
Happy reading!😊😘
Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😊
.
*****
"Kau mengkhianatiku, Delore!"
Teriakan penuh amarah Silver menggema di dalam penjara bawah tanah itu. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Mukanya memerah menahan amarah yang mendidih di ubun-ubunnya melihat semua penjaga terkapar di lantai dengan kepala berdarah. Ia mengenali bekas tembakan itu, jenis senjata apa yang digunakan, dan sasaran tembakan itu mengenai bagian mana saja.
Hanya Rodrigo yang memilih menembak musuhnya dengan brutal di bagian organ intim dan satu tembakan di kening. Dan jenis senjata yang digunakannya sering dibawa kemanapun dan Silver mampu mengenalinya hanya dengan sekali lirikan.
Ia menutup pintu yang telah rusak itu dengan keras sampai engsel pintu tersebut terlepas. "Sialan, dia berani melepaskan pengerat itu."
Pagi itu, Silver terbangun. Meski kepalanya terasa berat, tetapi senyuman di wajahnya tetap merekah mengingat peristiwa kemarin. Membalas dendam pada pembunuh ayahnya, Alfredo Dario.
Tak lama kemudian, senyuman itu berubah menjadi seringai mematikan. Masih ada seekor pengerat yang harus dimusnahkan.
Ia menyingkapkan selimut yang entah sejak kapan menutupi tubuh atletisnya. Melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, ia menuruni tangga ke sayap bagian kiri mansion itu, menuju tempat dimana seharusnya pengerat yang dimaksudnya berada.
Sesampai di sana, rahangnya mengeras melihat seluruh penjaga telah ambruk. "Rodrigo Delore!!"
Ia memeriksa seluruh ruangan, tetapi hanya satu yang terasa aneh, tertutup tapi kuncinya rusak. "Wtf, dia menyelamatkan perempuan murahan itu."
Amarahnya langsung memuncak, ia pergi dari sana seraya menelpon Rodrigo, tetapi tidak ada jawaban. "Sial," umpatnya.
"Periksa seluruh rekaman CCTV sejak kemarin!" perintahnya kepada kepala keamanan saat ia memasuki ruangan tempat sebuah layar monitor lebar yang memantau seluruh gerak-gerik penghuni mansion besar itu. "Cari tahu kapan Rodrigo ke sini!"
Tak selang beberapa lama, petugas itu menemukan rekaman menjelang sore waktu Rodrigo merusakkan CCTV. Setelah itu, beberapa menit kemudian ia keluar dengan menggendong Sue ke mobilnya.
Silver mengepalkan tangannya semakin kuat, napasnya terengah-engah. "Kau br*ngs*k, Delore!"
Petugas itu beringsut mundur, takut terkena dampak amarah mengerikan sang Tuan. "Apa anda ingin saya mencari rekaman di sepanjang perjalanan yang dilewati mobil itu, Tuan?" cicitnya takut-takut.
"Terima kasih, tapi sayangnya kau akan mati sebelum itu terjadi!"
Ia mengambil pistol milik pria itu dan menembak tepat di kening. Benar saja, pria itu kembali menjadi sasaran amarah sang Tuan. Silver melemparkan pistol itu asal dan pergi melesat ke luar.
Ia mengendarai mobilnya menuju sebuah mansion megah nan elegan, tidak terlalu besar seperti miliknya tapi mampu membuat orang lain terpana.
"Dimana pamanmu?" Ia bertanya to the point pada seorang anak laki-laki yang bernama Diego yang sedang bermain kapal-kapalan di halaman luas mansion itu.
Diego tampak kebingungan, setahunya, uncle Rodrigonya berpamitan padanya karena ingin mengurus sesuatu bersama Silver. "Bukannya uncleku bersama uncle Sil sejak kemarin?" Diego balik bertanya yang membuat Silver bertambah kesal.
Silver menyugar rambutnya frustasi, ia mendelik tidak suka pada anak kecil berusia empat tahun itu. "Aku tidak akan mencarinya kalau aku tahu dimana dia," ketusnya dan menatap tajam pada anak kecil itu.
Ia memang tidak menyukai anak-anak, menurutnya mereka terlalu merepotkan dan lebih parahnya lagi ketika mereka menangis dan tidak diketahui penyebabnya.
Diego tak kalah sengitnya, ia juga membalas Silver dengan tak kalah ketus. Ia bersedekap dan balas menatap Silver dengan tajam. "Lalu, kenapa uncle tidak menelponnya? Atau mencarinya dengan kemampuan uncle sendiri? Apa otak uncle sudah tidak berfungsi lagi?"
"Sial, kau membuatku ingin mencekikmu!" ancam Silver.
"Ck, apa uncle langsung putus asa setelah tidak mengetahui keberadaan uncleku? Dasar pecundang!" Diego mencibir.
"Diego!!! Siapa yang kau sebut pecundang?" teriak seorang perempuan dari arah taman.
Silver baru menyadari kalau Bertha, ibunya Diego berada tidak jauh dari tempat itu.
"Oh mommy! Aku dan uncle Sil sedang berlatih main drama, malam Natal nanti Diego akan mementaskan drama!" teriak Diego membalas Bertha tak sepenuhnya berbohong.
