Demon King: Another World

Demon King: Another World
kota Ilmut



"kalau begitu selamat malam." ucap Yuuto.


dia dan Miya segera masuk ke dalam kamar mereka. aku dan Julie juga masuk ke dalam kamar. hanya ada aku dan Julie di dalam, ruangan terasa sedikit sepi, dan hanya cahaya bulan yang menerangi...


aku ingin sebuah lampu! dunia ini terlalu tertinggal! adalah kata yang ingin aku katakan. walaupun lilin ada, tetapi lilin akan habis dalam beberapa jam.... aku tidak ingin itu. di samping itu, kita juga harus membelinya dahulu bukan?


"ah... hanya kita berdua terasa sedikit sepi..." ucap Julie.


biasanya ketika kita berkemah saat perjalanan, atau biasanya kami menyewa 1 kamar untuk 4 orang, kami biasa bermain sebelum tidur... permainan itu adalah permainan sederhana yang hanya membutuhkan 3-4 orang pemain.


aku menamai permainan itu benar atau salah. itu nama permainan dari kehidupanku sebelumnya sih... nama aslinya Truth or Dare.. benar kan? pertanyaan itu biasanya seputar kami berempat.


"ya, kamu benar... setidaknya ada aku." ucapku.


dia menghadap aku dan tersenyum. dia mendekat lalu memelukku. aku membalas pelukannya. hm?


"ada apa?" tanyaku.


"aku hanya tidak ingin kehilangan kau saja kok." ucapnya.


hm? gelisah ya?


"aku selalu di samping kok." ucapku.


"kalau begitu ayo tidur, besok kita akan melanjutkan perjalanan kita bukan?"


dia kemudian mencium dahiku.


"selamat malam, suamiku, mimpi indah." ucapnya.


dia masuk ke tempat tidur. lalu memejamkan matanya di sebelahku.


...****************...


pagi harinya, kami segera menyiapkan kereta kuda dan kuda kami, lalu berangkat keluar dari kota Cave, dan memasuki wilayah kerajaan Yomas. walaupun begitu wilayah ini adalah padang pasir ya...


"uh... udaranya panas..." ucap Yuuto.


dia mengendalikan kuda tersebut di atas pasir... sedikit sulit ya...


"hua... panas sekali di dalam...." ucap Miya.


Julie juga sepertinya bermasalah dengan situasinya. Miya dan Yuuto terus saja mengeluh akan suhunya.


"yah... apa boleh buat..." ucapku.


aku merapalkan sebuah mantra [coolness], sebuah mantra yang memberi kesejukan. dan akhirnya hanya yang berada di dalam kereta saja yang tidak mengeluh, untuk Yuuto dia tetap mengeluh tentang perjalanan itu.


perjalanan kami dipenuhi oleh keluhan Yuuto yang mengatakan 'mataharinya sangat menyengat!', 'aku haus!', 'aku tidak kuat...', atau 'aku ingin mati saja dengan suhunya...' dia mengoceh terlalu banyak.


...****************...


"kota ini lumayan walaupun suhunya panas..." ucap Yuuto.


bahkan di kota dia tetap mengeluh tentang suhunya. setidaknya Julie dan Miya tetap sejuk karena sihir penyegar itu.


di sini tidak banyak warga yang tinggal, bahkan ini hanya kota kecil. namanya Ilmut kalau tidak salah ya... nama yang lucu.


"setidaknya kita akan mencari penginapan." ucpaku.


kita ini tidak terlalu jauh dari kota perbatasan Cave, tetapi di sini hanya ada padang pasir yang membentang.


"baiklah...." ucap Yuuto.


dia menjawabnya dengan nada menyerah. dia payah dengan suhu panas. kalau begitu aku akan mengubah suhu kamar penginapannya.


"apa makanan khas di sini ya...?" ucap Yuuto.


dia tanpa sadar bergumam dnegan dirinya sendiri. dengan penuh keringat dia merasa sedikit penasaran. hm... sepertinya kami harus mandi di penginapan nanti.


"mungkin semacam minuman dingin?" ucapku.


aku menanggapi ucapan Yuuto yang bergumam. sementara itu, Julie dan Miya hanya mendengarkan kami sembari duduk di tempat duduk kereta.


"oh? minuman dingin ya... kalau begitu harusnya cocok dnegan musim ini!" ucap Yuuto.


"musim? memang musim apa saja di sini?" ucapku.


apa memang ada musim di padang pasir ini? seperti musim salju tidak akan muncul kan? apalagi musim hujan tidak akan turun dengan kepastian tinggi. mungkin hanya bisa di sebut hujan, bukan musim..?


"ya, di sini ada 2 musim. yang pertama adalah kemarau, dan yang kedua adalah musim berair." ucap Yuuto.


"musim berair?"


aku menanggapi ucapannya yang mengatakan 'musim berair.' apakah semacam hujan?


"menurut rumor yang aku tahu, akan muncul banyak kaktus yang muncul dengan banyak air, dan itu membantu para warga untuk membuat persediaan selama kemarau. begitulah yang aku dengar." ucapnya.


hm.. kaktus? jadi ada kaktus di dunia ini?


"hm... lalu kaktus itu akan di apakan? bukankah lebih baik dikembang biakkan?" ucapku.


menurut pengetahuanku di hidupku sebelumnya, kaktus dapat dibudidayakan. tetapi aku sendiri juga tidak pernah melakukannya...


"mustahil kamu tahu! mereka tidak mempunyai biji!" ucapnya.


biji? oi oi, kamu ingin menanam kaktus dnegan biji? kaktus itu... sepertinya dia dapat tumbuh jika di potong menjadi 2 bagian lalu bagian atas itu kita tancap ke tanah maka akan muncul akar bukan? aku tidak terlalu tahu tentang itu...


continue...