! Apa yang kau lakukan dengan istriku?!"
.
---
Ig @Xie_Lu13