
Happy reading!😊😘
.
*****
Dentingan gelas minuman yang berjatuhan menjadi musik yang menyeramkan di malam gelap dalam mansion besar itu, membuat siapapun yang melihat kemarahan mengerikan sang Tuan bergidik.
"Dokter sialan, aku akan membunuhmu."
Selembar gambar pria berperawakan tegas, berjambang tipis dan bertubuh tinggi dengan wanita yang dicintainya sedang tertawa bersama seorang gadis kecil, disobeknya menjadi ribuan bagian, lalu membakarnya dengan api di puntung rokoknya.
"Kau mengkhianatiku, sayang."
Tanpa disangka, bulir air mata jatuh tetapi langsung dihapusnya kasar. Ia terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya sendiri. "Dia mengkhianatimu, bodoh. Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan menangisinya."
Sudut jarinya terluka, penuh darah akibat serpihan beling yang berhasil dipecahkannya. Tetapi, rasa sakit di tangan itu tidak lebih dari yang dirasakannya di dalam dadanya.
"Lima tahun yang kita jalani ternyata hanya kau anggap angin lalu. Ck, betapa bodohnya aku hampir menikahimu."
Ia mengambil sebuah kotak persegi berwarna keemasan dari laci, sebuah cincin berlian dengan permata berkilauan menyembul dari dalam kotak itu. Cincin yang dipesannya langsung dari Arab Saudi dengan menuliskan inisial mereka, S♡S.
Senyuman mengejek terukir di bibirnya, meneriaki dirinya sendiri yang nekad membayar dengan harga fantastis permata langka itu. Berniat menjadikan cincin itu sebagai pengikat hubungan keduanya, namun kenyataannya hanyalah angan yang tidak menjadi kata.
Sebuah pesan masuk di ponselnya, menambah rasa bencinya menjadi beribu kali lipat.
"Menikah? Yang benar saja, aku pikir kesibukanku kali ini akan membawa kebahagiaan di akhir, tapi rupanya aku salah. Kau bahkan akan menikah dengannya."
Ia mengepalkan tangannya, memukul meja sehingga vas bunga di atas meja itu terjatuh dan pecah. "Sialan," umpatnya. "Aku membencimu, Salmonetta."
Beberapa minggu ini Silver disibukkan oleh jadwalnya yang padat sehingga ia benar-benar tak punya waktu untuk kekasihnya. Ia berpikir bahwa itulah penyebab Paula berpaling darinya tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
José mematung di pintu, kakinya membeku seolah ada bongkahan es kutub menyerap seluruh energinya. Silver membenci Paula, sebuah kalimat langka yang keluar dari mulut Silver tentang kekasihnya.
Ia menejelajahi seluruh kamar yang sudah berantakan layaknya kapal pecah itu. Pigura foto kebersamaannya dengan Paula telah menjadi serpihan beling, sedangkan kertas gambar itu telah menjadi sampah tak beraturan.
"Rupanya anda patah hati, Tuan," gumamnya sambil menggeleng.
Ia memberanikan diri melangkah, berniat membersihkan kamar itu, tetapi kalimat Silver membuat kakinya terhenti.
"Panggilkan perempuan itu kemari!" perintahnya tanpa menoleh.
José mengangguk. "Baik, Tuan."
Sebelum ia benar-benar menghilang, kembali lagi suara Silver membuat langkahnya terhenti. "Suruh dia membersihkan dirinya."
José mengangguk dan benar-benar menghilang di balik pintu.
Senyuman maut terukir lagi di bibir merah muda miliknya, tampak amarah bergelora di dalam manik hijau itu.
"Sekarang saatnya!"
*****
Suelita yang masih terlelap dalam kesunyian, terganggu karena ada seseorang yang mengguncang tubuhnya.
"Suelita!"
Mata lembabnya perlahan terbuka, samar-samar ia melihat seseorang duduk di depannya.
"Suelita, bangunlah, Tuan memanggilmu!"
Ia menggerakkan tubuhnya yang kembali terasa remuk, lebam di seluruh tubuhnya sangat perih.
"Bangunlah! Dia membutuhkanmu segera!"
José kembali mengguncang tubuhnya lebih kuat membuatnya meringis. "Tu-an?" cicitnya pelan.
"Ya. Kau harus membersihkan dirimu."
Ia berusaha bangkit, tanpa menghiraukan lebam di sekujur tubuhnya, ia terseok-seok.
Saat sampai di pintu, ia terhuyung. Untung José segera menangkup tubuh kurusnya. "Ça va? (Kau baik-baik saja?)."
Sue mengangguk, melanjutkan langkahnya keluar dari penjara bawah tanah itu. Rasa pusing dan lelah membuat langkahnya lamban. "Anda duluan saja, Tuan. Saya akan menyusul," pintanya lemah pada José.
"Tidak, aku harus pastikan kau sampai di tempat yang seharusnya. Ayo!" José membopongnya, membawanya keluar dari tempat itu.
José membawanya ke sebuah kamar di lantai tiga, tempat yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Kamar yang terkesan mewah tapi tetap terlihat elegan, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
"Ini kamarnya nona Paula jika dia menginap di sini. Tuan mengizinkanmu membersihkan diri di sini sampai kau benar-benar bersih tanpa cela," jelas José yang mengerti arti tatapan penuh selidiknya.
