
Lu'er yang tengah memperhatikan Wajah dari Pangeran Rui, tampak tatapan Mata dari Lu'er, menunjukkan rasa penasaran kepada Pria itu.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya, Lu'er yang segera menepuk Lengan kanan dari Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang tengah terlamun, dengan cepat dia kembali tersadar dan mulai memperhatikan Wajah Lu'er.
"A.. Ah tidak ada." Jawab, Pangeran Rui yang tengah menatap Wajah Lu'er dengan sedikit terkejut.
Lu'er tampak heran akan sikap dari Pangeran Rui, lalu... Dia segera memalingkan tubuhnya ke arah Taman yang cukup luas didepan Matanya.
"Tempat ini cukup ramai, apakah kau tidak takut jika akan ada seseorang yang mengenalimu?" tanya, Lu'er yang segera menolehkan Wajahnya ke arah samping kiri, untuk dapat melihat Pangeran Rui.
Pangeran Rui terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Lu'er, kemudian dia segera memalingkan tubuhnya dan mendekatkan diri tepat dipegangan Jembatan.
"Itu bukan masalah, karena sebenarnya itu adalah rencanaku." Ucap, Pangeran Rui yang tengah memperhatikan ke arah depan.
Lu'er yang mendengar perkataan dari Pangeran Rui, sungguh dirinya merasa amat bingung, dia yang masih memperhatikan Wajah Pangeran Rui terlihat jelas raut Wajah penasaran darinya. Lalu, Pangeran Rui segera menolehkan Wajahnya ke arah samping kanan, untuk dapat melihat diri Lu'er.
"Apa maksud dari ucapanmu itu? Bukankah selama ini kau selalu menyembunyikan diri, agar Ayahmu tidak mengetahui dimana keberadaanmu?" kata, Lu'er yang terlihat begitu sangat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi dengan Pangeran Rui.
Pangeran Rui menganggukkan Kepalanya dihadapan Lu'er, kemudian dia segera menyentuh Hidung Lu'er dengan jari telunjuk kanannya.
"Semua ini aku lakukan, bukan karena Ayahku, tetapi untuk Istanaku." Jawab, Pangeran Rui yang segera menurunkan Tangannya.
Lu'er cukup terkejut saat Pangeran Rui melakukan hal itu kepada dirinya. Saat dia mendengar Pria itu menjawab dengan lantang atas pertanyaannya, kini Lu'er sadar apa yang sebenarnya diinginkan oleh Pangeran Rui.
"Jadi maksudmu, kau ingin memancing keluar Anak Dewa itu dari tempat persembunyiannya? Tetapi untuk apa? Bukankah, kau bilang sebaiknya kau tidak akan pernah menemuinya?" raut Wajah Lu'er terlihat semakin bingung, dengan apa yang sedang Pangeran Rui pikirkan.
"Ternyata kau cepat sekali memahami maksudku, sebelumnya aku memang pernah berkata padamu, sebaiknya dia tidak akan pernah muncul dihadapanku, tetapi melihat kondisi di Istana yang semakin memburuk, membuatku harus benar-benar turun tangan, tidak mungkin itu perbuatan dari Raja, karena aku melihat dia juga sangat menderita." Kata, Pangeran Rui yang segera memalingkan pandangannya dari Lu'er. Tatapannya begitu dingin dan serius saat tengah memperhatikan jalanan dihadapannya.
Lu'er semakin mengerti, meskipun tidak semua dia memahaminya, dengan nada bicara tegas Lu'er kembali berbicara kepada Pangeran Rui.
"Jadi kekuatan yang tersegel itu sudah mulai meresahkan penduduk dan juga orang yang tinggal didalam Istana? Apakah kau tahu siapa gerangan Anak Dewa itu?" tanya, Lu'er yang masih memperhatikan Wajah Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang mendengar perkataan dari Lu'er, segera dia menatap Wajahnya lagi.
"Aku sudah menemukannya, dan aku mohon dengan sangat tolong menjauh darinya. Aku akan selalu melindungimu, Lin." Ucap, Pangeran Rui yang segera menghadapkan diri dihadapan Lu'er. Lalu, dia segera menyentuh Tangan Lu'er dengan erat. Tatapan yang diberikan oleh Pangeran Rui tampak begitu sangat dalam, sungguh Pria itu terlihat sangat menghawatirkan diri Lu'er.
Lu'er tertegun saat melihat sikap dan juga mendengar perkataan dari Pangeran Rui. Dia dibuat tak mampu berkata-kata dihadapan Pangeran Rui. Namun, timbul rasa curiga dalam benak Lu'er, akan seseorang yang dimaksud oleh Pangeran Rui.
"Aku tidak butuh perlindungan siapapun, aku cukup mampu untuk menjaga diriku sendiri, ingat, aku bukan seorang Wanita yang lemah lembut, jadi kau tidak perlu untuk merisaukanku." Dengan segera Lu'er menarik Tangan kanannya yang tengah digenggaman oleh Pangeran Rui. Lalu, Lu'er kembali memalingkan Wajahnya sambil terus memikirkan Pria yang dimaksud oleh Pangeran Rui. Dia terlihat masih penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Pangeran Rui.
"Iya, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu kepadamu, kau adalah Wanita yang berbeda." Kata, Pangeran Rui yang segera memalingkan tubuhnya, kemudian dia mulai menatap Bunga yang tengah berada dihadapannya. Tangan kanan Pangeran Rui dengan perlahan bergerak untuk dapat mendekati Tangan Lu'er. Lalu, tanpa berkata apapun Pangeran Rui menggenggam erat Tangan kiri Lu'er.
"Aku menyayangimu, Lin. Meskipun, kau tidak." Kata, Pangeran Rui yang masih memperhatikan Bunga yang tengah mekar dengan indah. Lalu, dia tersenyum simpul tanpa melihat Wajah Lu'er sedikitpun.
Lu'er tertegun saat mendengar pengakuan lansung dari Pangeran Rui kepada dirinya. Lalu, Lu'er mulai memalingkan pandangannya ke arah Pangeran Rui, dia hanya terdiam saat tengah memperhatikan Wajah dari Pangeran Rui. Lu'er, tak berkata apapun dia kemudian mulai memperhatikan Suling yang tengah Pangeran Rui genggam ditangan kirinya.
"Bisakah kau memainkan satu lagu untuk aku dengarkan, Pangeran?" kata, Lu'er yang segera menatap Wajah Pangeran Rui.
Pangeran Rui segera memalingkan Wajahnya, dia tersenyum kecil saat Lu'er berkata seperti itu kepada dirinya.
"Tentu saja, aku bersedia." Jawab, Pangeran Rui yang segera melepaskan genggaman tangannya.