
Happy reading!😊😘
.
*****
"Jangan ada satu artikelpun yang boleh muncul, karena jika hal itu terlihat kau dan keluargamu akan menemui ajalmu!"
"Sialan, bahkan kau tidak memberitahuku agendamu ke sana. Bagaimana aku akan menjelaskannya pada penggemarmu? Pikirkan sesuatu sebelum bertindak, Dario. Jangan sering menyusahkan orang lain!"
Silver terkekeh. "Jangan lupa, kau hidup karena aku masih bekerja, Arthur. Gantung sepatu itu hal mudah bagiku, kekayaanku tidak akan terkuras."
"Dasar sombong! Kebohongan apa yang harus kukatakan pada mereka? Kau menghilang di tengah laga penting, apa seperti itu keprofesionalan yang kau anut?"
"Ini penting untuk kehidupan masa depanku. Kau yang selalu memaksaku agar membuka mata untuk melihat dunia yang terang, dan sekarang aku melakukannya. Hawaii tempat yang bagus untuk itu."
"Aku tidak menyuruhmu menghilang, meninggalkan ketidakpastian di timmu. Aku yang mendapat imbas akibat perbuatanmu, sialan!"
"Sudahlah, bicaralah sesukamu pada mereka. Timbun dengan semua yang kau miliki, aku akan mengatasi sisanya."
Silver mematikan sambungan itu, menyisakan banyak umpatan yang hendak dikeluarkan Arthur.
"Aku harus merayakan keberhasilanku malam ini."
Ia menyeringai, memerhatikan tubuh yang terbungkus selimut tipis di atas ranjang. Ya, ia membawa Sue ke hotel tempatnya menginap. Mengatakan bahwa ia adalah idola yang dilupakan oleh Sue. Dan dengan sedikit paksaan dari Rodrigo perempuan itu mengikutinya.
Kepulan asap putih keluar dari hidung mancungnya, aroma benda bernikotin itu menyapu seluruh kamar membuat perempuan yang tertidur itu menggeliat.
"Bangunlah, tikus kecil," bisik Silver serak. "Kau harus mengingatku agar rencanaku berjalan mulus." Mata hijaunya menatap haus akan bibir tebal nan ranum itu.
Sue menggeliat, merubah posisi tidurnya dan membelakangi Silver.
Ia terkekeh pelan. "Apa yang baru saja ku pikirkan? Dasar pengerat!"
Mata tajamnya tak lekas berpaling dari tubuh yang terbungkus kain selimut tipis motif kotak-kotak itu. Ada yang berbeda dari perempuan itu.
"Kau bertambah gemuk, rupanya Rodrigo memberimu makan yang banyak!"
Ia berbalik, bermaksud untuk tidur di sofa. Tetapi, tangannya dicekal.
"Jangan pergi... kumohon!"
Silver mengerutkan keningnya, berbalik lagi menghadap perempuan yang setengah sadar itu. Kali ini, cekalan itu makin erat.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya berusaha menarik tangannya.
"Jangan pergi...."
Sue menangis dalam tidurnya, entah naluri atau otaknya yang sedang bekerja, Silver menghapus jejak air mata itu.
"Akh... sial! Menjijikkan!"
Otaknya sadar, ia menarik tangannya secepat mungkin dan menggosoknya, berusaha menghilangkan jejak kulit Sue. "J*l*ng rendahan!"
"Bangun!"
Ia menepuk pantat Sue, mengguncang tubuhnya agar terbangun.
"Bangun, wanita murahan! Aku belum memberimu pelajaran karena kau kabur bersama pengkhianat itu."
"Hei.... Wake up!"
Silver kesal, cara paling ampuh yang pernah dilakukannya pada perempuan itu hanya satu.
Ia mengambil satu teko air dari kamar mandi, kemudian menyiramnya di wajah Sue.
"Aawww.... Tol--mmpphhh...."
"Jangan berteriak, j*l*ng. Kau bisa membangunkan semua orang di tempat ini."
Sue beringsut mundur saat tatapan tajam Silver seakan membelah tubuhnya, apalagi saat pria itu maju dan melemparkan selimut yang membungkus kulitnya.
"Kau melupakanku, bukan?" Silver menyeringai, ia menautkan jemari mereka.
"Kau juga tidak ingat lagi siapa yang memberimu luka ini, bukan?" Ia menunjuk pada luka irisan di wajah, kaki dan lengan Sue. "Ingatlah, kau pelayanku! Aku berhak melakukan apapun terhadapmu!"
Sue ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak menyangka, Rodrigo membuatnya masuk ke neraka. Kalimat yang diucapkan pria itu cukup menguatkan argumen di kepalanya, tentang sang Tuan yang dilupakannya.
"Ber-arti.... A-anda juga mengenal papaku?"
Sue mencoba menatap manik hijau itu, berharap ia menemukan jawaban sesungguhnya.
