
setelah memakan kari buatan Julie dan Yuna kami segera berangkat menaiki kereta kuda yang telah disiapkan tadi oleh Joses. kami berangkat dan kami menghabiskan 1 hari untuk perjalanan menuju kerajaan Roxane.
"akhirnya setelah sekian lama kita kembali ya sayang." ucap Joses kepada Lulu.
"yah.... untuk sementara ayo kita kembali ke rumah...." ucap Lulu.
"apakah Lulu dan Joses pernah tinggal disini?" tanya Yuna yang kebingungan.
"ya... sebenarnya kami berasal dari kerajaan ini... lalu setelah bertemu Satou kami pun tertarik untuk melakukan perjalanan..." ucap Lulu kepada Yuna.
"tetapi kenapa anda mengikuti tuan? apakah hanya itu alasanmu?" ucap Yuna kepda mereka.
"tidak sebenarnya kami mengikutinya karena kita tertarik untuk menambah pengalaman, tapi tidak aku sangka akan semenarik ini..." ucap Joses sambil mengendarai kereta kuda.
"yup tuan mu memang hebat..." sambung Lulu.
tidak lama kemudian Joses berteriak, "kita sudah sampai!" sambil mengehentikan kereta kuda kami.
aku turun disusul semuanya. dan kemudian kami menyerahkan menjaga kereta kuda kepada Lulu dan Joses, lalu aku menyuruh Yuna untuk menjaga Lilith, sedangkan aku dan Juliet menuju ke dekat dermaga untuk bertanya ke nelayan yang ada di situ.
"permisi pak... apakah disini ada yang menjual kapal besar?" ucapku sambil menggandeng tangan Julie.
"ah... anak muda.... sepertinya kebetulan ada, kamu lihat kapal yang sedang berlabuh dan tak terlalu besar itu?" ucap pak pelayan sambil menunjukkan jarinya ke arah kapal besar yang berlabuh.
"yah... apa itu dijual? siapa pemiliknya?" tanyaku.
"akan aku antar... nona, harap berhati hati karena di daerah itu banyak pria yang akan mengincar mu..." ucap pak nelayan tersebut.
"saya yang akan menjaganya." ucapku.
"oh... sungguh jantan... baiklah kalau begitu lewat sini...." ucap pak nelayan tersebut sambil berjalan ke arah jalan yang agak sepi.
kami mengikuti pak nelayan tersebut dan kemudian dia terhenti di tengah pertigaan.
"nanti setelah pertigaan anda akan belok ke kanan lalu anda akan sampai pada rumah orang itu, rumah orang itu adalah sebuah bar, dan aku hanya bisa mengantarmu sampai disini... maka dari itu, nona mohon berhati hatilah... tuan, tolong jaga dia sebaik mungkin ya..." ucap nelayan itu dan kemudian pergi.
"baiklah kalau begitu, ayo kita ke sana." ucapku.
"aku agak takut..." ucap Julie.
"tak perlu takut... kalau begitu boleh aku pinjam tanganmu?" ucapku.
"hm? untuk apa?" ucap Julie.
aku mengambil tangan Julie dan menggandengnya. kemudian menariknya agar memulai berjalan.
"tak perlu takut aku ada disini kok.." ucapku menoleh sambil tersenyum.
kami kemudian melanjutkan perjalan menuju orang yang menjual kapal tersebut sesuai arahan pak nelayan tadi.
semakin kedalam banyak pria yang memandangi Julie, terutama pada bagian yang sensitif, ya bisa dibilang mereka itu berandalan, mungkin.
"suamiku, disini terlalu menakutkan..." ucap Julie mendekat dan memeluk tangan kananku.
lalu seorang pria mendekat dan berkata.
aku tetap berjalan tanpa memperhatikannya atau lebih tepatnya aku mengacuhkannya. sementara Julie sedikit bergetar.aku mencoba menenangkannya dengan mengelus kepalanya.
"cih..! bunuh orang itu! sisakan perempuan itu!" ucap pria tadi.
segera tak lama kemudian segerombolan orang menyergap kami. dan kemudian pria yang aku abaikan tadi masuk ke dalam gerombolan dan mendekat kearah ku.
"!?"
"bagaimana? kalian terkejut? hey nona, menyerah lah kepada ku dan akan aku akan memuaskan mu..." ucap pria itu.
"aku menolak!!" ucap Julie dengan keras"
"kalau kamu menolaknya maka akan aku paksa..." ucap pria itu sambil menariknya.
aku tak dapat melakukan apa apa karena disini banyak rumah rumah, juga kondisinya sudah mulai larut, akan sulit jika aku melancarkan serangan.
"!?"
kemudian orang itu menyentuh dagu Julie dan kemudian memulai menyentuh bagian sensitif.
"bagaimana nona? mau melanjutkannya?" ucap pria itu.
"!?"
aku mulai muak dengan apa yang dilakukannya, Julie juga sedikit ketakutan. aku mengeluarkan hawa membunuhku.
"hou? sudah berani ya...?" ucapku kepada pria itu.
"wah, wah, wah, sudah berani? memang kamu ini siapanya nona ini?" ucap pria itu.
"asal kau tau ya! dia itu....!" ucapku sambil melesat dengan membawa belati yang kuambil dari tas yang kubawa.
"dia itu istriku! kau tahu itu!?" lanjut ku sambil menusukkan belati ku ke perut pria itu, darah mulai bercucuran dari perutnya dan pria itu sedikit mundur.
"ugh..!"
"cih..! aku muak dengan perbuatan mu! jangan ganggu aku lagi!" ucapku mencabut belati ku.
"ugh...! semua... cepat pergi... orang... ini... berbahaya..." ucap pria itu dengan perut penuh darah.
mereka semua pun pergi ketakutan meninggalkan aku dan Julie sendirian.
Julie yang lega pun duduk berlutut dan mulai mengeluarkan air matanya. aku datang mendekat dan memeluknya.
"maafkan aku karena tak sanggup melindungi mu..." ucapku juga mengeluarkan air mata.
"tidak itu bukan salah mu..."
akhirnya kami berhenti sejenak untuk menenangkan hati kami dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke bar orang itu walau sudah larut malam.
continue.....