
Malam itu Lu'er merasa sangat panjang. Meskipun kini tubuhnya belum pulih dengan sempurna, akan tetapi ia juga harus tetap kembali ke dalam Istana Kibo, sebelum fajar tiba.
"Pangeran, sebenarnya aku memerlukan bantuanmu lagi, hmm... Maukah kau mengabulkan permintaan aku ini?" ucap, Lu'er yang saat itu tengah berada disamping tubuh Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang mendengar Lu'er tengah berbicara kepada dirinya, dan itu adalah sebuah permohonan dengan cepat dia menjawab tanya dari Lu'er, sambil terus memperhatikan Wajahnya dengan jelas.
"Kau ini, apakah masih harus bersikap sungkan kepada diriku setelah apa yang telah kita alami? Ada apa? Katakan saja, apakah kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?" ucap, Pangeran Rui dengan sepasang bola Mata biru yang tampak teduh.
"Apakah ini adalah sifat aslimu, Rui? Atau ini hanyalah siasatmu saja agar kau dapat menaklukkan mangsamu?" dalam benak Lu'er yang terlihat sangat bimbang saat dia terus memperhatikan sikap dari Pangeran Rui terhadap dirinya.
"Aiya... Mana mungkin aku dapat merasa sungkan terhadap dirimu wahai Pangeran, itu hanyalah sebuah ungkapan basa-basi saja terhadap dirimu...." Tampak, Lu'er yang segera menunjukkan senyuman kecil diwajahnya lagi.
Rumi yang masih berada ditempat itu, benar-benar mereka dihiraukan, seakan hanya menjadi angin lalu yang tidak penting bagi mereka.
"Hih.... Wanita sialan ini?! Ternyata benar dia telah menggoda Kakak Ruiku!! Jelas-jelas dia itu bukanlah Wanita baik-baik, jika saja dia bukan karena kekuatan yang dimilikinya itu, aku pasti tidak akan menunggu lama untuk segera menghabisinya!!" Dalam benak Rumi, Wajahnya sudah seperti Singa yang kelaparan, dan seakan telah siap untuk menyantap Mangsa yang tepat berada dihadapannya.
Tatapan Mata Lu'er tidak sengaja melirik ke arah diri Rumi. Melihat Gadis itu yang terlihat sangat membenci dirinya seakan hal itu tidak dia perdulikan lagi.
"Kau tau bukan jika aku tidak segera kembali ke dalam Istana maka diriku pasti akan terkena masalah dari keluargaku, dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi kepada diriku, jadi bisakah kau mengantarkan diriku kembali ke dalam Istana?" tanya, Lu'er yang terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Pangeran Rui.
Hal itu dibenarkan olehnya, karena dia tidak ingin menambah masalah baru yang akan membuat semuanya menjadi runyam.
Pangeran Rui yang mendengar perkataan dari Lu'er, dan juga raut Wajahnya yang tampak tulus. Membuat Pangeran Rui segera berpikir bahwa kehidupan Lu'er didalam Istana tidaklah baik.
"Hmmm, tetapi bukankah kau masih belum pulih dari luka dalam itu? Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu hal yang buruk kepada dirimu? Aku bertanggungjawab sepenuhnya atas dirimu! Tidaklah mungkin aku mengantarkan dirimu kembali ke dalam Istana dengan keadaan yang seperti ini!" Kata, Pangeran Rui dengan tatapan yang sangat tegas kepada Lu'er.
Hal itu membuat diri Lu'er tersentak, dia terlihat bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada Pangeran Rui. Karena, bagi Lu'er masalah itu tidak sepatutnya dicampuri oleh orang lain.
"Aduh... Pangeran ini, lihatlah aku sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu kau risaukan lagi, aku hanya ingin kembali, sekarang juga." Balas, Lu'er yang terlihat sedang menahan rasa sakit pada tubuhnya, akibat luka dalam yang masih belum pulih itu.
Pangeran Rui terdiam dingin ketika melihat Lu'er yang telah menipu dirinya. Dia tau betul luka dalam itu masih belum pulih. Kemudian, dia mulai menghela napas dihadapan Lu'er.
"Baiklah, aku akan mengantarkan dirimu kembali ke dalam Istana." Ucap, Pangeran Rui yang masih menunjukkan tampang dingin dihadapan Lu'er.