"Rodrigo belum memberitahumu?" Silver tertawa sampai perutnya merasa kaku. "Astaga, aku harus memberi pria itu penghargaan."
"Apa maksud anda, Tuan?"
"Ayahmu sudah diam di neraka, j*l*ng! Apa kekasihmu itu tidak memberitahumu?"
"A-apa?!"
"Jangan bercanda, Tuan. Katakan kau berbohong!"
Silver menyeringai, menunjukkan sebuah foto yang dikirim anak buahnya. "Apa kau akan berhenti mengataiku pembohong?"
"Tidak!!!"
Sue memegangi kepalanya yang kembali berdenyut sakit. "Papaku masih hidup.... Dia tidak mungkin meninggalkanku sendirian...."
"Kenyataan tidak bisa kau ubah."
"Tidak mungkin...."
"Gambar ini menjadi bukti nyata kalau mayat orang yang kau miliki telah menjadi makanan burung-burung di udara."
Senyum iblis di bibir Silver tidak pudar, ia menarik tengkuk Sue dan memangkas jarak wajah mereka. "Dan sekarang kau menjadi milikku."
Air mata Sue tidak terbendung lagi, ia pikir kepergian ayahnya hanyalah angan belaka yang sering hadir di mimpinya belakangan ini. Nyatanya, tidak. Mimpi itu menjadi pertanda bahwa semuanya adalah kenyataan yang dilupakannya.
"Seluruh tubuhmu milikku sejak saat itu!"
Sue menegang, pikirannya melayang pada apa yang dimilikinya sekarang.
'Tidak, dia tidak boleh mengetahuinya!'
Kepalanya menggeleng, menambah rasa nyeri di dalam tulang pipih itu. Ia tidak boleh mengatakan hal itu, harta berharganya harus ia timbun di antara reruntuhan hatinya. Biarlah hanya ia yang mengalami hal ini, jangan jantung hatinya. Dia tidak boleh tahu bahwa ia memiliki seseorang yang kejam, yang memberikan luka di sekujur tubuh Sue.
"Tidak.... Kau pasti sedang bercanda, Tuan."
Bahkan, otaknya sulit mempercayai kenyataan ini. Benarkah dia memiliki seorang Tuan yang kejam? Jika benar kenyataannya seperti ini, mengapa Rodrigo tidak memberitahu kebenarannya? Membuat ia berharap akan sesuatu yang sangat indah.
Meski ia berharap semuanya adalah kebohongan, ada beberapa ingatannya yang dikuatkan oleh fakta yang baru saja dikatakan pria itu.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal itu, sayang!"
Ia membelai wajah Sue yang penuh dengan air mata, memaksa manik kuning itu balas menatapnya.
"Kau akan mengingatnya, sayang. Tetaplah bersamaku!"
*****
Silver tidak ingin menghabiskan waktu yang lama di tempat asing setelah menemukan hasil buruannya yang sempat kabur.
Pesawat pribadinya baru saja landing di landasan mansionnya. Ia menyeret perempuan yang sejak tadi terdiam, memaksanya agar turun.
"Ingatanmu akan kembali setelah kau tinggal di sini!"
Para maid yang menyambut kedatangan mereka segera menurunkan koper milik mereka, meletakkannya di tempat yang seharusnya.
José mendekat seraya membisikkan sesuatu pada Silver.
"P?"
"Ya, dia di sini sejak kemarin, Tuan. Menunggu anda pulang."
"Apa saja yang dilakukannya di sini?"
"Berbaring di kamar milik Nona Paula, mengumpulkan pigura milik Anda dan memasangnya di kamar itu."
Silver mencengkram kuat tangan Sue yang diseretnya, membayangkan jika ia mencekik leher milik orang itu.
"Beraninya dia mengotori kamar kekasihku!"
Lalu ia menatap tajam pada José. "Apa kau tidak melarangnya? Kau tahu kau sedang bermain dengan siapa, José!"
Dengan mata tajam penuh amarah, Silver kembali menyeret Sue memasuki mansion itu.
"Tu-tuan, sakit...." cicit Sue.
"Jangan seperti anak kecil!"
Ia tetap menarik kasar tangan mungil itu. Ia menaiki tangga ke kamar yang dituju, meninggalkan Sue di bawah dengan penuh kebingungan.
"Peyton?" sapanya melihat gadis keriting oranye itu duduk di ranjang membelakangi pintu sedang sibuk dengan aktifitasnya.
"Oh, Sil. Akhirnya kau datang!" Ia langsung turun dari ranjang dan berhambur memeluk Silver. "Aku menunggumu sejak kemarin. José bilang kau sedang berburu."
Silver terdiam tanpa ekspresi, berusaha melepaskan tangan yang memeluknya. "Lepaskan!"
"Tidak! Kau milikku!"
.
*****
Love,
Xie Lu♡