
Saat sudah berada didalam tempat pemandian, ia begitu sangat tertegun ketika melihat suasana yang begitu amat sunyi ditempat itu, tak ditemuinya satupun Pelayanan Wanita yang seharusnya melayani dirinya.
Lu'er semakin tersadar bahwa hal itu memanglah sudah ada yang mengendalikannya, Lu'er menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, Lu'er kemudian membalikkan tubuhnya untuk berjalan agar dapat keluar dari dalam tempat pemandian, dengan segera ia menoleh ke arah kanan dan diri, sungguh begitu sangat tidak disangka tampak dari halaman depan Istana, beberapa Pelayan Wanita tengah mengelilingi Selir Dongli.
Lu'er menatap ke arah Selir Dongli dengan tatapan dingin, dia melihat Selir itu begitu sangat dimanjakan oleh para Pelayan Istana Kibo, sampai-sampai mereka lupa bahwa ditempat itu ada dirinya.
"Hmh... Satu Ular sudah berhasil aku kendalikan, dan sekarang datang Ular berbisa lainnya?!" Dalam benak Lu'er yang terlihat tengah menatap dingin Selir Dongli.
Di halaman depan Istana Kibo, tampak Selir Dongli yang tengah berjalan untuk dapat memasuki Istana Kibo, ke dua lengannya terlihat tengah digenggaman oleh dua orang Pelayan. Pakaiannya yang berwarna anggur tua terlihat begitu sangat mewah dan menawan, semua Pelayan Wanita begitu sangat mengagumi dirinya, bahkan kedatangannya begitu sangat disambut hangat oleh para Pelayan itu.
"Selir Dongli, apakah kau tau, jika hari ini Selir utama telah mendapatkan hukuman dari Kaisar Aximing, dia dikurung didalam ruang bawah tanah karena ia telah berani memfitnah Permaisuri Lin." Ucap, salah Seorang Pelayan yang tengah berada dibelakang tubuh Selir Dongli.
Selir Dongli yang mendengar kabar semacam itu membuat dirinya tertegun, lalu dengan cepat ia menoleh ke arah samping kanan untuk dapat berbicara kepada salah seorang Pelayan lainnya.
"Benarkah seperti itu?" kata, Selir Dongli yang tengah menatap tajam Wajah salah seorang Pelayan Wanita.
"Hal itu benar adanya, Selir Dongli yang terhormat." Jawab Wanita itu yang segera menurunkan kepalanya dihadapan Selir Dongli.
Selir Dongli terdiam dingin ketika mendengar hal semacam itu, kemudian dia memalingkan Kepalanya untuk dapat memperhatikan Istana Kibo yang begitu sangat megah.
"Hmm... Aku harus berhati-hati dengan dirinya, jika aku salah langkah sedikit saja maka semuanya akan hancur, dan aku tidak ingin bernasib sama dengan Fengying yang sangat bodoh itu! Hmmh! Tetapi, bukankah ini begitu sangat bagus... Jika Fengying berhasil disingkirkan maka lawanku hanya tinggal Lin Yar'an!" Dalam benak Selir Dongli yang terlihat tengah menatap tajam Istana Kibo.
Lu'er yang terlihat masih berdiri tegak sambil menatap tajam tingkah laku dari Selir Dongli dan juga para Pelayan yang tidak beretika itu, hanya terdiam sambil menunggu mereka sadar akan adanya dirinya ditempat itu. Ketika Selir Dongli tengah mengamati Istana Kibo yang begitu sangat besar, bola Matanya yang bulat, dengan warna hitam itu, tampak terbelalak saat melihat di sana sudah berdiri Lu'er dengan tampang dingin dan mencekam.
"Uh... Sejak kapan dia?! Tatapan itu...!" Dalam benak Selir Dongli yang segera menunjukkan raut Wajah gugup saat ia melihat Lu'er yang sedari tadi sudah memperhatikan dirinya dari kejauhan.
Selir Dongli dengan cepat menarik kedua lengannya yang tengah digenggaman oleh kedua Pelayan yang berada disampingnya itu, ke empat Pelayan yang tengah menggiring Selir Dongli tampak tertegun ketika melihat sikap dari Wanita itu, tak lama kemudian mereka segera menatap ke arah dalam Istana Kibo dilihatnya Lu'er yang berdiri dengan sorot Mata tajam dan juga dingin saat memandang mereka.
Langkah Selir Dongli segera ia percepat untuk dapat memasuki Istana Kibo, setelah ia menaiki anak tangga, Selir Dongli bermaksud untuk dapat mendekati Lu'er dan dia juga memberikan salam hormatnya kepada Lu'er.
"Selamat sore Permaisuri Lin." Ucap, Selir Dongli yang terlihat begitu sangat santun dihadapan Lu'er.
"Salam hormat kami kepada Anda, Permaisuri." Dengan segera semua Pelayan itu menundukkan kepalanya dihadapan Lu'er.
Lu'er yang melihat semua sandiwara itu membuat dirinya begitu sangat jijik, dengan nada bicara yang sangat dingin Lu'er membalas perkataan dari Selir Dongli dan juga para Pelayan itu sambil terus menatap ke arah mereka.
