Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 11



Happy reading!😊😘


.


***


Malam datang menyapa dengan keteduhan, beribu bintang bersuka dan bulanpun tersenyum menanggapi.


Silver menarik tangan istrinya ke luar. Mengendap-endap seperti orang asing di dalam rumahnya sendiri, berharap sang buah hati tidak terbangun karena keduanya akan keluar.


Kekhawatirannya tentu saja masih ada, namun mengingat dirinya tidak pernah memberikan kebahagiaan tersendiri untuk istrinya, ia menghalau rasa khawatir itu karena ia sudah menempati orang untuk mengawasi Carissa.


Dan tentunya orang itu adalah orang kepercayaannya.


"Sil, seharusnya kita tidak benar-benar pergi meninggalkannya," bisik Sue ketika ia berhasil menutup pintu kamar Alita.


Silver terus memggenggam tangannya. "Suasana romantis hanya terjadi sesaat saja, Lita. Lihatlah di luar!"


Ia menarik Sue ke lantai bawah dan menunjuk ke langit yang penuh bintang dan bulan yang sedang bersinar.


"Astaga, sungguh indah. Kau benar, tapi, bagaimana dengan anak kita?"


"Dia aman, bukankah kau tahu Carissa pandai?"


Mengangguk mengiyakan, Silver kembali menariknya ke luar pagar. Dan itu membuatnya terheran.


"Kenapa tidak membawa mobil?"


"Kau akan tahu sendiri, Sayang. Ayo!"


Tak lama mereka berjalan, Silver berhenti ketika ada orang yang menawarkan kendaraan.


"Kenapa hanya satu?" tanya Sue saat Silver kembali dan memdorong sebuah sepeda.


"Aku sedang miskin. Ayo naik!"


Sue mengerucutkan bibirnya. "Apa artinya kita akan berboncengan?"


"Tentu saja."


Menghela napas jengah, akhirnya Sue menuruti keinginan sang suami. Percuma jika ia menginginkan satu untuk dirinya sendiri, alasan yang digunakan Silver tentu saja sebagai perisai agar ia tidak meminta lebih.


Berboncengan di malam yang dingin ditemani bulan dan bintang, sungguh suasana yang sangat romantis yang dirasakan Sue.


Pertama kali dalam hidupnya ia bisa keluar bersama dengan orang yang dicintai, dan sekarang bukan hanya seorang kekasih tapi suaminya.


"Kita akan ke mana?"


"Kemana saja benda ini membawa kita," jawab Silver asal.


"Astaga, aku serius."


"Jangan terlalu memaksakan kehendak, Sayang. Ikuti saja ke mana arah angin membawamu, tapi ingat, jangan sampai kau kehilangan tenaga. Tetap fokus dan bersiaga."


Sue terdiam dengan pikiran yang teralihkan. Tangannya memeluk erat pinggang Silver dan sesekali senyum terbit di bibirnya. Seketika, bebannya hilang. Fokusnya hanya pada momen yang sangat mendebarkan itu.


Rasanya ia masih menjadi remaja yang sedang dimabuk asmara. Namun, siapa sangka, ia sudah menjadi seorang istri dan ibu bagi satu putri diusianya yang baru delapan belas tahun.


Waktu berjalan begitu cepat. Setahun yang lalu ia masih menjadi penggemar Silver dalam diam. Dan sekarang takdir mengubah hidupnya.


Lama keduanya berputar-putar sampai Silver melihat ada sederet penjajal makanan di pinggir jalan. "Tidak apa-apa kalau kita makan di sini?"


"Aku hanya mengikutimu."


"Astaga," gumamnya gemas. "Kita makan sebentar."


"Baiklah."


Turun dari sepeda, Sue langsung menghampiri beberapa penjajal makanan itu. Dan matanya melihat banyak makanan pedas di sana.


"Jangan makan yang pedas, ingat Alita masih menyusu," bisik Silver yang sudah tahu selera istrinya.


"Hanya sedikit, setengah piring." Sue mencoba merayu, tapi Silver tetap tidak goyah.


"Jangan membantah, kau harus menurutiku sekarang."


"Suami diktator," gumam Sue.


"Apa?"


"Tidak apa-apa."


"Ayo ke sana, ada makanan yang berprotein di sana."


"Aku tidak mau kacang," sanggah Sue.


"Sayang, kau harus menurutiku. Apa kau punya uang untuk membelinya sendiri?"


Sue menggeleng karena memang ia tidak membawa uang. "Kau yang membayar."


"Karena itulah kau harus menurut."


Pasrah pada keadaan, Sue mengangguk dan membiatkan Silver membeli apa yang diinginkannya.


