Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 24



Happy reading!😊😘


.


*****


Kepergian orang yang dipuja memang menyisakan banyak luka. Para penggemar sang seniman langsung meramaikan seluruh media, menyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya, memanjatkan doa kepada Pemilik semesta agar sang pujaan mendapatkan tempat yang indah di pangkuanNya.


Tetapi, hal itu tidak berlaku terhadap seseorang. Kabar itu menjadi angin segar baginya. Angin yang tiba-tiba berhembus disaat kepanasan melanda.


"Akhirnya, aku bisa merasakan kedamaian ini. Aku sudah sejak lama memujamu, sayang."


Ia berbicara seraya mengusap foto seorang pria bermanik hijau yang tersenyum lebar dengan sebuah piala di tangannya. Foto yang diabadikan dua tahun lalu saat pria itu menerima penghargaan sebagai pemain terbaik.


"Tunggu kedatanganku, sayang!"


Gadis rambut keriting berwarna oranye itu tertawa, memegangi foto itu dan menyiumnya berulang kali tepat di bibir yang sedang tersenyum itu. "Aku akan datang!!"


Ia bangkit dari ranjangnya, memutari kamarnya yang sangat luas dengan gambar dirinya dan pria itu yang menempel di dinding-dinding. Menyentuh bibir pria di gambar itu seolah ia sedang menyentuh dan membelai bibir merah muda milik pria itu.


"Aku akan memiliki bibir ini, rahang ini, hidung mancung ini, mata hijau ini, ah... dan semua yang kamu miliki akan menjadi milikku seorang." Ia menyentuh semua foto yang di dinding itu, yang menampilkan dengan jelas semua otot-otot atletis milik pria bermanik hijau itu, juga perut sixpacknya yang membuat gadis berambut keriting itu menelan ludahnya kasar.


"Awww... aku bisa gila!! Kau akan menjadi milikku!!!" teriaknya sambil berjoget-joget bak disk jockey.


"Peyton!! Ini bukan hutan! Berhenti berteriak seperti orang gila!" Seseorang berteriak dari luar kamarnya.


"Jangan menggangguku, Mom! Aku sedang bahagia! Sangat bahagia!!"


"Aku bahagia.... Bahagia!!"


"Kau milikku, Dominique!!"


"Hanya milik Peyton Mapelli seorang!!"


*****


Perjalanan panjang dari Brazil ke Hawaii tidak memerlukan waktu yang lama bagi seorang Silver yang memiliki kekayaan terbesar di São Paulo. Pesawat pribadinya kini landing di sebuah landasan udara terbesar di Hawaii.


Ia turun dari pesawat diikuti oleh beberapa bodyguardnya dan seorang pramugari menenteng koper miliknya. Wajah penuh senyumannya selalu menggoda siapapun yang berpapasan dengannya seolah hal itu adalah hukum mutlak yang tidak tertulis. Beberapa mobil sudah terparkir rapi di tepi landasan, menunggu jemputan berharga yang sedang menuju ke sana.


"Hotel atau pantai, Tuan?" tanya sopir yang sudah siap di depan kemudi.


"Hotel."


Silver menyandarkan kepalanya di kursi empuk mobil itu, memejamkan matanya sejenak.


Hilang ingatan?


Ia mendesah, berusaha mengingat memori saat ia membenturkan kepala perempuan itu di tembok.


Itu balasan yang setimpal. Harusnya aku membunuhnya saat itu juga.


Manik hijaunya kembali terbuka, menyuruh sopir memutar arah, menuju sebuah tempat yang menurutnya menenangkan pikirannya.


Perjalanan terasa sangat jauh saat dirinya tidak sabar. Silver ingin memangkas jarak agar cepat sampai ke tempat tujuannya.


"Bisa kau mempercepat laju mobilnya?"


"Jalanan sedang ramai di depan sana, Tuan. Sepertinya ada kecelakaan korban tabrak lari."


Mata Silver menangkap sesosok perempuan berambut blonde di angkat ke dalam ambulans.


"Tidak mungkin dia," gumamnya. "Mungkin penerangan lampu jalanan yang sedikit buram."


"Wanita hamil? Brazil?" Samar-samar ia mendengar suara orang yang baru saja bubar dari tempat kejadian. "Banyak orang dari Brazil yang memilih berlibur di tempat ini, bisa saja itu sebagian dari mereka."


"Akhh.... Bagaimana mungkin aku terus memikirkan wanita sialan itu?" erangnya frustasi di kursi belakang.


"Ada apa, Tuan?"


"Menyetirlah!" Ia menatap tajam sopir itu.


*****


"Kau ingin roti?"


"Tidak."


"Kentang goreng?"


"Tidak."


"Susu?"


"Tidak."


"Biskuit?"


"Tidak."


"Ayolah, Sue. Jangan membuatku khawatir. Kau muntah terus sejak tadi dan tidak ada yang kau makan sedikitpun."


Zamora mendelik frustasi, menghadapi ibu hamil yang tengah mengalami morning sickness ternyata sangat menyebalkan. Ia berpikir bagaimana seorang Rodrigo menyumpahi keadaannya selama ini.


"Rodrigo?! Cepat ke sini!"


"Bantu aku! Kekasihmu terus saja muntah sejak tadi."


