Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 18



Happy reading!


.


***


Decitan rem kendaraan dan bunyi dentuman peluru yang dikeluarkan dari senapan menjadi pemandu perjalanan Silver. Dengan penuh hati-hati, ia mengintip arah belakang. Mobil itu terus mengejarnya.


"Kau pasti akan musnah hari ini, Legion!"


Setelah mengaktifkan GPS di jam tangan miliknya, Sliver mengulurkan waktu sebelum sampai di pemukiman penduduk. Ia membelokkan mobilnya masuk ke dalam hutan dan diikuti oleh mobil yang di belakangnya.


"Kau sungguh tidak punya kekuatan, Laurent. Pikiranmu terlalu sempit jika harus membunuhku sekarang," desisnya.


Beberapa orang turun dari mobil dan menembak kaca belakang mobilnya.


"Sial, dia menembak mobil kesayanganku!"


Dengan keahliannya dalam menembak, Silver mengambil pistol miliknya yang selalu tersedia di manapun ia berada, lalu menembak tepat di tangan pria yang memakai penutup kepala itu.


"Itu baru peringatan, Legion. Kalian memang banyak, tapi semut tidak akan menang melawan landak yang kelaparan."


Memosisikan dirinya di bawah dashboard, Silver kembali melancarkan tembakannya dan menghabisi seorang pria yang lain.


"Sial, matanya jeli," umpatnya tatkala pria itu menghindar.


Bersamaan dengan itu, sebuah tembakan mendarat di atas kemudi dan merusakkan tombol klakson.


"Siapa itu? Sepertinya aku familiar dengan cara tembaknya."


Belum sempat ia menembak balik, sebuah ledakan besar terjadi di pinggir jalan itu.


"Kerja bagus, Kris," gumamnya.


Mendapat kesempatan itu, Silver mengangkat kepalanya dan menarik pelatuknya. Namun sialnya lagi, sepertinya penembak itu memakai rompi anti peluru. Dan sebagai peringatan untuk pria itu, Silver menembak kakinya.


***


"Bersenang-senanglah dengan teman lama, Kris."


Pria bernama Kris itu mengangguk, rupanya penembak yang terasa familiar bagi Silver tadi adalah anggota lamanya, Hugo.


"Selamat bertemu lagi, Hugo! Ternyata Tuan-mu Legion sekarang. Apa kabar Eliot? Kakinya sudah sembuh?"


Silver tersenyum mengejek ke arah lelaki yang tengah dibawa paksa itu.


"Berikan sesuatu yang menarik di sana. Pastikan bahwa dia akan mengingat Caméléon sebagai penyelamatnya saat ia sampai di Hades nanti."


Beberapa orang yang juga terbius oleh kepulan asap beracun itu dibawa serta dengan Hugo. Dan itu membuat Silver tersenyum puas.


"Belum saatnya kita bermain, Laurent. Aku hanya ingin menghalangi langkah awalmu saja," ucapnya menyeringai dan membawa mobilnya keluar dari hutan.


Ia sudah tidak sabar bertemu anak dan istrinya yang ia tinggalkan seharian. Bayangan wajah Sue yang tersenyum menyambutnya membuatnya bersemangat menancap gas.


Sesampainya di mansion, Silver menghampiri seorang penjaga.


"Urusi mobil itu dan pastikan istriku tidak mengetahuinya. Waktumu hanya setengah jam dan besok pagi sudah kembali seperti sedia kala." Ia melempar kunci pada pria itu.


Melirik penampilannya yang sedikit acak dengan beberapa bercak darah di kaosnya, Silver berbelok ke sebuah kamar yang dijadikannya tempat menyimpan barang-barang privasinya dan tidak diketahui sang istri. Ia mengembalikan pistol itu ke tempat asal dan keluar setelah mengurusi kaosnya yang bernoda.


Keluar dari ruangan itu, Silver tepat berhadapan dengan Sue yang baru saja keluar dari kamarnya juga.


"Sil? Apa yang kau lakukan di sana?"


Sue mendekat dengan tatapan curiga dan itu membuatnya khawatir. Dengan cengiran khasnya yang menyebalkan, ia memeluk istrinya. "Hanya mengecek. Aku merindukanmu, Sayang."


"Jangan menutupi apapun dariku, Sil. Katakanlah ada apa di dalam kamar itu."


"Bukan apa-apa, hanya sebuah ranjang dan lukisan abstrak."


Sue antusias. "Lukisan apa?"


Silver terdiam memeluk tubuh istrinya. Meski tak ingin melukai Sue, tapi wanita itu juga perlu tahu yang sebenarnya.


"Masuklah, sidik jarimu sudah diverifikasi."


Wanita blonde itu terkejut. "Kapan kau mengambil sidik jariku?"


"Saat kau menciumku," jawab Silver sekenanya.


