Demon King: Another World

Demon King: Another World
pembelian kapal?



setelah kami menenangkan hati kami masing masing kami segera berjalan. Julie menggandeng tanganku dengan erat hingga kami sampai pada bar tersebut. aku dan Julie sampai tepat mereka akan tutup karena sudah pagi.


"permisi... apakah benar ini bar tempat orang yang menjual kapal besar di pelabuhan?" ucapku.


seorang pria berbadan besar yang sedang menutup bar miliknya menengok ke arah ku


"oh? apakah kamu mau membelinya nak?" ucap orang berbadan besar itu.


"ya, kami yang ingin membelinya." ucapku kembali.


"oh, kalau begitu silahkan, masuk akan aku buatkan kalian minuman." ucap orang itu.


kami masuk sesuai arahan orang tersebut dan duduk di depan meja bar.


"bagaimana nak? mau minum apa?" ucap orang itu.


"tidak, aku tidak minum alkohol." ucapku.


"baiklah, nona?"


"aku tidak...." ucap Julie dengan mengecilkan suaranya.


"kalau begitu, perkenalkan nama saya Herd, pasti sulit untuk datang ke sini." ucap paman Herd.


"bagaimana? berapa harganya paman?" ucapku mengalihkan topik.


"hm... 112 koin emas." ucap paman Herd.


"tidak bisakah lebih murah? aku akan membayarnya jika itu 102 koin emas, bagaimana?"


"hm... baiklah, ini surat untuk memiliki kapal, bawalah ini." ucap paman Herd sambil memberikan sebuah gulungan kertas.


"baiklah, terima kasih paman! ini uangnya." ucapku sembari memberikan kantung uang.


"baiklah gunakan kapal itu sebaik mungkin..." ucap paman Herd melambaikan tangannya di depan bar miliknya.


aku segera menjauh dari paman herd dengan Julie menggandeng erat tanganku.


"hey Julie, apakah kamu masih takut?" ucapku.


"ya.." ucap Julie.


kami kembali ke pelabuhan tanpa gangguan karena hari sudah mulai terang, matahari mulai bersinar.


"akhirnya... sampai di pelabuhan..." ucapku.


"sekarang ayo kita cari yang lain...." ucap Julie.


"ok, bagaimana kalau kita mengecek rumah Joses yang berada di dekat pantai itu?" ucapku.


"baiklah..."


kami segera berjalan menuju ke rumah Joses yang berada dekat pelabuhan, didekatnya terdapat kereta kuda yang terparkir dengan kuda yang diikat di dekat tempat yang banyak ditumbuhi rumput.


"sepertinya mereka sudah menunggu lama." ucapku.


sesampainya didepan rumah aku mengetuk pintunya.


*tok...tok....tok*


"ya? siapa itu?" ucap seseorang dari dalam yang rupanya Yuna yang sedang membuat sarapan.


"ah... tuan dan nyonya! selamat datang kembali!" ucap Yuna membuka pintu dengan senang.


"kami pulang Yuna..." ucapku.


Julie seketika terjatuh dan aku menangkapnya.


"oi? ada apa Julie?" ucapku khawatir.


"sepertinya dia hanya kelelahan, sebaiknya cepat antar nyonya ke dalam." ucap Yuna.


aku menggendongnya dan menidurkannya ke sofa dan aku duduk di sofa depan aku menidurkan Julie.


"Yuna, tolong bawakan aku 2 teh hangat.." ucapku.


"baiklah, mohon tunggu sebentar.." ucap Yuna kembali ke dapur.


Joses dan Lulu keluar dari ruang tidur mereka dan mendekat kearah ku.


"ada apa dengan Julie?" ucap Lulu.


"ngomong ngomong, bagaimana kapalnya? apakah sudah dapat?" tanya Joses.


"ini suratnya..." ucapku sambil menyerahkan surat gulungan dari kantung ku.


"oh...! terima kasih aku akan menyiapkan kapalnya!" ucap Joses sambil membuka pintu dan kemudian berteriak "aku berangkat!" sambungnya.


"dasar anak itu...." ucap Lulu menyesal.


"tidak apa kok, dia bersemangat saja..." ucapku.


setelah itu Yuna datang menaruh teh dan pergi ke pasar dekat pelabuhan untuk membeli persediaan selama perjalanan. kemudian tidak lama kemudian Julie terbangun.


"Satou...?" ucap Julie dengan nada pelan.


"ya? aku disini? ada apa?" ucapku mendekat ke Julie yang tengah terduduk bingung.


"dimana kita?" ucap Julie kebingungan.


"kita ada di rumah Joses, ada apa? tadi kamu hanya kelelahan kok, jadi kumohon tetaplah duduk dan minumlah teh itu..." ucapku sedikit khawatir.


"hm...? kepalaku sedikit pusing...." ucap Julie memegangi tangannya.


"kalau begitu tiduran lah sebentar." ucapku sambil duduk di sebelahnya.


"kalau begitu aku akan membantu Yuna ke pasar." ucap Lulu berpamitan.


kemudian Julie mulai tertidur di pangkuanku. aku mengelus kepalanya dan kemudian ikut tertidur dengan posisi terduduk.


"papa... mama... bangun..." ucap seorang gadis kecil berusia 7 tahun hampir 8 tahun. itu adalah Lilith, pertama aku melihatnya adalah 7 tahun dan sekarang dia hampir 8 tahun.


aku terbangun dan membuka mataku. aku menoleh ke arah Lilith yang berdiri di sebelahku.


"ada apa Lilith? apakah ada yang salah?" ucapku sambil mengusap mataku.


"kita semua sudah siap! barang papa dan mama sudah di siapkan oleh kak Yuna. jadi ayo kita berangkat..." ucap Lilith.


"hm? baiklah papa dan mama akan bersiap jadi Lilith naik dulu ya.." ucapku.


"baik!" ucap Lilith sambil berlari keluar rumah.


"Julie... bangun, ayo kita berangkat..." ucapku menempelkan jari telunjukku ke pipi Julie yang tertidur pulas.


"hey.... Julie... ayo bangun...." ucapku.


"hm? ada apa?" ucapnya.


"duduklah apakah masih sakit?" ucapku.


"hm...? yah... sedikit..." ucap Julie.


"apakah perlu ku gendong?" ucapku.


"tidak perlu nanti akan merepotkan mu suamiku..." ucap Julie.


"ugh..." Julie terjatuh dengan memegangi kepalanya.


"oi, tidak apa apa kan? apakah ada yang sakit?" ucapku khawatir.


"tidak... tetapi kepalaku agak sedikit pusing..." ucap Julie.


"aku bilang apa.... sini aku gendong." ucapku sambil menggendong Julie layaknya seorang putri dan berjalan naik ke atas kapal.


kapal itu sepertinya agak jauh dari pantai... tapi tak apa lah... yang penting kita akan berangkat!


kapal tersebut dilengkapi dengan 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 ruang makan dan 1 dapur. aku menidurkan Julie ke kamar yang disediakan untukku dan aku duduk disebelahnya.


"kalau begitu aku akan ke atas untuk mengecek dan akan kembali kesini..." ucapku mengelus kepala Julie.


"baiklah, aku akan beristirahat disini." ucap Julie.


tidak lama kemudian Lilith datang dan duduk disebelah Julie.


"Lilith, jaga mama sebentar ya..." ucapku


"serahkan pada Lilith!" ucap Lilith


aku segera ke atas dan menyiapkan semua barang di atas.


continue.....