
Pedang yang ia genggam itu pun terlepas dari cengkeramannya. Aroma busuk yang begitu sangat tidak sedap itu, membuat dirinya tak mampu untuk menyerang Wanita aneh itu. Lalu, Wanita aneh itu segera menatap Wajah Lu'er dengan lekuk senyum sinis, dengan segera ia mengangkat Lengan kirinya untuk dapat mengambil Pedang yang telah menancap ditubuhnya itu.
Ditariknya dengan perlahan, kemudian darah berwarna hitam kental menetes perlahan untuk dapat menyentuh tubuh tanah yang ditanami dengan rumput hijau yang sangat halus itu. Tak lama kemudian luka yang tampak menganga pada tubuh Wanita itu dengan cepat menutup kembali, tanpa sedikitpun meninggalkan bekas.
Lu'er tertegun ketika melihat hal semacam itu, sungguh hatinya kini tengah bertanya-tanya siapakah gerangan Wanita itu.
"Terkejut? Haha... Sudah aku katakan kau akan menjadi hidangan makan malam bagi Ratuku! Jadi janganlah memberontak lagi! Karena hidupmu berada ditanganku hari ini!" Ucap Wanita itu, lalu dia segera berjalan untuk dapat mendekati Lu'er. Langkah kakinya cukup pelan. Akan tetapi, begitu sangat mantap untuk segera meringkus Lu'er.
Lu'er hanya terdiam, ketika melihat apa yang tengah dilakukan oleh Wanita itu. Kemudian Lengan kirinya segera menggenggam erat rumput halus yang tengah berada disamping tubuhnya. Tampak, Wanita itu semakin mendekati dirinya, melangkah dengan pasti, sambil menunjukkan tampang sinis kepada Lu'er.
"Apakah sekarang kau tidak sanggup lagi untuk melawan balik diriku? Aku sungguh tidak menyangka kau akan pasrah begitu saja. Baiklah ini adalah hal yang sangat bagus, maka aku tidak akan berlama-lama lagi untuk meringkus dirimu, jangan menolak, karena itu hanya akan sia-sia saja, tetaplah menjadi Wanita yang penurut seperti itu, hahaha!" Ucap dari Wanita itu, yang tengah berdiri dihadapan Lu'er. Pedang panjang dan runcing itu segera diayunkannya dihadapan Lu'er.
Lu'er hanya terdiam, sambil terus memperhatikan Pedang yang akan melukai dirinya itu. Tatapan yang Lu'er berikan begitu tampak serius. Saat Pedang itu telah memutar sejauh 90° Lu'er yang tengah terduduk segera dia mendorong tubuhnya ke belakang, sampai hampir menyentuh tanah. Lalu kedua Kaki yang berpijak diatas rumput hijau itu terangkat dan membuat tubuhnya melayang, berkat dorongan itu membuat kedua Kaki Lu'er menginjak Wajah Wanita itu dengan sangat keras, lalu dia berhasil mendaratkan diri dengan sangat cantik, dibelakang Wanita itu.
Segera Wanita aneh itu memalingkan tubuhnya ke arah Lu'er, dengan raut Wajah kesal dalam dirinya. Bola Mata merah itu tampak sangat mengerikan, seperti layaknya darah yang tengah membentuk menyerupai bola Mata. Sinar hitam itu memancar dengan terpisah yang berpusat pada Pedang milik Wanita itu.
Lu'er tampak terengah-engah, tubuhnya begitu sangat kesakitan, karena sudah terlalu lama ia menghirup aroma dari kabut merah yang menutupi pandangannya. Wanita itu kemudian segera berjalan dengan cepat ke arah Lu'er, dengan perasaan kesal dan tidak terimaan didalam dirinya.
Lu'er hanya memperhatikan Wanita itu dari kejauhan, dadanya terasa begitu sangat sesak.
"Ukhuk...." Untuk kedua kalinya dari dalam Mulut mungilnya itu mengeluarkan darah merah. "Sial!" Ucap, Lu'er yang segera menghapus darah itu menggunakan Lengan kanannya.
Wanita itu masih berjalan dengan cepat ke arah Lu'er. Kemudian dari dalam tanah yang sebelumnya sudah Lu'er genggam itu, perlahan mengeluarkan sinar keemasan. Lu'er, yang menyaksikan hal itu cukup dibuat tenang.
Wanita itu kemudian menghentikan langkahnya, dengan cepat ia segera memalingkan pandangannya ke arah belakang. Tiba-tiba saja tangkai berwarna hijau yang cukup besar dan kuat, segera keluar dari dalam tanah. Secepat mungkin tumbuhan itu melilit tubuh Wanita itu dengan kuat. Pedang yang digunakannya pun terlepas begitu saja sampai terjatuh diatas tanah.
