
Happy reading!😊😘
*****
"Kantor yang merilis berita itu mengatakan bahwa pelakunya adalah seorang wanita tua, Tuan." Demian, pembawa kabar itu menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan.
"Wanita tua itu mendatangi apartemen seorang jurnalis yang bekerja di kantor berita itu dengan memberikan bukti berupa foto dan rekaman bahwa anda adalah seorang mafia, Tuan. Tetapi, jurnalis itu terserang penyakit mati otak secara mendadak setelah pulang dari kantornya."
"Seorang wanita tua? Mati otak?" Ia mengangguk-angguk dan memainkan jemarinya di atas meja kerjanya. "Berarti jurnalis itu sekarang sudah tidak berguna lagi."
"Iya, Tuan."
"Dimana wanita tua itu?"
"Dia sekarang berada di bawah kendali, Tuan, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa terkait hal itu. Dia bungkam."
"Tidak apa-apa. Aku sendiri yang akan membuka mulutnya." Bibirnya tersenyum iblis. "Berikan dia tempat yang selayaknya dihuni oleh seorang musuhku, dan mungkin pelajaran ringan sudah cukup baginya mengingat dia seorang wanita tua. Beritahu Gregor agar dia tidak mengganggu tahananku yang lain."
"Baik, Tuan." Demian segera keluar dari ruangan kerja Silver.
Setelah memastikan bahwa berita itu tidak bocor ke publik, Silver was-was dan mendatangi perusahaannya yang disebut sebagai perusahaan hasil dari dunia kelamnya. Keuntungan berpihak kepadanya, berita itu belum tersebar di area itu karena Arthur sudah menangani dengan baik terkait hal itu.
*****
"Mereka berhasil membawa wanita tua itu pergi, Señor."
"Hahaha... Bukankah itu pertunjukan yang menarik, Alex? Kau tahu, aku hanya memberikan selembar kertas kosong, tetapi lihatlah, dia sudah mengisinya dengan jawaban dan pertanyaan yang dibuatnya sendiri."
Pria bermanik Central heterochromia -biru safir dengan warna kuning di dekat batas pupil- itu tertawa sampai air matanya menumpuk di sudut matanya. "Jangan khawatirkan wanita tua itu, aku sudah menutup rapat mulutnya." Ia menghapus air matanya.
^_^ *Central heterochromia adalah iris yang memiliki warna berbeda di dekat batas pupil, dengan warna setral yang memancar dari pupil ke tengah iris.* ^_^
Pria bernama Alex yang disebut sang tuan tersenyum. "Anda benar, Señor."
Pria yang tertawa itu kemudian menuliskan beberapa deret kata kemudian mengirimkannya.
"Apa kau ingin berpesta, Alex?"
"Gracias, Señor."
"Dia tidak akan bisa mengalahkan Maxwell del Montaña, pemilik Spanyol yang terkenal itu." Pria bermanik biru-kuning itu tersenyum devil.
Maxwell del Montaña ialah seorang mafia Spanyol yang terkenal di daerahnya karena kekuasaan yang dimilikinya. Kemahirannya dalam menggunakan senjata semua berkat kerja kerasnya selama menjadi agen CIA. Bukan hanya tentang senjata, tetapi ia juga pandai menggunakan dan merusakkan sistem teknologi agar identitasnya tidak diketahui orang awam.
Kejadian dimana Silver dan kawan-kawannya membantai mereka di tepi hutan malam itu membuatnya tertawa lagi. Maxwell, yang menyamar menjadi sopir container, membuat kendaraan beroda empat itu berlari otomatis di gelapnya hutan dan ia melompat turun sebelum mobil-mobil di belakangnya terpental akibat ledakan.
Ia sudah memprediksi hal itu akan terjadi karena ia tahu segalanya tentang dunia hitam, dan tentunya memahami cara Bunglon Hijau bermain.
"Pergilah, biarkan aku istirahat sejenak untuk merayakan kebahagiaanku."
*****
📩Unknown Name
~Bagaimana hadiahnya? Kau suka?
Jumpa lagi di lapangan beberapa bulan ke depan.~
Tangan Silver mengepal, buku-buku jarinya memutih. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal membuatnya menerka bahwa orang itulah pelakunya.
Lapangan? Kata itu membuatnya terfokus pada kejadian dimana ia mengalami cedera tulang kering di stadion Santiago. Apa mungkin...
Ia menelpon seseorang yang menurutnya bisa membantunya mencari jalan keluar dari tempat itu.
"Lacak lokasi nomor ini untukku."
Kemudian ia mengirimkan beberapa digit angka ke orang yang dimaksud.
"Sialan, beraninya dia menggangguku." Suara gemeletuk gigi Silver membuat siapapun yang mendengarnya bergidik.
