
Setelah malam tiba, Lu'er tampak tengah duduk diatas Kursi sambil memandang Wajahnya yang berada didalam cermin, ia melirik ke arah kanan dan kiri, tak didapatinya Sistem Dewi, semua tampak begitu sangat sunyi. Hadirnya begitu sangat misterius dan perginya pun tak pernah ia ketahui.
Lu'er yang tengah terdiam dingin menatap Wajahnya yang saat itu berada didalam cermin, sungguh ia tampak tertegun ketika dirinya melihat sosok bayangan seorang Wanita dengan Wajah hancur dari dalam cermin itu, rambut cokelat panjang dan juga tampak ia tengah mengenakan pakaian biasa saja. Lu'er segera beranjak dari duduknya, bayangan Wanita itu terlihat begitu sangat menderita dan juga raut Wajahnya seperti begitu sangat kesal menatap dirinya.
Lu'er yang tengah berdiri tegak sambil menatap Wajah seorang Wanita dengan bola Mata merah dan juga Wajah cacat itu terlihat ia begitu sangat penasaran akan kehadiran dari sosok itu yang tiba-tiba saja menemui dirinya. Saat Lu'er tengah mengangkat lengan kanannya, dan ia hendak menyentuh cermin itu, terdengar suara ketukan pintu dan hal itu membuat bayangan Wanita dengan rupa cacat itu menghilang dari dalam cermin.
Lu'er dengan cepat menoleh ke arah kanan, sambil menarik kembali lengannya, kemudian dia kembali menatap ke arah cermin ternyata bayangan Wanita itu memang benar-benar telah tiada. Lu'er menghela napasnya, kemudian dia segera berjalan untuk dapat menghampiri pintu yang tertutup rapat itu.
Dengan perlahan Lu'er menggenggam daun pintu dan menariknya, dilihatnya seorang Pelayan tengah berdiri tegak dihadapannya, Lu'er tampak bingung apa yang tengah dilakukan oleh Pelayan itu yang tiba-tiba saja menemui dirinya dimalam hari begini.
Lu'er yang tengah mengenakan gaun panjang berwarna biru tua yang dipadukan dengan warna keunguan, tak lupa juga tampak motif bunga teratai biru yang menghiasi pergelangan tangannya, rambut hitam panjang yang dihiasi dengan mutiara putih yang begitu sangat mengkilap membuat diri Lu'er begitu sangat anggun dan menawan, Lu'er hanya terdiam ketika melihat kehadiran dari seorang Pelayan Wanita yang tiba-tiba saja menemui dirinya.
Pelayan Wanita itu tampak asing bagi Lu'er, karena dia baru melihatnya dimalam itu, Pelayan Wanita itu begitu sangat santun dihadapan Lu'er selain ia memberikan salam hormat ia juga memperkenalkan dirinya, sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuannya menghadap Lu'er.
"Maaf mengganggu waktu Anda wahai Putri Lin, perkenalkan nama saya adalah Fang Yin, saya Pelayan setia dari Permaisuri Jia Li, dia meminta saya untuk datang kemari karena ingin berbicara dengan Anda, belau sudah sangat menantikan kehadiran Anda didalam ruangannya." Ucap, Pelayan itu yang terlihat tengah menatap dingin Wajah Lu'er, sorot bola Mata biru itu tampak begitu sangat tenang.
Lu'er yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dari Pelayan itu, dan juga permintaan dari Permaisuri Jia Li yang ingin berjumpa dengan dirinya, hal itu begitu sangat janggal baginya. Namun... Lu'er tak menolak permintaan dari Permaisuri, dengan segera ia membalas perkataan dari Pelayan itu sambil menatap dingin Wajahnya yang terlihat tengah menyembunyikan sesuatu.
"Baiklah... Aku akan segera menemui Permaisuri, jadi bisakah kau mengantarkan diriku? Untuk dapat menemui Permaisuri Jia Li?" ucap, Lu'er yang terlihat begitu sangat tenang dan tampak sedikitpun ia tidak menunjukkan sikap curiga terhadap Pelayan itu.
"Baik, mari." Balas, Pelayan itu yang segera berjalan untuk dapat mengantarkan Lu'er.
Lu'er dengan segera mengikuti Pelayan itu, ia begitu sangat dingin, sorot dari bola Mata hijaunya itu terlihat begitu sangat tajam, tak lama kemudian Lu'er tibalah didepan sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat. Lu'er segera menghentikan langkahnya, ia menatap seorang Pelayan itu yang terlihat tengah bersujud sambil bersuara dengan nada bicara pelan.
