Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 29



Happy reading!


.


***


"Diego, kenapa kau melamun lagi?"


Berulang kali Sue menyakiti tangannya di pungung meja untuk menyadarkan Diego dari lamunannya. Tapi anak kecil itu bahkan terus mematung dan hanya mata yang mengerjap.


Gemas sendiri dari tempatnya, akhirnya wanita blonde itu menyentuh pundak Diego dan menyadarkannya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?"


Diego menggeleng. "Hanya beberapa hafalan dari sekolah."


Sue berdecak, mengacak rambut Diego yang diklimis dan berakhir dengan bibir kecil itu yang mengerucut.


"Kau sangat serius. Sepertinya bukan hal mudah seperti itu, bukan?"


"Tidak, hanya hafalan."


Mungkin wajahnya tersenyum meyakinkan, tapi jauh di sorot mata cokelat itu terdapat kegelisahan. Sue menyadarinya.


"Bisakah kau tidak berbohong padaku? Kau sedang khawatir terhadap sesuatu, Diego."


Lagi, bibir itu tersenyum, tidak membiarkan Sue mengetahui apapun yang ada di lubuk hatinya.


"Ayolah, Moon. Percaya padaku, aku tidak menyembunyikan apapun."


Meraup udara sebanyak-banyaknya, manik kuning itu tersenyum. "Matamu tidak mengatakan kebohongan. Katakan padaku."


Diego terkekeh pelan, menyadari bahwa Sue langsung mengetahui dia sedang berbohong. Dia bangun dari kursi, mengambil brownis cokelat beberapa potong dan berlari ke kamar.


Menutup pintu dengan jantung berdebar, Diego menempelkan telinganya di daun pintu, mungkin ada yang mengikuti, pikirnya.


"Tidak, Moon tidak boleh tahu ini. Dia bisa memakanku habis kalau terjadi," ucapnya dengan mulut yang terus menggigit brownies.


Setelah kunyahannya berhenti, dia duduk di ranjang dan mulai melakukan pencarian. Tangannya masih memegang brownis itu, dan tangan yang lain menekan tombol pada benda pintar itu.


Sesekali dia tersenyum, mengerut dan mengomel sendiri ketika melihat artikel yang tidak pantas.


Selesai dengan urusan itu, dia menelpon seseorang.


"Dad, kau bisa melakukan apapun nanti pada kakek tua itu. Aku sudah menemukan titik kelemahan mereka."


Meski pada kenyataannya, seseorang yang membantunya. Diego terkekeh, tapi dalam hati dia berjanji akan belajar menjadi peretas yang handal dan bisa menembus pertahanan yang sulit di tembus.


"Kau yang melakukannya?"


Diego mengerucut, dia kembali menatap layar ponsel memastikan dia masih benar menekan nomor.


"Kau meragukan kemampuanku, Dad?"


"Aku pernah mendengarmu meminta bantuan seseorang."


Menyengir meski Silver tak melihat, dia menjawab, "Meski masih belajar, aku juga sudah pernah membantumu, Dad."


"Aku tidak menyangkal itu." Terdengar helaan napas sebentar. "Apa ada pergerakan baru di sana? Beberapa hari lagi baru aku bisa pulang."


"Tidak ada, tapi aku curiga banyak musuh yang menyamar di rumah ini. Aku akan mengejutkan mereka nanti."


"Jangan membahayakan dirimu, istriku akan ada dalam bahaya jika itu terjadi," ucap Silver yang terdengar seperti mencemaskan Diego, itu membuat manik cokelat madu itu bersinar.


"Kau mengkhawatirkanku, Dad, merci."


"Ck, tidak tahu malu. Aku mengkhawatirkan keselamatan anak dan istriku."


Diego terkekeh, ucapan Silver selalu bertolak belakang dengan isi hatinya, itu yang pernah didengarnya dari Sue.


"Aku juga mengkhawatirkan calon pengantinku, Dad."


Diego tahu, Silver pasti sudah menahan kesal di seberang sana. Dari pada mendapat banyak umpatan, Diego mematikan ponselnya setelah mengucapkan, 'Bye, Papa Mertua.'


***


Beberapa hari tanpa Silver, membuat manik kuning itu sedikit tak bersinar. Dia merindukan suaminya, pria yang selalu mengisi harinya dengan senyum jahil dan tawa menyebalkan.


Bohong jika dia mengatakan hatinya tidak rindu, justru dengan melihat wajah Silver lewat panggilan video membuatnya semakin merindu.


