Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 32



Happy reading!


.


***


Pendengarannya terganggu oleh suara yang berisik di bawah. Penerangan di kamar sangat minim, jendela masih tertutup. Melirik jam di nakas, masih menunjukkan pukul lima pagi.


Sue mengucek matanya, bangun dan memastikan Alita terlelap dalam tidurnya kemudian keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Tepat di pintu, dia merasa aneh. "Aku pikir sudah mengunci pintu sebelum tidur. Apa aku yang tidur berjalan?"


Memastikan sekeliling kamarnya aman, Sue keluar dan memanggil Diego dari kamar sebelah.


"Ada apa, Moon?" Anak kecil itu mengucek matanya, keluar dengan wajah khas bangun tidur. Piyama tidurnya acak-acakan.


Sue tersenyum ketika menyadari kalau Diego belum sepenuhnya tersadar, anak laki-laki itu masih terhuyung.


"Tolong temani Alita sebentar, aku akan menyiapkan sarapan."


"Oke," ucapnya dan berjalan sempoyongan ke dalam kamar.


Kaki jenjang dan mungil itu melangkah. Melewati beberapa kamar kosong yang menyambungkan kamar mereka dengan tangga. Di ujung tangga, Sue melihat José sedang meletakkan sebuah kotak besar di lantai.


Sue mengerutkan keningnya, penasaran apa yang ada di dalam kotak jumbo itu. Belum sempat dia menuruni tangga, José lebih dulu menghampirinya dengan menenteng kotak itu.


"Nyonya, ada kiriman tanpa nama lagi. Pagi-pagi sekali sudah ada di depan pintu."


Sue menatap kotak cokelat yang digenggaman José, meneliti setiap sudut yang direkatkan. Dia tahu, kotak itu 'lagi'.


"Sudah lama dia tidak mengirim hadiah seperti ini. Mungkin kejutan," ucap Sue datar.


Dia mendekat, dan menyuruh José membuka perekat. Sue berwaspada, apalagi ketika lakban yang merekatkan benda itu sedikit lagi selesai dibuka.


Sue mundur beberapa langkah. Dia tidak menyadari di belakangnya adalah tangga. Tepat saat kotak terbuka, Sue berteriak kaget dan kembali mundur.


"Aaaaaaaaa ...."


Tidak bisa menahan keseimbangan, dia terjatuh tapi masih bisa melihat benda di dalam kotak yang mengejutkannya itu. Seekor bunglon yang dipasang slinki sehingga saat kotak terbuka, hamburan debu menggelapkan penglihatan.


"Nyonya ...."


"Sue ...."


Teriakan histeris dari beberapa maid sempat memenuhi pedengarannya. Dan kemudian gelap menghampiri, Sue tidak melihat apa-apa lagi.


***


Mendapat kabar bahwa istrinya terjatuh, Silver bergegas menancap gas ke rumah sakit. Mobil itu disiapkan oleh seseorang yang membantu menyamarkan identitasnya di sebuah rumah kumuh.


Dia sudah menduga sesuatu akan terjadi saat dirinya meninggalkan mansion. Karena itu, dia membatalkan tiket ke Valencia dan diganti menjadi atas nama Arthur. Bersembunyi, itu yang dilakukannya.


Tangannya mengepal, menggeram saat jalanan mulai macet. Fajar telah tiba, dan sudah saatnya bagi kota itu bangun dari tidurnya.


"Sial, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Laurent. Biar kau lebih cepat menemui anak jalaangmu di neraka," geramnya marah.


Dia melajukan dengan kecepatan penuh. Persetan dengan polisi yang mulai berpatroli, keselamatan istrinya yang menjadi prioritas utama.


Decitan rem kendaraan memekakkan telinga siapapun yang lewat. Berbagai umpatan sampai di telinganya, persetan, begitu pikir Silver.


Meski penyamarannya terlihat nyata, rupanya ada beberapa yang mengejarnya dari belakang. Silver menekan earphone di telinganya, menyuruh beberapa anggota Caméléon menghadangnya di tempat tersembunyi.


"Rupanya kau sengaja memancingku keluar, sialan. Tenang saja, aku pandai memakan umpan."


Tidak lama, sebuah mobil melintas dengan kecepatan penuh tepat di perempatan jalan yang banyak kendaraan. Menghindar sudah tidak mungkin, Silver menabrakkan mobilnya di tiang listrik dan mengambil sebuah pistol yang sudah dia isi dengan amunisi, dan juga beberapa peluru cadangan di sakunya.


"Lita, kau harus baik-baik saja," gumamnya.


Darah segar keluar dari kepalanya, tapi kemarahan sudah mencapai titik didih. Berkat kumpulan orang banyak yang menonton kecelakaan itu, Silver bisa menghindar.


Tak ingin terkejar oleh mobil yang tadi mengikutinya, dia menghentikan taksi.


"Rumah sakit Esmeralda."


Sopir taksi itu memerhatikannya. "Apa kau baik-baik saja, Monsieur?"


