Cruel Empress

Cruel Empress
Chapter 85 ~ Kembali Ke Istana.



Setelah beberapa lama mereka berada diatas langit, Istana Kibo mulai terlihat oleh pandangan Mata Lu'er dari kejauhan.


"Kita sudah dekat." Ucap, Lu'er yang tengah melihat ke arah depan. Tampak bangunan dari Istana Kibo yang terlihat dari atas langit.


Pangeran Rui yang melihat hal itu, segera dia berbicara kepada Zi untuk dapat mendaratkan mereka tepat dibelakang Kamar Lu'er.


"Baiklah Zi, bersiaplah untuk pendaratan." Kata, Pangeran Rui yang tengah berbicara tegas kepada Burung magis miliknya.


Zi yang mengerti, dengan cepat dia mengeluarkan suara yang cukup nyaring. Dan hal itu, membuat Lu'er terkejut. Dia tak menyangka bahwa Burung itu dapat berbicara.


Zi mulai mempercepat pergerakannya. Kemudian, setelah berada diatas atap Istana Kibo. Zi mulai mendaratkan Lu'er tepat dibelakang Kamarnya. Jendela kaca terlihat masih terbuka dengan lebar.


Pangeran Rui, kemudian segera bangkit dari duduknya. Lalu, dia mulai menuruni tubuh Zi yang tengah mendarat di taman belakang dekat Kamar Lu'er.


"Biarkan aku membantumu." Kata, Pangeran Rui, yang masih meletakkan tubuh Lu'er dalam dekapannya.


Lu'er tak mungkin menolak, karena tubuhnya yang benar-benar terluka. Dia terdiam ketika Pangeran Rui tengah membawanya untuk dapat memasuki Kamar melalui Jendela. Pangeran Rui dengan gesit, dia melompat untuk dapat berpijak diatas Kayu jendela. Kemudian dia mulai berjalan untuk dapat memasuki Kamar Lu'er.


Pangeran Rui yang tengah berjalan untuk dapat mendekati Kamar Lu'er. Tiba-tiba saja raut Wajahnya terlihat dingin. Lu'er yang melihat perubahan dari Pangeran Rui segera ia bertanya dengan perasaan bingung.


"Ada apa, Pangeran?" tanya, Lu'er dengan tegas, terlihat Wajah Lu'er yang tengah memperhatikan Wajah dari Pangeran Rui.


Pangeran Rui yang tersadar, segera dia memalingkan pandangannya untuk dapat melihat Wajah Lu'er. Lalu, dengan tampang lembut dan tak lupa senyuman manis dibibirnya. Dia pun menjawab tanya dari Lu'er.


"Aku tidak apa, kau harus segera beristirahat. Sebelumnya aku telah memberikanmu ramuan, jika dalam beberapa hari tubuhmu masih belum mengalami perubahan, aku berjanji akan kembali untuk menemuimu." Ucap, Pangeran Rui yang segera meletakkan tubuh Lu'er diatas Kasur dengan perlahan.


Lu'er tampak bingung akan apa yang baru saja terjadi kepada Pangeran Rui. Sikapnya dengan cepat dapat berbeda.


"Ada apa dengannya? Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku?" dalam benak Lu'er yang terlihat tengah menatap Wajah Pangeran Rui dengan curiga.


Pangeran Rui kemudian mulai mengangkat tubuhnya, setelah usai membaringkan tubuh Lu'er diatas Kasur. Lalu, Pangeran Rui dengan cepat memalingkan pandangannya ke arah samping kanan. Dengan tampang curiga, terlihat Pangeran Rui tengah mengamati Kamar Lu'er.


"Kau tidak perlu menghawatirkan diriku, aku akan baik-baik saja setelah beristirahat." Ucap, Lu'er yang terlihat tengah memperhatikan Wajah Pangeran Rui dengan curiga.


Tak lama kemudian Pangeran Rui kembali menatap Wajah Lu'er dengan raut Wajah khawatir.


Lu'er hanya terdiam, ketika mendengar ucapan dari Pangeran Rui. Akan tetapi dia tidak bertanya apa yang sebenarnya maksud dari nasihat itu kepada dirinya.


