Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 42



Happy reading!๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜


.


*****


"Aunty, kalau babynya perempuan, jadikan aku menantumu ya?"


Sue spechless dengan permintaan konyol anak kecil yang masih empat tahun itu. Tangannya yang sedang merajut langsung terhenti. Sudah dua hari ini anak kecil itu datang di aparteman itu dan menemaninya. Traumanya terhadap kejadian yang lalu sembuh karena percakapan-percakapan aneh dengan Diego.


"Oke, aunty?"


"Hm, apa tidak apa-apa?"


Diego menyengir. "Aunty meragukanku? Astaga, aku tahu Uncle Sil tidak menyukaiku. Karena itu, aku ingin mengambil anak perempuannya nanti!"


Sue terdiam tidak percaya. Anak kecil ini benar-benar sesuatu. Tidak hanya pandai bermain pistol tetapi juga bersilat lidah. Entah yang dikatakan Diego benar-benar dari hatinya atau sekadar bercanda, Sue merasa khawatir pada calon anaknya. Dia berharap nanti anaknya terlahir laki-laki.


"Bagaimana kalau nanti laki-laki?"


Diego mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Akan ku pikirkan nanti."


"Kenapa tidak sekarang?"


"Aku tahu Uncle Sil menguping pembicaraan kita."


Benar saja, Silver berada tidak jauh dari sana sambil menempelkan telinganya pada dinding. Mendengar Diego mengetahui kehadirannya, Silver menyeringai. "Dasar anak nakal."


"Uncle!"


"Berhenti berteriak!"


"Aku tahu kau cemburu padaku!"


"Tidak!"


"Aku melihatmu melalui cermin ini sedang memukul tembok itu!"


"Dasar anak kurang ajar!"


"Jangan mengataiku, Uncle!"


Silver berdecak kemudian keluar dari sana dan menjitak kepala Diego.


"Kau tidak akan mendapatkan apapun, D'antonio!"


Diego bersedekap, kemudian menjulurkan lidahnya pada Silver. "Kita lihat saja nanti! Kalau nanti dia perempuan, akan ku lakukan apapun untuk ku jadikan milikku."


Sue menggeleng tidak percaya melihat perdebatan keduanya yang tidak akan ada habisnya. Diego pandai membuat Silver kembali pada sisi kekanak-kanakannya.


"Kau tidak akan memilikinya!"


"Mau bertaruh?"


"Apa yang bisa kau berikan padaku, anak kecil?"


"Napasku!"


"Astaga, dia sungguh bodoh," gumam Silver memutar bola matanya.


"Kau mengataiku, Uncle! Aku akan bertaruh!"


"Tidak, lupakan! Aku takut kau mencelakai anakku!"


"Ck, aku pria sejati, Uncle! Kau tidak lupa kalau aku yang melumpuhkan mereka semua 'kan?"


"Dengan cara memotong p*n*s mereka?"


"Itulah pahlawan, Uncle!"


"Tidak, itu perbuatan jahat."


"Aku melakukannya untuk baby ini." Diego menunjuk perut Sue yang sedikit membuncit lalu menciumnya yang mana membuat Silver berlari mengejar Diego dan menendang anak kecil itu.


"Sakit, Uncle. Apa kau ingin membunuhku?"


"Jangan mencium anakku!"


"Aku tahu kau cemburu karena tidak bisa menyentuh perut Aunty!"


Ya, Silver tidak bisa berdekatan dengan Sue karena perempuan itu langsung mual bila Silver mendekat.


"Aku tidak cemburu!"


"Benarkah?" Diego menggodanya dengan cara menyentuh perut Sue lagi dan menciumnya berulang kali.


"Berhentiii!"


"Kau kenapa, Uncle?"


"Jangan menyentuh perut kekasihku!"


"Astaga, aku tahu kau cemburu! Itu berlebihan, Uncle!"


Diego menghindar saat Silver melemparinya dengan mobil mainan.


"Dasar anak nakal! Aku tidak akan memaafkanmu!"


