Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 16



Happy reading!


.


***


Dengan lincahnya, jemari anak kecil itu menari di atas keyboard. Dengan sesekali mengerucut sebal, ia melirik ke arah Silver yang terus memantaunya.


"Kenapa Uncle terus di sini? Menjauhlah agar aku bisa melakukannya dengan baik."


"Lakukan saja dengan benar, anggap aku tidak ada di sini. Atau aku bisa melapormu pada Bertha dan melarangmu keluar rumah selamanya," ancam Silver yang berhasil menutup mulut Diego.


"Kau selalu pintar mengancam, Unlce."


"Itu perlu untuk mendapat kesempatan terbaik, Diego. Kau perlu belajar lebih banyak lagi."


"Itu buruk. Mengancam tidak ada titik unggulnya, aku lebih suka memakai caraku sendiri."


"Langsung membunuh?" tebak Silver.


Diego menggeleng. "Tidak, memutilasinya sebelum membunuh."


Silver tentu saja tidak terkejut. Ia mengetahui cara Diego dan pernah menontonnya langsung.


"Aku pria beristri, dan tidak ingin menempatkan keluargaku dalam bahaya. Apa kau tidak pernah berpikir seperti itu?"


"Segalanya hanya butuh ini, Uncle," ucap Diego sambil menunjuk keningnya dengan jari telunjuk. "Kelicikan adalah tameng agar bisa bertahan."


Silver terkekeh karena merasa telah digurui oleh anak kecil yang baru menetas. Ia menjitak kepala Diego dan menyuruh anak itu melanjutkan pencariannya.


"Kau bisa melacak alamat IP-nya?"


Diego tidak menjawab, ia tengah fokus melihat sesuatu. Dengan senyum mengejek, ia menoleh ke arah Silver.


"Aku tidak percaya kau diteror oleh mantan calon mertuamu, Uncle." Ia terkekeh keras. "Apa aku sudah mengingatkanmu tentang karma? Aku pikir ini karma karena kau telah mencelakai Aunty dengan bersekongkol bersama nona keriting itu."


Mata Silver membulat sempurna, nama yang tertera di layar itu sesuai dengan nama seseorang yang tidak pernah diduganya.


Namun, seketika wajahnya penuh dengan seringai iblis. Mata hijaunya kembali menajam.


"Laurent Mapelli," gumamnya.


"Apa yang akan kau lakukan, Uncle? Aku rasa ia telah bergabung bersama anggota pemerintahan dan itu sedikit sulit untuk melacak langkah selanjutnya."


"Bukan masalah sulit, Diego. Ikuti alurnya dan bermain sirkus bersama untuk mencapai tujuan selanjutnya. Kau akan melakukan sesuatu, bukan?" tanya Silver, dia memicingkan matanya curiga melihat senyuman penuh makna di bibir mungil Diego.


"Bukan apa-apa. Aku punya ide sekarang untuk bisa mengelabuhi Mommy agar diizinkan menjaga my princess."


"Bagaimana dengan sekolahmu? Kau telah berbohong padaku dengan kertas sialanmu itu."


Bukannya menjawab, Diego malah membuka musik yang keras dan ikut bergoyang sesuai irama.


"Ayo berpesta untuk siang ini, Uncle. Kau telah berhasil menjawab pertanyaan yang menghantui pikiranmu."


Silver menggeleng, ia berniat mematikan musik itu tapi tangannya dicegat Diego.


Gelengan lemah dari kepala anak kecil menghentikan niatnya. Diego telah membawanya kembali ke tempat hidupnya yang dulu, bangunan yang telah membesarkannya dalam dunia kelam.


Meski semua hanyalah tipuan Diego yang mengelabuhi Barbara dengan penghancuran kapal besar Victoria itu, Silver setidaknya sedikit lega karena mengetahui siapa yang telah mengiriminya video ancaman itu.


"Kau tahu, aku mengalihkan perhatian perempuan botak itu agar dia tidak menemukan apapun, dan nyatanya itu berhasil, Uncle. Percobaan pertamaku yang sempurna," pekik Diego girang saat menceritakan alasannya menipu Silver.


Multitalenta yang mengerikan, begitu pikir Silver. Kejeniusan Diego memang berkadar tinggi, tidak dapat diselami oleh nalar manusia biasa.


Selain pandai bermain pistol, rupanya anak kecil itu juga belajar sistem komputer, mempelajari cara melacak dan meretas sesuatu. Meski masih amatir dan terkesan lambat, tapi hasilnya memuaskan.


Pemilik manik hijau itu sedikit meringis ketika mengingat bahwa Diego bukanlah pria kecil yang biasa, dia khawatir terhadap masa depan putri kecilnya.


***


Menelpon istrinya agar tidak khawatir dengan dirinya yang langsung pergi ke lapangan, Silver langsung menginjak pedal gas dan menuju tempat itu.


