Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 13



Happy reading!😊😘


.


***


Terbangun dalam keadaan yang masih mengantuk, Silver terhuyung dari tempatnya.


"Astaga, apa yang dilakukan istri kecilku? Bagaimana mungkin dia menidurkanku di sini? Sangat menggemaskan," gumamnya.


Ia tertawa mengingat apa yang dilakukan Sue untuk membuatnya tidur. Keluar dari ruangan itu, ia mendapati seorang anak kecil yang mengesalkan duduk sambil memegang tangan bayi kecilnya di kamar.


Sesaat rasa kesal menyelimuti hatinya, ia mendekati dan menjitak kepala Diego.


"Kenapa kau selalu datang di rumahku tanpa pemberitahuan? Seperti maling."


Diego tersenyum sinis. "Apa aku harus melaporkan semua yang kulakukan padamu, Uncle? Lagipula, aku ke sini untuk bertemu pacarku. Aku sudah mengabari Aunty kalau aku akan ke sini," jelas Diego.


Silver tak dapat berkata-kata.


"Siapa yang mengantarmu ke sini? Atau kau kabur dari rumah?"


Diego mendelik, Silver selalu saja berburuk sangka padanya.


"Aku selalu berjalan di jalan yang benar untuk malaikatku, Uncle. Tidak mungkin aku berdiam di kegelapan," gumamnya kemudian.


"Apa Uncle tidak bekerja hari ini?"


"Tidak, aku harus memastikan anakku tidak digigit nyamuk raksasa."


Diego tergelak, "Apa Uncle masih menganggapku anak kecil? Aku sudah dewasa sekarang."


Mendengus tidak suka, Silver mengangkat Alita dari boxnya. "Di mana istriku?"


"Aunty ke kamar mandi."


Tak lama setelah itu, Sue keluar. "Kau sudah bangun? Aku membuat makan siang yang banyak, kita makan bersama."


Dengan kesal karena Diego terus mencubit pipi Alita, Silver menyahut, "Tidak boleh makan bersama kalau bukan keluarga."


Tak menghiraukan ocehan Silver, Diego berdiri dan mendekat. "Princess, Mommy dan Daddy mengajakku makan bersama, aku ke sana dulu. Bye," pamit Diego seraya mencium pipi Alita.


"D'antonio! Kau!"


Menaruh kembali Alita dalam boxnya, Silver memanggil Carissa. "Jaga dia dengan nyawamu, Angelina!"


"Aku mengerti, Monsieur," jawab Carissa sambil menepuk paha Alita agar bayi kecil yang menggemaskan itu tenang.


Sebelum keluar dari ruangan itu, Silver berbalik dan menatap tajam perempuan berambut pendek itu.


"Belum ada alasan yang tepat untuk mencurigaimu, Black Angel. Bersantailah lebih sedikit lagi karena waktumu semakin berkurang."


Mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan, Silver melihat Carissa menyeringai di tempatnya berdiri.


"Terima kasih karena kau mengingatkanku, Monsieur. Tapi, ingatlah bahwa tidak akan terjadi hujan tanpa awan terlebih dahulu, begitupun guntur yang diawali kilat. Ada penandanya, bukan?"


Silver mengepalkan tangannya, mata hijaunya meredup oleh kilatan amarah. Namun, tersadar oleh kata-kata Carissa yang sedikit masuk akal, ia melangkah keluar tanpa mengucapkan apa-apa.


Dalam diam, ia merenungi. Apa perkataan Carissa ada kaitannya dengan kiriman video yang ia dapatkan sepekan yang lalu.


"Sepertinya itu memang tanda untukku tetap bersiaga," gumamnya seraya menuruni tangga.


Melihat istrinya yang tersenyum di sana, ada sedikit kecemasan di dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan istri dan anaknya berada dalam bahaya, terlebih lagi sumber bahayanya ada di dalam rummahnya sendiri.


Tapi, saat matanya menilik area lain di meja makan itu, rasa kesal tiba-tiba muncul. Diego yang tersenyum manis bersama istrinya membuatnya tidak tahan untuk berdehem.


"Sil!"


"Uncle!"


Keduanya teriak bersamaan, masing-masing menarik satu kursi agar Silver duduk di sampingnya.


"Kenapa kau menarik kursi juga, D'antonio?"


Silver mengernyit sinis saat Diego menepuk kursi itu. "Astaga, kau tidak bisa ditebak, anak kecil. Terima kasih tapi maaf, aku harus duduk di samping istriku."


"Aku menantumu, Uncle. Duduklah di sini."


