
Tak lama kemudian Lu'er segera menarik Lengannya dari genggaman Pangeran Rui, lalu. Segera Lu'er memalingkan Wajahnya untuk dapat memperhatikan sekeliling tempat itu.
"Dimanakah kita wahai Pangeran? Dan lagi mengapa aku tak melihat Gadis itu ditempat ini?" tanya Lu'er yang tengah memandangi tempat itu dengan teliti.
Pangeran Rui yang mendengar perkataan dari Lu'er, dengan cepat ia mengambil sebuah kain putih yang berada didalam wadah berisikan air berwarna hijau tua. Pangeran Rui mengeringkan kain itu dengan memutarkan kainnya dengan perlahan. Lalu, diusapkannya pada Wajah Lu'er yang tampak kotor karena darah merah yang memenuhi bibirnya.
"Kita berada didalam sebuah Rumah tua, yah... Ini mungkin tidak akan membuat dirimu merasa nyaman, akan tetapi situasinya memang tidak memungkinkan untuk diriku mencarikan tempat yang bersih dan nyaman, maafkan aku Lin. Jika kau mencari Gadis itu, dia sedang berada diluar bersama dengan Zi." Ucap, Pangeran Rui yang tengah membersihkan Wajah Lu'er dengan lembut.
Lu'er kemudian memalingkan pandangannya untuk dapat melihat Pangeran Rui, sentuhannya begitu sangat lembut dan penuh kehangatan. Sepasang Bola Mata itu hampir saja membuat Lu'er terakhir. Dengan cepat Lu'er kembali pada pembahasan mereka.
"Hm... Pangeran, apakah kau mengenal siapa Gadis itu?" tanya, Lu'er dengan tatapan penasaran kepada Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang masih membersihkan Wajah Lu'er, terdiam sejenak ketika dia mendengar tanya dari Wanita itu. Kemudian, Pangeran Rui segera meletakkan kembali kain putih yang dia genggam itu ke dalam wadah berisikan air yang sudah dicampuri dengan obat.
"Hm... Iya, aku memang mengenalnya. Dia bernama Rumi, ayahnya adalah Pamanku sendiri." Jawab, Pangeran Rui kepada Lu'er, raut Wajahnya tampak dingin ketika Pria itu memberikan sebuah penjelasan semacam itu kepada dirinya.
Lu'er hanya terdiam ketika Pangeran Rui yang tengah menunjukkan sikap tidak suka ketika mereka membahas perihal tentang Wanita itu.
Tak lama kemudian Rumi yang berada diluar bersama dengan Burung milik Pangeran Rui. Dengan perlahan ia memasuki Gubuk kecil untuk dapat menemui Pangeran Rui dan juga Lu'er.
Srekk... Lu'er dengan cepat melirikkan Matanya ke arah kanan, untuk dapat melihat diri Rumi. Wanita yang baru saja mereka bicarakan.
Rumi menundukkan Kepalanya saat Lu'er menatap Wajahnya dengan tatapan dingin. Pangeran Rui pun, juga segera menolehkan Kepalanya ke arah belakang untuk dapat melihat Rumi yang tengah mendekati Pangeran Rui dan Lu'er.
"Pangeran, terima kasih sekali lagi karena telah menyelamatkan diriku." Ucap, Rumi yang terlihat begitu sangat dekat dengan Pangeran Rui.
Lu'er yang melihat hal itu, hanya terdiam. Kemudian dia memalingkan pandangannya agar tidak melihat apa yang akan kedua orang itu lakukan selanjutnya.
Pangeran Rui hanya terdiam ketika mendengar ucapan dari Rumi, sedetikpun tatapan Mata dari Pangeran Rui tak beralih dari diri Lu'er. Lalu, Pangeran Rui segera berbicara kepada Wanita yang tengah berada disampingnya itu.
Rumi yang mendengar pertanyaan dari Pangeran Rui, raut Wajahnya segera menunjukkan kesedihan. Lalu, dengan perlahan Rumi kembali berbicara kepada Pangeran Rui.
"Maafkan aku Kakak Rui, sebenarnya aku begitu sangat menghawatirkan dirimu, setelah kau pergi meninggalkan Istana, aku mulai merasa tidak tenang. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Istana secara diam-diam dan bermaksud untuk mencari dirimu, sayangnya aku malah tertangkap oleh Pengawal dari Siluman itu! Aku mohon tolong Kakak berkenan untuk mengampuni Adikmu yang tidak berhati-hati ini, Rumi janji tidak akan berbuat seperti itu lagi." Jelas, Rumi yang terlihat begitu sangat sedih, dihadapan Pangeran Rui. Lalu, dia mendekatkan dirinya ke dalam tubuh Pangeran Rui.
Dan karena ha itu Pangeran Rui merasa sangat tidak senang akan sikap dari Rumi. Dia tampak risih. Lalu, Pangeran Rui segera menjauh dari Rumi. Sambil berbicara kepadanya.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu kau bersusah payah untuk mencari diriku, sebaiknya kau segera kembali ke dalam Istana, dan tidak perlu lagi kau menemui diriku, malam ini juga aku akan meminta kepada Zi untuk mengantarkan dirimu kembali." Ucap, Pangeran Rui yang segera duduk disamping Lu'er, dia kemudian mengambil sebuah cawan kecil, yang sudah berisikan ramuan. Untuk dapat ia berikan kepada Lu'er.
Rumi yang mendengar ucapan dari Pangeran Rui terlihat Wajahnya begitu sangat kesal, ia sungguh tidak menyangka akan apa yang baru saja didengar olehnya dari Mulut Pangeran Rui sendiri.
"Lin, minumlah ini, mari biar aku membantumu." Ucap, Pangeran Rui yang segera mengangkat tubuh Lu'er sedikit ke atas agar dia mampu meminum ramuan yang sudah ia siapkan.
Lu'er kemudian segera menatap Wajah Pangeran Rui, lalu pandangannya segera tertuju pada cawan kecil yang sudah berada digenggaman oleh Pangeran Rui.
"Terima kasih, Pangeran. Akan tetapi aku dapat melakukannya sendiri, kau tidak perlu bersusah payah untuk diriku." Jawab, Lu'er yang segera meraih Cawan kecil itu dengan perlahan.
Pangeran Rui yang melihat apa yang akan dilakukan oleh Lu'er, membuat dirinya tidak terima.
"Kau masih belum pulih, biar aku saja yang membantumu, diam dan menurutlah!" Ucap, Pangeran Rui dengan ruat Wajah sangat serius kepada Lu'er.
Lu'er tertegun ketika melihat sikap dari Pangeran Rui yang tampak begitu sangat tegas kepada dirinya. Kemudian, tanpa sengaja Lu'er melihat Rumi, Wanita yang sedari tadi tengah berada disamping Pangeran Rui.
Lu'er, yang tidak ingin berdebat dengan Pangeran Rui, segera ia menjadi Wanita yang penurut dihadapan Pangeran Rui. Di minumnya semua ramuan yang sudah dibuatkan oleh Pangeran Rui kepada dirinya, tanpa tersisa.
Lu'er yang tengah berada dalam dekapan Pangeran Rui, tampak tak acuh, akan sikap kesal dari Rumi kepada dirinya.