"Aku tidak memintanya!"


"Ck, aku harus menelpon Bertha untuk menjemputmu sekarang!"


"Eh, jangan!" pekik Diego berlari merebut ponsel Silver. "Aku masih ingin bermain dengan Aunty Sue, Uncle!"


"Kalau begitu kau harus menerima persyaratan dariku!"


"Menjauhi aunty?"


"Kau mudah mengerti!"


"Kau tahu aku cerdik!"


"Ya, seperti ular," gumam Silver.


"Apa?!"


"Tidak!" Silver berteriak. "Kau harus menjauhinya!"


Diego kembali berdecak. "Lalu, apa gunanya aku ada di sini, Uncle? Aku menghibur aunty!"


"Tidak, lebih baik kau pulang!"


Diego terdiam yang mana membuat Silver menekan kepalanya.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada apa-apa."


"Hei, ayolah. Jangan memikirkan masalah orang dewasa! Kau masih kecil."


Diego mendelik tidak suka, dia merebut paksa ponsel yang dipegang Silver dan memberikannya pada Sue yang diterima dengan kebingungan oleh perempuan itu.


"Kenapa diberikan padaku?"


"Uncle yang menyuruhku!"


"Hei, jangan lempar batu sembunyi tangan!"


"Aku tidak melempar batu!" ketus Diego tidak suka dan pura-pura tidak mengerti.


"Kembalikan ponselku!"


"Ambil saja sendiri!"


Saat Silver mendekat, Sue langsung mual. Diego cengengesan dan menjulurkan lidahnya lagi pada Silver.


"Ponselku, anak kecil!"


"Aunty!"


"A-apa?"


"Tidak, Aunty. Aku bicara padanya!"


"Ya, aku tahu. Kalian pergi dari sini. Aku ingin beristirahat."


"Baiklah, aunty." Diego mendekat lalu mencium perut Sue. "Jangan rewel, my baby!"


Sue tersenyum tipis tetapi Silver sudah seperti cacing kepanasan di tempatnya.


"Jangan melakukan itu, anak nakal!"


Diego tidak peduli. Untuk lebih membuat Silver kesal, dia mencium pipi Sue dan berbisik, "Uncle cemburu, Aunty!"


"D'antonio?!"


"Yes, I am coming!"


Sue memutar bola mata jengah. Kepergian keduanya dari kamar itu digunakannya untuk berbaring. Merasakan empuknya ranjang milik Silver di apartemen ini.


Sejak pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu, Silver membawanya ke apartemen bukan ke mansion. Alasannya, tidak ingin ada yang mengganggu istirahat Sue.


*****


"Kapan kau akan menikahi Aunty Sue?"


"Aku bertanya karena aunty sedang hamil."


"Anak kecil tidak boleh tahu."


Silver memasukkan beberapa bungkus snack ke dalam troli belanjaan.


"Uncle, tolong ambil yang itu!" Tunjuk Diego pada salah satu snack yang diletakkan di bagian yang tinggi.


"Yang mana?"


"Itu!"


"Ini?"


"Bukan!"


"Ini?"


"Ck, di sebelahnya!"


"Astaga, kau membuatku kesal." Silver mengangkat Diego dengan satu tangannya membuat anak kecil itu terkikik geli.


"Uncle, turunkan! Banyak gadis cantik melihatku!"


"Oh Tuhan, kau matang sebelum waktunya, D'antonio! Ambil barang yang kau inginkan!"


"Turunkan aku dulu!"


"Ambil snacknya. Kau pasti akan menyuruhku lagi."


"Astaga, Uncle. Kau sangat malas." Diego mengambil bungkusan itu dan menaruhnya di kepala Silver. "Done, Uncle!"


Silver hendak menurunkannya, tetapi Diego memeluk erat lehernya dan berbisik jahil.


"Kita cocok menjadi anak dan mertua, Uncle."


Silver mendadak kesal. "Turun!"


