Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 41



Happy reading!😊😘


.


*****


Silver berlari kencang, mencari-cari wajah sang orange di waktu seperti ini. Karena kesal tak menemukannya, dia kembali berlari menyusuri jalanan sempit menuju mansionnya. Jalanan yang penuh oleh rerumputan liar karena hampir tidak ada orang yang melewatinya.


Di mansion besar itu, kedatangannya disambut oleh kehadiran gadis keriting yang menghilang beberapa hari lalu.


"Finally, you come to me, baby!"


Peyton hendak memeluk tetapi langsung ditepis oleh Silver.


"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!"


"Ini bersih, Sil. Baru saja disteril."


"Yang benar saja, kau bau."


"Astaga, aku bahkan lebih wangi darimu." Peyton memutar bola matanya.


"Apa yang kau lakukan di sini malam-malam?"


"Menunggumu, sayang. Memangnya apa lagi? Setengah mati aku bertahan menahan kedinginan di luar sini. Peluk aku!"


"Tidak, kau bau!"


"Kalau aku tidak bau berarti kau mau memelukku?"


"Tergantung." Silver mengibaskan tangannya sambil berlalu.


"Yessss!"


Memutar kenop pintu masuk ke kamar kecil itu, Silver mengingat semua kejahatan yang dilakukannya pada perempuan yang sedang mengandung. Sue yang sering muntah pagi-pagi dan ia membentaknya. Hatinya meringis seolah ada benda tajam tak kasat mata yang menikamnya.


Silver tidak tahan berlama-lama di sana, karenanya dia langsung menuju tempat penyimpanan benda-benda yang dibutuhkan.


José yang masih siaga di waktu seperti ini menghampirinya.


"Ada sesuatu terjadi, Tuan?"


"Bukan hal besar."


Silver mengambil pistol terakhir dan mengisinya dengan peluru.


"Siagalah sampai pagi, aku punya urusan yang penting."


"Saya mengerti, Tuan."


"Terima kasih."


José mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan perkataan Silver. Tapi daripada bertanya lebih lanjut, dia takut mengganggu. José hanya mengangguk.


"Kau selalu menyelamatkannya."


Mengerti dengan hal itu, José tersenyum. "Carissa yang mengatakannya padaku."


"Ya, aku tahu dia milik mafia itu."


"Anda mengetahuinya, Monsieur?"


"Tidak ada yang lepas dari pengawasanku, José!"


"Kenapa Anda tidak menghentikannya?"


Silver tersenyum, "Aku ingin tahu sejauh mana dia bisa mengelabuhiku. Dan, dia berhasil. Aku terlambat menyadarinya."


"Lalu, bagaimana dengan perempuan itu, Tuan?"


"Dia sekarang berada di tanganku. Karena itu, kau harus mempersiapkan tempat istimewa untuknya."


"Seperti?"


"Kau mengerti maksudku, José."


"Maaf, Tuan."


*****


Sue kedinginan di tempat itu, hembusan angin malam menusuk tajam di kulit tipisnya. Berkali-kali ia menguap, menandakan dirinya belum cukup tidur. Juga perutnya yang berulah meminta isi.


Dia masih setia, menunggu bilamana Silver memberikan tanda untuk dirinya berlari dari tempat tersembunyi itu.


Sudah beberapa lama tetapi tanda-tanda kemunculan Silver belum nampak. Dalam hati, Sue merutuki dirinya sendiri yang lambat berjalan. Andai tadi dia mengikuti kemanapun Silver pergi, mungkin sekarang dia sudah berada di tempat yang nyaman. Di atas kasur kecil miliknya di mansion itu.


"Oh ranjang kecilku.... Astaga, apa itu?"


Sue tersentak karena dentuman bintang kecil yang bertebaran di langit malam. Senyuman di bibirnya merekah lalu bangkit dari tempatnya duduk dan berlari ke arah datangnya kembang api itu.


"Aku tahu kau akan datang!"


Sue menoleh ke sana kemari mencari keberadaan orang lain yang mungkin menguntitnya atau mengejarnya. Karena tidak ada yang mencurigakan, dia mempercepat larinya. Tanpa mempedulikan kesakitan di tubuhnya, dia terus berlari dan akhirnya sampai di tempat itu.


Bukan seseorang yang diharapkannya yang berdiri di sana, tetapi ribuan orang yang sedang duduk mengerumuni lingkaran api unggun.


"Bagaimana mereka bisa menyalakan api di tempat seperti ini padahal hujan baru saja reda?" gumamnya tidak percaya.


Seseorang yang menepuk pundaknya membuatnya terkejut. Sue menoleh takut-takut dan ketakutannya makin bertambah saat Alfonso berdiri menjulang di belakangnya.


"Kau datang menyerahkan dirimu!" Alfonso terkekeh dengan kilatan amarah di matanya. Sue terbelalak.


"Kau terkejut aku belum mati? Haha.... Harusnya kau berterima kasih pada pria brengsekk itu karena membiarkan kita berdua bertemu di sini!"


"Ti-tidak... mu-mungkin...."


Sue perlahan mundur tetapi Alfonso terus melangkah maju. Sue menggigit bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Buktinya sekarang kita bertemu. Ayo nikmati malam ini sebelum aku mengirimmu ke tempat yang paling indah, Suelita Abraham!"


Sue menggeleng takut, dia merinding ketika dirinya merasakan panas api dari belakang sana. Air matanya tiba-tiba menetes dan ketakutan menggerogoti diri.


"Bukankah malam ini indah? Setelah hujan deras yang mengantarkanmu ke pelukan Silver, kini digantikan ribuan bintang dan cahaya rembulan yang menyanyikan melodi indah untuk mengantarkanmu ke pangkuan Lucifer."


