
Happy reading!😊😘
.
*****
"Kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Tidak ingin memanggil dokter?"
"Ti-tidak."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Saya tidak ingin merepotkan, Tuan."
"Kau takut diketahui?"
"A-apa?"
"Kau mendengarku, Sue."
Sue terdiam.
"Aku mengetahuinya."
Sue menegang mendengar pengakuan José. Ia susah payah mengeluarkan suaranya yang tercekat.
"A--apa?"
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahunya jika tidak ada izin darimu."
Sue kembali terdiam. Membiarkan hening mengambil alih.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Perutmu akan membesar, Sue."
Sue menarik napas dalam. Benar yang dikatakan José, tapi ia tidak ingin mengambil resiko. Ia takut Silver tidak menerima keberadaan malaikat kecilnya.
"Biarkan saja dia tahu sendiri."
"Bagaimana jika dia melakukan kekerasan dan menyakiti kandunganmu?"
"Jauh sebelum itu aku sudah merasakannya, José."
"Kau ingin anakmu terluka?"
"Tentu saja tidak."
"Kau akan menyakitinya, Sue."
"Tidak, aku menjaganya."
"Kau akan menyakitinya dengan cara itu."
"Tidak, José. Aku melindunginya dari kekejaman dunia."
"Kau sungguh keras kepala. Mungkin duniamu akan berwarna setelah mengatakan fakta itu."
"Tidak akan ada yang berubah. Aku tetap menjadi pelayannya seumur hidup, José. Duniaku sudah hancur. Semua yang ku miliki telah lenyap dan aku tidak ingin malaikatku juga meninggalkanku."
Seketika air matanya jatuh, mengingat setiap inci perkataan menyakitkan Silver.
"Ti... tidak akan ada... yang berubah dalam hidupku, José. Semuanya tetap sama."
Isakannnya semakin keras, ia memukul dadanya yang terasa sesak dan kembali menangis sepuasnya.
Sue hanya ingin menangis saat ini, mengeluarkan seluruh kemarahan dan kekecewaannya pada takdir yang mempermainkan. Dunia seolah tidak adil padanya.
Kehilangan ibu saat ia masih kecil, ayahnya juga meninggalkannya saat ia sedang mengandung seorang malaikat kecil. Hidup yang tidak berguna lagi baginya.
Bahkan seorang pria yang dianggapnya malaikat penyelamat memperlakukannya dengan buruk, hanya penderitaan yang selalu membayangi hari-harinya. Tidak ada senyuman di bibirnya, semua telah mati.
"Aku... telah mati, José."
"Berhenti menangis. Ingat bayimu."
"Aku sedang ingin menangis. Jangan menggangguku. Pergilah!"
*****
"Dasar j*l*ng menjijikkan. Beraninya dia muntah di badanku."
Silver terus menggerutu sambil membuang asal kemeja yang menjadi sasaran muntahan Sue.
"Ck, aku bau."
Belum sempat ia masuk ke kamar mandi, pintu kamarnya diketuk dan seseorang langsung menerobos masuk.
"Sayang!"
"Wanita gila," gumamnya kesal. "Apa?!"
"Ck, kau terlalu kasar."
Peyton mendekat dan menyentuh otot liat di perutnya.
"Lepaskan tanganmu, j*l*ng!"
"Aku merindukanmu!"
"Lepaskan, Python."
"Tidak sebelum kau menciumku!"
"Dasar wanita murahan."
"Ayo cium!"
Peyton langsung mengalungkan tangan di lehernya dan memejamkan mata seperti bersiap menerima ciuman panas.
"Aw--sakit!"
Teriak perempuan keriting itu sambil membuka mata saat Silver memukul keras pantatnya.
"Kenapa kau memukulku?!"
"Apa kau mabuk?"
"Huh?!"
"Mulutmu bau!"
"Aku sudah menggosok gigi."
"Gosok lagi sebelum kau menciumku, aku tidak tahan mencium aroma bangkai dari mulutmu."
"Mulutku wangi, Sil. Aku baru saja melakukannya sebelum si tua José itu membuka pintu kamar itu."
"Lakukan lagi."
"Airnya dingin."
"Jangan mendekatiku lagi. Kau bau."
Silver langsung pergi ke kamar mandi tanpa memedulikan Peyton.
"Hidungnya pasti tersumbat. Ini wangi mint," gerutu Peyton seraya menghembuskan napasnya di telapak tangan dan menciumnya.
Sementara itu, Silver terus saja bergumam tidak jelas, mengumpat bau mulut Peyton yang katanya seperti bangkai.
"Dia pasti memakan bangkai hewan liar, dasar ular piton."
Ia menggosok giginya sambil menahan geram sampai sikat gigi yang dipakainya patah.
"Sial."
Ia mencuci mulutnya dan segera membasuh dirinya di bawah shower. Setelah melakukan ritual mandi singkatnya, ia keluar dan mendapati Peyton berbaring di ranjangnya. Kemarahannya kembali tersulut.
"Aku mengantuk."
"Tidak ada urusannya denganku. Pergi!"
