Demon King: Another World

Demon King: Another World
Pengkhianatan



Aku kembali dari quest dan melapor ke guild.


"Aku selesai dengan questku hari ini. Bisakah aku mengambil hadiahku?"


"Ya tentu saja, ini hadiah mu."


Aku mengambil hadiahku dan kemudian aku dipanggil oleh suara yang kukenal, dan ketika aku menoleh dia berkata,


"Hey pemula, kita bertemu lagi, bagaimana quest keduamu?"


Orang itu adalah Kugi dari Party Grace yang sebelumnya pernah kutemui.


"Yahh, semuanya lancar sih.."


Ucapku kepada Kugi.


Dia tersenyum ramah dan berkata, "Hey pemula, bagaimana kalau kamu bergabung dengan party ku?"


Eh? Yang benar saja? dia asal merekrut anggota?


"Eh...? Apa kamu yakin merekrut tanpa bertanya dengan Leon?"


Ucapku kepadanya yang tengah tersenyum.


"Ya! Sebenarnya dia sudah berencana untuk merekrutmu sih semalam?"


Ucapnya yang kemudian merubah ekspresinya yang semula tersenyum menjadi ekspresi bingung dan seolah bertanya kepada dirinya sendiri.


Hmm sebenarnya ini sedikit menguntungkanku dalam mencari uang sih....  Yah apapun itu lebih baik kuterima saja..


"Baiklah, kuterima!"


Ucapku dengan semangat.


Setelah kejadian itu, aku resmi menjadi anggota sementara party Grace, dan kami sering mengambil quest bersama, lama kelamaan aku menjadi dekat dengan seorang archer di party itu. Dia bernama Saisa, Dia adalah orang yang mudah terbuka dengan orang lain, biasanya kami menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikan quest dan kemudian pulang kembali ke tempat kami masing masing, disini aku hanya sebagai anggota sementara karena aku memiliki tujuan yang sedikit berbeda dari mereka, Tujuan party mereka adalah mencapai rank tertinggi yaitu Rank S dan menjadi yang terkuat di kota ini. Yah.. Aku tidak akan berkata apa apa sih... Singkat cerita, kami menjalani quest bersama selama berbulan bulan dan akhirnya party kami mencapai rank A, disini kami memutuskan untuk mengambil quest yang lebih sulit dibanding sebelumnya agak kami bisa lebih kuat lagi dan menambah keuntungan party kami.


"Hm.... Quest...."


Kugi melihat dengan seksama.


"Uwah... quest ini membosankan semuanya...."


Ucap Saisa yang menguap sambil mencari quest yang menurutnya menarik. Sebelum itu, aku melihat Leon yang menarik secarik kertas dan kemudian berkata kepada kami semua.


"Hey! teman teman, aku menemukan quest yang menarik, disini tertera 'Investigasi desa' sepertinya akan menjadi menarik."


"Eh... investigasi desa... Bukankah itu malah membosankan...?"


Ucap Kugi mengeluh.


"Mhmm, sepertinya menarik."


Ucap Zifa yang pendiam berkata dengan nadanya yang halus dan tipis.


"Baiklah! Kita ambil ini!"


Dengan semangat Leon berlari ke arah resepsions dan mendaftarkan quest tersebut.


"Hm... Baiklah, semoga diberi kelancaran!"


Ucap perempuan staff resepsionis itu kepada kami yang akan berangkat.


Selama perjalanan kami bertemu dengan beberapa monster seperti Giant ant, Wild Boar, Orc, dan goblin. Namun semua itu dapat diatasi dengan mudah oleh kami. Sebelum itu, Leon berkata bahwa dia bisa membuat ramuan apa saja. Hm... Kukira healer itu hanya bisa menyembuhkan, ternyata dia juga bisa melakukan alchemy.


"Hm.. Hari kedua, karena hari mulai gelap, mari kita bermalam disini."


Ucap Kugi yang kemudian membuat sebuah api, sedangkan Leon membuat 2 buah tenda. Kami membawa bekal yang cukup untuk perjalanan ini jadi kami tidak perlu berburu. Untuk perjalanannya sendiri kami membutuhkan 2 hari 1 malam untuk sampai ke desa tersebut dengan berjalan karena tidak ada pedagang yang akan kearah desa itu, dan lokasinya yang tidak terlalu jauh. Desa itu sendiri bernama desa Latonya. Sebuah desa kecil yang tak jauh dari kota.


