
setelah kami selesai kami segera masuk ke kamar kami sendiri. yup, aku langsung duduk ke kasur.
"hari yang aneh..." ucapku sambil menghela nafas.
"ahaha, suamiku, kamu terlihat kelelahan. aku akan memijat mu lho." ucap Julie dengan nada meninggi.
"apakah tidak apa? nanti kamu juga akan kelelahan loh..." ucapku.
"ahaha, lagipula aku tidak melakukan apa apa loh, selain mengerjakan pekerjaan rumah." ucap Julie yang mendekat.
"baiklah, kalau kamu memang tidak apa apa." ucapku pasrah.
kemudian Julie memulai memijat bahu ku, aku menikmati pijatan tersebut hingga akhirnya aku menyandarkan badanku ke badan Julie.
"sepertinya suamiku sudah tidur ya..." ucapnya.
aku mendengarnya samar samar, kemudian pandanganku mulai gelap dan akhirnya aku tertidur. akhirnya Julie meletakkan tubuhku di sebelahnya dan mulai tidur di sebelahku.
...****************...
pagi harinya aku terbangun lebih awal dari siapapun. hari ini tubuhku seperti terlahir kembali, mungkin karena Julie memijatnya?
aku duduk kemudian segera membuka gorden yang menutupi kaca jendela. cahaya masuk ketika aku membukanya. yup, seketika itu Julie terbangun dan duduk.
"selamat pagi, suamiku." ucap Julie dengan nada lelah.
"pagi, Julie, apakah kamu lelah?" tanyaku.
"tidak hanya sedikit tidak enak badan." ucap Julie.
akhir akhir ini badannya lebih lemah dari biasanya. aku juga tidak mengerti apa yang terjadi.
"apakah kamu memaksakan diri lagi?" tanyaku khawatir.
"tidak apa apa kok, lagipula aku juga belum menyelesaikan semua pekerjaan di desa." ucap Julie berusaha bangun.
aku mendekat, kemudian duduk di sampingnya dan mengelus kepalanya.
"tidak apa, jangan membuat yang lain khawatir ya." ucapku tersenyum.
sebenarnya aku yang khawatir memaksakan senyum terlukis. semoga tidak semakin parah ya...
"tapi..."
"tidak apa kok biar suami mu yang menggantikan mu, aku akan meminta Yuna dan Lilith menunggu di sini, jadi kamu tiduran saja dulu." ucapku mengelusnya.
"baiklah, kalau begitu, hati hati ya waktu kerja." ucap Julie kembali tiduran.
"aku berangkat dulu." ucapku berpamitan
aku keluar dari kamar dan menuju ruang makan. di sana sepertinya Yuna sedang menyiapkan sarapan.
"pagi tuan, dimana nyonya?" ucap Yuna.
"ah, dia sedang sakit di kamarnya, tolong jaga dia. berikan dia bubur untuk sementara, sepertinya dia hanya demam." ucapku.
"saya akan berusaha sebaik mungkin." ucap Yuna sambil menghadap ke aku.
"kalau begitu ku serahkan padamu. aku berangkat!" ucapku keluar rumah.
hari ini semua warga datang di sebuah lahan kosong untuk membuat ladang. warga yang bertugas sebagai petani adalah Shaki dan Yuuto.
"ayo selesaikan hari ini juga!" ucap Shaki berteriak.
"dimana Julie?" tanya Arisa.
"sakit demam." ucapku.
"eh? benarkah? kalau begitu nanti kami akan ke sana."
"tidak tidak, tidak perlu. dia terkena demam karena kelelahan jadi besok akan baik baik saja, lagipula ada Yuna dan Lilith di rumah." ucapku.
"benarkah? yah, memang lebih baik tidak mengganggu istirahatnya." ucap Arisa sedikit kecewa.
kami semua mengerjakan pekerjaan hari ini seperti menggemburkan tanah, lalu memberi pupuk dan menanam biji pada setiap 10 meter.
karena biji itu akan tumbuh pohon berbuah jadi kami memberikan jarak yang lumayan jauh. yah, setelah menanamnya kami semua menyiramnya bersama. walaupun matahari sudah berada di atas kepala kami masih terus melanjutkannya. setelah bekerja selama hampir 5 jam.
kami selesai mengerjakannya, karena ladang tidak terlalu luas dan juga bukan untuk sayuran maka dari itu kami tidak terlalu lama. kami semua pulang ke rumah masing masing untuk beristirahat.
"aku pulang!" ucapku membuka pintu rumah dan masuk menuju dapur.
"selamat datang kembali papa!" ucap Lilith berlari menyambut ku dengan pelukan kecil di kaki ku karena dia masih berusia 8 tahun.
"ah, apakah ada orang di rumah?" tanyaku sedikit heran melihat anak 8 tahun itu berada di dapur.
"hm? Yuna tadi keluar untuk mengambil sayuran yang barusan sampai dari luar pulau." ucap Lilith.
eh? apakah tidak akan busuk berjalan selama hampir 1 bulan membawa sayuran begitu?
"sayurannya tidak akan busuk karena mereka menggunakan sihir!" ucap Lilith.
oh? bisa membaca pikiran? atau karena wajahku?
"lalu siapa yang mengirim orang itu?" tanyaku kepada bocah 8 tahun yang tak lain adalah Lilith.
"ah, katanya dia teman Joses dari guild petualang." ucap Lilith.
"surat?"
"ya!" ucap Lilith kemudian meninggalkanku.
aku segera duduk di sofa dan kemudian bergumam, "hari yang melelahkan..." sambil menghela nafas.
kemudian aku berjalan menuju kamarku. di sana aku melihat Julie tertidur di kasurnya, aku masuk dengan mengetuk pintunya. tanpa sadar ternyata ketukan tersebut membangunkan Julie.
"oh, Suamiku sudah pulang?" ucap Julie menengok ke arah aku masuk.
"aku pulang, bagaimana keadaanmu?" tanyaku.
"sudah lebih baik. bagaimana pekerjaanmu? apakah sudah selesai?" ucapku kemudian bertanya kembali.
aku duduk di sebelah Julie terbaring dan mengelus kepalanya.
"lain kali jangan memaksakan diri ya.." ucapku yang sedang mengelus kepalanya.
entah kenapa aku ingin menghentikan waktu untuk kedua kalinya.
continue...