
Malam hari didalam Istana Kibo, tak terasa kini Matahari telah terbenam, digantikan bulan yang menyelimuti malam.
Kuk... Kuk... Kuk.... Terdengar suara Burung hantu yang tengah berada diatas dahan pohon.
Saat itu Lu'er tengah terlamun didalam kamarnya, sambil terus memperhatikan langit malam yang disertai terangnya rembulan. Tak lama kemudian, pandangan Lu'er teralihkan saat dia mendengar suara tapak kaki, yang menginjak semak-semak. Lu'er yang tampak sangat curiga dengan perlahan dia segera menyentuh jendela dengan lengan kirinya. Kemudian Lu'er memperhatikan sekitaran taman belakangnya itu. Namun, sungguh sangat aneh dia tidak mendapati siapapun disana.
"Aneh, sepertinya tadi aku mendengar suara langkah seseorang, hm... Apakah itu hanya firasat ku saja?" ucap, Lu'er yang tengah bergumam. Kemudian Lu'er segera teringat akan kejadian diwaktu siang saat ada seekor Burung merpati yang menemui dirinya.
Raut Wajah Lu'er seketika berubah menjadi sangat licik, sambil mengangkat lengan kanannya untuk dapat menyentuh bibir bagian bawah.
"Hm... Jika tidak ingin menunjukkan diri, maka jangan harap dapat berjumpa dengan diriku, untuk selamanya!" Kata, Lu'er dengan sorot dari bola Mata hijau yang sangat dingin.
Tak lama kemudian Pangeran Rui segera menampakkan diri dihadapan Lu'er, sambil menunjukkan raut Wajah yang begitu sangat lembut.
"Selamat malam, Nona." Kata, Pangeran Rui yang terlihat begitu santun kepada Lu'er. Namun, tidak dapat terelakkan rasa canggung dari Pangeran Rui, karena saat itu Lu'er telah mengetahui perasaannya kepada dirinya.
Lu'er terdiam dingin ketika akhirnya Pangeran Rui berkenan menampakkan diri dihadapannya. Tak lama kemudian Lu'er segera bertanya kepada Pangeran Rui sambil menunjukkan raut Wajah bingung.
"Tidak disangka ternyata Pangeran ini begitu sangat cepat sekali menemukan keberadaan saya." Kata, Lu'er dengan raut Wajah tegas.
Pangeran Rui tersenyum simpul saat mendengar perkataan yang Lu'er berikan. Kemudian, Pangeran Rui kembali berbicara kepada Lu'er.
"Kemarin, saya bertemu dengan seorang Wanita misterius, dia berkata bahwa saya akan bertemu lagi dengan dirinya." Ucap, Pangeran Rui yang terlihat tengah memandangi Wajah Lu'er dengan sangat dalam.
Lu'er sungguh sangat tidak menyangka, jika Pangeran Rui masih ingat akan perkataannya itu. Sebenarnya dia tidaklah serius dengan apa yang waktu itu pernah ia ucapkan kepada Pangeran Rui.
"Apakah Pangeran datang kemari hanya ingin berjumpa dengan Wanita misterius itu? Ataukah ada urusan lain sehingga membuat Pangeran begitu sangat ingin menemuinya?" ucap, Lu'er yang terlihat lebih santai dari cara ia berbicara.
Pangeran Rui yang melihat sikap Lu'er yang dingin, cuek. Namun, terkesan tidak menjauh itu membuat dirinya semakin terkesan dengan kepribadian Lu'er yang menurutnya telah menyihir hatinya.
"Benar sekali, saya kemari sebenarnya sangat ingin mengajak Anda menikmati keindahan malam, tidak ada maksud lain, saya hanya ingin kita bisa menjalin hubungan yang baik, karena tidak terbantahkan bahwa karena Anda, kini Desa Phoenix terselamatkan." Ucap, Pangeran Rui yang terlihat sedikit canggung dihadapan Lu'er, terlebih lagi ia telah mengutarakan isi hatinya kepada Wanita pujaannya itu.