Selir Dongli yang mendengar perkataan dari Lu'er dengan raut Wajah gugup ia mencoba untuk tetap bersikap santun dihadapan Lu'er, sambil menunjukkan senyum paksanya.
"Ahaha... Saya tidaklah sakit wahai Permaisuri Lin yang angung, jadi untuk apa saya harus menemui seorang tabib?" jawab, Selir Dongli dengan raut Wajah yang begitu sangat kaku dihadapan Lu'er.
Lu'er yang mendengar jawaban dari Selir Dongli tampak ia terdiam sejenak sambil terus memperhatikan sikap dari Selir Dongli terhadap dirinya.
"Hmh... Dasar Siluman Ular berkepala dua, jangan samakan aku dengan kalian, ya! Trik semacam itu tidak akan pernah bisa memperdaya diriku!" Dalam benak Lu'er yang masih menatap tajam Wajah Selir Dongli.
"Apakah kau yakin? Jika kau itu tidak sedang sakit? Hmh.. Tetapi sepertinya kau itu memiliki kelainan, bisa dikatakan cacat mental! Apakah kau begitu sangat takut jika semua orang tau bahwa Selir yang begitu sangat mengagumkan ini ternyata tengah mengidap suatu penyakit yang begitu sangat serius? Dan kalian para Pelayan... Apakah tidak takut jika berdekatan dengan seseorang orang yang memiliki penyakit gangguan jiwa kronis!" Ucap, Lu'er dengan nada bicara tegas, dan juga tatapannya yang begitu sangat tajam.
Semua orang yang berada ditempat itu begitu sangat tertegun ketika mendengar perkataan dari Lu'er, Selir Dongli tampak begitu sangat tidak bisa terima akan perkataan dari Lu'er dengan nada bicara tidak suka, ia segera membantah ucapan Lu'er.
"Apa maksud dari perkataan Anda ini Permaisuri? Saya sungguh sangat tidak menyangka, Anda begitu sangat kejam ketika menuduh seseorang! Saya tidak pernah memiliki penyakit semacam itu! Jadi saya mohon, janganlah Anda berbicara sembarangan terhadap saya, saya tidak pernah sebelumnya mengusik Anda, tetapi mengapa? Anda begitu sangat kejam terhadap diri saya, wahai Permaisuri?!" Bantah Selir Dongli yang segera menunjukkan raut Wajah kasihan dan seakan ia tengah teraniaya oleh Lu'er.
Lu'er yang mendengar dan juga melihat sikap dari Selir Dongli dengan tatapan jijik ia segera menjawab perkataan dari Wanita berbisa itu.
"Heh?! Lelucon macam apa ini? Apakah sekarang ia bermaksud untuk menjadi seorang Wanita yang mudah untuk dianiaya? Hmh... Dia begitu sangat berbeda ketika pertemuan kita untuk pertama kalinya, saat aku mengacau didalam Istana Elpis, bukan? Lalu... Apakah dia pikir dengan menjadi seperti ini maka aku akan begitu sangat mengasihi dirinya? Dasar bodoh!" Dalam benak Lu'er yang tengah terdiam dingin dihadapan Selir Dongli.
"Huh... Ternyata begitu? Baiklah aku harap kau tetap menjadi bodoh seperti ini, dan ingat satu hal, apapun yang saat ini tengah kau rencanakan lebih baik urungkan saja, karena itu semua percuma dan akan berakhir sia-sia, tetapi jika kau masih tidak mempercayainya, silahkan, aku tunggu permainan murahanmu itu!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah berjalan untuk dapat mendekati Selir Dongli, ia menatap tajam dan penuh arti saat berhadapan dengan Wanita itu.
"Dan untuk kalian! Jika aku masih melihat kejadian seperti ini maka aku tidak akan segan menghukum kalian, kalian masih ingatkan siapa diriku didalam Istana ini!" Ucap, Lu'er yang segera mengalihkan pandangannya dari Selir Dongli untuk dapat menatap Pelayan Kibo yang tengah berada dibelakang Selir Dongli.
Semua orang terdiam takut akan ancaman dari Lu'er, yang terdengar begitu sangat meyakinkan.
"Aku ingin berendam! Bisakah kalian melayaniku!" Kata, Lu'er yang segera memalingkan tubuhnya untuk dapat membelakangi Selir Dongli dan juga para Pelayan Istana Kibo.
"Tentu saja Permaisuri." Balas ke-empat Pelayan itu dengan sangat cepat.
Kekuatan mereka semua segera meninggalkan Selir Dongli sendiri, dan berjalan untuk dapat mendekati Lu'er, Selir Dongli yang melihat hal itu terlihat begitu sangat kesal dan juga malu, dengan mudahnya para Pelayan itu meninggalkan dirinya dan beralih kepada Lu'er.
"Cih! Semua perhatian itu harus aku dapatkan! Akulah yang paling cantik! Akulah yang paling hebat! Hanya diriku! Dan semua orang harus tetap tunduk dan patuh dibawah kendaliku!" Dalam benak Selir Dongli yang terlihat begitu sangat kesal terhadap Lu'er.
Lu'er sedikit menoleh ke arah samping, tatapan Matanya tampak begitu sangat sinis dan licik saat ia mencoba untuk melihat Selir Dongli.