"Oke! Semuanya beres!"


Ucap Leon yang selesai membuat tenda.


"Api juga sudah siap! Ayo kita makan!"


Ucap Kugi. Kami semua berkumpul di sekitar api Unggung untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara pada saat itu. Ah... Ini sedikit membuatku bernostalgia. Ketika semua telah berakhir. Aku mengusulkan untuk tetap terjaga karena aku sendiri memang tidak bisa tidur. Sambil meratapi api unggun yang masih menyala, Terdiam sunyi dengan beberapa suara angin yang menerpa pepohonan. Ditemani dengan suara serangga malam yang berbunyi seakan mereka berkomunikasi.


"Ah... Satou.. Kamu tidak bisa tidur?"


Ucap Saisa yang berjalan kemari sambil melihat sekitar yang kemudian duduk di sebelahku.


"Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu kepadamu?"


"Ahaha... Yah, aku sendiri tidak mengantuk... Satou... Kamu tau alasanku mengapa aku bergabung?"


"..."


"Yap, sebenarnya aku ini adalah yang terlemah di tim ini. Aku sedikit tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku sendiri lemah, aku terus berusaha sebaik mungkin namun semuanya sia sia... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan ketika aku yang lemah ini menjadi bagian dari mereka..."


Dia seketika berkata dengan nada yang sedikit aneh sambil mendekap lututnya seolah dia memeluknya.


"Sebenarnya kamu tidak lemah, justru aku yang lemah, tujuanku sebenarnya adalah untuk mencari sebuah sihir. Sihir yang entah aku sendiri tidak mengetahuinya."


"Eh? Sebuah sihir? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"


"Entahlah, aku tidak mengerti..."


Aku sebenarnya hanya ingin mencari sebuah informasi skill saja sih... Mari kita buat seolah kita sedang membutuhkan sebuah sihir itu..


"Dari yang aku dengar dari beberapa petualang di sekitar, ada sebuah item buku yang bisa menjawab semua pertanyaan itu... Namun aku tidak tahu dimana letak dungeon itu, Yah... Walaupun aku berkata demikian, kamu tidak mungkin akan kesana bukan?"


Ucapnya dengan tawa kecil.


"Hm... Itu informasi yang menarik, namun mari selesaikan quest ini terlebih dahulu, aku mungkin akan ke dungeon itu jika sempat..."


"Eh? Jadi benar ingin kesana...? Aw... Seharusnya aku tidak mengatakannya..."


Ucapnya merasa bersalah.


Ucapku menenangkan Saisa yang sepertinya tidak menyarankanku untuk pergi. Yah, tidak ada salahnya mendapatkan informasi itu. Paling tidak aku harus mengunjunginya.


Setelah kejadian itu, sang fajar pun datang bersinar, beberapa dari anggota party mulai bangun dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya, hingga akhirnya kami sampai di desa Toranya. Desa kecil yang penduduknya mayoritas bekerja sebagai petani dengan kegiatan barter sebagai penunjang ekonomi mereka. Cukup primitif untuk melakukan kegiatan ekonomi melalui barter.


Kami dipertemukan oleh kepala desa dan memulai investigasi dengan berjalan menyusuri hutan, Di tengah tengah investigasi, kami menemukan bahwa ada sebuah desa ogre di dekat desa Toranya, mungkin alasan banyaknya serangan dari monster lain adalah desa ogre, monster lain yang takut dengan ogre memilih untuk menghindar tapi malah bertemu dengan desa Toranya. Akhirnya, keputusan kami adalah memilih 2 orang untuk kembali melapor ke guild dan orang yang melaporkan keadaan itu adalah Leon dan Kugi. Sisanya Saisa, aku dan Zifa menetap di desa untuk berjaga dari serangan monster yang mendekat.


Setelah menunggu beberapa hari, Leon dan Kugi yang kembali dari guild berkata bahwa guild memutuskan untuk menghabisi desa ogre itu. Kami semua kemudian pergi dan menghabisi mereka tanpa tersisa termasuk merobohkan bangunan dari desa ogre itu. Setelah merobohkan kami mengumpulkan beberapa bukti pembasmian, dan kembali ke desa Toranya untuk memastikan bahwa kami telah selesai dengan investigasi penyebab datangnya monster. Untuk kedepannya monster tidak akan menyerang Desa itu sesering sebelumnya.


