
Pangeran Rui kemudian kembali berbicara kepada Lu'er, sambil menunjukkan raut Wajah dingin dan kesal atas apa yang telah terjadi.
"Sungguh kejam sekali!" Ucap, Pangeran Rui yang terlihat sangat kesal.
Pria yang berada disamping Pangeran Rui pun juga terlihat sangat tak menyangka, jika semua itu adalah ulah dari Raja sendiri.
"Wanita ini begitu sangat cerdas, jika bukan karena dia mungkin aku tidak akan pernah mengetahui kebenarannya!" Dalam benak Pangeran Rui yang terlihat tengah menatap Wajah Lu'er dengan hangat.
"Masalah tabib yang kau katakan, tenang saja, aku bukan seperti mereka, percayalah padaku!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah tegas dihadapan Pangeran Rui.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya, Pangeran Rui yang terlihat begitu sangat penasaran akan diri Lu'er.
Lu'er kemudian berjalan untuk dapat mendekati Pangeran Rui. Namun, saat ia tengah melangkahkan kakinya, patung ular merah yang tengah berada diatas meja, jarak dari Lu'er sangat jauh sekali, tetapi... Patung ular kecil berwarna merah itu terlihat hidup bola Mata merahnya menyala saat Lu'er tengah berjalan untuk dapat menghampiri Pangeran Rui. Lalu dengan cepat patung ular itu berubah menjadi ular yang panjang, ular itu membuka mulutnya terlihat gigi tajam dan sorot bola Mata merah yang sangat mengerikan.
Segera mendekat ke arah Lu'er, Lu'er yang tak sengaja menoleh ke arah samping kiri, dengan raut Wajah panik ia dengan cepat berjalan mundur ke arah belakang, sambil mengangkat lengan kirinya untuk dapat menutupi Wajahnya agar ular itu tidak mendekati dirinya.
"Ahhh..!" Teriak Lu'er yang begitu sangat terkejut.
Pangeran Rui dan juga Pelayannya terlihat sangat bingung saat ular batu merah menyerang Lu'er. Namun... Apa yang terjadi, Wajah yang semula cemas itu berganti menjadi perasaan bingung. Ular itu terlihat tidak melukai Lu'er sedikitpun, akan tetapi Ular itu terlihat sangat dekat dengan Lu'er.
Lu'er yang merasa sangat panik, segera ia membuka sepasang Matanya, dilihatnya Ular batu merah itu tengah melilit di atas pergelangan tangannya. Hal itu membuat Lu'er bingung, akan tetapi Lu'er segera tersadar dia memiliki kekuatan pengendali Hewan, pikirnya mungkin saja karena kekuatan itu.
"Ular ini... Hmm... Apakah ini milik Anda, Pangeran?" tanya, Lu'er yang segera menatap Wajah Pangeran Rui dengan tegas.
Pangeran Rui yang masih tertegun atas apa yang baru saja terjadi membuat dirinya merasa sangat bingung dan semakin ia merasakan ke misteriusan dari Lu'er.
"Ular Batu merah itu... Bukankah hanya Pangeran Rui yang mampu menjinakkannya? Mengapa kau...?!" Kata, Pria dengan pakaian perang itu terhadap Lu'er, dia terlihat sangat bingung dan tidak menyangka.
"Benarkah?!" Jawab, Lu'er dengan perasaan tidak menyangka, atas apa yang telah diucapkan oleh Pria itu terhadap dirinya.
"Benar... Hmm, sepertinya kau sangat istimewa, sehingga mampu dengan mudahnya menarik Ular Batu merah itu, jika kau menyukainya ambillah, jaga dia dengan baik, Nona...." Ucap, Pangeran Rui yang terlihat sudah mulai tertarik dengan Lu'er.
Lu'er yang merasa sangat senang tetapi juga bingung, terlihat ia sedikit tidak enak hati saat Pangeran Rui menyerahkan begitu saja Ular itu kepada dirinya.
"Hmh... Benarkah? Untukku?" ucap, Lu'er yang terlihat sangat tidak menyangka, lalu ia segera menatap Ular Batu merah yang tengah melekat dipergelangan tangan kirinya.
"Benar, anggap saja itu adalah hadiah untuk dirimu, karena kau sudah mau membantu diriku." Balas, Pangeran Rui dengan perasaan senang.
Lu'er tersenyum puas, sebenarnya ia berkata semacam itu hanyalah sebuah basa-basi biasa.
"Hmh... Menakjubkan Misi ini semakin mengasikkan saja, kira-kira hadiah apa yang akan aku dapatkan dari narsis ini?" dalam benak Lu'er yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah licik dihadapan Ular Batu merah itu.
"Bukan masalah, karena saya ini cukup paham tentang ramuan, maka izinkan saya untuk menunjukkan kemampuan saya kepada Anda, Pangeran, tetapi sebelum itu tolong ambilkan saya alat untuk penumbuk ramuan, dan peranti lainnya." Ucap, Lu'er yang terlihat sangat serius.
