Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 15



Happy reading!😊😘


.


*****


.


"Dia keracunan makanan."


"Apa?!"


Dokter yang memeriksa keadaan Sue itu menghembuskan napasnya pelan. "Ya, dia keracunan."


"Apa yang dimakannya?" gumam Carissa. "Bagaimana keadaannya, Dokter?"lanjutnya kemudian.


"Dia tidak apa-apa. Hanya sedikit efek dari racun itu sehingga ia belum sadarkan diri."


"Syukurlah. Terima kasih, Dokter!"


Dokter itu mengangguk. "Saya permisi."


Carissa duduk di samping ranjang kecil kamar Sue, menatap nanar wajah pucat pasi yang berbaring lemah di kasur itu dengan jarum infus di telapak tangannya.


"Apa yang kau makan tadi, bodoh?"


Carissa keluar dan langsung bertatapan dengan mata tajam milik José.


" 'Jangan mengurusi urusan orang lain!' Kau tidak lupa tentang peraturan itu, bukan? Kau yang selalu mengajari pegawai baru di sini, bagaimana kau mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuan?" Tangan José terangkat dan menyuruhnya pergi, kembali pada rutinitas seperti biasa.


Carissa berlalu. "Dasar manusia tidak punya hati," gumamnya.


"Apa?"


Ia tersentak, José mengikutinya. "Tidak ada apa-apa."


"Kau paling mengenal Tuanmu, Carissa. Berhenti bersikap bodoh."


Carissa menoleh sinis. "Aku tahu. Jangan mengikutiku, pria tua tidak punya hati."


José terkekeh, kembali menatap tajam Carissa. "Yang kau katakan tidak punya hati itu baru saja menyelamatkan nyawa."


"Yang benar saja, kau hampir membunuh Suelita." Carissa melengos, pergi meninggalkan José.


José hanya menatap datar punggung yang menghilang di ujung lorong, ia menipiskan bibirnya setelah mengingat betapa khawatirnya Carissa terhadap Sue. "Kau bermain peran dengan sangat baik selama ini, Carissa."


*****


Tengah hari, manik kuning itu terbuka. Ia terkejut mendapati dirinya berada di kamar, bukan di penjara bawah tanah yang sempit itu. Ia menyingkap selimut yang membungkus kulitnya.


"Akhh...." Ia merasakan sakit di punggung telapak tangannya. "Jarum infus?!" teriaknya histeris melihat tangannya ditusuk jarum.


Seketika bulunya merinding, ia takut jarum suntik. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa melepaskannya," gumamnya dengan airmata yang mengalir, berusaha mencabut infus itu.


Sambil berusaha mencabut infus itu, ia mengingat kembali kejadian yang menyebabkannya kembali berbaring di kamar ini. "Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya ingat aku jatuh pingsan setelah Tuan Silver per--akhh... da... rah...."


Ia terisak melihat punggung telapak tangannya berdarah. Bukan karena sakit, tetapi rasa traumanya kembali menyerang ingatannya. "Mama...." Tanpa sadar ia menggumamkan kata itu sebelum jatuh dan tak sadarkan diri.


Matanya terpejam rapat, ia kembali memimpikan tentang kejadian buruk yang menimpanya.


"Kak, kepala mama berdarah." Sue kecil mengadukan hal itu kepada seorang pria bermanik biru-kuning yang menatap pemandangan itu dengan datar. "Kenapa berdarah, kak?" tanyanya.


Pria itu tetap menatap datar, tanpa merespon sedikitpun perkataan Sue. "Kak Max, kenapa kakak diam saja? Apa Sue nakal?" tanyanya lagi dengan buliran air kembali jatuh di pipinya.


Ia kembali menatap wajah ibunya, terlihat damai meskipun penuh darah. "Mama, apa benar Sue nakal? Hiks... kak Max tidak mau berbicara pada Sue, apa kak Max benci pada Sue?


Ia menengadah, memperhatikan wajah datar sang kakak, kemudian memeluk kaki Maxwell dengan erat. "Sue janji tidak akan nakal lagi, Kak. Jangan membenci Sue ya," pintanya dengan isakan tertahan. Maxwell tersenyum tipis, lalu mengangguk.


Sue tersenyum, tetapi rasa penasaran kembali menghatui pikirannya. "Kenapa dahi mama bocor kak? Apa ditusuk panah?"


Sue menyengir, lalu mengusap air matanya kasar. "Papa pernah membawa seekor burung dari hutan, kepalanya bocor seperti dahi mama. Papa bilang itu karena ditusuk panah."