Sue menahan Rodrigo yang hendak masuk ke kamar mandi. "Aku baik-baik saja."


"Biarkan aku memijat punggungmu."


"Tidak perlu."


"Aku memaksa." Ia menyorot Zamora dengan manik cokelatnya agar gadis berambut putih itu keluar.


Sue kembali memuntahkan isi perutnya, tidak ada apapun yang keluar dari sana hanya cairan bening yang berhasil keluar.


Rodrigo memijat punggungnya, mengelus rambut seolah menenangkan perasaan Sue. Tanpa permisi, Sue melingkarkan lengannya di pinggang pria itu, menyandarkan kepalanya di sana. Nyaman. Satu kata yang menggambarkan perasaan Sue saat ini. Ia memejamkan matanya, kembali ke alam bawah sadarnya.


Rodrigo segera menggendongnya dan membaringkan tubuhnya yang lemas di ranjang empuk rumah kayu tempat mereka tinggal.


.....


Mimpi itu kembali lagi, seorang pria menamparnya, mencekik dan menendangnya. Wajah pria itu tidak jelas, samar-samar ia mendengar suara.


"Ayahmu membunuh ayahku, dan sialnya ayahmu masih hidup. Aku akan membunuhnya perlahan untuk membalaskan dendamku padanya. Dan kau, sampah kecil, kau harus merasakan apa yang pernah dialami olehku dan ibuku karena perbuatan ayahmu."


"Kau adalah pelayanku! Ingat itu sampai kau mati!"


"Aku hanya menikmati tubuhmu bukan menjadikanmu wanitaku!"


.....


Sue menggeliat dalam tidurnya, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Rasa takut menghantuinya saat mimpi itu kembali lagi. Mimpi yang sangat mengerikan dibandingkan mimpi tentang kematian ibunya.


Bulu lentik itu mengerjap gelisah. Menyesuaikan cahaya di kamar itu, tubuhnya gemetar.


"Bagaimana hubunganku dengan pria itu? Siapa dia sebenarnya?"


Zamora masuk ke kamar itu membawa semangkok bubur hangat untuknya.


"Makanlah!" Ia mengangkat sendok yang berisi bubur itu tapi ditolak oleh Sue.


"Aku ingin bertanya padamu."


"Habiskan bubur ini terlebih dahulu."


Sue menggeleng, membuat Zamora kembali meletakkan mangkok itu di atas nakas. "Apa?"


"Apa aku punya hubungan yang serius dengan pria itu? Idolaku itu?"


Zamora terhenyak, berusaha menutupi kegugupannya yang mendadak menghampiri. "Tentu saja, antara fans dan idola."


"Benarkah?"


Zamora mengangguk. "Berhentilah mencari tahu, kau akan menemukan jawabannya sendiri saat ingatanmu kembali."


Sue termenung sesaat, ingatan tentang seorang pria yang menamparnya tidak ingin diceritakannya pada Zamora, entah kenapa ia merasa tidak baik didengar Zamora.


"Bagaimana kalau kenyataan menyakitkan menghampiriku?"


"Berhenti memikirkan sesuatu yang belum pasti, Sue. Tuhan punya rencana yang indah di balik setiap musibah yang dihadapi umatNya. Percayalah! Dia menyiapkan sesuatu yang luar biasa bagimu."


"Aku hanya takut menghadapi kenyataan yang menyakitkan setelah ingatanku pulih." Matanya sayu, mengerjap gelisah. "Aku tidak ingin ingatanku kembali. Aku takut orang yang akan kuhadapi adalah petaka bagiku."


"Hei, kenapa kau mendadak pesimis? Dimana keantusiasanmu kemarin yang ingin sekali mengembalikan ingatanmu? Ingat, Sue, kenyataan pahit dan manis tidak akan merubah apapun di dunia ini. Semua ada untuk menguji kekuatanmu, sampai sejauh mana kau bertahan. Percayalah, Yesus tidak akan membiarkanmu sendiri."


Sue kembali terdiam, kalimat yang menyebutnya pelayan dan pemuas nafsu kembali menghinggapi pikirannya. Serendah itukah dirinya di mata pria itu, menyebutnya pelayan, juga anak pembunuh.


"Oh ya, bagaimana kabar papaku?"


"Di-dia baik-baik saja."


"Benarkah?"


Zamora mengangguk.


"Syukurlah, aku sangat merindukannya." Ia mengusap perutnya yang masih datar. "Kita akan bertemu kakek, sayang."


*****


Siang hari tidak menyurutkan keinginan Sue untuk bersantai di tepi pantai. Perempuan pecinta pantai itu mengenakan bikini seksi dan berjemur di bawah matahari, membiarkan kulitnya terpapar matahari langsung.


Senyum manis tercipta di bibirnya saat kakinya menyentuh air laut. Ia menyebut hal itu sebagai surga. Tempat terindah untuk menjernihkan pikirannya.


"Kita bertemu lagi, sayang!"


Seorang datang dari belakangnya dan membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan orang itu.


Terkejut, tentu saja. Seseorang yang sering disebutkan Zamora sebagai idolanya yang dilupakannya, kini berdiri di hadapannya.


"Silvester?" pekiknya girang. Ia berhambur memeluk pria itu.


.


*****


Mereka bertemu, guys!!! Dukung terus ya biar author semangat upnya!😉😉😘