"Baiklah, Jun... Berikan apa yang Nona ini butuhkan." Kata, Pangeran Rui yang tengah berbicara dengan Pelayannya.
"Baik, Pangeran." Jawabnya, lalu ia segera meninggalkan Lu'er ditempat itu dengan Pangeran Rui.
"Saya tidak akan menganggumu, saya akan pergi." Kata, Pangeran Rui yang segera meninggalkan Lu'er sendiri.
"Co, lihatlah dia seperti Anak kucing saja, hmm... Sebenarnya ada apa dengan Ular ini?" tanya, Lu'er yang segera mendekatkan lengan kirinya dihadapkan Sistem Dewi.
Sistem Dewi tertegun saat mendengar perkataan dari Lu'er.
"Tunggu, nama siapa itu?" tanya, Sistem Dewi dengan tatapan bingung.
Lu'er yang saat itu tengah menatap Wajah Sistem Dewi ia terlihat sangat bangga setelah memberikan nama kepada Sistem Dewi.
"Coco... Nama untuk dirimu, ah sudah tidak perlu banyak tanya lagi, cepat periksa!" Ucap, Lu'er yang terlihat sangat tidak sabaran dihadapan Sistem Dewi.
Sistem Dewi merasa sangat kesal akan sifat Lu'er yang seperti itu. Tetapi, ia tidak terlalu mempermasalahkan hal semacam itu, Sistem Dewi kemudian mengamati Ular Batu merah yang tengah melingkar dipergelangan tangan Lu'er.
"Hmm... Ular ini sangat hebat, dia memiliki kekuatan yang cukup mematikan, racun dingin yang dapat membekukan jantung seseorang saat terkena gigitannya, dan bisanya dapat membuat musuh buta, bahkan mati, selain itu Ular ini bisa mengubah bentuk tubuhnya dengan ukuran yang sangat besar, tingkat kekuatan yang dia miliki bisa sampai memasuki level tujuh." Kata, Sistem Dewi yang tengah memberi penjelasan kepada Lu'er.
"Tujuh? Waw... Cukup luar biasa." Jawab, Lu'er yang terlihat sangat puas saat mendengar perkataan dari Sistem Dewi.
Saat Lu'er tengah terdiam, tak lama kemudian datanglah Pria yang selalu bersama dengan Pangeran Rui ia berjalan untuk dapat mendekati Lu'er. Terlihat didalam kedua lengannya ia tengah membawa seperangkat alat yang dibutuhkan oleh Lu'er.
Lu'er yang menyadari kehadiran dari Pria itu, lalu dengan cepat ia memalingkan pandangannya ke arah belakang untuk dapat melihat Pria itu. Qin Jun, yang tengah berjalan untuk dapat menghampiri Lu'er dengan segera ia menyerahkan barang-barang yang dibutuhkan oleh Lu'er.
"Ini Nona, saya mohon undur diri." Ucap, Pria itu yang segera memalingkan tubuhnya untuk dapat meninggalkan Lu'er sendiri.
"Terima kasih." Jawab, Lu'er sambil menerima peralatan itu.
Saat Pria itu pergi meninggalkan dirinya, Lu'er hanya terdiam. Lalu ia dengan cepat memalingkan tubuhnya untuk dapat melakukan tugasnya.
"Kita harus cepat!" Ucap, Lu'er yang segera meletakkan semua benda yang ia butuhkan diatas meja. Lalu, Lu'er mengambil Bunga Si yang saat itu tengah berada didalam lengan pakaiannya.
°^
Sedangkan diluar Rumah itu terlihat Pangeran Rui tengah menatap langit malam yang ditaburi ribuan Bintang, ia terlihat sangat senang.
"Pangeran, apakah Anda benar-benar mempercayai dirinya?" tanya, Pria yang tengah berdiri dibelakang tubuh Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang mendengar perkataan dari Pelayannya, dengan perlahan ia melirik ke arah belakang untuk dapat melihat Wajahnya, raut Wajah dari Pangeran Rui tampak sangat senang.
"Tidak ada salahnya untuk mempercayai dirinya, yang jelas dia bukanlah orang yang jahat, mungkinkah dia adalah seseorang yang ditakdirkan oleh Dewa untuk menyelamatkan hidupku, Jun... Ingat selalu awasi pergerakan dari Raja." Balas, Pangeran Rui yang segera memalingkan pandangannya lagi, ia tampak tengah menatap langit malam yang sangat terang.
"Pangeran... Anda...." Dalam benak Qin Jun yang terlihat sangat tidak menyangka akan apa yang telah diucapkan oleh Pangeran Rui.
"Baik, Pangeran." Jawabnya dengan tegas.
"Wanita itu sangatlah misterius, dia datang bukan hanya mengingatkan diriku, tetapi dia juga menguatkanku! Siapa kau? Sadarkah kau perilakumu itu membuatku menjadi sangat tertarik dengan dirimu!" Dalam benak Pangeran Rui yang terlihat tengah menatap langit malam.
Pangeran Rui.