Suelita yang belum mengetahui apa-apa tentang amarah tuannya mendekat, menyajikan minuman bersoda kesukaan tuannya dan snack. Bukannya diminum, minuman bersoda itu disiram di wajah Sue. Sue terkejut, matanya perih akibat cipratan minuman itu.
"Jangan menggangguku, Jal*ng." Manik hijaunya diliputi warna merah, terbakar amarah. Lalu ia meremas kaleng minuman itu dan melemparkannya dan ditangkap gelagapan oleh gadis itu.
Bahu Sue merosot ke bawah mendengar bahasa kotor yang keluar dari bibir idolanya. Bibir yang tak henti tersenyum saat berada di depan publik, tapi kini bibir tersebut menghinanya. Matanya memanas, buliran kristal itu hampir saja menetes andai ia tidak cepat mengendalikan diri.
"Maafkan saya, Tuan."
"Pergi dari sini. Jangan muncul di hadapanku lagi!"
Bibir Sue tersenyum, ia berbalik. Disaat itulah sungai di kelopak matanya mengalir deras. Hatinya hancur, ia kecewa. Sekian lama ia mengidolakan pria itu, menanam rasa suka di lubuk hatinya yang paling dalam, tetapi yang diterimanya hanyalah bahasa kotor, sebutan yang tidak pantas untuknya.
Seiring dengan banyaknya langkah kakinya, air matanya pun tak terbendung lagi. Jika saja bukan karena hutang dan demi menyelamatkan toko bunganya, ia akan melangkah keluar dari mansion itu, keluar dari lingkaran pagar raksasa itu.
Tidak, Sue tidak akan melakukan itu. Ia sadar diri, hatinya selembut kapas. Ia tidak pernah ingkar janji, ia akan menepati janjinya. Ia akan melunasi hutangnya dan pergi, terbang bebas ke langit lepas tanpa beban apapun.
Carissa yang melihat itu menghela napas. Ia lupa tidak memberitahu Sue tentang amarah tuannya, yang akan melampiaskannya kepada siapapun yang berdekatan, termasuk kekasihnya sekalipun.
Ia segera menyusul langkah Sue ke kamar. Di atas ranjang kecil itu ia mendapati Sue tengah tengkurap dengan guling menindih kepalanya. Tubuhnya bergetar, Carissa menyimpulkan Sue sekarang sedang menangis.
Ia menepuk kaki Sue, mengguncangnya pelan agar si empunya terbangun.
Tanpa melihat siapa pelakunya, Sue menghardik. "Pergi!"
"Ini aku."
Tubuh Sue menegang, tetapi kemudian ia tertawa miris. "Apa maksud perkataan itu, Carissa?" Tangisnya pecah, Carissa segera mendekap dan mengusap punggungnya.
"Aku sudah memperingatkanmu."
"Apa maksudmu?" Sue mendongak.
"Bunglon Hijau."
"Apa?"
"Kau tahu artinya, Sue."
Sue menggeleng tidak percaya, air matanya terus menetes. Bunglon Hijau? Sebutan yang selalu dipakai semua orang di sini ialah untuk sang Tuan. Ia baru menyadarinya. Benar, manik pria itu berwarna hijau zamrud. Mungkin itu alasan semua orang menjulukinya.
"Jangan membangkitkan amarahnya, Suelita. Kau baru mendapat sedikit dampaknya. Tidakkah kau berpikir ulang untuk tetap berada di tempat ini?"
Sue menggeleng, menghapus air matanya kasar. "Aku selalu menepati janjiku, Carissa."
Carissa terkekeh. "Janji ya? Hahaha .... Baiklah, kalau begitu kau harus setegar karang. Karena hanya sedikit peluang untukmu bisa melewati hari yang indah."
Tentu saja Sue tahu itu, tetapi untuk mendapat serangan mendadak seperti itu membuatnya sedikit takut berhadapan dengan Silver. Ia mengingat lagi saat pertama kali ia datang di mansion ini, Silver mencekiknya.
*****
"Tuan, berikan aku waktu kurang lebih 24 jam untuk melacak itu. Aku rasa pemilik ponsel itu sengaja mematikan ponselnya."
Silver mengumpat. "Sial, apa kau sudah kehilangan keahlianmu, Barbara? Jangan membuatku menunggu atau kutembak kepala botakmu itu."
Barbara, gadis berkepala botak dengan penampilan seperti pria, seorang hacker handal sekaligus temannya Silver. Barbara mendengus kesal. "Kau sungguh tidak sabaran, Silver. Kenapa tidak kau saja yang mencarinya sendiri? Kau seperti orang bodoh sekarang, tidak menggunakan otakmu saat beraksi."
"Lakukan saja tugasmu atau aku akan benar-benar menembak kepalamu."
Barbara mengedikkan bahu acuh. "Tembak saja dan lihat siapa yang akan membantumu nanti."
"Sial."
*****
Ig : @xie_lu13