Wanita itu tampak memberontak, dia terlihat tengah berusaha untuk melepaskan diri dari lilitan tumbuhan beracun itu. Akan tetapi semakin dia bergerak sembarangan tumbuhan itu semakin kuat melilit tubuhnya.
Kemudian, tumbuhan beracun itu, membungkus seluruh tubuh dari Wanita itu, tidak sedikitpun ia tinggalkan celah baginya untuk dapat meloloskan diri.
"Fiuh!" Lu'er menghela napas, lalu pandangannya mulai kabur, hingga akhirnya dia tidak mampu terjaga lagi.
Sinar kuning yang menerangi diri Lu'er, membuatnya terbangun akan sinar yang mengetuk selaput Mata yang terpejam itu. Dengan perlahan Lu'er membuka sepasang Matanya, saat ini tampak ia tengah berada didalam Rumah. Dan kini tubuhnya tengah berbaring diatas Kasur.
"Akhirnya kau sadar juga, maafkan aku Lin." Ucap, Pangeran Rui yang tengah duduk disamping Lu'er, dengan telapak tangan kanannya tengah menggenggam erat Lengan Lu'er yang berada diatas Kasur itu.
Lu'er terkejut ketika melihat Pangeran Rui yang tengah berada disampingnya.
"Ah, hm... Iya, apakah kita telah berhasil mengalahkan mereka?" tanya, Lu'er kepada Pangeran Rui. Wajahnya begitu sangat pucat, dan tubuhnya masih sangat lemah.
"Iya, kau berhasil mengalahkan mereka, dan menyelamatkan Gadis itu, tetapi... Aku tidaklah senang! Lihatlah, kini tubuhmu yang menjadi korbannya! Maafkan diriku Lin, aku tidak bisa menjaga dirimu dengan baik." Ucap, Pangeran Rui yang segera mengangkat Lengan Lu'er yang saat itu tengah digenggaman olehnya. Dengan perlahan dia mengecup punggung tangan Lu'er.
Lu'er yang melihat Pangeran Rui tampak begitu sangat menyesal, membuat dirinya tidak ingin menyaksikan sikap semacam itu dari seorang Pria tangguh, dan kuat seperti dirinya.
"Aku ini bercanda ya, yang mengalahkan mereka itu adalah dirimu, dan lagi... Ini bukan kesalahanmu, akan tetapi ini kemauan diriku sendiri, bukankah kau tau akulah yang meminta kepadamu untuk menghampiri mereka? Pangeran, bukannya aku ingin ikut campur dengan masalahmu, atau aku ingin membuat dirimu terjerumus ke dalam sebuah masalah yang baru, jika aku mengetahuinya sejak awal, mungkin aku tidak akan pernah melakukan hal semacam itu, aku... Aku...." Ucap, Lu'er yang terlihat begitu sangat menyesal akan apa yang sudah dilakukannya.
"Cukup!" Balas, Pangeran Rui sambil mengangkat jari telunjuk kirinya untuk dapat menyentuh bibir Lu'er, agar dia segera berhenti untuk berbicara lagi.
"Apakah menurutmu aku ini benar-benar seperti yang dirumorkan banyak orang? Apakah saat ini kau tengah berpikir bahwa aku itu seorang pengecut yang hanya mampu lari ketika menghadapi sebuah masalah? Apakah kau pikir aku tidak mampu melindungi dirimu?" ucap, Pangeran Rui dengan tatapan yang begitu tegas kepada Lu'er.
Lu'er terkejut ketika mendengar ucapan dari Pangeran Rui, lalu dengan segera dia menjawab semua pertanyaan itu dengan tegas.
"Tentu saja tidak! Aku sebenarnya telah mengetahui sejak awal, bahwa kau adalah seorang Pangeran yang luar biasa!" Jawab, Lu'er kepada Pangeran Rui dengan tegas.
Pangeran Rui tersenyum tipis ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Lu'er.
"Maaf telah membuat dirimu masuk ke dalam masalahku! Mungkin kau bertanya-tanya mengapa mereka dapat mengenali diriku, karena sudah seperti maka maukah kau mendengarkan dongeng tidak pentingku ini?" ucap, Pangeran Rui yang kembali mencium Lengan Lu'er.
"Hm... Asalkan itu tidak membosankan, tentu saja aku ingin." Jawab, Lu'er dengan sedikit tersenyum kepada Pangeran Rui.