
Happy reading!
.
***
Latihan memanah di alam bebas dengan sasaran bergerak tidak semudah yang di bayangkan Diego. Seringkali kakinya terantuk dan terjatuh saat dia berlari mengejar rusa yang lewat.
Tidak hanya itu, kesialannya bertambah ketika dia berlari dan tidak melihat ada sebuah lubang. Dan Diego berakhir di sana tanpa mendapat buruan.
Melihat itu, Silver terbahak-bahak.
"Lompatlah, kau seorang pria. Jangan cengeng," ucap Silver, menyuruh Diego melompat keluar dari lubang itu.
"Come on, Uncle, jurang ini lebih tinggi dari kepalaku. Aku tidak bisa melakukannya," sungut Diego.
"Ayolah, kau pasti punya akal."
Bukannya tidak punya akal, di dalam lubang yang bersih itu tidak ada ranting pohon atau apapun yang bisa di jadikan patok dan tali agar dirinya bisa naik. Dan tanah di sekitar itu sangat mudah lapuk.
Apalagi melihat Silver yang masih tertawa, Diego merasa kesal.
"Aku tidak akan mengikuti ide gila ini lagi, Uncle. Bisa saja kau memberikanku pada mulut singa atau menyeretku ke lubang buaya."
"Kau memberiku ide yang bagus, Antonio!"
"Uncle!" teriak Diego merasa dipermainkan. "Jangan bercanda!"
"Aku tidak begitu. Ayolah, pikirkan cara agar kau bisa naik ke atas. Rusa-rusa itu sudah pergi jauh, jangan bilang kau tidak akan membawa daging segar buat serigala yang satu itu."
Diego mengerucutkan bibirnya, sungguh Silver tidak memedulikannya. Dan hanya satu ide gila yang terlintas di benaknya.
"Alfa Two!" teriaknya dari dalam lubang itu. Berharap serigala bermata kelabu itu datang.
"Di mana dia?" ucapnya. "Uncle, ayolah, apa kau tidak menyayangi menantumu ini?"
Silver mendelik kesal, dia melempar Diego dengan bulatan tanah kering yang langsung dihindari anak kecil itu.
"Uncle, jangan membunuhku dulu! Aku masih kecil! Alfaaa!" teriaknya lebih keras.
Tidak disangka, serigala itu benar-benar muncul. Tapi yang membuatnya heran, hewan itu hanya berdiri menyaksikan.
"Uncle, kenapa Alfa tidak bergerak? Apa dia terluka?"
"Bodoh, hewan liar sepertinya tidak mungkin terluka."
"Hell, harusnya aku juga tidak terjebak di lubang ini."
"Kau memang aneh," ketus Silver. "Pikirkan cara sendiri, kau pria jangan cengeng."
Setelah mengucapkan itu, Silver benar-benar pergi. Juga dengan serigala itu.
"Apa yang dilakukan Uncle Sil pada Alfa?" lirihnya. "Kenapa Alfa bisa mengikutinya?"
Nyatanya, Silver hanya coba mengetes kemampuan memanah Diego dan sejauh mana dia berhasil menaklukan serigala. Dan kemyataannya, anak kecil itu perlu diasah kemampuannya.
***
"Ayolah, Sil, cepat angkat!"
Sue sedang menunggu panggilannya diangkat oleh sang suami. Keadaan di mansion benar-benar kacau.
"Halo?"
"Ke mana saja kau?"
"Maaf, aku sedang berburu. Ada apa?"
"Cepat pulang! Sesuatu terjadi di sini!"
Tanpa menunggu Sue melanjutkan perkataannya, panggilan langsung ditutup oleh Silver. "Astaga, apa yang sedang dia pikirkan," gumam Sue.
Perempuan itu menggendong Alita, bayi kecil itu terserang demam. Kondisinya tidak stabil. Kadang tenang dan kadang menangis sampai tenggorokannya kering.
Sue tidak tega melihatnya, dia cemas akan pertumbuhan sang buah hati. Karena tidak memiliki siapapun yang mengajarinya tentang cara merawat bayi, dan hanya bermodalkan pengetahuan dasar, dia merawat Alita seorang diri dan ditemani sang suami.
"Tenanglah, Sayang, Mom panggilkan Daddy." Sue menepuk pelan paha Alita, mencoba menenangkan Alita yang sedang menangis.
"Biar ku coba lagi, Nyonya. Kau terlihat sangat lelah." Carissa menawarkan diri setelah mengambil air untuk kompres.