"Iya, aku sangat mengerti Pangeran. Hmm... Jika kau terus berada disini, mana mungkin aku dapat beristirahat, sampai fajar tiba pun aku akan tetap terjaga ketika melihat dirimu berada dihadapanku." Ucap, Lu'er yang tengah memperhatikan Wajah Pangeran Rui, sepasang bola Mata hijau miliknya kini tengah memanjakan diri untuk melihat Wajah tampan Pangeran Rui.


Pangeran Rui sedikit bingung akan ucapan dari Lu'er kepada dirinya. Kemudian dia mulai bertanya sambil terus mengusap rambut Lu'er dengan lembut menggunakan Tangannya.


"Jadi maksudmu... Aku ini pengganggu? Apakah kau tidak nyaman jika aku menemani dirimu sampai kau terlelap?" kata, Pangeran Rui hanya terlihat cukup serius dalam berucap.


Lu'er tersenyum kecil saat melihat tampang serius dari Pangeran Rui. Dan Pangeran Rui cukup dibuat bingung dengan hal itu.


"Tidak, tidak seperti itu. Mana mungkin aku dapat terlelap ketika dihadapanku tengah berdiri seorang Pria tampan dan dia sangatlah menawan, bukankah seharusnya aku menghabiskan waktuku untuk tetap memandangi Wajahnya yang tampan itu? Hmm, bukankah begitu Pangeran?" ucap, Lu'er yang terlihat tengah sedikit menggoda Pangeran Rui.


Pangeran Rui tersentak ketika mendengar ucapan dari Lu'er. Lalu, dia segera menarik Tangannya. Wajahnya mulai memerah. Itu menandakan bahwa Pangeran Rui tengah dibuat malu oleh Lu'er.


"Ih... Wanita ini?! Bagaimana mungkin, dia dapat berbicara seperti itu kepada seorang Pria?! Apakah dia tidak tau jika perkataannya itu dapat membuat orang lain berpikir yang tidak-tidak?! Haih.... Lin." Dalam benak Pangeran Rui yang masih tersipu malu dihadapan Lu'er.


Kemudian, dengan cepat dia segera bangkit dan menjauh dari Lu'er. Pangeran Rui mulai memalingkan tubuhnya untuk dapat membelakangi Lu'er. Lalu, dia mulai berbicara lagi kepada Lu'er.


"Baiklah, aku tidak akan membiarkan dirimu tetap terjaga, cepatlah berstirahat, kau harus pulih, dan satu hal lagi, jangan pernah katakan hal semacam itu kepada Pria lain, siapapun dia, aku harus pergi, sampai jumpa Lin." Kata, Pangeran Rui yang segera berjalan menuju Jendala yang masih terbuka.


Kemudian, Pangeran Rui mulai menaiki tubuh Zi, yang telah berada dihadapannya. Sebelum ia berlalu, tak lupa Pangeran Rui menutup kembali Jendela Kaca milik Lu'er dengan menggunakan kekuatannya.


Lu'er yang tengah berada didalam Kamar, segera ia bangkit, dan duduk dari baringannya. Perlahan, Lu'er mulai mengangkat Tangan kirinya, Bunga Si tiba-tiba saja mengeluarkan sinar keemasan dari dalam Lengan baju Lu'er.


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Tanaman ini, bukan hanya dapat mengobati luka, atau menyebabkan luka, akan tetapi dia dapat bergerak dan membantuku untuk menyerang Wanita itu, hmmm... Aku membutuhkan Sistem Dewi, dimana dia?" ucap, Lu'er yang segera menatap sebuh cermin yang berada dihadapannya.


Dengan terkejut, Lu'er melihat kembali sosok Wanita dengan menggunakan pakaian berwarna merah, rambut terurai, dan tubuh yang sudah dilumuri dengan darah.


"Astaga?! Sosok itu lagi! Sebenarnya siapa dia?" dalam benak Lu'er yang terlihat begitu sangat bingung ketika melihat sosok itu dengan sangat jelas.


Wanita yang berada didalam Cermin itu, tiba-tiba saja menjulurkan Tangan kanannya dia menunjuk diri Lu'er dengan jari telunjuk yang dipenuhi dengan darah merah.