
Happy reading!😊😘
.
*****
Setiap hari, kesibukan para atlet adalah meregangkan otot yang pegal setelah pertandingan melelahkan. Silver kembali ke tempat latihan meskipun ia merasa bisa tanpa melakukan itu. Tapi, demi Luke, sang head coach yang selalu memarahinya, ia harus bersedia. Takut penyakit kronis yang rentan terjadi pada manusia tua menyerangnya.
"Aku akan membuatmu berhenti secara paksa kalau kejadian itu terulang lagi!"
Itu ancaman Luke. Ancaman yang tidak mempan bagi seorang atlet yang hidup di dunia gelap seperti Silver.
"Silver, berhenti melamun. Tendang bolanya ke sini!"
"Ck, kau menggangguku, Delore."
"Terimalah ini!"
Ia menendang bola itu sangat kuat berniat membenturkannya di kepala Rodrigo. Tetapi, Rodrigo berhasil menghindar.
"Hahaha.... Kau masih dendam, Sil."
"Tentu saja. Kau pengkhianat!"
"Ayolah, jangan cemberut. Kau tampan kalau seperti itu, pantas saja anak Ketua Federasi itu menggilaimu."
"Menggelikan. Dia ular!"
"Oh, kau baru tahu? Haha.... Selain pelupa, kau juga lamban."
"Ck, teruslah mengejekku."
Ia menendang lagi sebuah bola ke arah Rodrigo yang berhasil dipantulkan kembali oleh telapak kaki pria bertato itu.
"Bagaimana kekasih j*l*ngmu itu? Beritanya tersebar luas."
"Berhenti mengatakan dia kekasihku."
"Dia memang kekasihmu, Rod."
"Not anymore, Sil."
"Ya sudah, calon istrimu."
"Hei, kau mau mati! Aku belum memukulmu karena membunuh Jerome."
Silver terdiam dengan rahang mengetat, amarahnya kembali memuncak sempurna. Ia lupa kalau ia sedang berada di tempat yang ramai.
"Tutup mulutmu! Dia pantas mati."
Tawa Rodrigo meledak. Ia sampai terbatuk-batuk karena tersedak air liur.
"Kita di lapangan, Sil. Berhenti marah," bisik Rodrigo.
"Sialan, kau yang memancingku."
"Aku hanya mengingatkanmu pada tujuan awalmu. Melihat kau sangat ceria hari ini, aku curiga kau meniduri perempuan itu."
"Aku memang melakukannya."
"What?! Kau gila? Apa tidak apa-apa?"
"Maksudmu?"
"Sial, mulutku," gerutu Rodrigo seraya memukul pelan mulutnya. "Maksudku, dia menerimamu?"
"Tidak ada yang bisa menolak pesonaku, Rod."
"Selain pelupa dan lamban, kau juga sangat sombong. Entah apa yang dilihat gadis keriting itu darimu."
"Tentu saja ketampananku," ujarnya dengan nada sombong.
"Ya, ya, bahkan kau mengalahkan ketampanan Christian Ronaldo."
"Rod! Awas!"
Silver merasakan pusing karena menghadang lemparan batu dari seseorang yang ditujukan untuk melempar Rodrigo.
"Apa yang kau lakukan, P?"
"Oh, sial. Kau memancing kemarahanku, Peyton."
Entah dari mana Peyton mendapat batu sebesar kepalan tangan itu di lapangan seluas ini. Maksudnya untuk melempar kepala Rodrigo, tetapi Silver malah menahannya.
"Aku membencimu, sialan!" teriak Peyton berapi-api pada Rodrigo.
"Aku bahkan tidak memandangmu sebagai seekor binatang." Rodrigo tak kalah ketusnya.
"Berhenti berdebat di depanku. Bawa aku pergi dari sini, Rod."
Rodrigo segera memapah Silver menjauh dari lapangan. Meninggalkan Peyton yang berdiri kaku.
"Ini akan menjadi alasan aku berdiam diri di rumah hari ini, Rod."
Silver terkekeh membayangkan rencana kaburnya dari latihan hari ini.
"Sialan, kau menipuku."
Rodrigo memukul kepala Silver serta melepaskan tangannya dan membiarkan Silver berjalan sendiri ke tepi lapangan tanpa bantuan.
"Berhenti!!!"
Teriakan lantang sang pelatih membuat langkah keduanya terhenti.
"Oh sial, sepertinya tidak akan terlaksana."
"Rasakan itu, Bunglon Hijau." Ledek Rodrigo sambil terkekeh.
"Tidak ada istirahat hari ini! Lanjutkan pekerjaan kalian!"
*****
Sue kembali menjalankan rutinitasnya seperti semula meskipun Silver tidak mengatakan apa-apa tentang pekerjaannya saat ini.
"Hati-hati, Sue," saran José saat Sue menaiki tangga untuk membersihkan kaca jendela di lantai dua.
"Biar aku saja," tawar Carissa.
"Tidak. Ini pekerjaanku. Pergilah mengerjakan pekerjaan yang lain."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja. Aku baik-baik saja."
"Baiklah, aku ke sana."
"Hm."
Sepeninggal José dan Carissa, Sue melanjutkan pekerjaannya.
"J*l*ng!"