"Aku ingin tidur di sini, Sil. Ranjangmu empuk."
"Pergi sebelum aku benar-benar marah, Python."
Peyton mengerucutkan bibirnya, ia bangun dan melangkah gontai keluar dari kamar itu.
"Ini pasti gara-gara j*l*ng rendahan itu. Tunggu bagianmu, j*l*ng."
Peyton mengepalkan tangannya dan tersenyum menyeringai. Silver miliknya, tidak boleh orang lain memilikinya.
"Aku akan mengirimmu ke neraka, j*l*ng."
*****
"Sarapan anda sudah siap, Tuan," ujar Martha mempersilahkan Silver saat pria itu keluar dari lift dan menuju meja makan.
"Hm."
"Dimana José?"
"Di dapur, Tuan."
"Ada apa, Monsieur?" José mendekat dan Martha segera menjauh, kembali melakukan aktifitasnya.
"Bagaimana keadaan wanita itu?"
Ia berbicara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Di-dia baik-baik saja, Tuan. Mungkin dia mengalaminya karena ini akhir musim panas."
"Benarkah?"
"Iya, Tuan. Itu yang dikatakannya padaku."
"Dimana ular piton oranye itu?"
"Maksud Anda?"
"Kau mengerti maksudku, José."
José menyengir saat menyadari sorot tajam manik hijau itu tertuju padanya.
"Dia sudah pulang. Apa anda membuatnya kesal?"
"Dia mengatakannya padamu?"
"Dia mengumpat sepanjang perjalanan menuruni tangga. Aku pikir dia gila."
"Kau benar. Dia sedikit gila."
José mengernyit heran mendapati aura menyeramkan yang ditunjukan Silver. Aura yang selalu mengintimidasi mangsanya.
"Anda baik-baik saja, Monsieur?"
"Jaga baik-baik barang milikku!"
José meneguk ludah kasar mendengar titah itu, pikirannya langsung tertuju pada Sue.
"Jangan sampai ular gila itu menyentuhnya. Hanya aku yang boleh menyentuh milikku, José."
"Aku mengerti, Tuan."
"Bagus. Aku harus menjinakkan dan menggemukkannya terlebih dahulu sebelum menjadikannya lauk yang sangat enak."
Wajah José berubah pucat, keselamatan Sue dan bayinya terancam. Silver sepertinya tidak main-main dengan perkataannya kali ini. Aura iblis itu sudah tercetak jelas di mata hijaunya.
"Apa anda tidak ingin menyelidiki lebih lanjut kejadian itu, Tuan? Mungkin saja apa yang anda percayai tidak sepenuhnya benar."
Detik itu juga, José langsung mengunci mulutnya rapat-rapat karena merasa telah salah berbicara.
"Kau kini berpihak padanya?"
"Ti-tidak, Tuan. Maafkan aku!"
"Mudah sekali kau meminta maaf."
"Maafkan aku."
"Pergilah, kau membuatku tuli dengan kalimat itu."
José melangkah pergi, buru-buru menghilang sebelum amarah Silver dilampiaskan kepadanya.
"Kau benar, José. Aku harus menyelidikinya ulang."
Perkataan itu membuat José menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Silver. Ia sudah berharap bahwa apa yang baru saja dikatakan Silver menjadi kenyataan.
Sebelum kalimat itu dilanjutkan, "Jangan sampai ada pengganggu yang mencemarkan nama pamanku."
Senyum yang merekah di bibir pria tua itu lenyap seketika. Ia berpikir bahwa Silver akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, tetapi nyatanya ia lebih mempercayai Alfonso.
"Aku mengerti, Tuan."
"Sudah seharusnya."
Bersamaan dengan itu, Silver menyelesaikan sarapannya. Ia menyeka bibirnya dengan kain yang sudah disiapkan di atas meja.
"Ingat perkataanku, José!"
*****
"Paman, aku tahu kau tidak tidur!"
Alfonso membuka mata yang berpura-pura terpejam sejak tadi. Silver tidak henti-hentinya memanggil dan membangunkannya.
"Sudah aku duga." Silver menghela napas. "Jangan takut paman, kau tahu aku tidak akan bisa memarahimu."
"Kenapa kau datang?"
Silver terkekeh. "Ingin memberikan ini."
"Apa ini?"
"Del Montaña, bukan? Pemilik Spanyol dan sekitarnya."
Alfonso terlihat sangat terkejut. "Kau punya hubungan dengannya?"
"Sedikit masalah."
"Kau menipu mereka?"
"Tebakan paman tepat sasaran." Silver menyeringai tipis. "Apa paman pernah memiliki hubungan dengan mereka?"
Alfonso tergagap, kemudian ia menggeleng dan tersenyum tipis. Berusaha menghalau kegugupan yang melandanya.
"Aku bukan orang yang mudah memiliki masalah."
"Baguslah. Aku ingin paman membantuku menyelesaikan sesuatu."
"A-apa?"
"Hanya paman yang bisa membantuku."
"Kau memiliki segalanya di Brazil, Sil."
"Dan hanya paman yang ku percayai untuk itu."
.
*****
Love,
Xie Lu♡