"Cepatlah pulang, anak perempuanmu terus merengek." Bibirnya mengerucut, mempertahankan dirinya agar tidak kesal karena kekehan Silver.


Tebakan yang tepat sasaran membuatnya menahan kesal. Sue mendekatkan layar ponsel pada bayi perempuannya, membiarkan Silver melihat wajah menggemaskan sang putri.


"Dia merindukan Daddy-nya, benarkan Sayang?"


Sue mendekatkan bibirnya di telinga Alita, yang menggelitik bagian telinga gadis kecil itu hingga tertawa.


"Lihat 'kan, dia merindukanmu," ucap Sue meyakinkan, menolak fakta bahwa dirinya yang rindu.


Silver terkekeh karena istrinya selalu menjunjung tinggi ego, tidak mengakui apa yang ada di hatinya.


"Aku juga merindukanmu, Sayang. Tidak lama lagi aku akan kembali."


"Bisakah kau pulang lebih cepat? Anak laki-laki kita banyak berulah."


"Apa saja yang dilakukannya? Berbuat onar dengan serigala itu?"


"Salah satunya, tapi ju---"


"Nyonya! Gawat, tuan Diego sedang berkelahi dengan penjaga!"


Seorang maid berlari tergesa-gesa ke arahnya dengan wajah panik, membuat Sue menatap Silver dengan datar lewat layar itu.


"Kenapa mereka berkelahi?"


Wanita paruh baya yang melapor itu menunduk, takut Sue akan memarahinya.


"I-itu ...."


"Katakan dengan jelas, Martha, aku tidak akan menyakitimu."


Martha menelan ludah kasar, tatapan Sue tajam, tapi ucapannya masih terkesan lembut.


"Dia ingin mengambil sampel darah mereka untuk percobaan."


Sue menghembuskan napas, dia kembali menatap Silver yang sedang terkekeh di seberang sana.


"Kau pergilah."


"Baik, Nyonya."


Selepas perginya Martha, Sue memandang tajam layar yang menampilan sosok lelaki bermanik emerald yang sedang tertawa itu.


"Aku tahu dia punya banyak kejutan, Sayang. Jangan terlalu keras padanya, mungkin terlihat sadis tapi dia punya penyelesaian yang bagus. Bukankah itu menarik?"


Kekehan Silver membuat Sue menatap kesal. "Aku tidak akan membahayakan keselamatannya, dia masih kecil. Bertha menitipkannya pada kita untuk dijaga dengan baik, Sil."


"Pengalaman akan membuatnya dewasa, Sayang. Dia akan tahu mana yang baik dan buruk, memilah yang pantas dan tidak pantas dilakukan anak kecil."


Sue menelan ludah kasar saat mendengar suara histeris dari luar. Dia menutup telepon dari Silver, memanggil Carissa untuk menitipkan Alita dan turun melihat kekacauan yang dibuat Diego.


Sue menutup mulutnya rapat, dia melihat beberapa mayat bergelimang di tanah dengan darah membanjiri tubuh mereka. Dia menutup mulutnya, menahan mual yang menghampiri saat melihat darah.


Diego, anak kecil itu berdiri di tengah dengan sebuah suntikan di tangannya, bersiap mengambil darah mereka, begitu yang dikatakan Martha tadi.


Menuruni tangga dengan buru-buru, wanita rambut blonde itu menengahi, menatap tajam pada Diego yang tidak terlihat bersalah.


"Moon, mereka mata-mata, musuh yang pantas dimusnahkan." Jari kecilnya menunjuk pada beberapa penjaga yang sudah tidak bernyawa.


Wanita itu tidak berkata-kata, tangan Diego penuh darah, tidak, di tangannya ada kantong darah. Mirip sekali dengan dokter bedah yang menampung darah untuk pasien.


"Kau membutuhkan darah itu untuk apa?"


"Aku menguji kesetiaan mereka dengan mengambil sampel darah, tapi mereka memilih mati."


Sue melipat tangannya di dada, melihat wajah Diego yang tidak berekspresi. Dia tidak akan memarahi anak kecil itu di depan orang banyak, takut menghilangkan kepercayaan diri mereka sebagai anak, itu yang pernah dibacanya dari sebuah majalah.


"Kau sudah mendapatkan darah mereka semuanya?"


"Hampir semuanya, masih ada beberapa yang belum. Moon, kau akan memarahiku karena ini 'kan? Kau bisa melakukannya nanti, aku sedang sibuk sekarang."


Tanpa peduli pada tatapan Sue yang penuh arti, Diego kembali melakukan pekerjaannya sampai tuntas.


.


---


Ig @Xie_Lu13