Demon King: Another World

Demon King: Another World
pencarian



pagi harinya kami terbangun dengan segar dan kembali melakukan penjelajahan. kami mencari wilayah dekat dengan sungai dan dekat dengan hutan tetapi juga di tengah padang rumput. ya meskipun tidak akan mungkin aku akan mencari tempat yang cocok.


"wah... hutan ini, tidak aku sangka akan selebat ini..." ucap Joses.


"wajar kan saja lagipula ini wilayah yang tak berpenghuni..." ucap Shaki.


"sudah satu hari kita menjelajah, sebesar apa pulau ini?" tanya Yuri.


"yah, meskipun dihitung tak terlalu besar seperti benua, tetapi ini cukup untuk membangun negara..." ucap Arisa.


"tunggu sebentar." ucap Yuri.


kami semua menoleh kearah Yuri yang telinga kucing nya bergerak, sementara hidung Arisa mengendus. pendengaran Yuri sangat baik, dan penciuman Arisa sangat luar biasa. seperti yang diharapkan dari demi-human.


"sepertinya aku mendengar suara air terjun..." ucap Yuri.


seperti yang kuduga, di tengah pulau ini terdapat gunung dan dataran tinggi, pastinya akan ada air terjun di daerah sini.


"ya aku mencium bau tanah yang bercampur dengan air." ucap Arisa.


"kalau begitu dari arah mana Yuri mendengarnya?" tanya Yuuto.


"dari arah sana!" ucap Yuri sambil menunjuk ke arah dekat dataran tinggi.


"kalau begitu mari cari lahan untuk dibangun rumah di sana!" ucap Joses bersemangat.


kami semua pun segera berjalan ke arah sungai tersebut dengan hati hati. tidak lama kemudian kami sampai di tepi air terjun.


"segar~ papa! ayo kita bangun di dekat sini!" ucap Lilith.


"tetapi terlalu dekat dengan sungai akan menyebabkan masalah." ucap Shaki.


"benar, jika hujan lalu banjir akan susah kita." ucap Yuuto.


"kalau begitu kita cari yang sedikit jauh dari sini." ucap Joses.


kami pun akhirnya membuat rumah tersebut di dalam hutan, walaupun kami harus menebang beberapa pohon, tapi bukan masalah untukku.


"kalau menebang pohon serahkan kepadaku! kalian semua sedikit menjauh dariku" ucapku.


"hah? kenapa? bukankah akan lebih efisien jika kita tebang saj daripada memakai sihir? lagipula tidak mungkin menebang pohon dengan sihir jika lebih dari 2 kan?" ucap Yuuto.


"kalian tidak akan percaya jika tidak melihatnya." ucap Lulu.


"ya, menurut lah..." ucap Joses.


"percayakan pada papa." ucap Lilith tersenyum.


"hm.."


mereka terdiam sejenak dan kemudian menjauh kurang lebih 1 km dariku. sementara mereka menjauh aku merentangkan tanganku, memejamkan mataku, dan merapal kan sebuah mantra.


"wind slash!" ucapku.


angin dengan bentuk tebasan memotong ke sekitarku dan sekitar 40 pohon di sekitar kami dan kemudian terjatuh dengan bersamaan.


"kekuatannya itu... apakah benar dia bukan anggota guild petualang dan hanya seorang pengelana? dengan kehebatan itu, dia bisa meraih peringkat A dan dapat mengalahkan 2 orc dalam sekali serang!" teriak Shaki.


"apalagi dengan mengeluarkan sihir sebanyak itu... apakah mana mu tidak akan habis?" ucap Yuro yang terkejut.


"menakutkan..." ucap Arisa dengan gemetar.


"papa! hebat!" ucap Lilith yang sedang di gendong oleh Julie.


"seperti yang diharapkan dari tuan." ucap Yuna dengan bangga.


"kubilang apa..." ucap Joses.


"kenapa menahan diri?" ucap Lulu.


mereka semua terkejut dan melontarkan semua pertanyaannya. walaupun Yuna sudah mengetahuinya tetapi dia menunjukkan wajah 'itulah masterku!' dengan bangga.


"kalau begitu mari kita bangun!" ucapku dengan semangat.


"ok!!" ucap mereka.


Julie hanya terdiam sambil menurunkan Lilith dengan tersenyum. yup seperti biasa. dia juga pandai menyembunyikan ekspresinya.


aku dan yang lain mulai membangun rumah sederhana untuk sementara kami tinggal karena hari sudah mulai gelap. sementara Yuna, Lilith, Lulu, Arisa, dan Yuri mereka memutuskan untuk mengambil air di sungai.


aku berpesan kepada mereka supaya berhati hati kepada hewan yang berbahaya terlebih jika melihat monster aku memperingatkan agar mereka segera berlari dan jika sudah ketahuan maka berteriak lah dengan keras.


sementara itu Joses, Shaki, dan Yuuto mereka memutuskan untuk pergi berburu. hanya tersisa aku dan Julie jadi kita berdua memutuskan untuk mencari kayu untuk membakar daging hasil berburu.


kami segera melaksanakan tugas masing masing. aku memasuki hutan yang gelap tanpa penerangan. berjalan bergandengan tangan dengan Julie yang tangannya terasa sedikit bergetar. rasa kesepian hadir.


tanpa sadar Julie melepaskan gandengannya dan memelukku dari belakang. sepertinya dia menyadarinya.


"tidak perlu sungkan untuk sesuatu, kamu sedang gelisah?" ucap Julie sambil memelukku.


"ah... tidak." ucapku membeku.


"tidak perlu menyembunyikannya aku tahu kalau kamu sedang gelisah." ucap Julie.


"apa yang membuatmu gelisah?" sambungnya.


"entahlah, rasanya aneh, seperti aku pernah merasakannya." ucapku.


benar! kehidupanku di bumi. dulu aku adalah seorang penyendiri dan seorang pemalas tetapi anehnya aku merasa nyaman ketika aku sendirian. tetapi rasanya ketika aku sudah bereinkarnasi dengan tubuh ini dan terpanggil ke dunia ini aku merasa sedikit berbeda dari biasanya.


yup itu hanya sekilas masa lalu ku... jika kalian ingin mentertawakan silahkan, aku adalah yang terburuk! mari lupakan iyu sekarang aku sedang berada di tengah situasi yang sulit.


"benarkah?" ucap Julie.


"kalau begitu biarkan aku mengisi tenagaku sebentar..." sambungnya sambil menenggelamkan kepalanya di punggungku.


aku membiarkannya selama dia menenggelamkan kepalanya ke punggungku sambil memelukku dari belakang.


"baiklah! tenagaku pulih, ayo kita lanjutkan." ucap Julie kembali menggandeng tanganku.


kami semua kembali berkumpul di lokasi sebelumnya dan membuat api unggun bersama dan memakan hasil perburuan kelompok Joses.


continue...