
Happy reading!๐๐
.
*****
Penyesalan selalu datang terlambat. Kalau lebih awal namanya kekesalan. Itu yang dialami Silver saat ini setelah sang pujaan hati menghembuskan napas terakhirnya oleh timah panas yang menembus jantungnya. Satu tarikan pelatuk yang bermaksud membunuh dokter sialan itu tetapi ujung-ujungnya bersarang di dada Paula.
Tangannya menyentuh selembar kertas di atas meja kecil di ruang lukis Paula. Bibirnya melengkung membaca sebaris kalimat yang menurutnya lucu.
Dear my Silverstone,
Satu kalimat pembuka itu membuat hatinya meringis, mengingat panggilan sayang yang diberikan kekasihnya untuk dirinya. "Kau adalah sebuah batu perak yang kuat," ujarnya seraya terkekeh saat itu dan mencium bibir Silver dengan tangan merangkul leher pria itu.
Manik hijaunya kembali menyusuri isi di dalam surat itu, surat yang ditulis oleh Paula meski tulisannya sedikit buruk tetapi menggambarkan isi hati yang sebenarnya.
Kalau kau sampai mendapatkan surat ini berarti saat itu pula aku telah pergi untuk selamanya. Entah kepergian seperti yang ku inginkan ataupun dengan cara yang tidak disengaja, semuanya adalah takdir Tuhan. Pada akhirnya akupun akan pergi dari sisimu, aku dan anak kita.
"Anak kita?" gumamnya sambil menitikkan air mata. "Apa aku berhasil mencetak gol, sayang?"
Tangannya gemetar memegang sepucuk surat itu, matanya kembali berkabut oleh air mata. Bukan karena kepergian Paula, tetapi penyesalan yang tidak terbendung. Paula kesakitan saat perutnya terbentur ranjang dan selangkangannya mengeluarkan darah, berarti saat itu anaknya sudah pergi terlebih dahulu.
Ia meremas kertas itu, merutuki kebodohannya. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari hal sekecil itu. "Aku membutuhkanmu lebih dari kau membutuhkanku." Kalimat Paula kembali terbayang di kepalanya.
Betapa bodohnya Silver saat itu. Membiarkan wanita yang dicintainya kesakitan padahal di dalam tubuhnya ada darah dagingnya yang dikandung wanita itu. Kesakitan karena mengetahui fakta kekasihnya berkhianat membutakan mata hatinya, membiarkan amarah berkuasa di atas segalanya.
Jangan menyesali apa yang telah terjadi. Ini bukan salahmu, aku melakukan sandiwara di belakangmu, membujuk seorang dokter tampan agar berpura-pura menjadi kekasihku.
Kau mengenalnya, bukan? Ya, dia memang tampan, tetapi tidak melebihi ketampanan kekasihku, pria pujaanku yang selalu memberiku kekuatan. Hahaha.... Kau jangan cemburu ya, dia bukan kekasihku. Yah, meskipun dia benar-benar hampir menikahiku. Konyol, bukan?
Tetapi, jangan membunuhnya, ok? Anggap saja aku yang berkhianat, aku yang bersalah menjerumuskan dokter tampan itu. Ah, jangan marah karena aku selalu menyebutnya tampan, hehehe. Aku memilihnya untuk bersandiwara karena wajah tampannya itu. Kau tahu, kau selalu menggemaskan dengan wajah cemburumu itu. Aku ingin melihat wajah menggemaskan itu setiap saat meskipun telah sampai di Surga.
Ah, aku terlalu banyak bercerita. Maafkan aku!๐. Intinya, aku berterimakasih kepada dokter itu karena telah berhasil membuatmu cemburu dan membenciku. Ya, itu alasanku membujuknya. Dan... aku berhasil, bukan? Hehehe.... Maafkan aku!
Kau masih ingat waktu aku dan Maria pergi ke New York? Ya, saat itu aku sangat bahagia karena aku dinyatakan hamil. Hamil anak kita๐. Bayangkan saja, kita berdua yang sama-sama sebatang kara akhirnya memiliki keturunan, anak kandung kita sendiri.
Aku berniat memberitahumu setelah kepulanganku, waktu kau pulang dari Spanyol membawa kemenangan atas Brazillรญa. Ah, membayangkanmu akan memelukku erat dan memutar tubuhku membuatku cekikikan. Aku sudah seperti orang gila di depan dokter kandungan itu.
Tetapi, kebahagiaanku hanya sampai di situ. Satu kalimat dokter itu memupuskan harapanku ingin hidup bahagia bersamamu, bersama anak kita nantinya. "Anda mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, Nona!" Duniaku hancur seketika, tidak, bukan, semua mimpiku untuk membesarkan anak kita sirna. Bagaimana tidak, keturunan yang aku kandung harus mendengar kalimat yang menyakitkan itu. Dia pasti sangat sedih karena tidak bisa melihat dunia.
Aku pikir Tuhan tidak adil bagiku. Membuat aku kehilangan harapan disaat kehidupan besar menanti di depan mataku. Kau tahu, aku ingin sekali membunuh dokter itu seperti kau membunuh musuhmu. Tapi, tidak ada pistol di dalam saku jaketku.
