Demon King: Another World

Demon King: Another World
desa tanpa nama



setelah percakapan tersebut kami semua terdiam untuk sesaat.


"..."


"ah, kebetulan hari ini rumah tambahan sudah selesai jadi silahkan menempatinya." ucap Joses.


"apakah kalian akan menetap di sini?" tanya Shaki.


mereka saling memandang tetapi sepertinya Miya dan Zakira sudah setuju untuk tetap disini.


"aku dan Zakira akan menetap disini sebagai warga tetap!" ucap Miya dengan mantap.


"oh, kalau begitu yang lainnya?" tanya Shaki kembali.


sepertinya kepala desa tidak mempermasalahkannya tetapi kenapa Shaki tetap bersikeras?


"kalau begitu kami semua akan tinggal disini sebagai warga, saya perwakilan dari kami semuanya, semoga kita bisa akur dengan yang lain." ucap Dika.


"aku menyambut kalian, sekali lagi selamat datang di desa kami." ucap Joses.


"ngomong ngomong apa nama desa ini?" tanya Albert.


"desa ini belum mempunyai nama, penduduk disini juga sedikit jadi agak sulit untuk menentukan." ucap Joses memegang dagunya.


"kalau begitu kita pikirkan sekarang!" ucap Mikah.


"ah maaf, tapi sepertinya pekerjaan kita masih banyak, seperti ladang, lalu lumbung untuk persiapan musim dingin, saluran air untuk mandi warga desa, dan lain lain." ucap Joses.


"oh, kalau begitu kami akan bantu juga, lagipula kami juga warga desa jadi kita akan membantu!" ucap Dika.


dan waktu siang hari kami dipakai mengobrol karena kami terlalu sibuk bekerja jadi kami tidak memiliki waktu untuk mengobrol.


sore harinya kami mengirim Dika, Albert, dan Pati untuk mengecek bagian pulau yang belum tercapai oleh kami. nantinya bagian tersebut digunakan untuk distrik pertanian atau semacamnya.


"kalau begitu kami akan berangkat! kalian jaga diri ya!" ucap Pati bersalaman dengan Shaki.


"ya! kalian juga jaga diri!" ucap Shaki yang bersalaman dengan Pati.


sungguh kekanak kanakan mereka...


"kalau begitu kami berangkat." ucap Dika sembari berjalan.


setidaknya mereka membawa pedang dan bisa berpedang.


setelah mereka menjauh kami semua pulan ke rumah masing masing. aku bersama Julie, Lilith, dan Yuna; lalu Joses dengan Lulu; Miya dengan Yuuto; Arisa dan Yuri; lalu shaki dengan Mikah.


entah kenapa mereka seperti pasangan kekasih..


sementara Zakira, dia menempati rumah para laki laki tadi karena mereka pergi menjelajah pulau ini. mungkin mereka tidak akan kembali 1-2 bulan. karena pulau ini juga tidak terlalu besar maka ya mungkin 1 bulan cukup.


yup, setelah kembali ke rumah Yuna segera pergi ke dapur bersama Julie, sementara aku dan Lilith duduk di sofa. karena tidak ada kerjaan aku sempat memikirkan nama desa yang cocok untuk desa tanpa nama ini, tapi sepertinya terlalu sulit.


"papa! lihat, aku berhasil menulisnya!" ucap Lilith.


dia sedang belajar menulis karena di usianya yang menginjak 8 tahun dia harus bisa menulis, walaupun dia bisa belajar sihir sih...


aku menengoknya dan kemudian mengelus kepalanya dan berkata, "bagus, kemudian tulis nama papa disini." sambil menunjuk ke arah kertas yang masih kosong.


sementara menunggu makan malam aku terus mengajari Lilith cara menulis tulisan dunia ini. walaupun aku sebenarnya tak terlalu bisa menulisnya, aku hanya bisa berbicara antar sesama dan tidak bisa menulis secara lancar.


kekutan sihir ku tak terbatas, jadi aku jarang menggunakan sihir. ups keluar topik, mari kembali lagi.


tidak lama setelah menunggu Julie datang dengan membawa 2 piring ke arahku dan menaruhnya ke meja di sofa. bersama dengan Yuna yang juga membawa 2 piring kemudian menaruhnya. setelah itu keduanya kembali ke belakang dan kembali ke arahku membawa 4 gelas, dan 1 botol penuh air.


"selamat makan papa, mama, dan kak Yuna!" ucap Lilith mengambil sendok kayu dan kemudian memakannya dengan lahap.


menu hari ini hanya sayur yang bentuknya seperti bayam di bumi. tetapi rasanya adalah manis, jadi memasaknya dengan cara diberi garam saat direbus lalu di rebus kembali dan diberi bumbu.


sebenarnya itu yang kulihat, karena aku tidak tahu apa nama bahan bahan itu maka aku menyimpulkannya dengan seperti itu. ya, kalian pasti mengerti kan...?


mari kesampingkan itu sekarang kami akan menyantapnya.


"kalau begitu aku akan memakannya juga." ucapku mengambil sendok kayu dan mulai memakannya.


hm... rasanya enak. rasa manisnya masih terasa tetapi ditambah dengan sedikit potongan daging yang asin dan bumbu yang tercampur rasanya jadi bersatu.


kami semua memakannya dengan lahap hingga habis kemudian minum pada botol yang sudah di siapkan. bukan botol sih, lebih tepatnya seperti teko tetapi bentuknya panjang.


setelah kami selesai makan malam kami segera pergi ke kamar masing masing untuk tidur.


continue....