Tidak peduli lagi dengan image yang dibangunnya dengan sempurna di depan penggemar, pekerjaan bisa dicari, tapi cinta sejati tidak akan ditemukan dengan mudah. Itu prinsip Silver.


Menoleh ke belakang, dia menghembuskan napas. Mobil-mobil itu sudah tidak memgikutinya. "Lebih cepat lagi."


Sopir itu menurut, tapi bagi Silver itu masih belum cukup. Karenanya, dia menodong sopir itu dengan pistol.


"Biar aku yang mengemudi, aku akan membayar lebih."


Silver tidak membiarkan sopir itu membuka mulutnya. Dengan sigap dia menarik tuas dan menghentikan taksi itu.


"Monsieur, ini melanggar hukum."


"Jangan berbicara hukum di depanku. Pergilah komplain dengan Presiden yang kau pilih, apa itu hukum yang sebenarnya."


Dia tidak peduli dengan lelaki yang menatap tajam ke arahnya. Silver mengemudikan taksi itu dengan kecapatan maksimum, berlari sangat cepat seperti mobil di sirkuit balapan dan dengan cepat sampai di rumah sakit.


"Terima kasih, istriku sedang sakit."


Silver memberikan beberapa lembar uang pada sopir taksi dan meninggalkan lelaki itu dengan mulut melongo. Bonus yang banyak.


"Semoga Tuhan memberkati, Tuan."


Kepalanya mulai terasa pusing, tapi tekadnya untuk menemui sang istri lebih besar. Silver menaiki lift ke lantai paling atas gedung itu, kamar VVIP khusus pemilik rumah sakit.


Beberapa penjaga siaga di sana, Silver memasuki kamar dengan darah yang kembali menetes dari kepalanya.


***


Disaat semuanya khawatir, hanya satu orang yang sangat nyenyak dalam tidurnya. Berguling-guling di kasur empuk sambil mendengkur kecil.


Bibir mungilnya terlihat sangat manis, disertai gumaman kecil yang menambah kesan imut. Berkali-kali dia mengganti posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman untuk kembali ke dunia fantasi.


Pesan yang disampaikan Sue untuk menemani Alita hanya sekadar angin lalu baginya. Toh tidak akan ada yang berani mengganggu tidur si kecil. Dan Diego melanjutkan tidurnya yang tertunda tadi.


"Hahahaha ..., Profesor Caesar, rasakan itu! Hahaha ...."


Bibirnya kembali terbuka, mengigau dengan keras dan terbahak-bahak. Teringat kembali hal-hal yang terjadi semalam, terputar dalam mimpinya.


Saking asyiknya terbuai dalam mimpi, dia tidak menyadari kehadiran seseorang di dalam kamar. Wanita berambut pendek itu menuju box Alita, memerhatikan dengan seksama setiap sudut kamar.


Disaat Diego bergerak di tempat tidurnya, wanita itu terdiam. "Profesor Caesarrrrr, hahahahahaaaa ...."


Suara tawa Diego membangunkan Alita, bayi kecil itu bergerak aktif, membuat wanita di samping box terkesiap.


"Sial, lelaki tua brengseek!" umpatnya.


Dia memasang earphone yang sengaja tidak dipasangnya tadi, mendengarkan perintah dari seberang sana.


"Bawa anak kecil itu kemari! Aku ingin menbunuh keturunannya dengan tanganku sendiri! Mencabik-cabik mukanya, mengulitinya sebelum dimutilasi dan mengirimkannya pada Silvester sialan itu."


Dan satu lagi perintah yang tidak mungkin dijalankannya. "Kau berani menyentuh keponakanku, aku akan menghabisi seluruh keluarga yang kau lindungi."


Carissa terdiam di antara dua pilihan. "Cepat bawa anak itu kemari, jalaang kecil, ibumu menunggu kedatanganmu! Kau tidak tega, bukan?"


Dia kembali teringat pada ibunya yang menjadi tawanan, menjalankan perintah ini yang menjadi jaminannya. Tapi perkataan Tuannya membuat hatinya mendua.


"Silver sudah mengurus si Tua Lurent itu, Black Angel. Dan kau juga tidak mungkin bisa menyentuh keponakankuu."


Melihat bayi yang aktif bermain dengan gulingnya, perasaan Carissa tercabik. Dia tidak mungkin menyakiti bayi yang tidak bersalah itu.


Tangannya memegang pinggir box, dan pada saat itu pula dia tidak sadarkan diri. Aliran listrik menyetrum tubuhnya.


Seseorang yang sudah sadar dari tidur panjangnya itu terkekeh pelan. "Aku pikir kau bukan pengkhianat, Carissa. Lihatlah, kau mencelakai dirimu sendiri."


Diego bangun dari ranjang dan mengintip Alita di boxnya. "Buongiorno (Selamat pagi), Mona Elle."


"Benar-benar luar biasa, Profesor Caesar," gumamnya.


.


---


Ig @Xie_Lu13