Silver menggeleng, ia duduk di samping istrinya. "Kau pasti merencanakan sesuatu yang gila."


"Ayolah, Uncle, aku anak yang baik dan manis, tidak mungkin melakukan itu."


"Tutup mulutmu, jangan tersenyum aneh seperti itu."


Diego tidak memedulikan, ia menyendokkan makanan ke dalam piring Silver. "Aku memang baik hati, Uncle, jangan berterimakasih."


Berdecih tidak suka, Silver memakan juga makanan itu dengan sesekali memelototi Diego.


"Astaga, aku tidak tahan dengan kenarsisan anak kecil ini," gumamnya memutar bola mata. "Kapan kau ke Italia?" tanya Silver mengalihkan pembicaraan.


Diego terdiam, namun setelah itu ia tersenyum manis. "Uncle ingin mengantarku? Tidak, jangan dulu, nanti setelah aku lulus sekolah baru aku ke sana bersama pacarku."


Mata Silver melotot sempurna. "Kau bilang apa?!"


"Uncle terkejut?" Diego tergelak. "Aku hanya bercanda, tapi ...." Ia mendekat, berbisik pelan pada Silver. "Kalau Uncle terus mengusirku dari sini, aku tidak berjanji."


"Mimpimu terlalu tinggi, D'antonio!"


***


Bermain bersama Alita membuat anak kecil itu tertawa lepas. Ia merasakan kedamaian jika berdekatan dengan bayi mungil yang sangat lucu itu.


Tangan halus Alita menggapai wajahnya, dengan tersenyum Diego mendekat.


"Hahaha, kau menusuk lubang hidungku, Elle. Sangat geli ...."


Diego menjauhkan wajahnya, mengusap air mata yang menetes karena terlalu banyak tertawa. Baru kali ini ia bisa tertawa lagi setelah sekian lama, terhitung sejak perpisahan kedua orang tuanya.


"Elle ...."


"Kau memanggil anakku apa?"


Silver datang entah dari mana dan menginterupsi kebahagiaannya.


"Elle."


"Kenapa?"


"Nama itu cantik, lebih cocok lagi dengan nama Santino."


"Ck, kau memang percaya diri, D'antonio. Jangan mengganggu anakku sebelum kau lulus sekolah."


Diego berbinar, ia memeluk Silver dengan erat. "Benarkah, Uncle? Apa kau sudah menyerah karena aku menang taruhan?"


Suasana hati Silver yang semula tenang langsung bergemuruh. "Aku tidak menyerah dan belum dinyatakan kalah. Kau harus menyelesaikan pendidikanmu sebelum pernyataan menang-kalah itu diputuskan. Pria sejati selalu menepati janjinya dan tidak akan pernah menyerah, kau tahu itu, bukan?"


Diego mengangguk, ia mengajak Silver untuk menautkan jemari mereka dan berjanji.


"Jangan takut, Uncle, aku selalu menepati janjiku. Tapi, jangan menangis ketika aku membawa princess-ku pergi darimu."


Seringai menyebalkan itu membuat Silver mengapit leher Diego. Ia menarik Diego ke sisi lain dari box Alita.


"Di mana Rod?"


"Aku tidak tahu, serangga pengganggu itu terus menempel padanya. Aku tidak suka makanya aku sering ke sini sendirian."


"Kau datang sendirian ke sini?"


"Ck, aku diantar Mommyku, Uncle."


"Kenapa Bertha tidak mampir?"


Diego mengangkat bahunya. "Mommy bekerja."


Mungkin ini kesempatan bagi Silver. Ia tahu kemampuan anak kecil itu dalam hal memegang senjata, tidak terkalahkan.


"Kau ingin tinggal di sini?"


"Kau mengizinkannya?" tanya Diego antusias. Namun, sesaat kemudian ia termenung.


"Kau kenapa?"


"Aku mengkhawatirkan Mommyku, Uncle. Dia tidak bisa tidur tanpa memelukku."


Berdecak malas, lelaki bermanik hijau itu berucap, "Kau bilang dirimu sudah dewasa tapi masih memeluk ibumu? Huh, aku tidak bisa memercayaimu."


"Come on, Uncle, tingkat kedewasaan tidak hanya selalu dilihat dari interaksi dan perilaku, tapi pola pikirnya. Aku berpikir dewasa dan menyebut diriku dewasa."


Seraya mengacak-acak rambut Diego, Silver berbisik, "Kau bisa bertemu Elle-mu setiap hari."


"Benarkah? Tapi, Mommy ...."


"Bertha pasti mengizinkanmu."


.


***


Love,


Xie Lu♡