Kalimat itu bagai belati yang menyayat seluruh tubuh Sue. Bukan fakta bahwa kamar itu benar-benar milik seorang perempuan, tetapi beberapa deret kata terakhir yang seolah menyatakan bahwa ia sangat kotor.
"Ba-ik, Tuan." Ia berusaha menahan air mata yang hendak keluar, membekap mulutnya yang hampir mengeluarkan isakan.
Dengan senyuman yang dipaksakan, ia menghampiri beberapa perempuan yang sedari tadi menunggunya di samping ranjang. Ekspresi mereka membuat Sue merasa terintimidasi.
"Kami akan membantu Anda membersihkan diri, Nona," sapa seseorang yang terlihat sedikit lebih muda dibandingkan yang lainnya. Perempuan itu tersenyum, menghilangkan sedikit rasa takut dalam dirinya
Sue membalas senyumannya, menyembunyikan kengerian melihat seorang wanita paruh baya yang menatapnya tajam.
*****
Membersihkan diri yang sempat terpikirkan oleh Sue adalah sekadar membersihkan lebam yang mengganggu penglihatan di kulitnya, tetapi dugaannya salah besar.
Aku dimandikan? Astaga, aku tidak membayangkan ini sebelumnya. Aku sangat malu, ya Tuhan.
Tiga perempuan itu membantunya mandi, membersihkan luka-luka di sekujur tubuhnya, dan mendandaninya ala seorang artis.
Ia mengenakan gaun hitam berenda dengan belahan dada yang rendah. Gaun itu mencetak jelas tubuhnya, ia terlihat seperti wanita dewasa bukan seperti perempuan dengan usia yang baru tujuh belas tahun. Rambut panjangnya diurai, dibuat bergelombang di bagian ujungnya.
Berkat make-up itu, lebam yang berwarna biru kehitaman itu tertutup, meninggalkan warna make-up yang sama dengan warna kulitnya.
"Anda sangat cantik, Nona," puji perempuan muda yang terkesan ramah itu, namanya Welisa.
"Terima kasih, Welisa. Semua berkat make-upmu." Ia tersipu. "Oh ya, jangan terlalu kaku, panggil saja aku Sue. Sepertinya kita seumuran."
"Anda memang cantik, Nona. Make-up itu tidak ada apa-apanya jika yang didandani bukan perempuan cantik."
"Berhenti memanggilku nona, Welisa. Panggil saja namaku."
"Tidak, Nona. Saya tidak akan melakukannya." Ia beringsut mundur saat Sue hendak meraih tangannya.
Sue terkekeh melihat raut kepanikan Welisa. "Aku yang menyuruhmu melakukannya, bukan orang lain. Jangan sungkan!"
Wanita paruh baya yang hanya menatap datar sejak tadi akhirnya angkat bicara. "Kita tidak akan melakukannya tanpa persetujuan Tuan, Nona. Kami hanya bawahannya."
Senyuman di bibir Sue pudar, perintah Tuannya tidak bisa terbantahkan. Ia mengangguk paham akan kepatuhan mereka. "Baiklah, aku tidak akan memaksa."
Setelah memastikan kesiapannya, Sue digiring ke luar oleh mereka yang langsung disambut oleh José. "Suivez-moi. (Ikuti aku)."
Sue mengikuti langkah José, menaiki tangga ke atas menuju kamar Silver. Ia sangat penasaran, tetapi tidak berani bertanya melihat wajah tak biasa milik José.
"Masuklah, Tuan menunggu di dalam."
Dengan jantung berpacu cepat, ia membuka kamar itu. Alangkah terkejutnya ia melihat benda-benda di kamar itu berantakan, bahkan foto-foto yang terpajang di dinding sudah hancur tak beraturan.
Silver sedang duduk di atas ranjangnya, melipat kedua tangannya di dada dan menatapnya tanpa ekspresi.
Lama tatapan mereka terkunci sehingga membuat Sue salah tingkah. Ia memutus kontak mata itu dan melihat ke arah lain. Matanya menangkap sebuah benda yang bersinar di lantai, berbeda dengan benda-benda yang lain.
"Apa kau akan berdiri di sana sampai pagi, bodoh? Cepat kemari!"
Sue terkejut, lamunannya ambyar. Segera ia menuruti keinginan sang Tuan. Ia mendekat ke arah ranjang dengan waspada.
Tanpa diduga, Silver menariknya sehingga ia menindih tubuh yang atletis itu. "Ma-maaf, Tuan," cicitnya pelan seperti angin lalu.
Darahnya berdesir saat kulit dadanya bersentuhan dengan dada bidang milik Silver. Ia menahan napasnya dan menutup matanya, tak kuasa mengatur detak jantungnya yang kembali berpacu sangat cepat.
"Buka matamu, sayang dan bernapaslah!" pinta Silver lembut.
Sue meremas kaos yang dikenakan Silver. Rasanya melayang saat suara lembut milik sang idola menyebutnya 'sayang'. Ia perlahan membuka matanya dan menghembuskan napasnya pelan.
Manik hijau itu masih menatapnya tanpa berkedip, tatapannya datar tanpa ekspresi. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang ada dalam pikirannya selama ini.
"Apa kau sangat bahagia berada di atasku sampai kau lupa kalau tubuhmu berat?"
"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Ia turun tetapi posisinya langsung dibalik oleh Silver.
"Kita akan melewati malam yang panjang, tikus kecil."
.
*****
Jejaknya sayang!😉😙