
Sedangkan ditaman belakang Istana Kibo, tampak Lu'er yang tengah berdiri sambil menatap ke arah langit. Kemudian dia segera memalingkan Wajahnya untuk dapat menoleh ke arah Ratu Fahrani, dengan tegas Lu'er segera bertanya kepada Wanita yang tengah berada disampingnya itu.
"Apa yang ingin Bunda sampaikan kepada Lin?" ucap, Lu'er yang terlihat tengah menatap tubuh Ratu Fahrani dengan dingin itu.
Ratu Fahrani sungguh sangat lihai dalam menempatkan diri dalam perannya kepada Lu'er. Dengan perlahan Ratu Fahrani memalingkan tubuhnya agar dapat menatap diri Lu'er, lengan kanannya segera ia angkat untuk dapat membelai dengan lembut rambut hitam Lu'er itu.
"Putriku sayang, bukankah aku sudah pernah berpesan kepadamu? Jika kau harus menceritakan apa yang sudah terjadi didalam Istana Kibo, apakah kau telah melupakannya?" kata, Ratu Fahrani yang terlihat tengah menatap Wajah Lu'er dengan tatapan dari sepasang bola Mata yang amat licik itu.
Lu'er terdiam ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Ratu Fahrani kepada dirinya. Lalu, dengan cepat Lu'er menjawab pertanyaan dari Ratu Fahrani sambil menghela napas pendeknya.
"Hah... Ternyata ini yang membuat Ibu begitu sangat ingin berbicara dengan diriku? Aku pikir ada masalah apa yang jauh lebih penting dari ini, lagipula bu, apakah semua yang aku lakukan harus ku ceritakan kepadamu? Bukankah aku ini sudah dewasa, tidak baik bukan jika membeberkan masalah keluarga Suamiku ini kepada dirimu?" jawab, Lu'er dengan tegas, sungguh ia begitu sangat enggan berkata apapun kepada Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang mendengar jawaban semacam itu dari Lu'er, sungguh membuat dirinya begitu amat tertegun. Entah mengapa saat ini dia merasa bahwa Lin yang saat ini sudah benar-benar berbeda dari dirinya beberapa tahun lalu.
"Hmh! Dia sungguh sangat sulit sekali dibujuk, mengapa Lin menjadi seperti ini?! Jika hal ini dibiarkan saja maka semuanya akan kacau! Saat ini Lin adalah aset berhargaku, aku tidak ingin kehilangan dirinya! Semua apa yang aku inginkan harus bisa aku wujudkan! Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengambil hati Lin seperti dahulu!" Dalam benak Ratu Fahrani yang terlihat begitu sangat resah dihadapan Lu'er.
"Tampangnya begitu sangat licik, dari cara ia berbicara sudah sangat jelas bahwa Ratu Fahrani ini tengah menjadikan diriku sebagai intelnya. Apakah didalam otak kecilmu itu hanya terpenuhi dengan nafsu, nafsu dan nafsu?! Pernahkah kau berpikir apakah Putrimu Lin itu bahagia? Pernahkah kau bertanya kepada Lin, tentang apa yang dia inginkan? Apakah kau pernah sekali saja memberikan kasih sayang yang begitu tulus kepada dirinya? Mengapa kau begitu sangat egois! Semua yang kau lakukan itu adalah kebaikan untuk dirimu sendiri, sedangkan Lin?! Tidak pernah ia mengecap kebahagiaan didalam hidupnya!" Dalam benak Lu'er yang terlihat begitu sangat geram terhadap Ratu Fahrani.
Tak lama kemudian Ratu Fahrani kembali berbicara kepada Lu'er, sambil menutupi rasa canggung dan gugupnya dihadapan Lu'er.
"Bukan seperti itu, hanya saja aku begitu sangat mengkhawatirkan dirimu, apakah salah jika seorang Ibu memperdulikan Putrinya sendiri? Aku begitu sangat mencintaimu Lin, aku tidak ingin kau menderita." Jawab, Ratu Fahrani yang segera melontarkan kata-kata manis kepada Lu'er.
Lu'er dengan segera menghindari Ratu Fahrani, ia langkahkan kaki jenjangnya untuk dapat berjalan ke arah depan, lengannya dengan segera ia angkat untuk dapat menyentuh tanaman hijau yang tengah berada dihadapannya dengan hati-hati.
"Aku tau, tidak perlu diperjelas lagi Ibu. Tetapi, aku baik-baik saja, janganlah kau terus menerus memikirkan diriku, pikirkan lah kondisi kesehatanmu." Kata, Lu'er dengan tampang dingin saat tengah menatap tanaman yang tengah berada dihadapannya itu.
Ratu Fahrani tersentak saat mendengar Lu'er dengan tegas menolak untuk menceritakan apa yang telah terjadi didalam Istana Kibo kepada dirinya, sungguh hal itu semakin membuatnya merasa amat cemas bercampur kesal. Lengan kanannya dia genggam dengan begitu erat, Sistem Dewi yang tengah berada disamping Lu'er, sedari tadi dia tengah memperhatikan Ratu Fahrani, segera raut Wajahnya tampak begitu sangat dingin saat melihat sikap yang ditunjukkan oleh Ratu Fahrani kepada Lu'er.
"Benar, kau memanglah Putriku yang sangat pengertian, tidak seharusnya aku terlalu mengkhawatirkan dirimu sampai seperti ini. Oh, iya aku harap kau tidak merasa sedih dan kesepian karena Zhang Jiangwu setiap waktu selalu meninggalkan dirimu. Tetapi, ingatlah satu hal Lin, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dirinya." Ucap, Ratu Fahrani yang segera berjalan untuk dapat menghampiri Lu'er yang tengah berdiri didepannya itu.