"Mengapa kau tidak mengizinkan diriku untuk mengetahui masalahmu?! Dan mengapa kau harus menyembunyikan identitas aslimu kepada diriku?! Lin, sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupanmu itu, jika kau tidak ingin mengatakannya, maka sesungguhnya kau telah memaksa diriku untuk masuk ke dalam hidupmu!" Dalam benak Pangeran Rui yang terlihat sangat penasaran dengan kehidupan Lu'er sesungguhnya.
"Terima kasih...." Ucap, Lu'er. Lalu dia segera menggerakkan tubuhnya untuk dapat menuruni Kasur yang tengah dia duduki itu.
Pangeran Rui yang melihat Lu'er begitu sangat ingin melakukan semua itu sendirian, membuat dirinya kembali kesal kepada Lu'er.
"Apakah sulit bagimu untuk meminta pertolongan orang lain? Apakah kau itu begitu sangat senang jika menyusahkan diri sendiri?! Diam dan jangan memberontak!" Ucap, Pangeran Rui yang segera menyentuh tubuh Lu'er dengan lembut, dan mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.
Lu'er tak menyangka Pangeran Rui dapat melakukan hal itu kepada dirinya. Kini, Wajah mereka begitu sangat dekat. Lu'er dapat melihat sorot dari bola Mata biru yang tampak dingin itu. Lu'er merasa bahwa saat itu Pangeran Rui sebenarnya telah marah kepada dirinya.
Lu'er hanya terdiam tanpa berkata apapun kepada Pangeran Rui. Pangeran segera bangkit dari duduknya. Lalu, dia perlahan menurunkan Kakinya diatas lantai, dan berjalan ke arah luar untuk dapat membawa Lu'er kembali ke dalam Istananya.
Rumi yang melihat hal itu tampak sangat terkejut ketika Pangeran Rui akan meninggalkan dirinya sendirian ditempat itu.
"Kak?! Bagaimana dengan diriku?!" Ucap, Rumi dengan raut Wajah sedih dan cemas kepada Pangeran Rui.
Pangeran Rui dengan perlahan menghentikan langkahnya, kemudian dia segera menjawab pertanyaan dari Rumi.
"Tetaplah disini!" Kata, Pangeran Rui dengan tegas.
Rumi yang mendengar ucapan dari Pangeran Rui, membuat dirinya terkejut, lalu dia segera berbicara lagi kepada Pangeran Rui.
"Tetapi Kak, aku sangat takut jika harus berada ditempat ini seorang diri, bagaimana jika Siluman itu menemui diriku dan menangkap aku lagi?! Apakah kau yakin akan tetap meninggalkan diriku disini?!" Kata, Rumi yang terlihat sangat tidak suka saat Pangeran Rui begitu sangat perduli dengan Lu'er.
"Iya, tidak perlu kau khawatir, aku akan menggunakan kekuatanku untuk menjaga tempat ini agar tidak diketahui oleh siapapun, jadi kau akan tetap aman berada disini, bukankah itu sudah cukup untukmu?!" Kata, Pangeran Rui yang segera memalingkan Wajahnya ke arah belakang untuk dapat melihat Wajah dari Rumi.
Rumi terkejut saat Pangeran Rui menatapnya dengan sangat dingin dan itu tampak begitu sangat menyeramkan bagi dirinya. Tak dapat ia membantah ucapan dari Pangeran Rui. Rumi, mau tidak mau harus menerima semua itu.
"Baiklah, aku sangat percaya padamu, Kak." Ucap, Rumi yang segera menunjukkan senyuman dihadapan Pangeran Rui.
Tanpa berkata apapun, Pangeran segera meninggalkan Rumi sendiri didalam Gubuk itu. Saat, Pangeran Rui telah meninggalkan Rumi sendiri. Terlihat raut Wajah kesal yang terlihat jelas dari dirinya. Dia mengepal erat telapak tangannya. Kemudian, Rumi segera menendang Kasur yang berada dihadapannya dengan cukup kuat.
"Sial! Sial! Sial! Wanita itu harus aku lenyapkan! Dia benar-benar membawa malapetaka bagi diriku! Awas kau, aku pasti akan melenyapkan dirimu!" Dalam benak, Rumi. Wajahnya terlihat sangat kesal, atas apa yang baru saja terjadi dengan dirinya.