Demon King: Another World

Demon King: Another World
badai dan dan momentum



sehari setelah keberangkatan. aku, Julie, Yuuto, dan Miya kami semua sedang terombang ambing di atas kapal. karena cuacanya panas kami semua berteduh di ruangan untuk kapal. sedikit sesak karena ramai, tetapi kami tetap menikmatinya.


yah, jujur saja kami memang bosan... tetapi perjalanan ini sepertinya penuh bahaya... entah bahaya apa yang akan menunggu, aku akan melindungi mereka.


"panas sekali...." ucap Miya.


"ya.. memang panas..." ucap Yuuto yang mengelap keringatnya menggunakan tangan. kali ini kemudinya dikendalikan oleh sihir Yuuto yang bernama [control]. sihir ini dapat mengontrol kendaraan. kuda memang tidak termasuk dan kereta kuda juga tidak termasuk. tetapi dapat mengebdalikan kendaraan seperti kapal.


sebelum kami berangkat, Joses menitipkan sebuah surat yang harus kami serahkan kepada temannya saat kita mengambil kereta dan kuda milik kami. hm... mari kesampingkan itu, sekarang kami sedang kepanasan dan kemudian tanpa sadar ombak menjadi besar dan awan menjadi gelap.


"huh? kenapa jadi tidak panas? apa yang terjadi?" ucap Yuuto.


"benar, ini lebih sejuk dari dugaanku." ucap Miya.


"ombaknya semakin besar. akan ada badai?" ucap Yuuto.


"badai? hm... sepertinya memang benar." ucapku.


nendengar itu Miya panik, karena ini adalah pertama kalinya dia terkena badai? tidka sepertinya bukan karena itu, pasti karena traumanya.


"tenanglah Miya! lihat wajahku!" ucap Yuuto memegang kepalanya mengahadap wajahnya.


seketika wajahnya memerah, dan itu membuat aku dan Julie ingin tertawa. ya, walaupun memang kami seperti itu, tapi ya.. itu memalukan jujur saja.


"ah! maafkan aku! aku tidak sengaja!" ucap Yuuto segera melepas tangannya dari kepala Miya dan memalingkan wajahnya yang memerah.


"ya! aku juga minta maaf!" ucap Miya yang juga memerah.


"...." suasana menjadi canggung.


aku mengaktifkan sihir perlindungan pada kapal ini agar tidak terkena badai. walaupun begitu jumlah sihir yang aku keluarkan membuat Yuuto dan Miya terkejut, tetapi kalau tidak begini resikonya terlalu tinggi.


"apakah itu sihirmu, Satou?" tanya Yuuto.


"hm? ya, memang agak besar tapi, tidak masalah." ucapku tersenyum.


"hebat! Satou memang hebat!" ucap Miya.


"ahaha aku tidak sehebat itu, jadi tenanglah." ucapku berusaha menenangkan Miya.


Julie tetap tenang dan tersenyum. dia ini hanya sering berbicara denganku saja, walau begitu dia imut juga.


"sekarang kita sudah aman." ucapku.


malam tiba, badai reda tetapi hujan belum reda. angin yang dingin membuat bulu kuduk berdiri.


"ah... sekarang terasa dingin..." ucap Miya.


"sini mendekatlah." ucap Yuuto yang memakai selimut di seluruh tubuhnya.


Miya mendekat dan kemudian masuk ke dalam selimut milik Yuuto, jadi mereka terlihat satu. sekarang ini Julie sedang membuatkan teh hangat untuk menghangatkan kami. sepertinya sisa sisa kemarin masih ada. aku juga sedang menggunakan selimut, dan sekarang ini kami semua berpindah ke lumbung kapal.


"ah... hangat.. terima kasih Yuuto." ucap Miya.


"ya, mendekatlah sedikit lagi." ucap Yuuto.


dengan menjawab, "baiklah." lalu bergerak lebih dekat. tidak lama setelah itu Julie yang sedikit menggigil karena kedinginan membawakan teh dan meletakkanya di meja dekat sofa panjang, dan aku ada di hadapan Yuuto dan Miya. di sini ada 2 sofa panjang.


setelah meletakkan teh, dia mendekat ke arahku kemudian menyelinap masuk ke dalam selimutku. badannya dingin, sedikit menggigil, tapi juga halus...


"sudah hangat sekarang?" tanyaku kepada Julie yang masuk dan menenggelamkan dirinya ke dalam selimut lalu memelukku.


dia hanya mengusapkan kepalanya ke dadaku. itu geli... kemudian aku sedikit membuka selimutku dan terlihat Julie yang dedang manja di pangkuanku.


"wah... Julie enaknya..." ucap Miya yang iri.


kode keras kah? Julie hanya mengangguk dan memejamkan matannya tetapi tetap saja memelukku. karena ucapan Miya, Yuuto dengan ragu ragu memeluk Miya dengan wajah sedikit merah tetapi berani.


"sekarang bagaimana?" ucap Yuuto bertanya dengan wajah memerah.


"y-ya, i-ini hangat..." ucap Miya menjawabnya dengan gugup dan wajah memerah.


aku hanya bisa memandangi mereka yang canggung. walaupun begitu Julie tidak memperdulikannya, tetap saja memelukku denagn erat.


"hey, Julie. lihat, mereka jadi canggung." ucapku.


dia mengangkat wajahnya dan hanya tersenyum manis. apakah sudah direncanakan?


dasar Julie, tapi bagaimana lagi... dia sangat manis... akhirnya aku tidak bisa menahan tanganku yang berujung mengusap rambut pirangnya.


malam ini kami semua tertidur di sofa dengan posisi duduk. aku sedikit membuka selimut, dan Julie memelukku dengan erat, sementara itu Miya dan Yuuto tertidur dengan kepala yang saling bersentuhan.


continue....