Demon King: Another World

Demon King: Another World
penantian dan kerinduan



[sudut pandang Julie]


karena sesuatu berada di mulutku aku terbangun. berusaha menggerakkan tanganku tapi itu sia sia, suasana sunyi dan gelap. aku dan Miya dibawa.


"!?"


kami berusaha menggeliat untuk memberontak, tetapi sia sia... aku berusaha berteriak tetapi mulutku tidak bisa mengeluarkan suara... sihir ku juga tidak bisa... ada apa ini...


kami pasrah.... hingga pada pagi hari saat kami membuka mata, orang tua gendut berada di hadapan kami, di belakang kami segerombolan orang sedang berbicara dengannya.


sepertinya mereka membicarakan uang.. kami masih berusaha, berharap seseorang datang menyelamatkan kami.


pria gendut itu berkata, "aku akan melakukan sesuatu, dan kemudian akan menjual kalian! aahaha!" dan kemudian tertawa jahat.


Miya putus asa, matanya seperti orang yang mati. kami di bawa ke sebuah rumah kecil, di dalamnya lembab dan tidak ada cahaya masuk. kami berdua diikat dengan tangan di atas, lalu pria gendut itu mulai duduk di kursi.


"gadis elf, siapa namamu?" ucap pria itu.


"...."


dia sedikit menunduk pasrah tanpa menjawab. pria itu mendekat dan menampar Miya.


"woi!! kamu dengar atau tidak."


"...."


tetap tidak menjawabnya, pria itu marah dan mengambil sebuah pisau. aku yang melihatnya hanya bisa terdiam.


"tetap tidak mau menjawab ya.. kalau begitu aku akan melakukan sesuatu pada baju mu." ucapnya dengan tatapan penuh nafsu.


[sementara di tempat Satou]


"hei!! Satou! dimana para gadis?" ucap Yuuto panik.


"tch! sudah kuduga akan seperti ini...!" ucapku.


"ayo!! ikuti aku!!" ucapku.


aku kemudian menaiki kuda dan segera berjalan tanpa mengikat kereta kuda. Yuuto mengikuti aku dengan Kereta kuda.


kami dengan kecepatan penuh sampai di gerbang Roxane. membayarnya dengan cepat. kami menitipkan kuda pada para prajurit, dan segera berlari.


"kemana kita akan berlari?" ucap Yuuto.


aku menghiraukannya, dan tetap fokus pada kekuatan yang aku dapatkan dari keputusasaan mereka, sebenarnya kekuatanku tidak terbatas.


demi mereka aku harus melakukannya, lalu setelah sekian lama berlari kami sampai di depan rumah kecil.


kami segera mendobrak.


[sudut pandang Julie]


hampir menyentuh bagian dada, sebuah suara kencang berbunyi. pria gendut itu menghentikan gerakannya. dia menoleh pada suara itu.


terlihat 2 orang pria di sana, salah satu dari mereka dengan cepat berkata, "cukup sampai di sana!"


"siapa kalian!!" ucap pria tua itu.


pria gendut itu tertawa, tetapi aku terkejut dengan suara familiar ini. suara yang selalu meluluhkan hatiku, yang memberi warna dalam hidupku.


"jangan bercanda, raja iblis? kamu itu manusia!" ucap pria gendut itu.


seketika pria yang kukenal dengan sebutan suamiku, dia mulai mengeluarkan tanduknya dan hal yang langka, sebuah ekor muncul...


"ap-!? aura ini? tidak mungkin kamu adalah raja iblis!" ucap pria gendut itu.


sebuah aura memprovokasi yang hebat, bahkan Miya yang sudah pasrah bereaksi terhadap aura itu.


"bagaimana? sekarang sudah mengerti? tapi tidak ada gunanya kamu hidup..." ucapnya.


"tunggu sebentar! apa tujuanmu? apakah kamu ingin membeli 2 gadis ini? aku akan menyerahkannya, jadi jangan bunuh aku!" ucap pria gendut itu gemetar.


di sebelahnya, Yuuto hanya terdiam. Miya bahkan sedikit takut dengan aura itu. aku tersenyum lega karena mereka datang.


"kamu sudah menyakiti temanku dan istriku, bahkan inginmenjualnya. untuk apa mengampunimu?" ucapnya.


dengan cepat berada di depannya, pria gendut itu terjatuh. dan mundur dengan merangkak.


"hi-!? tolong ampuni aku!!!"


ketika itu aku berteriak kepadanya, "hentikan suamiku!!!! sudah tidak apa... aku di sini... jadi tenanglah... atau negara ini akan hancur!" dengan memaksakan gerakan.


tanganku yang terikat, sangat sakit ketika digerakkan... tetapi aku harus menahannya.


"hi-!? jangan..."


pria gendut itu menutup wajahnya dengan gemetaran, pisaunya terjatuh, keringat bercucuran.


"jangan suamiku!! tahan!!" teriakku.


Yuuto segera berlari dan menahan tangannya.


"sudahlah, tahan dirimu!" ucap Yuuto.


"tch! kali ini akan aku maafkan!" ucapnya dan kemudian tanduk, ekor, dan aura itu menghilang. karena saking takutnya dia pingsan.


dia datang ke arahku, melepas rantai itu dan memelukku dengan erat. dia menangis?


"syukurlah, kamu selamat..."


air mata menetes pada bahuku, dia mengucapkannya dengan kata kata tersedu.


"hey, kamu itu raja iblis, kenapa menangis? lihat, mereka melihatmu loh?"


ucapku menggodanya, tetapi itu tidak mendengarnya dan tetap memelukku dnegan erat.


Yuuto meminta maaf pada Miya, tetapi Miya memeluknya. yah aku tahu...


"baiklah, maafkan aku membuat khawatir.." ucapku menenangkan Satou.


mengelus kepalanya, dan membalas pelukannya.


continue....