Sue mengepalkan tangannya kuat lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia menguatkan dirinya sendiri sebelum melawan pria tua yang menyeramkan di hadapannya. Kematian sudah di ambang batas, membantah sekali saja akan membalas semua perbuatan Alfonso padanya. Sue tidak ingin lagi berada di bawah kekuasaan Alfonso karena Silver telah berjanji akan menjemputnya.


Alfonso terkekeh kemudian memberikan sebuah tamparan keras di pipi Sue.


Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan kembang api di atas langit malam membuat Sue tersenyum tipis. Matanya menatap sinis pada Alfonso yang nampak menahan amarahnya.


"Kau sudah berani membuka mulut, j*l*ng!"


"Aku bahkan ingin mengirimmu ke dalam api itu, Alfonso!" teriak Sue menggebu-gebu.


Entah dari mana datangnya keberanian mengumpat itu, tapi setelah mengatakan kalimat kasar itu dadanya terasa lega. Ada baiknya juga aku terus mengumpat, begitu pikirnya.


Alfonso yang berdiri itu mendadak beku mendengar teriakan penuh amarah Sue. Perempuan lemah yang selalu menerima pukulan dan siksaan dengan sepenuh hati itu berubah buas.


"Anak nakal itu telah mengubahmu dalam sekejap,---"


"Tuan Silver tidak mengubahku, kau yang melakukannya, sialan!" Sue memotong pembicaraan Alfonso. "Kau yang menanamkan keberanian dalam diriku!"


Alfonso mengetatkan rahangnya. Dia menarik rambut Sue tetapi langsung ditepis kasar oleh perempuan itu.


"Kau tidak akan bisa menyentuhku, Alfonso!"


Saat Sue hendak mendorong pria tua itu, beberapa orang dari belakang menahannya.


"Lepaskan aku! Aku akan membunuh pria brengsekk itu! Lepas---"


"Auntyyyy!"


"Diego," gumam Sue.


Anak kecil itu berdiri bersedekap dan bersandar di dahan pohon. Senyuman merekah di bibir merah mudanya.


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Aunty! Aku akan merekam dan memberikannya pada Uncle Silver!"


Diego mengeluarkan sebuah ponsel pintar dari sakunya. "Lihatlah! Bagus bukan? Ada apel yang digigit setengah di belakangnya dan permata menghiasi seluruh bagian ponsel ini."


Seluruh anak buah milik Alfonso langsung sigap dengan senjata milik mereka dan menodongkannya ke arah Diego, tak terkecuali orang yang mencekal Sue. Tetapi, anak kecil itu tampak tidak terpengaruh. Dia tetap tersenyum manis.


Alfonso yang mendengar suara anak kecil itu menoleh dan tersenyum mengejek.


"Siapa kau, anak kecil?"


Dengan polosnya, Diego menjawab. "Namaku Diego, grandpa!" Ia maju selangkah dan menunduk. "Kau harus mengenalku!"


"Doing something, Aunty!" perintah Diego tegas setelah mengarahkan ponsel itu ke arah Sue.


Mendengar perintah Diego, Sue melakukan sesuatu yang sangat ingin dilakukannya. Dia percaya pada anak kecil itu setelah melihat bagaimana Diego menyelamatkannya tadi.


Dengan langkah ringan, Sue maju selangkah dan berdiri di depan Alfonso. Matanya menatap nyalang pada pria tua itu.


"Apa yang ingin kau lakukan, j*l*ng? Membunuhku? Kau tidak akan bisa melakukannya!"


Tanpa perasaan takut, Sue menendang tepat di ************ Alfonso.


"Aku ingin sekali membunuhmu sekarang, Alfonso!"


Alfonso yang kesakitan langsung memegang bagian tubuhnya itu dan memerintahkan anak buahnya. "Bunuh dia!"


Tetapi, tidak ada siapapun dari mereka yang bergerak. Diego mendekat.


"Jangan khawatir, grandpa! Mereka di bawah kendaliku!"


"Kau?! Aku akan membunuhmu, anak kecil!"


Diego terkekeh, kemudian mengambil sebuah pistol yang disembunyikannya di belakang sejak tadi. Lalu dia menembak Alfonso sehingga pria tua itu terjatuh karena sengatan listrik pistol itu membuat tubuhnya ter-setrum.


"Kau tertangkap, grandpa!"


Sue yang terdiam di tempatnya seakan mendapatkan kesadarannya kembali. Dia terkejut karena semua orang yang hendak menembak Diego kini berdiri seperti patung.


"Apa yang baru saja terjadi?" gumam Sue. Dia masih membeku di tempatnya.


"Aunty! Ayo, pergi! Uncle sudah menunggu kita!"


.


.


.


.


iklan**


.


Netizen : mana visualnya thor


Author : maafkan daku😂😂. hari ini updatenya lambat, jadi visualnya besok aja. menurut mereka yang pernah update gambar, reviewnya lama. so, untuk mempercepat review, gue ga kasi visualnya


Netizen : jan banyak alasan lu, bilang aja lu ga mau kasi visual🙄


Author : aduuhh, gimana yaa. saking cintanya gu sama lu, apapun akan gue kasih. visualnya besok yaa


Netizen : apapun ya?🤔 termasuk menara kembar di Malaysia?😄


Author : paansih, ga jelas😒


Netizen : kan lu yang bilang akan kasi apapun, ferguso😏 jan mikir camacam


Author : tapi bukan itu juga kali🙄. lu yang mikir macamacam


Netizen : yaudah, iyaiya. tapi lu janji kan?


Author : iyalah, gue takut lu kagak kasih poin😂


Netizen : ada maunya🙄


.


*****


Love,


Xie Lu♡