Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 30



Happy reading!😊😘


.


*****


"Kau menciumnya, Sil!"


"Apa masalahnya? Dia milikku!"


"Kau kekasihku! Dia j*l*ng!"


"Dia milikku! Terserah aku mau melakukan apapun padanya!"


"Aku juga milikmu, tapi kau tidak pernah menyentuhku!"


Silver mengerti sekarang. Ia memijat batang hidungnya, merasa pening harus berdebat dengan gadis keriting yang sangat keras kepala dan bodoh itu.


"Kau ingin aku menyentuhmu? Seperti ini?"


"Sakit!" Peyton memukul tangan Silver saat pria itu meremas kuat sesuatu yang menyembul dari baju ketat yang dipakainya.


"Kau yang menginginkannya!"


"Tapi tidak kasar!"


"Kau menginginkannya."


"Sakit..." rintihnya saat Silver kembali melakukannya.


"Nikmatilah! Kau menginginkannya."


Silver mencium bibir mungil itu dengan brutal. Kemarahan menguasainya. Sesekali ia menggigit bibir Peyton sehingga gadis itu meringis.


"Sil...."


"Kau menikmatinya, Python."


"Peyton. Namaku Peyton bukan ular piton."


"Kau sendiri yang mengatakannya, Python."


Silver kembali menggigit bibir itu dan memaksa Peyton membuka mulutnya. Rintihan sakit dari bibir Peyton tidak dihiraukannya. Telinganya menuli.


Saat ia menghempaskan Peyton di ranjang, ringisan Peyton semakin kuat.


"Sil, sa-sakit...."


"Kau menginginkannya. Aku menyentuhmu, Python."


"Lututku, Sil.... Sakit...."


"I kiss on your lips not your knees, Python."


"Hentikan!" Ia mendorong dada Silver saat pemilik manik hijau itu hendak membuka bajunya.


"Kenapa? Kau menginginkan aku menyentuhmu dan sekarang aku melakukannya, Python."


"Peyton, Sil. Bukan piton."


"Kau menyukaiku, bukan?"


Peyton mengangguk.


"Berarti kau harus menerima semua perlakuanku, termasuk nama panggilanmu."


Peyton mengerucutkan bibirnya.


"Itu nama ular."


"Itu nama kesayanganku untukmu."


Senyum di bibir Peyton merekah, ia merasa tersanjung saat Silver mengatakan alasannya.


"Lakukanlah!"


"Apa?"


"Yang ingin kau lakukan. Lakukanlah!"


"Tidak. Aku sudah tidak menginginkanmu lagi."


"A-apa?"


"Aku kehilangan fungsi diriku saat kau menghentikannya."


"Sil!"


Tetapi, Silver tetap pada pendiriannya. Matanya menatap tajam saat Peyton tanpa izin menyentuh dadanya.


"Singkirkan tanganmu!"


"Tidak!"


Peyton membuka kancing kemejanya satu persatu. Meraba otot liat yang tersembunyi di balik kemeja tipis yang menutupinya.


"Kau menikmatinya, Sil."


"J*l*ng!"


Silver menepis tangan Peyton saat tangan itu hendak masuk ke dalam celananya.


"Kau menginginkannya, Python?"


Peyton mengangguk, senyuman penuh kemenangan terpancar dari bibirnya saat Silver melepaskan seluruh pakaiannya.


Sentuhan-sentuhan penuh sensual diberikan Silver di setiap titik sensitif tubuhnya membuat Peyton menggelinjang hebat.


"Kau menikmati permainanku, Python!"


Saat ia hendak mencapai puncaknya, permainan tangan Silver terhenti.


"Aku tidak akan memuaskan j*l*ng murahan sepertimu."


Ia meninggalkan Peyton di kamar itu dan menguncinya dari luar. Terdengar teriakan histeris gadis itu dari dalam tapi Silver menulikan telinganya.


"Jaga ular piton licik itu, José, jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama dan membantu dia kabur," Ia memberikan kunci pada José yang menunggu di luar sejak tadi.


"Maafkan aku atas kesalahanku yang tadi, Tuan."


"Jangan mengulanginya."


"Aku mengerti, Tuan."


*****


Keheningan membentang di kamar kecil di lantai satu itu saat Silver sampai di sana. Ruangan yang gelap menandakan penghuni kamar itu telah tertidur. Ia mengunci kamar itu dari dalam dan mendekat ke arah ranjang.


"Bangunlah, pengerat!"


"Hei... wake up!"


"Ck, dia tidur seperti binatang!"


Ia menyalakan senter ponselnya ke arah wajah yang telah tertidur pulas itu.


"Pipimu merah, Suelita."


Ia mengelus perlahan pipi Sue yang memerah akibat tamparan keras Peyton. Lalu, ikut merebahkan dirinya di ranjang sehingga ranjang kecil itu ikut bergoyang. Sue yang merasakan pergerakan di ranjangnya perlahan membuka matanya.


"Si-siapa? A-apa kau hantu?"


"Ck, dasar binatang."


"Tu-tuan...."


"Ya, ini aku. Tidurlah!"


"Tu-tuan.... Saya sesak napas."


"Berisik!"


"Ma-maaf...."


Karena tidak merasa nyaman saat tangan Silver masih berada di wajahnya, Sue terus bergerak gelisah dan membuat Silver menggeram.


"Kau membuat tidurku terganggu, j*l*ng."


Kalimat itu membuat Sue kembali menyadari statusnya. Ia bukanlah seseorang yang berharga di mata pria itu meskipun ia sedang mengandung darah dagingnya. Bukan orang yang bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


"Ma-maaf...."


Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Selebihnya keheningan yang mengambil alih. Ia membiarkan Silver berbuat sesuka hatinya.


"Kau pelayanku!" Kalimat itu menjadi kalimat keramat yang tidak bisa diganggu gugat.


"Jangan lupakan statusmu di sini, j*l*ng. Kau hanyalah pelayanku."


Sue terdiam dengan air mata yang menetes. Ia sensitif dengan kata itu. Isakan kecil mulai terdengar. Ia memalingkan wajahnya saat Silver mengangkat kepala.


"Kau menangis? Ck, itu memang kalimat yang pantas untukmu. Kau j*l*ng milikku!"


Silver mengusap wajahnya kasar. Ini kali pertama ia mendapati Sue menangis hanya karena perkataannya.


"Kenapa kau menangis? Aku bahkan tidak menamparmu."


"Sa-saya... hanya ingin, Tuan."


"Berhenti berisik. Kau mengganggu tidurku."


Tangan Silver tidak sengaja menyentuh benda empuk yang tersembunyi di balik piyama tidur Sue.


"Sial!"


"Maaf, Tuan."


"Berhenti mengatakannya, j*l*ng!"


Tanpa aba-aba, Silver menggenggam erat benda itu membuat Sue merasakan perasaan aneh. Ia membalikkan badan Sue untuk menghadap ke arahnya.


"Tu-tuan...."


"Diam!"


"Tu--mmpphhh...."


Silver membungkam mulutnya dengan bibir hangat milik Silver. Keahliannya dalam hal berciuman membuat Sue kehilangan kendali. Perkataannya tertahan karena Silver terus menciumnya sedangkan tangannya sudah bermain dimana-mana.


"Sial," umpatnya saat ia melepaskan ciuman.


Ia tidak bisa lagi mengendalikan hasratnya saat mendengar napas Sue yang terputus-putus.


*****


Bulu mata lentik itu mengerjap pelan, rasa mual melandanya sejak tadi. Tetapi, lingkaran erat di pinggangnya tidak bisa dilepaskannnya.


"Tuan.... Bangun, sudah pagi."


Silver bahkan tidak bergerak sedikitpun. Rasa tidak enak di perutnya kembali terasa.


"Tuan...."


Ia mencoba lagi melepaskan pelukan Silver tapi tenaga pria itu sangat kuat meskipun dalam keadaan tertidur.


Karena tidak tahan, Sue menarik rambut berwarna silver itu.


"Beraninya kau menjambakku, j*l*ng!"


"Ma-maaf, Tuan."


Sue memejamkan matanya bersiap menerima tamparan.


"Kenapa?"


"Saya ingin ke kamar mandi, Tuan."


"Dan kau ingin aku menggendongmu?"


"Ta-tangan... anda, Tuan."


Silver melepaskan rangkulannya membiarkan Sue pergi ke kamar mandi.


Suara gemericik air terus mengganggu Silver, dan Sue tidak kunjung kembali.


"Apa yang dilakukannya?"


Ia turun dari ranjang dan mengambil kemejanya yang berserakan di lantai dan memakai boxernya.


"Apa yang kau lakukan di sana?"


"Mencuci muka, Tuan!"


"Buka pintunya!"


"Sa-saya... belum selesai buang air, Tuan."


"Menjijikkan. Cepatlah! Kau bilang cuci muka tapi melakukan hal lain."


"Maaf..." cicit Sue perlahan bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.


"Kau membuatku mual dengan kata maafmu. Apa tidak ada kalimat lain yang bisa kau ucapkan selain kata maaf?"


"Ma---mmpp...."


"Aku akan terus menciummu kalau kau terus mengatakan kata menjijikkan itu."


Sue mengangguk dan menundukkan kepalanya.


"Pakai bajumu kalau kau tidak ingin aku memakanmu lagi."


Sadar bahwa ia hanya memakai bra dan celana dalam, Sue langsung berlari menjauh. Takut ancaman Silver terjadi lagi. Meskipun semalam pria itu melakukannya penuh kelembutan, masih tersisa sedikit ketakutan dalam dirinya. Ia tidak ingin malaikat kecilnya terluka.


Mengingat pergulatan panas mereka semalam, Sue merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya. Pipinya memerah malu. Bukan kali pertama mereka melakukannya, tapi baru kali ini Silver melakukannya dengan lembut seolah ia adalah permata yang dijaga agar tidak rusak.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa tidak memakai bajumu? Atau... kau menginginkanku lagi, j*l*ng?"


Sue terkejut karena Silver sudah berdiri di belakangnya. Bahkan tangan kekar itu sudah merayap kemana-mana dan membalikkan tubuhnya.


"Tu-tuan... ini masih pagi...."


"Tidak akan ada yang bisa menghentikanku!"


"Ta... tapi...."


"Ingat, kau hanyalah pelayanku!"


Perut yang sudah merasa nyaman itu kembali berulah. Sue tidak bisa menahannya lagi. Kalimat-kalimat penuh hinaan itu membuatnya kembali memuntahkan sisa-sisa cairan dari perutnya.


"Kau j*l*ng menjijikkan. Pergi dari hadapanku!"


.


*****


Dan, itulah guys! Seorang Silvester yang amatiran soal morning sicknes. Tunggu kelanjutannya sampai ia bertekuk lutut dan takluk di bawah kaki perempuan yang selalu disiksanya.


.


Love,


Xie Lu♡