Setelah kembali dari guild, aku berpisah dari party, mereka berencana mengambil quest lain lagi dan kemungkinan akan pulang sedikit larut, sedangkan aku sendiri memutuskan untuk berkeliling di sekitar hutan untuk mencari dungeon, namun ketika aku mencarinya bahkan hingga matahari hampir terbenam, aku tidak menemukan keberada dari dungeon.


"Hah... Sebenarnya dimana letak dungeon itu.."


Aku mengeluh kepada diriku sendiri dan berjalan kembali ke arah kota untuk makan sekaligus beristirahat. Namun dalam perjalananku kembali, aku melihat sebuah asap api unggun yang masih menyala.


"Hm? Sepertinya ada seseorang yang bermalam disini, ada baiknya aku bergabung dengan mereka untuk makan..."


Gumamku ketika berbicara. Karena hari sudah gelap dan dingin aku memutuskan itu dan berjalan kearah api unggun itu. Sekitar tak jauh dari api unggun itu, terlihat beberapa orang tergeletak lemas disekitarnya.


Mereka tertidur? Tidak mungkin mereka akan tertidur sedangkan matahari barusan tenggelam. Uh... Aku lapar jadi apa aku harus berhenti atau... Akhh! Aku akan mengeceknya.


Keputusanku benar dan aku mengecek, beberapa dari mereka mati dan di panelku tertulis.


[status :


Nama : Kugi


Level : 35


Ras : Human


Job : heavy warrior


Title : The ones who heal the friends with non-healers job. ]


[status :


Nama : Saisa


Level : 36


Ras : Human


Job : Archer


Title : Eagle's eye. ]


[status :


Nama : Zifa


Level : 48


Ras : Dark elf


Job : Witch


Title : Wise girl, Dark Chanting.]


Eh? Mati? Ha? Ini... Mimpi..?


Aku yang terkejut seketika membeku dan tidak bisa berkata untuk beberapa saat.


Karena aku merasa tidak percaya, aku memeriksa keadaan mereka kembali dan memeriksa denyut nadinya.


".....Ng"


Dengan suara kecil seperti seseorang meminta tolong dari arah lain.


Zifa!?


Aku segera menggunakan beberapa ramuan anti racun dan potion heal yang kubawa karena aku membelinya.


"Uh..."


Aku membantu Zifa duduk dan meminumkannya, Setelah beberapa saat potion mulai bekerja, Zifa yang telah sepenuhnya sadar menangis dengan suaranya yang kecil.


Sekilas aku melihat mereka sepertinya sedang makan dan makanan itu mengandung racun? Party Grace sepenuhnya terbantai oleh racun... Tidak untuk Zifa yang ternyata cukup kuat untuk menahan racun menyebar di tubuhnya. Aku menunggu beberapa saat agar Zifa berhenti menangis dan setelah itu bertanya apa yang terjadi.


Dia berkata bahwa Leon berkhianat dan membunuh semua party Grace dengan racun. Sebelumnya Zifa sempat melihat Leon menaburkan sebuah potion aneh, karena kecurigaan itu Zifa merapal mantra sihir untuk meningkatkan tubuhnya dan itu membuatnya bertahan lebih lama dari teman temannya.


"...."


Dia terdiam tanpa harapan dan terus menatap temannya yang sudah kaku.


"Aku tidak bisa melakukan apapun karena aku terkena racun... Maafkan aku..."


Lanjutnya setelah berdiam beberapa saat. Aku akhirnya memutuskan untuk membawanya ke guild dan melapor supaya mereka berdua di makamkan dengan layak. Dari pengkhianatan itu, Zifa kemudian berinisiati untuk mencarinya di rumah bersama, tetapi ketika kami berdua mengecek, keadaan rumah sudah kosong dan tidak ada apapun yang tersisa.


"Leon..."


Zifa yang sudah tak memiliki arti hidup dengan pasrah jatuh tertekuk.


"..."


Semua ini memang tak ada hubungannya denganku tapi, mari kita sedikit menenangkan Zifa...


"Hey, sebaiknya ayo kita bertanya kepada penjaga gerbang, mereka pasti tahu kemana Leon akan pergi."


"...Benar juga, mungkin mereka tahu..."


Seakan perkataan ku tak berpengaruh terhadapnya.


Akhirnya aku menunggunya hingga dia menyerah dan aku mengajaknya ke penginapan yang sama denganku untuk makan dan beristirahat.


Continue....