Sebuah suara membuat Sue terkejut, hampir saja ia terjatuh dari tangga. Ia mengenali suara itu, suara yang sama dengan milik seseorang yang menamparnya kemarin.
"Kau merebut priaku. Aku akan membunuhmu!"
Namun sayang, tirai itu terlepas karena tidak bisa menahan berat badannya.
"Akhhh...."
"Rasakan itu, j*l*ng!"
Peyton sudah bersiap-siap menarik tangga itu saat seseorang menarik tangan dan memberi tamparan keras di pipinya.
"Jangan mengganggu orang yang tidak bersalah!"
"Ca-carissa...."
Kaki Sue gemetar saat turun dari tangga itu. Ia sangat ketakutan dan memegang perutnya dengan erat.
"Apa kau tidak punya tata krama memasuki rumah orang lain?"
Sue terkejut saat Peyton menahan tangan Carissa yang hendak menamparnya lagi.
"Aku kekasih Silver! Aku calon Nyonya di rumah ini!"
"Apa aku harus takut padamu? Tidak!"
"Ca-carissa... berhenti...."
"Kau hanya pelayan di rumah ini!" teriak Peyton.
"Dan kau hanya wanita murahan yang menjual dirimu pada Tuan kami."
"Jal-- akh...."
Jose menarik kasar tangan Peyton yang hendak menampar Carissa.
"Berhenti, Nona, sebelum Tuan Silver membunuhmu karena menyentuh barang miliknya."
"Dia yang menamparku, José."
"Dan kau tidak diizinkan menyentuh milik Tuan Silver."
"Aku kekasih Silver."
"Karena itulah saya tidak menginginkan nyawa Anda melayang sebelum waktunya."
"Dia tidak akan bisa membunuhku, José. Aku kekasihnya."
"Saya meragukan itu, Nona."
Sue semakin gemetar di tempatnya berdiri, seolah sendi-sendi kakinya terlepas dari tempatnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Y-ya, merci, Carissa."
"Sudah menjadi tugasku, Sue."
*****
Ketakutan Sue seakan bertambah seiring berjalannya waktu. Sampai cerah ditelan gelappun, ia masih belum bisa melupakan kejadian siang tadi.
"Tuhan, berikan aku kekuatan."
Ia menghembuskan napasnya perlahan, berusaha menetralkan degupan jantungnya yang terus menggeledar.
"Astaga, itu menakutkan. Dia seperti singa kelaparan."
Aura kemarahan Peyton sungguh menyeramkan. Dengan rambut keriting oranye dan mata memerah membuatnya terlihat seperti tarzan.
"Oh Tuhan, aku tidak tahan lagi."
Ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi dari dalam perutnya. Semua makanan yang masuk langsung dikeluarkan bahkan ia sampai lupa bernapas.
Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, dan mengeluarkan lagi sisa-sisanya.
"Dia membuatku mual...."
Ia menyeka air matanya, mencuci mulut lalu menutup closet dan mendudukinya.
"Tenang sayang, Mom tidak apa-apa. Mom kuat...."
Sue mengelus perutnya seolah menguatkan malaikat kecilnya agar tidak mengkhawatirkan keadaannya.
"Maafkan Mom yang masih merahasiakan ini dari Daddy. Mom khawatir kau terluka, sayang."
Air matanya menetes, ia kembali mengingat masa-masa terkelam dalam hidupnya. Ditampar, dicekik dan ditendang oleh pria yang diidolakannya.
Namun, Tuhan mempercayakannya untuk mengandung bayi pria itu. Seolah-olah, penderitaannya tidak cukup sampai di situ. Tuhan masih mengujinya, seberapa jauh ia bertahan menghadapi sisi iblis sang idola.
"Jangan khawatir, Mom--"
"Kau berbicara dengan siapa, j*l*ng?"
Sue melototkan matanya, ia hampir terjungkal dari atas closet itu. Dengan perasaan takut, ia perlahan membuka pintu kamar mandi. Menampakkan sosok Silver yang sedang menatapnya tajam.
"Kau punya lelaki lain di sini? Dasar j*l*ng!"
"Ti-- akh...."
Silver menarik paksa tangannya, menyeretnya keluar dan menghempaskannya di atas ranjang.
"Siapa pria itu? Beraninya kau membawa pria lain di dalam rumahku!"
"Ti---"
"Jangan membantahku, j*l*ng! Kau pasti menyembunyikan pria lain di dalam kamar mandi."
Sue memejamkan matanya, menahan cairan bening yang memaksa keluar. Cengkraman Silver di pergelangannya semakin erat.
"Siapa pria itu?!"
Sue hanya menggeleng, ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Kemarahan Silver bisa saja membawa dampak buruk bagi malaikatnya.
"Katakan! Apa kau sudah tidak bisa berbicara?"
"Ti-dak... ada, Tuan...."
"Jangan berbohong! Kau berbicara dengannya tadi!"
"Saya... berbicara sendiri, Tuan."
"Kau gila?"
Sue menggeleng dengan mata yang masih terpejam.
"Jangan berpikir kau akan bisa dimiliki pria lain, j*l*ng, karena hidupmu hanya tinggal menghitung jumlah jari."
.
*****
Love,
Xie Lu♡