Tidak memedulikan teriakan dan umpatan dari orang yang mobilnya sengaja ditabrak olehnya, ia terus melajukan kendaraan berwarna silver itu di jalanan yang ramai.


Mobil Rodrigo yang mengikutinya tak kalah cepat, berusaha mengejar Silver yang sudah jauh di depan. Menekan earphone yang di telinganya, Silver berujar, "Come on, Rod, ini pertama kalinya setelah kita beristirahat lama. Buat sejarah baru dengan memecahkan skor yang melebihiku."


Dari belakangnya, Rodrigo tampak mengejar dengan kecepatan penuh. "Mati saja kau, Dominique. Mobilmu menabrak banyak mobil lain."


Silver terkekeh. "Tidak peraturan yang melarangnya, Rod!"


Sampai keduanya berakhir di garis finish yang sudah ditentukan, Silver menyeringai.


"Aku masihlah menjadi pemenangnya, Delore. Akui kelemahanmu."


"Kau bukanlah pemenangnya, Uncle."


Kehadiran Diego mengejutkan keduanya. Ditambah dengan seseorang yang mengikuti langkah anak kecil itu.


"Bagaimana kau bisa di sini?"


Silver mendengus kesal. "Kau belum bisa mendapat izin menerbangkan helikopter, D'antonio."


"Ini pilotku, Uncle."


Mendapat tepukan di lengannya oleh Diego, pria muda yang tampak seperti preman itu menunduk. "Senang bertemu denganmu langsung, Monsieur."


"Siapa namamu?"


"Brent." Diego yang menjawab. "Brent Rivera, dan jangan berbangga dulu, Uncle, dia bukan penggemarmu."


"Aku tidak berharap punya penggemar sepertinya. Hanya istriku penggemar di hatiku, D'antonio."


Diego hanya mengedikkan bahunya acuh, sudah biasa baginya Silver memperlakukannya seperti itu.


"Jadi, siapa pemenangnya di sini?" Rodrigo menginterupsi percakapan keduanya.


"Sudah pasti aku!" jawab Silver.


"Akulah pemenangnya!" teriak Diego.


Keduanya sama-sama memperebutkan posisi pemenang, tanpa mau mengalah. Sebagai penengahnya, Rodrigo berteriak.


"Aku pemenangnya!"


Sontak saja perhatian keduanya beralih kepada Rodrigo, bersama-sama teriak dan mengapit pria bertato itu dengan pelukan erat.


"Kau bukan pemenang, Uncle!"


"Aku pemenangnya, Delore!"


Sambil mendelik tajam pada Diego, Silver menyuruh Brent memberi komentar.


"Apa syarat menjadi pemenang?" tanya Brent.


"Siapa yang tidak curang dan yang tentunya sampai di garis finish terlebih dahulu," jawab Diego.


"Yang sampai di garis finish terlebih dahulu dengan kendaraan beroda," bantah Silver.


Saat mata Brent beralih kepada Rodrigo, pria itu sedang memakan camilan milik Silver di dalam mobil Mercedes Benz silver.


"Astaga, aku tidak menduga dia akan kelaparan," gumam pria muda itu.


"Rodrigo?" panggil Silver. Tidak adanya jawaban membuat Silver menoleh. "Sialan! Dia memghabiskan camilanku," umpatnya.


Merebut camilan yang hampir dihabiskan Rodrigo dengan sekali kunyahan itu, Diego yang sedari tadi memegang ponsel diam-diam merekam aksi saling berebut camilan keduanya.


"Uncle! Aku pemenangnya!"


Bersamaan dengan itu, Richard menghampiri mereka.


"Wow, Silver, welcome back! Aku pikir kau tidak akan pernah kembali mengingat kau sangat mencintai istrimu."


Silver terkekeh, dia melupakan niatnya yang ingin memukul kepala anak kecil itu.


"Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya tetap bahagia. Aku ingin menjaga bibir itu tetap tersenyum."


Richard terkesima. "Kau berubah, Silver. Bukan pria menyebalkan dan penuh aura kelam lagi, apa sisi iblismu telah sirna?"


"Hidup itu kesempatan, Rich. Dimana lagi kau akan berubah kalau bukan di dunia ini? Kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita, jadi, selagi masih ada waktu, pergunakanlah itu dengan baik."


Pria kurus berambut pirang itu terkekeh, dia memberikan bola di tangannya kepada Silver.


"Tidak ada yang perlu diubah dari diriku, aku terlalu sempurna."


"Kakimu perlu diubah," jawab Silver asal yang membuat Richard ternganga.


"Apa maksudmu? Ternyata kau masih menyebalkan!"


"Si tua Luke sudah datang?"


"Bukan Luke head coach kita."


"Siapa yang menggantikannya?"


"Ketua federasi."


Silver menegang, namun sebisa mungkin menguasai dirinya. "Laurent Mapelli?"


.


***


Love,


Xie Lu♡