
kesampingkan itu, aku duduk di sebelah Julie yang sedang terbaring sakit.
"..."
"ada apa suamiku? kamu terlihat bingung." ucap Julie.
"tidak aku hanya sedikit memikirkan sesuatu." ucapku.
"apa itu?"
"akhir akhir ini kamu sering sakit, apa ada hubungannya dengan kelelahan?" tanyaku.
"tidak, memang dulu aku juga sering kok, pada waktu tertentu aku akan sembuh." ucapnya menghilangkan kekhawatiran ku.
tetapi tidak semudah itu hilang, bagaimana cara mengatasinya?
"apakah ada obat untuk itu?" tanyaku.
"sebenarnya ada, tapi..."
"tapi apa? apakah tempat itu berbahaya?" tanyaku.
"tidak, bukannya berbahaya tapi, tempat itu mungkin belum ditemukan." ucapnya yang meyakinkan aku.
"...baiklah, semoga cepat sembuh." ucapku mengelusnya dan keluar dari kamar menuju ruang makan.
di sana aku melihat Yuna dan Lilith sedang menyiapkan makan siang untuk kami. meskipun desa kami belum memiliki pekerjaan yang tetap, tapi kami memiliki uang yang cukup banyak untuk kebutuhan desa juga kami para warganya.
"papa!" ucap Lilith berteriak sambil berlari lalu memelukku dengan tangan kecilnya.
aku mengelus kepalanya dan tersenyum.
"makan siang akan segera siap, jadi saya akan mengantarkan milik nyonya." ucap Yuna sambil mengaduk panci.
"tidak, biar aku saja yang mengantarnya. kalian berdua makan bersama ya." ucapku.
"aku mau sama papa!" ucap Julie.
aku mengelus kepalanya sambil menghela nafas.
"baiklah kalau begitu kita makan di kamarku." ucapku.
"baiklah kalau begitu." ucap Yuna menjawabnya.
aku duduk di ruang makan sementara Lilith mendekat ke arah Yuna yang memasak.
"apakah hari ini ada kapal yang datang Yuna?" tanyaku memulai topik.
oh? membeli? apakah secepat itu tumbuh?
"apakah buah yang kita tanam kemarin sudah tumbuh?" tanyaku.
"tidak, mereka bukan buah yang kita tanam, itu buah yang ditemukan oleh Albert ketika menjelajah." ucap Yuna.
bagaimana cara mengirimnya? mereka kan jauh dari sini? lalu bagaimana mereka bertiga mengetahuinya?
"apakah mereka memberitahunya lewat sesuatu?" tanyaku.
"mereka mengirimkannya lewat sihir. itu adalah sihir yang bisa mengirim barang seperti teleport tuan." ucap Yuna.
oh, sihir teleport? tapi sihir teleport itu bisa memindahkan benda apapun.
"lalu apa yang berbeda dari sihir tersebut?" tanyaku.
"hanya dapat memindahkan barang seperti buah, kertas, dan mineral berukuran kecil." ucap Yuna menjelaskan.
begitu yah...
"informasi yang menarik, terima kasih Yuna." ucapku lalu meminum air di gelas yang berada di meja.
"ini tuan, makan siang sudah jadi. apakah kita benar akan ke kamar tuan?" tanya Yuna memastikan.
"ya, ayo kita segera." ucapku berjalan bersama Lilith.
Yuna mengikuti ku dari belakang dengan membawa panci hangat dan empat mangkuk. sedangkan Lilith membawa empat gelas menggunakan nampan.
"Julie, kami masuk ya." ucapku kemudian membuka pintu.
"baiklah." ucapnya.
ketika aku masuk dia sudah terduduk dengan selimutnya yang masih terpakai.
"sudah saatnya makan siang yah? kalau begitu ayo kita nikmati bersama." ucapnya dengan senyum.
memang Julie akan lebih sering berbicara di rumah, tetapi bukan berarti menjadi cerewet. auranya yang pendiam tidak pernah menghilang.
mari kesampingkan itu, kami sekarang menikmati makan bersama kami hingga habis dan kemudian sedikit mengobrol agar suasana tidak sepi dan memberikan sedikit yah setidaknya ada suasana ceria dan tidak harus sepi seperti ini.
walaupun selama satu bulan kami tidak ada kegiatan mari kita lewatkan momen selama satu bulan terakhir.
kali ini sudah satu bulan dari waktu lalu. selama satu bulan kemarin kami hanya hidup seperti itu, dengan Julie yang sudah sedikit pulih dari sakitnya. kini awal baru telah dimulai!
continue....