Demon King: Another World

Demon King: Another World
masalah baru



pagi tiba, kami menuju meja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar dan membayar biaya penginapan kami, kemudian kami sarapan di bar penginapan tersebut dan segera menuju ke rumah teman Joses. orang itu bernama Gin Elbow.


"hm... dimana rumahnya? kenapa cuma diberi surat?" tanya Miya.


"ah... benar juga... bagaimana ini?" ucapku.


"kalau begitu ayo tanyakan pada resepsionis guild, mungkin dia tahu." ucap Yuuto.


"ide bagus! ayo!" ucap Miya.


dia menarik tangan Yuuto dengan semangat lalu kemudian segera menjauh.


"ayo, Julie! kita susul mereka!" ucapku.


"eh..? eh? tung.."


sebelum sempat menyelesaikan kata katanya, aku menarik tangan. sepertinya dia mengingat sesuatu. segera tidak lama setelah itu kami sampai di guild. dengan nafas terengah engah, kami masuk ke dalam guild.


"benar benar seperti biasa..." ucap Yuuto yang melihat sekeliling.


di sekelilingnya banyak petualang yang sedang duduk, entah itu sedang minum bir di pagi pagi begini, ada pula yang sedang sarapan, ada yang hanya sekedar mengobrol, dan ada juga yang sedang mencari request di papan yang penuh dengan kertas.


kemi segera mendekat ke arah resepsionis guild. resepsionis itu seorang perempuan, dengan telinga kucing.


"selamat pagi, apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap perempuan bertelinga kucing itu dengan ramah.


"ah Sicily, sudah lama ya!" ucap Yuuto membuka tudung jubahnya.


"ah! kamu, kamu yang ikut dengan Joses kan? kalau tidak salah... Yuuto!" ucap Sicily.


"ya! ngomong ngomong... aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." ucap Yuuto.


"oh? apa itu? lalu mereka?" ucap Sicily sambil memandangi kami bertiga.


"oh? aku Satou, ini istriku Julie, dan yang itu pacarnya Yuuto." ucapku membuka tudung kepalaku.


"oh? wajah yang familiar itu... apakah kamu pernah mengambil request di guild ini?" ucap Sicily.


"ya! saat itu aku sedang menolong Joses yang sedang terserang monster tanaman itu!" ucapku.


"benarkah? sudah aku duga.. wajahmu sangat familiar!" ucap Sicily sambil sedikit tertawa.


seperti yang aku harapkan dari resepsionis guild, pasti ingat...


"kalau begitu, apa yang kalian tanyakan?" tanya Sicily.


"ah itu, apakah kamu tahu rumah, seorang yang bernama Gin Elbow? katanya dia seorang petualang sekaligus peternak." ucap Yuuto.


"ah, aku tahu, tunggu sebentar." ucap Sicily.


dia segera berbalik dan menuju sebuah rak. membuka dan menutup setiap rak kemudian mengeluarkan sebuah peta.


"ini, kalian tahu area dekat pantai ini?" ucap Sicily.


kami semua mengangguk.


"kalau begitu coba kalian berjalan sedikit ke atas, lalu kemudian ada rumah dengan halaman luas. di situlah rumahnya." ucap Sicily.


"hm... okay, kalau begitu kami akan ke sana, terima kasih infonya Sicily!" ucap Yuuto.


"kalau begitu jaga baik baik pacarmu..." ucap Sicily yang sedikit menggoda kemudian tertawa.


wajah Yuuto dan Miya seketika memerah, tetapi Miya menutupinya dengan tudung jubahnya. kami meninggalkan guild dan kemudian berjalan sesuai arahan itu.


"apakah kalian semua kenal dengannya?" tanya Miya yang bingung setelah keluar dari guild.


reaksinya aneh. apakah cemburu karena mereka terlihat dekat? aku tahu kalau resepsionis guild itu harus ramah, maka tidak heran akan terlihat dekat dengan beberapa petualang.


