
Setelah Lu'er telah usai menghabiskan ramuan yang diberikan oleh Pangeran Rui kepada dirinya, tampak Rumi yang tengah memperhatikan Lu'er dengan tampang dingin, segera ia berbicara kepada Pangeran Rui dengan raut Wajah sedih dan menderita.
"Ah... Kakak, hmm... Pangeran, aku mohon tolong izinkan diriku tetap bersama denganmu, apakah kau begitu sangat tidak sudi bertemu dengan diriku. Huhu... Rumi, tidak ingin kembali ke Istana. Tidak ada satupun orang yang dapat memahami diriku kecuali engkau Pangeran." Ucap, Rumi sambil menunjukkan raut Wajah sedih, Kepalanya ia tundukkan, kini sepasang Matanya tengah menatap kedua Lengannya yang saat itu tengah berada didepan perutnya.
Pangeran Rui yang mendengar ucapan dari Rumi, segera ia memalingkan pandangannya untuk dapat melihat Rumi yang saat itu tengah berada disampingnya. Raut Wajah dari Pangeran Rui tampak dingin kepada Rumi, saat itu yang dia perdulikan hanyalah Lu'er.
"Terserah apa maumu, akan tetapi jika terjadi masalah apapun yang menimpa dirimu, kau harus siap menghadapinya, karena aku tak ingin masuk ke dalam masalah yang kau ciptakan sendiri!" Ucap, Pangeran Rui yang tengah menatap Wajah Rumi, dengan tegas ia mengungkapkan perkataan yang semacam itu kepada Rumi.
Lu'er yang masih berada dalam dekapan Pangeran Rui, tampak sorot Matanya kini tengah memperhatikan Wajah Pangeran Rui.
"Hmm, menarik." Dalam benak Lu'er yang saat itu Raut Wajahnya tengah menunjukkan kepuasan tersendiri ketika melihat kedua orang yang saat itu tengah berada dihadapannya, tengah saling menunjukkan ketegangan tersendiri.
Rumi yang mendengar perkataan dari Pangeran Rui, segera ia mengangkat Kepalanya untuk dapat melihat Pangeran Rui, ia sungguh amat tercengang. Bola Matanya terbelalak ketika Pangeran Rui telah usai berbicara dengan dirinya.
"Mengapa?! Meskipun berbagai cara telah aku lakukan, akan tetapi Kak Rui tidak pernah sekalipun melihat diriku! Dan sekarang, malah muncul seorang Wanita rendahan, jelas-jelas tidak ada masalah serius dengan dirinya, beraninya dia menggoda Kakak Rui ku, dasar tidak tau diri! Aku harus menyingkirkan dirinya!" Dalam benak Rumi yang tengah menatap tajam Wajah Lu'er. Sorot Matanya tampak tengah mengisyaratkan kebencian kepada Lu'er.
"Aku tidak akan pernah menyusahkan dirimu. Aku berjanji, keberadaan diriku disini untuk melindungimu dari mereka para Penjahat yang berkedok seperti orang yang lemah ataupun Malaikat dihadapanmu, aku mohon percayalah padaku." Jawab, Rumi dengan tegas kepada Pangeran Rui. Tampak ia begitu sangat menatap ketika berbicara semacam itu kepada Pangeran Rui.
Pangeran Rui kemudian memalingkan pandangannya lagi, ia menatap Wajah Lu'er dengan dalam dan lembut.
Lu'er dibuat tertegun ketika melihat sepasang Bola Mata milik Pangeran Rui, lalu dengan cepat Lu'er menunjukkan senyuman manis dihadapan Pangeran Rui.
"Maaf saja bagiku itu tidaklah cukup, kau harus menggantinya!" Ucap, Lu'er dengan tegas kepada Pangeran Rui. Sorot Matanya terlihat tengah menatap Wajah Pangeran Rui dengan sangat serius.
Pangeran Rui yang terlihat tak menyangka akan jawaban dari Lu'er. Segera ia kembali berbicara kepada Wanita yang tengah berada didalam dekapannya itu.
"Baiklah, lantas apa yang harus aku lakukan agar aku mampu mengganti malam yang buruk ini dengan sesuatu yang dapat menyenangkan hatimu, hmm? Katakanlah?" ucap, Pangeran Rui yang juga tengah menunjukkan raut Wajah serius dihadapan Lu'er.
Lu'er mengangkat alis kirinya, kemudian Bola Matanya sedikit mencuri ke belakang untuk dapat melihat Rumi yang sedari tadi masih berada ditempat itu.
"Hm... Aku pikir kau akan menggantinya dilain waktu, maafkan diriku Pangeran, aku rasa kau begitu sangat sibuk, jadi tidak akan pernah ada lagi hari-hari setelah malam ini." Ucap, Lu'er yang terlihat tengah menunjukkan sikapnya yang begitu sangat dekat dengan Pangeran Rui dibandingkan dengan Saudarinya sendiri.
Pangeran Rui yang mendengar jawaban dari Lu'er, segera ia membalasnya dengan cepat dan tegas.
"Kapanpun Lin, Karena.. Malam ini hanyalah permulaan saja." Jawab, Pangeran Rui yang terlihat sangat serius dalam perkataannya.
Rumi hanya terdiam dingin, Wajahnya tampak kesal ketika melihat kedekatan antara Lu'er dan juga Pangeran Rui.