"Pria ini bermaksud untuk mengajakku berkencan? Hm... Tidak baik jika menolak tawaran dari seorang Pria bangsawan, lagipula... Masalah ku hari ini begitu sangat rumit, mengapa tidak menerima ajakannya saja. Hm... Tetapi, kita baru saja mengenal satu sama lain? Jika aku menerimanya begitu saja dimana harga dirimu wahai Lu'er! Aduh... Aduh, tetapi...." Dalam benak Lu'er yang tengah dirundung kebimbangan.
Kemudian dia segera memperhatikan tatapan Mata dari Pangeran Rui, tampak sebuah harapan yang tengah ia pancarkan didalam dirinya.
"Hah... Baiklah." Dalam benak Lu'er yang sepertinya telah mengambil suatu keputusan.
"Apakah kau akan membawaku pergi dengan berjalan kaki?" ucap, Lu'er yang terlihat tengah memperhatikan disekitar Pangeran Rui, tak ditemukannya sesuatu yang dapat membuat dirinya menerima ajakan dari Pria itu.
Pangeran Rui kemudian tertawa kecil, Wajahnya sungguh sangat tampan. Lu'er yang melihat sikap dari Pangeran Rui membuat dirinya amat bingung kemudian Pangeran Rui berbicara kepada Lu'er.
"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku membiarkan seorang Wanita bangsawan seperti dirimu, aku perlakuan dengan buruk." Balas, Pangeran Rui kemudian dia segera menatap ke atas langit, tak lama kemudian Pangeran Rui segera bersiul, hal itu membuat Lu'er semakin bingung dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Rui.
Tak lama kemudian Lu'er dikejutkan dengan langit yang tiba-tiba saja sangat gelap, seperti ada sesuatu yang menghalanginya. Dengan cepat Lu'er mendongak ke atas untuk dapat melihat sebenarnya apa yang telah terjadi. Sungguh dia dibuat terkejut, karena saat ini diatas kepalanya tengah terlihat seekor Burung yang sangat besar, dengan bola Mata kuning tajam. Sayap yang dibentangkannya mampu menutupi sebagian langit.
"Wah... Menakjubkan sekali!" Kata, Lu'er yang tampak masih belum bisa mempercayainya.
Pangeran Rui yang melihat Lu'er tampak takjub itu, segera ia mengulurkan tangannya agar dapat membantu Lu'er keluar dari dalam kamarnya.
"Apakah kau membutuhkan bantuan?" ucap, Pangeran Rui yang terlihat begitu sangat hangat dan ramah kepada Lu'er.
Lu'er menggelengkan kepalanya, dia menolak bantuan dari Pangeran Rui. Lalu, Pangeran Rui segera tersenyum manis saat melihat hal itu. Lu'er pun segera keluar dari dalam kamarnya dengan melewati jendela. Namun, sayangnya karena dia begitu sangat bersemangat hampir saja tubuhnya mencium tanah. Namun, hal itu dapat dihalangi oleh Pangeran Rui.
Lengan kanannya secara cepat memeluk tubuh Lu'er, tampak raut Wajah terkejut yang ditunjukkan oleh Lu'er. Pangeran Rui hanya tersenyum kecil, kemudian dia segera meloncat ke atas dan dengan mudahnya ia menaiki tubuh Burung yang sangat besar itu.
Tetapi anehnya saat Lu'er melihat ke sekeliling Istana tampak suasana begitu sangat hening. Lu'er mulai curiga, seharusnya mereka dapat melihat Burung besar itu yang jelas-jelas kini telah berada dihadapannya itu.
"Aneh... Hm, apakah ini semacam sihir?" dalam benak Lu'er yang tampak bingung.
Kemudian Pangeran Rui menempatkan Lu'er untuk dapat duduk didepannya, memegang kendali, dan mengarahkan Burung magis miliknya. Tak lama kemudian Burung besar dengan warna merah itu, membentangkan sayap lebarnya untuk dapat membawa Lu'er dan Pangeran Rui meninggalkan Istana Kibo.