"Tidak, berikan saja air itu."
Sue membaringkan Alita di kasur dan bayi itu langsung menangis, membuka pakaiannya dan mulai mengompres tubuhnya dengan air dingin.
"Tolong dekatkan lagi!"
"Baik, Nyonya."
"Sayang, apa yang terjadi? Maaf, aku terlambat." Silver datang dengan penampilan acak-acakan menghampiri istrinya.
"Alita demam. Pergi ganti bajumu terlebih dulu."
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Menurunkan panas tubuhnya."
"Hentikan dulu, aku panggilkan Natalie." Rupanya Silver yang lebih khawatir daripada Sue. Lelaki itu berjalan tak menentu, tampak khawatir terhadap kondisi anaknya.
Alita tampak lemah, dengan wajah yang memerah dan suara tangisan yang hampir tidak didengar lagi.
"Mona Elle," ucap Diego mendekati Alita. Penampilannya tak beda jauh dari Silver, lutut yang terluka dan tanah mengotori baju dan wajahnya membuat Sue menghentikan.
"Bersihkan diri sebelum mendekati adikmu, Igo."
Langkah Diego terhenti. Adik? Benarkah dia memiliki adik sekarang?
Sudah lama dia menantikan seorang adik dari rahim sang ibu, tapi kenyataan bahwa dia tidak suka ada pria yang mendekati Bertha, membuatnya tidak memiliki adik lagi.
Dengan senyuman manis tercetak di bibirnya, Diego berlari ke kamarnya. Membersihkan diri agar bisa mendekati Alita.
"Yes, aku punya adik sekarang!"
Perilakunya itu dilihat oleh seseorang. Tampak raut takjub di wajahnya. Ternyata sebahagia itu Diego memiliki seseorang.
Karena itu, dia menelpon seseorang. "Bertha, aku rasa kau harus buat adik untuk Diego."
***
Sue tersenyum mengetahui keadaan anaknya yang dibilang wajar untuk bayi di usia dini. Karena pergerakan yang diinginkannya untuk tidur tengkurap membuat tulang-tulangnya bertumbuh kuat. Dan itu membuat Alita demam.
"Tuan Dario sangat tidak sabaran. Dia mendesak agar aku secepat mungkin sampai di sini," cerita Natalie, sang dokter pribadi, perihal Silver yang menggertak dirinya agar cepat sampai di mansion.
Sue tertawa, dia tahu Silver memang pemaksa. Apalagi tadi kondisi Alita sangat buruk, tentu saja Silver sangat panik.
"Kau pasti mengenalnya Natalie, dia tidak ingin anaknya terluka."
"Ya, pada akhirnya dia sampai pada titik terlemah oleh cinta," ucap Natalie sambil terkekeh.
"Cinta bisa mengubah seseorang, Natalie."
"Memang luar biasa efeknya bagi pria yang buta arah seperti suamimu."
"Siapa yang kau sebut buta arah?" Silver tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan keduanya.
"William," jawab Natalie sekenanya. Dia menyebut nama kakaknya. Berbohong agar amarah Silver tidak berdampak pada kehidupannya.
"Aku dengar William akan menikah."
"Dengan seorang naughty barbie."
Silver terdiam sesaat. "Di mana dia menemukan benda yang seperti itu?"
"Aku tidak tahu."
Sue menatap Silver tajam, dia melihat wajah Natalie yang seperti tidak biasa.
"Sil, bisakah kau mengambilkan aku snack? Aku lapar."
"Apapun untukmu, Sayang."
Selepas kepergian Silver, Natalie sesaat terdiam membuat Sue merasa tidak enak.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman."
Perempuan itu tersenyum. "Tidak apa-apa, kita harus menghadapi kenyataan. Ini salahku yang tidak pernah mengindahkan pilihan kakakku dulu."
Sue menggenggam tangan Natalie. "Tuhan sudah mengatur semuanya. Baik buruknya seseorang di mata manusia, tapi Tuhan menciptakan dia dengan tujuan yang mulia, tujuan yang baik untuk sesama. Salah arah bukan berarti tidak bisa pulang, percayalah, takdir tidak akan sekejam itu."
Natalie terdiam, dia melihat tangannya yang digenggam Sue. Membuatnya rindu pada kebersamaan dengan sang kakak.
"Tapi aku tidak setabah dirimu."
"Perlahan-lahan, kau pasti bisa."
.
***
Untuk cerita William, udah publish ya. Kalian bisa cari dengan judul "After Yesterday".