Silver menempatkan satu poin ketidaksukaannya terhadap anak-anak, suka berbohong. Lihat saja, Diego pandai memanipulasi keadaan.
"Siapa yang mengajarimu berbohong, huh?!" tanya Silver seraya menjitak kepala anak kecil yang terlihat cengengesan itu.
"Tentu saja Uncle Sil, memang siapa lagi?! Kau selalu berbohong padaku kalau kau akan mengajariku teknik menendang dan menerima bola."
"Apa hubungannya dengan itu?"
"Dasar bodoh! Aku hanya menghindari cubitan mommy jika aku ketahuan berkata kasar dan menjaga harga dirimu agar tidak terluka karena kau terlalu bodoh mencari uncle Rod di rumahnya sendiri."
"Sial, kau seperti unclemu. Kadang bodoh dan kadang bijak."
"Kau yang bodoh!" elak Silver.
"Kau!" Diego tak kalah.
"Kau!!!"
"Kauu!!"
"Berhenti!!!!"
*****
Manik kuning itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya dan terlihat kebingungan saat ia memerhatikan sekelilingnya. Setahunya, terakhir kali ia berada di tempat yang sempit dan terlihat kumuh bukan ruangan luas dan asri seperti ini.
"Anda sudah sadar, Nona?" tanya seorang perempuan berpakaian serba putih padanya.
"Ka-kau siapa? Aku dimana?"
"Anda berada di rumah sakit, Nona. Apa anda merasa baik-baik saja?"
"Rumah sakit? Akhh..." Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit, mencoba mengingat kejadian yang menjadikannya berakhir di tempat ini terasa sulit.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Nona. Anda telah sadar sudah merupakan sebuah keajaiban." Ia memeriksa tanda-tanda pada layar monitor di samping bangkar rumah sakit itu.
"Apa maksudmu?" Ia berusaha bergerak, tetapi badannya terasa remuk tak bertulang.
"Anda koma selama dua minggu, kami pikir anda tidak akan pernah bangun lagi. Tetapi, suami anda sangat yakin kalau anda akan segera bangun. Sungguh sebuah keajaiban bukan?" Dokter itu bercerita sangat antusias seakan itu adalah kejadian yang baru saja ditemukan di bidang kedokteran.
"Koma? Dua minggu?" tanya Sue kebingungan.
"Ya, selama dua minggu ini pula suami anda tidak pernah beranjak dari ruangan ini. Romantis sekali!" Dokter itu tersenyum.
Sue memegang kepalanya yang kembali berdenyut sakit. "Suami? Siapa dia?"
"Oh astaga, aku kelepasan bicara," gumam dokter yang bername tag Beatrix Zacharias itu.
"Siapa?" tanya Sue membuat dokter Beatrix mengerjap gugup.
"Seorang pria tampan bertato di seluruh lengan kirinya, kalau tidak salah dia seorang atlet sepakbola."
"Atlet?" beo Sue. Ia tidak ingat kalau ia punya kenalan seorang atlet, apalagi seorang suami. "Dimana dia sekarang?"
"Ya. Atlet tampan." Dokter Beatrix menarik napasnya dalam, berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia harus memberitahu Sue apapun yang terjadi padanya, sekalipun perempuan itu kehilangan sebagian dari ingatannya. "Dia sedang menemui dokter kandungan."
Sue terbelalak, ia meneguk ludahnya kasar dan hampir tersedak ludahnya sendiri. "A--apa maksudmu? Ka--u memberitahu orang lain?" Sue berusaha meraup banyak oksigen, ketakutan melandanya. Ia menyilangkan tangan di atas perut datarnya. "Jangan sakiti anakku," isaknya pilu.
Ia menutup matanya saat dokter Beatrix mendekat. Ia masih memiliki ingatan tentang kehamilannya, dimana ia merahasiakan dari semua orang termasuk dari temannya, Zamora. Tetapi, tentang siapa ayah anak itu, ia melupakannya. Hanya samar-samar sebuah suara erangan saat mereka bercinta yang terus menari di kepalanya dan itu membuat kepalanya samakin kesakitan.
"Bukankah dia suamimu?"
"Tidak!!! Aku belum menikah!" teriaknya histeris. Kepalanya berdenyut sakit. "Aku belum menikah... Jangan beritahu siapapun tentang ini, kumohon."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali tak sadarkan diri.
"Nona!!! Nona Suelita!!!"
Sementara itu, di balik pintu ruangan VVIP itu Rodrigo menahan napasnya. Sesak yang ia rasakan. Suelita kehilangan sebagian ingatannya, dan sekarang ia sedang mengandung. Tentu saja Rodrigo tahu bahwa bayi yang dikandung Sue adalah anak Silver.
Namun, untuk memberitahu Silver ia merasa enggan. Ia tahu Silver tidak menyukai anak-anak dan Sue tidak ingin kehilangan anaknya. Ia mengambil jalan tengah yang menurutnya sedikit lebih baik bagi keduanya.
"Maafkan aku, Sil. Maafkan aku, Sue," gumamnya lirih.
.
*****
Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua yang merayakannya!
Minal Aidin Walfaidzin!