Maxwell mengangguk menanggapi celotehannya. Kemudian ia bertanya lagi, "Apa sakit, Kak?"


"Kau pernah disuntik?" tanya Maxwell yang dibalas anggukan olehnya. "Rasanya kurang lebih seperti itu."


Mendengar kata 'disuntik' mengingatkan Sue kecil pada jarum suntik di ruangan dokter yang pernah dimasukinya, menyuntiknya sehingga ia menangis. "Sakit...." Ia terisak lagi.


Ia memangku kepala Marcelin yang berdarah, mengusap darah yang terus mengalir dari dahinya. " Bangun mama, Sue takut darah... Ini pasti sakit 'kan?"


Sue terus bergerak gelisah, bahkan tanpa sadar ia menendang seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Mata hijaunya menatap penuh aura membunuh.


Air matanya kembali mengalir, membasahi bantal dan selimut tipisnya. "Mama...."


Ia meremas kuat selimut itu, melampiaskan segala ketakutannya. Bukan hanya darah yang kembali menghantuinya, tetapi lebih ke jarum suntik yang tadi menempel di kulitnya.


Kepalanya menggeleng, mencoba menghilangkan mimpi buruk itu, meskipun mimpi itu terus bersemayam di sana.


"Mama... Sue takut," lirihnya dalam gumaman. "Sue takut tidak bisa menjadi kuat seperti yang mama inginkan."


Silver yang hanya memperhatikan kegelisahan perempuan itu akhirnya membangunkannya. "Bangun, bodoh. Kau tertidur sangat lama."


Sue terusik, ia membelakangi Silver tanpa membuka matanya. Rupanya, ia hanya mengubah posisi tidurnya. "Tidur seperti binatang. Hei... bangun!" Ia menepuk pantat Sue lebih keras.


"Bangun, bodoh!"


Karena tidak kunjung bangun, Silver mengambil segelas air yang berada di samping tempat tidur itu, menyiram wajah Sue. "Dasar binatang."


Caranya berhasil, Sue terbangun. Perempuan itu mengusap wajahnya yang tersiram air, terengah-engah karena mimpinya yang buruk merenggut seluruh kesadarannya.


Belum sempat Sue membuka mulutnya untuk berteriak, Silver sudah menarik rambutnya sehingga ia terduduk. "Perempuan bodoh, tidur seperti binatang." Ia memegang tangan Sue yang berdarah tadi. "Siapa yang memberimu roti keju?"


Sue belum sepenuhnya sadar, ia masih mengerjap bingung. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu."


"Dasar bodoh. Apa kau tahu apa yang ada di dalam roti itu?"


"Keju?" jawabnya seperti bertanya.


Silver melepaskan cengkraman di rambut Sue, menarik tengkuknya agar mendekat. "Racun, bodoh. Kau hampir saja mati."


Sue tersedak air liurnya sendiri. "Ra-cun?" gumamnya bergetar. Ia memakan roti keju itu karena ia pikir roti itu sebagai sarapan khusus mereka yang berada di dalam ruang penjara bawah tanah.


Silver menyeringai, senyum puas tercetak di bibir merahnya. "Apa sekarang kau takut mati?"


Sue memalingkan wajahnya karena wajah mereka hampir saja berjatuhan, tetapi tengkuknya dicengkram kuat. Pertanyaan Silver membuatnya merinding, takut mati? Tentu saja ia takut mati, tetapi untuk menjawab seperti itu ia tidak memiliki keberanian. "Ti... tidak, Tuan."


Ia memejamkan matanya setelah menyelesaikan kalimat pendek itu, menunggu pukulan dan cekikan dari Silver. Namun, ia tidak mendapati sentuhan apapun.


Ia mencoba membuka matanya perlahan, dan saking terkejutnya ia mendapati mata hijau milik Silver menatapnya dalam diam, tanpa ekspresi.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Silver.


"Tidak ada apa-apa, Tuan."


Ia gugup setengah mati, bukan pertama kalinya ia berdekatan dengan Silver tetapi diperhatikan tanpa aura kemarahan membuat jantungnya berdebar.


"Kau tidak takut mati, bukan?" Seringai iblis itu muncul lagi, menghancurkan semua kepingan puzzle tentang kebaikan Silver yang disusun rapi olehnya. "Tidak, bukan?"


Sue menatap manik hijau itu lalu mengangguk. "Ti-dak, Tuan."


"Bagus!" Ia mengacak surai panjang itu. "Persiapkan dirimu dengan baik menghadapi pemakamanmu, binatang bodoh."


.


*****


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya sayang!😄😘