Pada hari itu juga, aku memutuskan pulang secepatnya dari New York, mengunjungimu di mansion. Aku ingin bersandar di dada bidangmu, mencurahkan segala isi hatiku.
Namun, setelah dipikir-pikir, kau tidak perlu mengetahuinya. Aku tidak ingin membuatmu kelelahan, jadwal terbangmu terlalu banyak. Jadi, aku menyimpan semuanya sendirian. Maafkan aku, Sil!
Jangan salahkan angin yang berhembus karena daun yang jatuh tidak pernah menyalahkannya. Biarkan aku istirahat dengan tenang, menunggumu bersamaku dan anak kita di Surga.
Oh iya, apa aku boleh meminta sesuatu kepadamu? Hahaha.... Kau pasti mengizinkannya, bukan? Meskipun kau tidak memgizinkannya, aku akan tetap memintanya, hihihi.
Hentikan pergerakanmu di dunia gelap, sayang. Bukan karena kau tidak sanggup, tapi demi masa depanmu. Kau masih memiliki waktu untuk memperbaikinya, Sil. Waktu Tuhan pasti yang terbaik, meski kadang tak mudah dipahami.
Sudah dulu ya, aku kelelahan menulis paragraf panjang ini. Oh ya, lukisan yang tertutup kain putih itu aku hadiahkan untukmu. Aku berikan itu sebagai kenangan, agar kau mengingat satu nama, kekasih yang mengkhianatimu.
Ah... hampir lupa! Sepertinya gadis berambut blonde itu sangat cocok berada di posisiku. Dia sangat manis dibandingkan wanita lain di mansionmu. Wajahnya imut, hidungnya mungil dan manik kuningnya seakan menghipnotisku. Apa kau tidak berniat menjadikannya istri?^_^
Maafkan aku, my Silverstone.
Love,
Salmonetta.
*****
Silver meremas kertas itu, melampiaskan penyesalannya kepada media tidak berdosa itu. Ia membuka lukisan yang disebutkan di dalam surat itu. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Persetan dengan egonya yang tinggi, yang ingin dilakukannya sekarang adalah menangis. Menangisi kebodohannya.
"Maafkan aku, Netta," lirihnya.
"Sil...."
Silver menoleh, mendapati Maria dan dokter Jannis berdiri di ambang pintu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, Maria?" Ia mengguncang pundak perempuan yang tampak berantakan di hadapannya itu.
"Maafkan aku, Sil. Ini bagian dari rencananya, dia melarangku memberitahumu dengan alasan hanya dia yang berhak memberitahumu."
"Memberitahuku setelah aku membunuhnya?" Ia menangis di depan Maria, ia lupa dengan identitasnya sebagai seorang yang paling pandai menguasai diri. "Aku yang membunuhnya, Maria. Dia mati karena aku!"
"Tidak, kau tidak melakukannya!"
"Aku melakukannya. Dengan tanganku sendiri, aku membunuh kekasihku." Ia bersimpuh, menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Aku membunuhnya, Maria!"
"Tidak, Sil. Jangan menyalahkan dirimu! Pada akhirnya dia akan pergi karena penyakitnya itu. Kau hanya mempercepat waktunya. Ia telah sembuh, dia sudah di Surga bersama Yesus." Maria ikut berjongkok di depan Silver, mencoba meraih pundak yang bergetar di depannya.
"Aku membunuhnya!"
Maria tidak tega melihat Silver putus asa dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia bangkit dan menendang Silver.
"Ya, kau membunuhnya! Kau puas 'kan?" Maria tidak tahan lagi mendengar tangis pilu pria itu, ia memukul kepala Silver. "Salahkan dirimu yang selalu membunuh orang. Kau seharusnya tidak pantas dicintai sahabatku!"
Ia berteriak berapi-api, mencurahkan seluruh amarah di dalam dadanya. "Kau pembunuh, Silver. Kau membunuh kekasihmu sendiri!"
"Hentikan, Maria!" Dokter Jannis berusaha menengahinya, tetapi ditepis kasar oleh Maria. "Biarkan aku memukulnya, dia bersalah."
Ia memukul lagi kepala Silver, ya kapan lagi ia bisa memukul kepala sang atlet kalau bukan sekarang saatnya. Saat pria itu bersimpuh seperti orang bodoh di depannya. "Hiduplah dengan rasa bersalahmu, sialan!"
*****
Setelah acara pemakaman itu selesai, Silver masih bersimpuh di depan makam itu sambil memeluk nisan yang bertuliskan nama sang kekasih.
"Maafkan aku, sayang. Aku sangat bodoh tidak mengetahui penderitaanmu. Maafkan kata-kataku yang menyakiti hatimu. Maaf...."
Ia masih setia di sana sampai bunyi telepon mengganggunya. Dengan malas ia menekan tombol hijau.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak.
"..."
"Hm."
"..."
"Hm."
"..."
Finally, I found you!
Ia bangun dari tempat itu setelah memberikan ciuman selamat tinggal di nisan itu. "Jalanlah dalam damai, sayang. Maafkan aku!"
Ia menelpon seseorang. "Siapkan pesawat! Aku akan berlibur di Hawaii."
.
*****