"Permaisuri saya telah membawa Putri Lin kemari." Ucap, Pelayan itu yang tengah menundukkan kepalanya.
Tak lama kemudian terdengar suara yang tidak lain itu adalah Permaisuri Jia Li, ia dengan segera membalas perkataan dari Pelayannya itu dengan tegas.
"Biarkan dia masuk, dan kau kembalilah." Jawab Permaisuri Jia Li yang tengah berada didalam ruangannya.
Lu'er hanya terdiam, lalu ia segera berjalan untuk dapat memasuki ruangan itu, dengan perlahan ia mendorong pintu yang tertutup dengan hati-hati, dilihatnya Permaisuri Jia Li tengah terduduk diatas kursi kecil, sambil menatap diri Lu'er, terlihat lekuk senyuman, tatapannya pun begitu sangat hangat. Lu'er yang masih berdiri didepan pintu yang terbuka, hanya dapat terdiam raut Wajahnya tak ia ubah, masih dingin seperti sebelumnya.
Dengan perlahan Lu'er berjalan untuk dapat memasuki ruangan Permaisuri Jia Li, Pelayan yang tengah berada diluar terlihat tengah menatap Wajah Permaisuri Jia Li, lalu ia segera menutup kembali pintu itu dengan perlahan. Lu'er sedikit melirik ke arah belakang suasana ditempat itu begitu sangat canggung.
Setelah sudah berada pada jarak dekat dengan Permaisuri Jia Li, Lu'er menghentikan langkahnya, ia kemudian berbicara kepada Permaisuri Jia Li untuk menanyakan pertemuan yang sangat mendadak ini.
"Ada masalah apa wahai Permaisuri?" kata, Lu'er yang terlihat tengah menatap dingin Wajah Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li yang melihat tatapan Lu'er dengan segera ia membalas perkataan dari Lu'er, sambil terus memperhatikan dirinya.
"Duduklah terlebih dahulu wahai Putriku... Aku ingin berbicara dengan dirimu sambil meminum teh dimalam hari, bukankah hal semacam ini begitu sangat jarang sekali kita lakukan?" ucap, Permaisuri Jia Li yang segera mengambil teko berisikan teh hangat ke dalam dua cawan kecil dihadapannya.
Lu'er tampak tengah menatap curiga teh itu. Namun, dengan segera ia menuruti permintaan dari Permaisuri Jia Li, Lu'er segera duduk diatas kursi kecil, sedangkan dihadapannya ada dua cawan yang sama-sama berisikan teh hangat yang tengah berada diatas meja bundar, Permaisuri Jia Li kemudian memberikannya salah satu cawan berisikan teh itu kepada dirinya.
Lu'er yang melihat hal itu segera ia mengambil cawan itu, dan kembali ia letakkan diatas meja bundar.
"Terima kasih." Jawab, Lu'er yang kembali meletakkan cawan itu diatas meja.
Lu'er begitu sangat waspada dan hati-hati dihadapan Permaisuri Jia Li, terlihat Permaisuri Jia Li yang tengah menatap Wajah Lu'er yang begitu sangat dingin, dengan kelihaiannya dalam berucap, Permaisuri Jia Li seakan mendorong Lu'er untuk segera meminum teh hangat itu.
"Malam ini begitu sangat dingin, sebelum aku mengutarakan maksudku, sebaiknya kita meminum terlebih dahulu teh hangat ini, bukankah teh buatan seorang Bunda akan jauh terasa sangat nikmat?" ucap, Permaisuri Jia Li yang segera mengambil cawan berisikan teh itu, lalu dengan perlahan ia meminumnya.
Lu'er hanya terdiam ketika melihat sikap dari Permaisuri Jia Li yang begitu sangat mencurigakan.
"Dia meminum dari tempat yang sama, jika dia ingin mencelakai diriku... Hmh..." Dalam benak Lu'er yang segera mengambil cawan itu dengan lengan kanannya.
Lu'er sedikit menutupi Wajahnya dengan menggunakan lengan pakaiannya, dia menghirup teh hangat itu, sungguh ia dibuat semakin tertegun, sedikitpun ia tidak mencium aroma racun atau apapun, hanya aroma daun teh hijau yang begitu sangat melekat kuat, tanpa ragu Lu'er segera meminumnya, sambil menundukkan kepalanya.