
malam ini aku merasakan hawa membunuh lagi, meskipun semua sudah tidur. aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. aku tetap waspada. walaupun aku mengantuk. yah, bagaimanapun aku harus tetap mewaspadai.
aku haus. aku keluar dari tempat tidur menuju ke dapur kapal. di sana gelap. seperti ada yang mengawasi.
"siapa di sana? aku tahu kamu di sana." ucapku menengok.
"owh, ternyata kamu menyadarinya ya." ucapnya.
darimana asalnya? kenapa bisa?
"siapa kau?" tanyaku.
seorang gadis? ada apa dengannya?
"aku? aku adalah perompak kapal!" ucapnya dengan bangga.
"jangan bercanda, perompak kapal cuma 1 orang. di mana yang lainnya?" ucapku sambil meminum air yang ku tuang di gelasku.
"eh? ah, ya. sepertinya hanya aku sendirian." ucapnya.
perompak macam apa kamu ini.
"apa tujuanmu?" tanyaku.
"aku, aku tadinya hidup di pulau itu..." ucapnya.
"hm? lalu? apa yang kamu lakukan? kenapa kamu berniat menyerang kami?" ucapku.
"hm? ah, sebenarnya aku..."
ada apa dengan gadis itu? tidak terlihat seperti anak buangan, dengan baju serapi itu. tidak, tidak, tidak, tidak mungkin dia hidup sendirian?
"apa kamu bertahan hidup sendirian di pulau itu?" ucapku.
"ya... orang tua ku membuang ku ke laut, saat itu aku berusia 7 tahun, ketika aku terombang ambing dengan puing puing kapal tak sengaja aku menemukan sebuah pulau." ucapnya.
"jadi sekarang usia berapa kamu?" tanyaku.
"kalau tidak salah, 10 tahun." ucapnya.
apa? 10 tahun? berarti 3 tahun yang lalu dia sampai, tetapi kenapa dia punya pakaian itu?
"lalu, darimana kamu dapat pakaian tersebut?" tanyaku.
"ini, aku dapat ketika aku tidak sengaja menemukan sebuah goa dengan sebuah peti." ucapnya.
hm?
"baiklah, namamu siapa?"
"namaku Karin." ucapnya.
"kalau begitu cari tempat tidur kita lanjut besok dan jelaskan semuanya pada mereka." ucapku sambil kembali ke kamar.
aku masuk ke kamar dan kemudian tertidur.
...****************...
keesokan harinya, aku bangun seperti biasa. entah tidurku telat atau awal aku selalu bangun pagi, walau tidak terlalu pagi. mungkin sekitar jam 7 atau entahlah, tidak ada jam di sini.
aku duduk di tempat tidurku, di sampingku sudah tidak ada lagi Julie. sepertinya dia sudah bangun. aku berdiri dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil minum.
aku menyapa mereka berdua "pagi..." dan mereka menjawabnya dengan "pagi juga." walaupun ya, sebenarnya cukup membosankan.
aku segera meminum air dan kemudian ke atas kapal. angin pagi berhembus, rasanya dingin. tetapi matahari menghangatkan anginnya. aku melihat Karin duduk di tepi sana.
aku mendekat dan menyapa, "pagi Karin." ucapku.
"ya, pagi."
"semalam tidur di mana?" tanyaku.
"aku tidur di dekat dapur dan bangun sebelum yang lain tahu." ucapnya.
begitu ya.
"apakah kamu tidak ingin menceritakannya kepada yang lain?" tanyaku.
"mungkin nanti." ucapnya sedikit ragu.
"baiklah, kalau begitu." ucapku menjauh dan kemudian melihat matahari terbit yang muncul di cakrawala.
sungguh pemandangan yang indah, aku menikmatinya sendirian tanpa siapa pun. aku tidak tahu kalau akan seindah ini. bagaimanapun kita sudah dekat dengan benua utama.
tidak aku sangka akan selama ini. kupikir akan cepat, aku ingin pulang.
"Satou! sarapan siap! turunlah ke bawah!" ucap Miya dari bawah berteriak.
"baik! aku ke sana!" teriakku.
"kamu juga ikut, ceritakan yang semalam itu." ucapku menariknya.
sesampainya di bawah atau di dapur.
"Satou, siapa dia?" tanya Yuuto.
"dan kenapa dia bisa di kapal ini?" tanya Miya.
Julie hanya diam. hm? ada apa?
"namanya Karin. nah, coba ceritakan." ucapku.
dia mulai menceritakan yang dia alami seperti yang diceritakannya ke aku. ya, lagipula aku sudah mendengarnya semalam.
...****************...
siang harinya Yuuto berteriak, "kita sudah sampai!" sambil terlihat senang.
oh? sudah sampai kah?
"aku melihat banyak kapal di sini." ucap Miya yang senang.
Julie hanya tersenyum seperti biasa.
"pemandangan yang luar biasa." ucap Karin.
tentu saja ia baru saja melihat sebagian, dan yah, dia masih berumur 10 tahun. masih terlalu muda.
continue....