Sue terkekeh. "Mesum." Ia memasuki kamar itu dan sebuah lukisan terpajang di dinding tepat di hadapannya. Ia mengamatinya dalam diam.


"Apa ini karya Nona Paula?"


"Aku memang bukan pengagum lukisan, tapi dilihat dari gambar di dalam lukisan itu sepertinya ini karya miliknya. Apa aku benar?"


Binar mata Sue membuat Silver tersenyum pedih. Karena itu, ia mengambil sebuah surat yang dulu ditulis Paula untuknya. "Kau bisa membacanya. Maaf, aku menyembunyikan ini darimu. Bukannya aku masih mencintainya, tapi aku tidak ingin kau berburuk sangka dan meninggalkanku karena aku masih menyimpan barang-barang peninggalannya."


Mendengar pengakuan Silver itu, Sue tergelak. "Kau lucu, Silver. Bagaimana mungkin aku cemburu padanya, tapi ...."


Sue mendekat dengan tatapan serius. "Kau menutupinya dariku sekian lama dan tidak berinisiatif memberitahuku jika saja aku tidak menangkapmu keluar dari sini. Dan sebagai gantinya, kau harus menuruti semua permintaanku selama seminggu."


"Hah?! Semingga saja?" Silver tertawa mengejek. "Itu tidak berat. Apapun untukmu, Istriku!"


Dan mengucapkan kalimat itu membuat Silver menyesal ketika melihat seringai tipis di bibir istrinya. "Apa yang kau rencanakan, Sayang? Jangan membunuhku dulu, anakku masih kecil."


"Membunuh? Oh ..., aku punya ide sekarang!"


"Jangan!" teriak Silver. "Jangan katakan!"


"Aku bisa membunuhmu setelah seminggu dan menikah dengan pria tampan dan kaya setelahnya."


"Jangan coba-coba, bahkan setelah aku matipun kau tidak boleh menikah lagi! Kau hanya istriku seorang!"


"Kau sudah menyetujui usulku kalau tidak, kau tidur di luar selama setahun!"


"Apa?! Tidak, aku akan menurutimu, seminggu!"


"Baik. Suami pintar, bagaimana kalau kita mulai dengan penggeledahan kamar ini? Aku pikir ada banyak tempat yang misterius di sini dan juga penciumanku mencium aroma yang aneh. Aki tidak salah 'kan, Sayang?"


Silver mengernyit kaget, menutupi keanehan di wajahnya dengan senyum. "Kau bisa melakukannya."


Sebelum melakukannya, Sue membaca surat yang ditulis Paula itu dan tersenyum saat membaca paragraf terakhir.


***


"Apakah ini aneh? Seperti kotak di dalam lantai tapi aku tidak bisa membukanya."


Sue terdiam menatap lantai yang menurutnya aneh itu. Diketuk-ketuk berulang, bunyi lantai itu seperti seperti tempat yang memiliki terobosan di bawahnya.


"Bagaimana dengan sidik jari?" gumamnya. "Tidak mungkin milikku. Silver?"


"Kenapa, Sayang?"


"Kemarilah!" Silver mendekat.


"Berikan tanganmu! Aku harus mencocokkan sidik jarimu dengan lantai ini."


Silver memberikan kedua tangannya dengan tersenyum tipis. "Kau yakin ingin membukanya?"


"Tentu saja, aku penasaran kau menyembunyikan apa di tempat seperti ini. Oh, berhasil!"


Lantai itu terbuka otomatis setelah sidik jari Silver terverifikasi.


"Aaaaaaaa .... Apa itu?!"


Sue terkejut dengan benda yang muncul dari balik lantai itu. Ia memeluk Silver dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Kenapa kau menyimpan pengamanmu di sana?"


Silver terkekeh. "Biar steril dan tidak terkena kuman. Kenapa kau terkejut? Kita bisa melakukannya di sini menggunakan benda itu. Pasti sangat nyaman."


"Kau sangat mesum sekarang. Memalukan"


"Hahaha, aku memang seperti itu, Sayang. Ayolah, aku penasaran bagaimana rasanya memakai warna pink itu bersamamu."


"Silver!"


Wajah Sue yang memerah membuat Silver gemas. "Kita sudah sering melakukannya dan kau masih malu? Astaga, Lita, kau sungguh polos."


"Aku tidak sepertimu yang berpikiran mesum!"


Silver terkekeh. Ia berhasil mengelabuhi istrinya dan ada gunanya juga menutupi jejaknya dengan pengaman di atas.


Ketika Sue hendak menggali lebih dalam ke dalam lantai itu, ia mencegahnya. "Ambillah satu, aku pikir kau sudah tidak sabar."


"Silver! Kau sungguh mesum!"


Karena tidak tahan, Sue keluar dari kamar itu dengan wajah merona malu.


"Hari ini selamat, aku tidak tahu lagi besok," gumam Silver. "Sayang! Tunggu aku!"


.


***