Diego malah memeluk erat dan menaruh kepalanya di ceruk leher Silver. "Aku tidak pernah lagi digendong seperti ini, Uncle."


"Malang benar nasibmu, Diego!" ujarnya sambil mengusap rambut Diego tetapi Diego langsung memukul tangannya itu. "Apa?!"


"Kau merusak tatanan rambutku!"


"Astaga, apa yang harus ku lakukan pada ank kecil ini?"


"Turunkan aku, Uncle!"


Silver menurunkannya.


"Gadis kecil itu melihatku terus, Uncle!"


"Yang mana?"


Diego menunjuk padanya membuat Silver tertawa. "Kenapa kau tertawa?"


"Itu gadis buta, D'antonio!"


"Benarkah?" Silver mengangguk.


"Aku akan menemuinya!"


Diego pergi menemui anak gadis buta itu. Nampak gadis itu tertawa saat Diego menceritakan sesuatu. Silver terpana, bagaimana anak sekecil Diego bisa memberikan efek yang menyenangkan bagi orang lain, meskipun agak menyebalkan menurutnya.


Tidak lama setelahnya, Diego kembali.


"Apa yang kau bicarakan padanya?"


"Aku bilang aku seorang kakek tua."


"Dia percaya?"


"Aku mengubah nada suaraku."


"Astaga, kau memang cerdik. Apa yang di tanganmu itu?"


"Sticker Super-Man."


"Dari gadis itu?"


"Ya, dia menjual itu."


"Orang tuanya menyuruhnya untuk itu?"


"Dia menjalani hidup yang berat. Tanpa orang tua, Uncle."


Silver terdiam. Jika dipikirkan, gadis kecil itu mirip dengannya. Hanya saja dia hidup di keluarga ibunya. Bersama pamannya, Alfonso dan tidak sendirian seperti gadis kecil itu.


"Kau memberinya uang?"


"Ya." Diego menunjukkan jarinya, menghitung nominal yang diberikannya.


"Kau hanya memberinya sebesar itu?!"


"Tentu saja. Kau pelit padaku."


"A-apa?!"


"Kau tidak memberiku uang, Uncle!"


Silver berdecak, dia menyentil kening Diego. "Kau seharusnya minta, naughty boy."


"Aku tidak yakin Uncle akan memberikannya."


"Kau menyimpulkan sesuatu yang salah." Silver mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Berikan padanya!"


Diego menjauh dan menarik troli itu. "Kau berikan saja sendiri."


"Hei, berhenti! Apa yang kau lakukan?"


"Membayar!"


.


.


.


.


iklan**


Netizen : ga sampe besok ya thor, visualnya udah ada๐Ÿ˜Š


Author : iya, gue takut lu kagak kasi gue poin๐Ÿ˜‚


Netizen : yaiyalah, poin gue tahan kalo lu ingkar janji๐Ÿ˜ž


Author : iya, karena gue tau lu orangny gitu๐Ÿ˜‚


Netizen : emang kenape lu up lambat tadi


Author : semalam gue semedi๐Ÿ˜‚


Netizen : idiih, buat apaan๐Ÿ™„


Author : biar poin lu buat gue semua๐Ÿ˜‚


Netizen : kaga takut dosa lu


Author : dosa urusan belakang, yang penting gue senang aja dulu๐Ÿ˜‚


Netizen : oh Tuhan ampuni dosa author yang gila ini๐Ÿ™


Author : ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Netizen : eh ngomong-ngomong, gue suka tuh sama visualnya Rodrigo๐Ÿ˜Š


Author : kenape


Netizen : ada gambar roti sobeknya๐Ÿ˜‚


Author : astaga gue kira apaan๐Ÿ™„. lu ga suka Sue?


Netizen : ga, gue mau Rodrigo aja๐Ÿ˜


Author : ada menara kembar di visualnya Sue tau๐Ÿ˜„


Netizen : tapi gue lebih suka makan roti๐Ÿ˜‚


Author : ๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„


.


.


*****


Love,


Xie Lu