***


"Sil, aku harus ke kamar mandi."


Makan dan minum yang banyak membuat Sue merasa kantung kemihnya penuh. Dan sekarang ia tak tahan.


"Biar kuantar."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau hanya perlu memberitahuku di mana letak toilet."


Silver menunjuk pada sebuah tenda kecil milik orang yang menjual di sana.


"Ok, tunggu aku."


Sue berlari kecil ke sana. Saat sedang melakukan respirasi, tiba-tiba pintu toilet itu didobrak paksa dari luar. Untungnya, pintu tersebut tidak terbuka.


"Aku tahu kau bersembunyi di sana, Nyonya Dario. Keluarlah!"


Sue tidak bersuara, ia mendengar dengan cermat setiap kalimat lelaki yang berbicara itu.


"Kau pandai jual mahal ya? Ayolah, aku akan memuaskanmu malam ini di ranjangku. Keluarlah, kau pasti akan bahagia."


Tubuhnya bergetar hebat, ia tak bisa bergerak lagi. Kalimat lelaki itu melecehkannya.


Namun, tak selang beberapa lama, terdengar suara tembakan dan suara orang itu tidak lagi terdengar.


"Sayang? Lita, apa kau di dalam?"


"Syukurlah, Silver datang tepat waktu," gumamnya seraya mengelus dadanya yang masih berdebar.


"Sayang? Apa aku perlu mendobrak pintu ini?"


"O-oh tidak perlu, aku sudah selesai," jawab Sue dengan gemetar.


Segera menyelesaikan urusannya di toilet, Sue keluar dan mendapati Silver berdiri di depan pintu. Ia langsung memeluk erat lelaki itu dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Kau baik-baik saja?"


"Berkatmu."


Silver mendesah lega. "Kau harus berhati-hati, Lita. Aku sudah menawarkanmu untuk pergi bersamaku tadi."


"Aku tidak berpikir sejauh itu, maafkan aku."


Setelah dirasa istrinya tenang, Silver membersihkan pistol yang dipakainya dan meletakkannya di tangan lelaki yang ditembaknya. Membiarkan kejadian itu dianggap sebagai kasus bunuh diri.


"Dari mana kau mendapatkan itu? Bukankah aku menyuruhmu membuangnya?"


"Itu berguna disaat mendesak seperti ini, Sayang. Maaf."


"Bagaimana dengan yang lainnya?"


Silver terkekeh pelan, Sue masih memantaunya agar membuang benda-benda seperti itu dan berhenti berkecimpung dalam dunia gelap.


"Tenang saja, aku tidak akan membahayakan siapapun, Sayang. Tapi, aku tidak janji jika dia mengusik kehidupanku."


"Sil!"


"Ayo pulang, kau harus beristirahat."


***


"Apa kau mendapatkan sesuatu?"


"Ponsel sekali pakai tidak bisa dilacak dengan efektif."


Silver mengangguk-anggukkan kepalanya mendapat berita dari Barbara.


"Kau masih mencarinya?"


"Tentu saja, demi uang yang banyak."


"Kau merampokku," sungut Silver. "Selidiki tentang ini, pada malam ini juga kau harus menemukannya."


"Apa ini?"


"Barang yang kutemukan di tubuh seorang pria yang mengganggu istriku."


"What?!" Barbara terbelalak. "Ada yang berani mengusik istrimu, Sil?"


"Karena itu aku penasaran padanya."


Barbara memerhatikan benda yang dimaksud Silver. Sebuah anting dengan bahasa aksara dan simbol huruf M.


"Setahuku, hanya orang-orang tertentu yang biaa memakai anting seperti ini. Bukan orang sembarangan seperti orang yang kau maksud."


"Hm?"


"Orang-orang yang berhubungan langsung dengan bagian pemerintahan yang bisa memakainya."


Silver memikirkan apapun yang terjadi padanya. Setahunya, ia tidak pernah terlibat dengan orang-orang dalam lingkup pemerintah dan politik. Tapi, siapa yang telah mengusiknya?


"Kau punya ilustrasi?"


"Aku tidak tahu siapa musuhmu, tapi aku peringatkan agar kau lebih berhati-hati. Bukan hanya dirimu tetapi istrimu juga adalah sasaran mereka. Dan mungkin saja anakmu," duga Barbara.


"Brielee!"


"Aku hanya berbicara, Sil. Bersiaga bukanlah sikap yang merugikan."


Terdiam sejenak, Silver mengangguk. "Kau benar, ada seseorang yang harus kuselidiki lagi."


.


***


Baca juga karyaku yang berjudul Soledad ya😊🙏.


Love,


Xie Lu♡