"hm? ya, dulu saat aku mendaftar dia yang mengajariku. aku banyak di selamatkan oleh dia." ucapnya.


"hm..."


Wajahnya sedikit murung.


dia pria yang berani ya? biasanya dia akan ragu ragu, antara akan memegangnya, atau tidak. kesampingkan itu, kami terus berjalan dan di tengah perjalanan kami membeli beberapa buah.


kami sampai di depan rumah, dengan pagar yang membentang luas, terdapat sapi, kuda, domba, kambing, dan keledai. mereka berkeliaran, dan sesaat aku melihat kereta kuda, dan kuda milikku.


kami menghampiri rumah tersebut, dan kemudian mengetuk pintu rumah tersebut.


*tok... tok...*


"permisi... benarkah ini rumah Gin Elbow?" ucap Yuuto.


seseorang membuka pintu. seorang pria besar, dengan janggut coklat dan rambut coklat.


"ya, apakah ada yang bisa saya bantu? siapa kalian?" ucap pria itu.


"ah, kami teman Joses, kami seorang petualang dan kami mendapat request mengirim surat kepada anda." ucap Yuuto.


agak aneh menyebutnya request. ini lebih seperti suruhan, daripada request. lagipula tidak mendapat bayaran, request macam apa ini?


"oh? memang dia sedang apa? di mana dia?" tanya pria itu.


aku segera menjawabnya sebelum terjadi sesuatu yang merepotkan.


"ah, ini buka request. ini permintaan pribadi Joses. kami dari rumah baru Joses, dan saya sendiri punya permintaan." ucapku.


"oh? begitukah? kalau begitu silahkan masuk." ucap pria itu.


dia membuka penuh pintu itu, dan kami masuk ke dalamnya. rumahnya lumayan lebar... dengan lantai kayu yang sedikit tua.


"ini, surat dari Joses." ucapku.


aku menyerahkan selembar surat kepadanya dan dia membuka kemudian membacanya. kami semua menunjukkan wajah kami kecuali Miya. ya, kalian tahu kan?


"oh.. begitukah? hm..."


pria itu berbicara kepada dirinya sendiri sambil membaca surat itu.


"aku mengerti, jadi kalian yang menitipkan kereta kuda dan kuda itu ya." ucap pria itu.


"ya, itu kami." ucapku.


"wah... kuda kalian sangat cantik, apalagi perawatannya sangat hebat!" ucap pria itu.


dia seperti orang yang jatuh cinta pada hewan...


"kalau begitu, namaku Gin Elbow. teman temanku memanggilku Gin." ucap pak tua Gin.


"ah, aku Satou, istriku Julie, pria itu Yuuto, dan yang itu, Miya pacarnya." ucapku menjelaskan.


"ah, senang bertemu denganmu." ucapnya sambil tersenyum.


"tetapi rumah ini benar benar hebat ya..." ucap Yuuto.


"kalau begitu aku akan siapkan kereta kuda itu." ucap Gin.


setelah sedikit mengobrol sambil melihat Gin mempersiapkan kereta kuda. kami berpamitan dengan Gin lalu berangkat.


kami segera keluar dari kerajaan Roxane dan menuju kerajaan Osmantus. kami melewati gerbang kerajaan dengan beberapa prajurit sedang memeriksa seseorang yang masuk.


karena angin yang berhembus kencang tudung milik Miya terbuka dan telinga elfnya terlihat. prajurit yang melihatnya sekilas seketika berhenti memeriksa. gawat! Miya segera memperbaiki tudungnya dan kami segera menjauh.


[pandangan seorang prajurit pemeriksa.]


hm... menarik, aku akan menculiknya.


"baiklah! selanjutnya!" terikat salah satu prajurit lain.


sepulang dari pemeriksaan aku menyewa tentara bayaran untuk menculik elf tersebut. aku harus mendapatkannya dan menjualnya! aku akan kaya!!!


continue...